
"Bibi, apa aku salah dengar?" Rubby mengerutkan kening dan tersenyum canggung.
"Tidak, Nona. Nona akan menjadi istri sah dari Baginda," ucap Diana lembut.
"Bagaimana bisa? Aku bahkan tidak mengenalnya," Rubby bergeleng pelan, "Bibi, aku tahu Baginda orang yang baik. Tapi mana mungkin Baginda cocok denganku, dan seperti yang kubilang, aku tidak mengenal Baginda Kaisar"
"Kau akan mengenalnya secara perlahan, nona. Nona akan menjadi permaisuri Kekaisaran ini," ucap Diana tersenyum sambil mengusap pipi Rubby.
"Apa Baginda yang mengatakan hal itu padamu, Bibi?"
*****
"Baginda, apa Baginda tidak mau mencoba menemui Nona Rubby?" tanya Edward begitu melihat Zac yang sudah fokus dengan tugasnya.
"Menurut mu, apa aku harus menemui Rubby sekarang?" tanya Zac menatap Edward yang baru saja datang ke ruangannya.
"Mungkin anda harus datang, Yang Mulia. Biar bagaimanapun, Nona Rubby merasa anda adalah orang asing, tidak semudah itu baginya jika harus menerima anda sebagai sang suami," jelas Edward.
"Lalu, bagaimana kondisi keluargamu? Kau bahkan sudah berbulan-bulan tidak menjenguk mereka, ya?" ucap Zac dengan tatapan yang masih terfokus akan berkas-berkas nya.
"Jangankan berbulan-bulan, sepertinya sudah satu tahun sejak aku meninggalkannya." ucap Edward menghela nafas.
"Kau boleh mengambil cuti setelah situasi di kekaisaran kian membaik. Namun, untuk saat ini aku masih membutuhkan bantuanmu, Edward," ucap Zac menjelaskan.
"Tentu saya mengerti akan hal itu, Baginda. Saya akan mengurus masalah di Kekaisaran, dan kembali melihat putri bungsu saya.." Edward tersenyum senang dan membayangkan betapa cantiknya putrinya itu. Karena, beberapa bulan lalu sang istri dikarunia seorang putri, dan mungkin sekarang anak itu sudah lahir.
Tak!
"Ngomong-ngomong, apa kau sudah mengetahui kabar tentang kerajaan Jiornge sekarang?" tanya Zac sambil menaruh penanya diatas meja.
"Ah, saya lupa memberitahukan pada Yang Mulia!"
"Maksudmu?"
"Kerajaan Jiornge yang dulunya dipimpin oleh Raja George, sekarang dipindah kekuasaan oleh putra keduanya yang sekarang sudah resmi menjadi Raja Jiornge. Sebenarnya, setiap perwakilan dari kerajaan ataupun kekaisaran seperti kita harus datang di acara penobatannya, namun saya pikir Yang Mulia akan marah kalau membahas tentang musuh Yang Mulia lagi," ucap Edward menjelaskan.
__ADS_1
"Putra kedua? Lalu bagaimana dengan Putra pertama?" Zac mengerutkan keningnya bingung.
"Yang Mulia tahu sendiri kalau putra pertama kerajaan Jiornge adalah anak yang cacat sejak lahir. Jangankan untuk berjalan, bahkan untuk makan maupun menulis, ia membutuhkan bantuan orang lain." jelas Edward bergeleng kecil.
"Apakah anak itu tidak dipedulikan oleh Raja George?" gumam Zac pelan.
"Baginda, saya tahu anda mungkin akan kesal kalau saya menceritakan ini. Tapi, di kerajaan Jiornge, anda seperti sebuah monster yang telah melenyapkan induk mereka, yang tak lain adalah Raja George. Jadi saya harap anda tidak berhubungan dengan kerajaan itu lagi." ujar Edward menasehati.
"Bukankah itu bagus?" Zac tersenyum tipis.
"Bagus? Bagaimana bisa Baginda beranggapan menjadi sebuah monster itu bagus?"
"Bukan itu maksudku. Aku tahu, mungkin citraku sebagai seorang kaisar buruk di mata kerajaan itu. Tapi, dengan begitu mereka akan merasa waspada dan takut akan kehadiranku, jadi untuk ke depannya mereka akan takut akan pemerintahan ku." seru Zac menekankan.
"Baginda, saya selalu tidak bisa mengerti pemikiran anda. Tapi saya yakin pilihan Baginda tidak akan pernah salah," Edward tersenyum tipis dan menatap ke arah luar melalui jendela.
"Jadi, apakah saya--"
"Bu-bukankah itu Nona Rubby?"
BRAK!
"Kenapa dia bisa tersungkur sampai seperti itu?!"
*****
"Ba-bagaimana bisa Yang Mulia memilih mu sebagai istrinya! Jabatan, kedudukan, kekuatan, kau tidak mempunyai ketiganya! Kenapa?! Kenapa Yang Mulia mau menerima wanita sepertimu!" wanita itu menatap tajam ke arah Rubby, wajahnya memerah, dan bahkan kini tubuhnya tersungkur diatas tanah.
"Sonia, jangan bersikap tidak sopan dengan nona!"
Ya, wanita itu adalah Sonia, wanita yang berani membuat keributan dengan Rubby tanpa alasan yang jelas.
"Aku tidak peduli pendapat orang lain terhadap ku! Tapi aku yakin wanita itu pasti sudah menggunakan ramuan terlarang untuk Baginda, sehingga Baginda bisa menyukainya dan bahkan membawanya kemari untuk dijadikan--"
"Apa kau sedang mencemooh ku sekarang?"
__ADS_1
Tak! Tak! Tak!
Suara ini..
"Baginda!" Sonia tersenyum begitu Zac sampai di taman itu. "Ba-baginda, tolong percayalah padaku, ya? Baginda, anda pasti telah terpengaruh oleh ramuan aneh yang ia berikan, ya kan? Baginda, saya percaya bahwa Baginda tidak akan mengkhianati saya!" ucap Sonia tersenyum senang.
"Apa kau gila, Sonia Margaretha?"
Deg!
Gi.. gila? Baginda bahkan menyebutku gila karena wanita itu?!
"Ba-baginda, saya yang selalu berada di sisi Baginda! Baginda tidak seharusnya mengkhianati saya dan membawa wanita yang tidak jelas asal usulnya itu ke istana!" ucap Sonia menekan.
"Ba-bahkan saya jauh lebih baik daripada wanita itu! Kedudukan, jabatan, maupun kekuatan, keluarga saya mempunyai semuanya!" ucap Sonia, ia melirik Rubby dan menatap nya dengan tajam.
"Jadi ini alasan mengapa putri dari seorang Marquess rela menjadi pelayan di istana Kaisar? Ternyata, harga diri Lady Sonia serendah itu, ya?" Zac tersenyum dan menghampiri Sonia. "Padahal rasanya aku ingin mencekik leher mu, tapi itu bisa saja mengotori tanganku" ucap Zac dengan tatapan dingin nya.
Apa pelayan ini berasal dari kalangan atas? Dan alasan ia datang kesini hanya untuk.. Rubby mengerutkan keningnya. Biar bagaimanapun pelayan itu sudah bertindak seenaknya pada Rubby.
"Baginda, de.. dengarkan penjelasanku! dia itu hanyalah wanita tidak tahu malu yang tidak punya sopan santun dan bermuka dua! Di.. di hadapan Baginda, ia pasti akan berpura-pura menjadi wanita lemah lembut, namun di belakang Baginda.. ia akan bersikap kasar pada para pelayan seperti saya!" ujar Sonia sinis. "Saya tahu Baginda pasti mempercayai saya, kan? Iya kan, Baginda?"
"Apa?" Rubby mengepal kedua tangannya, rasanya ingin sekali saat ini ia menghajar pipi wanita itu dengan keras. Sayangnya, ia harus mematuhi hukum yang berlaku di kekaisaran ini.
Apa Yang Mulia akan menjawab "Ya"? Kenapa rasanya hatiku tidak tenang, ya? Rubby menghela nafas kasar dan mencoba untuk menenangkan hatinya.
"Entah apa pandangan orang lain mengenaiku, aku tidak akan memedulikannya. Jelas-jelas dari awal semua adalah salahmu yang mencemooh ku dan menuduhku wanita rendahan yang menggoda Baginda." seru Rubby datar. Padahal ia tidak ingin terlibat oleh dunia manusia ini terlalu jauh, tapi nyatanya ia malah bertemu dengan seorang Kaisar yang mengajak untuk menikahinya.
"Huh, sayang sekali ya.. kau pasti sudah berjuang keras sampai jadi pelayan seperti ini," Rubby tersenyum sambil mengelus pipi Sonia. Ia lalu bangkit dan membungkuk hormat kepada Zac.
"Kejadian hari ini, saya harap Yang Mulia melupakannya. Terima kasih," ucap Rubby sopan. Namun, di dalam lubuk hatinya yang terdalam, ia sungguh merasa kesal dengan perkataan dan ejekan yang ditunjukkan untuknya oleh Sonia.
"K-kau! Akan ku pastikan kau menyesal seumur hidup karena telah menghina putri Marquess seperti ini!" Sonia menggigit bibir bawahnya kesal.
"Nona Sonia, bukankah harusnya saya yang bertanya, mengapa di jam seperti ini nona berkeliaran di taman? Padahal, seharusnya pada saat ini anda sebagai 'pelayan' harusnya mencuci baju, kan?" Zac tersenyum sinis dan membalikkan badannya.
__ADS_1
"Apa saya harus melakukan sesuatu untuknya, Baginda?" tanya Edward.
"Tidak, kita biarkan saja dia kali ini. Tapi, kalau dia bertindak terlalu jauh nantinya, aku tidak akan segan-segan untuk membunuhnya dengan tanganku sendiri!" ucap Zac dingin.