
"Nona.." Jeina turut bersedih atas penjelasan Rubby. "Nona, Baginda.. dia memang seperti itu karena suatu alasan, tapi Baginda tidak akan memarahi Nona karena Baginda menyukaimu," ucap Jeina tersenyum.
"Benarkah?" Rubby tersenyum tipis. "Bagaimana bisa Baginda menyukai wanita yang baru dikenalnya?" Rubby bergumam pelan.
"Nona, jika nona mencoba untuk memberanikan diri dan menjenguk Baginda, beliau pasti akan sangat senang." ucap Jeina memberi saran. "Selain bibi Diana, saya rasa nona adalah wanita satu-satunya yang dicintai Baginda selayaknya pria pada wanita." ucap Jeina tersenyum.
Rubby terdiam sejenak. Mungkin, tidak ada salahnya ia mencoba mendatangi Zac dan meminta maaf. Dengan begitu, hatinya mungkin akan merasa lebih lega.
"Apa yang harus kukatakan saat bertemu Baginda nanti?" tanya Rubby bingung.
"Katakan sesuatu yang membuat Baginda senang. Apa saja!" ucap Jeina semangat. Ia senang karena akhirnya Rubby tidak bersedih hati lagi.
"Hari sudah semakin larut, haruskah aku mengunjungi nya malam ini?" tanya Rubby gundah.
"Mungkin jika nona mengunjungi nya esok hari lebih baik. Untuk sekarang, kondisi Baginda sedang kurang baik, jadi saya sarankan untuk mengunjungi nya besok," saran Jeina.
Rubby mengangguk pelan, "Terima kasih atas saran mu, Jeina." ucap Rubby.
Karena hari sudah semakin malam, Rubby menyuruh Jeina untuk kembali ke kamarnya dan beristirahat. Begitupun dengan dirinya yang juga memilih untuk tidur dan mengisi tenaga untuk esok hari.
****
Ruang Kerja Zac
"Baginda, bukankah saya sudah mengatakan kalau untuk hari ini serahkan semua tugasnya pada saya?" Edwrad mengerutkan kening begitu melihat Zac yang sudah datang lebih dulu darinya.
"Bagaimana bisa aku menyerahkannya pada mu? bahkan sekarang aku datang lebih cepat dari pada dirimu." ucap Zac dengan raut wajah datar seperti biasanya.
Edward mengangguk kepalanya yang tidak gatal, ia terkekeh pelan. "Bagaimana kondisi anda?" tanya Edward.
"Baik." jawab Zac singkat.
"Syukurlah." Edward menghela nafas.
Edward melangkah dan mendekati Zac. "Apa hubungan Anda dan Nona Rubby baik-baik saja?" tanya Edward ragu.
"Aku.. tidak tahu," ucap Zac yang langsung menatap Edward. Ia menghela nafas dan memfokuskan kembali pandangannya pada berkas-berkas yang ada di mejanya.
Tok.. tok.. tok..
"Kenapa ada orang yang datang pagi-pagi sekali ke ruangan Baginda?" Edward mengerutkan keningnya bingung. Tak lama kemudian, datang seorang pengawal yang membungkuk hormat di hadapan Zac. "Salam kepada Matahari Kekaisaran."
"Yang Mulia, Nona Rubby datang dan berkata ingin menemui anda." lanjutnya.
__ADS_1
"Rubby?" Zac bergumam pelan, ia lalu mengangguk tanda mengiyakan.
Krekk.. Pintu ruangan itu terbuka, karena merasa akan menggangu pembicaraan Zac dan Rubby nantinya, Edward berinisiatif untuk pergi dari ruangan itu.
"Saya pamit, Baginda." ucap Edward membungkuk.
"Salam kepada Matahari Kekaisaran," Rubby tersenyum tipis dan membungkuk hormat di hadapan Zac.
"Apa ada masalah?" tanya Zac mengerutkan kening.
"Tidak, Baginda." Rubby bergeleng pelan.
"Kalau begitu, apa alasan mu datang kemari, hm?" tanya Zac bingung.
"Saya ingin meminta maaf karena kejadian kemarin, Baginda." ucap Rubby menjelaskan. Ia mengeluarkan sebuah botol berisikan cairan berwarna putih untuk ia berikan pada Zac. "Ini adalah obat pemberian nenek saya, obat ini mungkin bisa sedikit menenangkan pikiran Baginda." ucap Rubby sambil menyerahkan sebotol obat tersebut. Obat itu adalah pemberian mendiang neneknya ketika masih berada di dunia elf, itu adalah ramuan yang bisa menenangkan pikiran seseorang. Bukan seperti manusia yang biasanya mengonsumsi alkohol, obat ini berasal dari sari bunga putih di dunia Elf, dan siapa saja yang meminum nya akan merasa tenang seperti berendam di dalam air.
"Aku akan menerimanya, terima kasih." Zac tersenyum dan mengambil botol kecil itu.
"Mengenai hal kemarin.." Zac menghela nafas dan mencoba menenangkan pikirannya. "Aku minta maaf atas kejadian kemarin, aku harap kau tidak membenci ku atas perlakuan kasarku kemarin," ucap Zac.
Rubby terdiam dan tidak menyahut. Ia sama sekali tidak membenci Zac atas perlakuannya saat itu. Justru, ia yang merasa bersalah karena membuat Zac membangkitkan amarahnya. Padahal Zac sudah berusaha keras untuk mengatur amarah nya jika berhadapan dengan Rubby.
"Saya dengar, Baginda mempunyai penyakit cukup parah sampai dokter istana datang," Rubby menundukkan kepalanya, "Saya tidak tahu kalau kecerobohan saya bisa berdampak besar bagi Baginda. Saya justru yang benar-benar meminta maaf, dan saya harap Baginda tidak membenci saya akan hal itu," ucap Rubby tulus.
"Terima kasih atas pengertiannya, Baginda." Rubby tersenyum, ia merasa lega karena bisa mengatakannya secara langsung pada Zac.
"Kemarin Baroness Diana juga sudah menyampaikan permintaan maaf mu padaku. Aku juga tidak merasa marah sama sekali padamu," ucap Zac tersenyum.
Zac bangun dari duduknya, ia menghampiri Rubby dan tersenyum hangat. "Jangan mengkhawatirkan ku untuk hal tidak berguna seperti itu. Lain kali, pikirkanlah kesehatan mu juga dan jangan keluar saat hujan deras," ucap Zac menasehati. Tadinya, Zac berencana mengusap kepala Rubby, namun dengan cepat ia menarik tangannya karena merasa itu bukanlah hal pantas sebelum hubungan pernikahan terkait diantara mereka.
"Bagaimana tentang pertanyaanku kemarin? Apa kau menerima permintaan pernikahanku?" tanya Zac tersenyum. Ia tidak mau berharap lebih, tapi ia ingin jika Rubby menerimanya.
Rubby mengangguk pelan, ia memang tidak perlu begitu lama untuk memikirkan hal itu. "Baginda.." Rubby berucap pelan, ia lalu mengangkat tangan dan menunjukkan jemarinya di hadapan Zac.
"Cincin?" Zac terdiam sejenak. "Kau menerima permintaan ku?" tanya Zac membuka matanya lebar, dan Rubby mengangguk pelan.
"Untunglah, kupikir kau tidak akan menerimanya." Zac tersenyum senang, tanpa sadar pria itu mencium punggung tangan Rubby.
"Aku akan mengurus pernikahan ini dengan cepat. Jadi jangan khawatir akan pestanya atau mungkin.. kau mempunyai sesuatu yang kau inginkan? Katakanlah!" ucap Zac bersemangat.
Rubby bergeleng pelan, ia menerima ini karena ia menghargai perasaan Zac. Ia juga sudah memikirkannya matang-matang sebelum datang ke ruangan ini.
Beberapa saat lalu, Taman Kekaisaran..
__ADS_1
"Dimana ketiga peri yang ada kemarin?" tanya Rubby pada pohon rindang yang berdiri kokoh dan memanggilnya saat itu.
"Sepertinya mereka masih tertidur. Biasanya anak-anak akan bangun ketika hari mulai siang," ucap sang pohon pada Rubby. Mereka melakukan komunikasi melalui tangan Rubby yang menyentuh batang pohon itu.
"Rubby, aku ingin bertanya satu hal padamu."
"Ya?" Rubby mendongakkan kepalanya bingung.
"Apa kau akan menikah dengan Zachyre?"
"Zachyre? Apa maksud mu Baginda Kaisar?"
"Ya."
"Aku tidak tahu, tapi Baginda memintaku untuk menjadi istrinya." jawab Rubby menghembuskan napas.
"Dengan menerima tawarannya, itu adalah hal terbaik untuk mu, Rubby." ucap pohon bernama "Ayries" itu.
"Ayries, apa kau menginginkan aku menikah dengan Baginda?" tanya Rubby heran.
Bahkan semua yang tinggal disini menginginkan hal itu. Ya, kecuali pelayan bernama Sonia yang cinta berat pada Baginda. Batin Rubby bingung.
"Kau adalah seorang Elf, apa kau tidak mempunyai keinginan untuk kembali ke duniamu?" tanya Ayries, pohon itu.
"Aku tidak tahu apa yang harus aku jawab mengenai pertanyaan mu itu, Ayries." jawab Rubby menghela napas.
"Bagiku, Zac adalah anakku juga, sama seperti aku menganggap para peri dan elf." ucap Ayries.
"Saat kecil, ia selalu datang dan berteduh disini. Tapi semenjak ia menjadi seorang Kaisar, ia sangat sibuk dan jarang kemari." lanjut Ayries pelan.
"Lalu apa alasannya dengan pernikahan ku dengan Baginda?"
"Menikahlah dengan nya. Kau membutuhkannya untuk kembali ke dunia asalmu, begitupun ia, Zac sangat membutuhkanmu ke depannya."
"Membutuhkan.. aku?" Rubby terdiam.
"Apa dia membutuhkan kekuatanku? Aku pernah mendengar kalau kekuatan dalam tubuh nya akan hilang kalau tidak bertemu denganku, tapi.. kenapa?" Rubby mengerutkan keningnya bingung.
"Jika sudah saatnya, nona akan mengetahui nya." Ayries berkata lembut, dan Rubby hanya terdiam.
"Apa kau yakin Baginda bisa membawaku ke dunia elf... kembali?" tanya Rubby serius.
"Ya," jawab Ayries pelan.
__ADS_1