
"Transaksi?" Rubby mengernyitkan dahi nya.
"Ya, aku ingin membuat transaksi denganmu. Dan.. transaksi ini pasti menguntungkan kedua belah pihak" ucap Marquess Ahen tersenyum tipis diantara luka yang berada di wajahnya.
"Transaksi? dan.. yang menguntungkan kedua belah pihak? Kau pikir aku gila?" Rubby memutar bola matanya malas. "Jangan mengada-ada, kau pikirkan saja bagaimana cara agar dosa mu berkurang sebelum kau di eksekusi mati." seru Rubby yang lalu memutar badannya menghadap ke belakang yang sontak membuat Marquess Ahen membuka matanya lebar.
"Tidak, a-aku berjanji, aku janji transaksi ini tak akan membahayakan nyawamu," Marquess Ahen mengepal tangan. Ia berucap sungguh-sungguh, namun jauh dalam lubuk hatinya yang terdalam, ia menyimpan kebencian yang begitu dalam kepada Rubby.
"Bagaimana caramu meyakinkan ku akan hal itu?" tanya Rubby mulai tertarik. Ia kembali menghadapkan tubuhnya pada Marquess Ahen.
"Aku.. aku hanya ingin hidup, aku hanya ingin selamat dari jeruji penjara ini," Marquess Ahen kembali mengangkat suara, menjelaskan maksudnya terlebih dahulu.
"Apa?" Rubby mengernyitkan kening. Ia kembali melangkah maju mendekati pria itu.
Srett!
Tangannya meraih kerah baju Marquess Ahen yang bisa dibilang sudah koyak, pria itu melirih pelan begitu kerahnya menggesek luka yang berada di dekat lehernya.
"Agh.."
Marquess Ahen sengaja memejamkan mata, menahan rasa perih yang mencuat dan membuatnya kesakitan.
"Kau tahu, luka ini tak seberapa dengan kegiatan yang kau lakukan setiap hari pada wanita-wanita yang kau perbudak itu!" Rubby menatap tajam Marquess Ahen, tak terlihat senyuman sedikitpun di wajahnya.
"Ha... bahkan kau belum tahu transaksi apa yang akan ku usulkan, tapi.. kau malah bertindak angkuh seperti ini.." Marquess Ahen menekankan setiap perkataannya. Mencengkram pelan lengan Rubby untuk sesaat
__ADS_1
"Menjauh dariku!" Rubby bersikap seolah tak acuh, kedua matanya mengibaratkan kebencian yang mendalam.
"Tenanglah, aku juga tidak akan macam-macam denganmu, apalagi kau adalah salah satu faktor yang bisa membuatku terbebas dari sini." Marquess Ahen tersenyum seraya merencanakan sesuatu.
****
Di sebuah Kamar yang cukup besar..
"Bagaimana? Apa kondisimu sudah membaik?" tanya Dokter Lily sambil mengelus-elus punggung salah satu dari banyak wanita yang dibawa di kediaman khusus dan diberi pengobatan.
"Terima kasih," wanita itu tersenyum tipis, luka di tubuhnya perlahan menghilang seiring berjalan nya waktu.
"Dimana Non-- maksud ku, dimana permaisuri?" tanya wanita itu menatap Dokter Lily yang sedang meracik obat.
"Permaisuri sedang sibuk saat ini. Jangan khawatir, beliau pasti baik-baik saja selama ada Baginda Kaisar disisinya," Dokter Lily tersenyum tulus, ia turut prihatin pada wanita-wanita bekas budak yang dibeli oleh Marquess Ahen. Ya, yang tengah Dokter Lily obati selama beberapa waktu ini adalah wanita-wanita yang dulunya diperbudak, dan sekarang, ia juga harus melanjutkan tugasnya untuk mengobati mereka.
"Dokter, apakah anda tidak merasa jijik pada saya?" tiba-tiba saja pertanyaan itu terlontar begitu saja di mulut wanita bernama 'Rasella' itu.
"Apa.. maksudmu?" Dokter Lily mengerutkan kening seolah tak mengerti ucapan Rasella.
"Tidak, aku.. aku hanya berpikir bahwa pasti banyak orang yang jijik jika melihatku, budak bekas seorang pria tanpa adanya ikatan pernikahan. Bagaimanapun, aku hanya wanita kotor yang diselamatkan" jelas Rasella yang lantas membuat Dokter Lily terenyuh. Ia tersenyum pahit dan mengusap lengan Rasella. "Jangan berkecil hati. Semua itu bukan mau mu, kan? Marquess Ahen yang bersalah dan memaksa untuk mempermainkan mu. Ia akan mendapat balasan setimpal" ucap Dokter Lily.
"Iya.. terima ka-- ugh.." Rasella memekik kesakitan, rasa nyeri dan rasa sakit bercampur bersamaan membuat tubuhnya perlahan lemas.
"No.. nona? Nona Rasella?!" Dokter Lily membuka matanya lebar begitu Rasella ambruk di hadapannya. Ia lantas bangkit dan mencari pengawal untuk meminta pertolongan.
__ADS_1
🍂🍂🍂🍂
Setelah tiga hari berlalu, hari yang ditunggu-tunggu tiba. Hari dimana semua kebenaran terungkap. Baik mengenai Marquess Ahen, maupun Baron Jones yang juga termasuk tersangka saat ini.
"Persidangan hari ini, kembali dilaksanakan oleh Istana Kekaisaran untuk mengungkap kebenaran."
"Tak ada seorang pun yang bisa berbohong selama persidangan berlangsung. Kehadiran saksi, juri, pengamat, maupun para faksi bangsawan, hal yang prioritas kan selama persidangan berlangsung."
"Maka dari ini, persidangan siap dilaksanakan."
Tak..
Tak...
Tak..
"Hakim, apakah anda lupa menambahkan kata pelapor?" pertanyaan dari arah belakang membuat sang hakim menoleh. Gadis berambut pirang dengan iris mata berwarna biru yang jarang ditemukan di Kekaisaran ini datang dan tersenyum menatap tajam semua orang, terutama kedua tersangka saat ini, Marquess Ahen dan Baron Jones.
Apa? Mengapa Permaisuri itu turun dari singgasananya? Baron Jones mengerutkan kening, ia merasa cemas sehingga sulit menelan ludah.
Rubby tersenyum tipis, menatap semua orang yang melihatnya saat ini. Ia memberanikan diri untuk mengangkat suara. "Kalian pasti bingung, mengapa seorang Permaisuri seperti ku turun dari singgasana dan berdiri di hadapan kalian semua?" Rubby menghela nafas berat.
"Hari ini, aku datang di hadapan kalian, bukan sebagai pendamping seorang Kaisar, melainkan menjadi pelapor utama dalam persidangan kali ini." Rubby tersenyum tipis, kedua matanya mendelik sinis menatap dua tersangka yang tengah bertekuk lutut dengan penuh luka di wajah mereka, bahkan bentuk tubuh mereka sudah tak terlihat, hanya tampak tulang dibalut kulit kusam tak terurus. Ia juga melihat Marquess Ahen yang menatap tajam dirinya.
Jauh berbeda dengan pandangan Rubby, semua orang yang melihatnya menatap sinis dirinya. Seolah berkata 'Apa yang mau dia lakukan?' tatapan aneh yang mengartikan kebingungan sekaligus kebencian. Namun, Rubby tak peduli akan hal itu. Ia sudah memantapkan dirinya untuk menyelesaikan masalah sampai disini.
__ADS_1
"Pertama-tama, saya akan menjelaskan beberapa hal mengenai masalah ini." Rubby kembali mengangkat suara, terdengar gaduh suara rakyat yang saling berbisik-bisik.
"Saya ingin tahu, apakah di tempat ini, tempat dimana para rakyat maupun pengamat datang, apakah ada dari kalian yang pernah mengalami pelecehan?" tanya Rubby yang sontak membuat suasana menjadi hening.