
Asal Muasal Permata Rubby ( Part.1 )
Dahulu kala, hiduplah seekor naga yang bisa berubah wujud menjadi manusia. Ia adalah Raja dari para naga, pimpinan dari seluruh naga saat itu.
Raja yang menguasai bangsa naga berpuluh-puluh tahun, bahkan beratus-ratus lamanya. Alentys Zorgan Zavire, seekor naga yang mempunyai kekuatan lebih dari sword master sekalipun.
"Dimana Raja Alentys?" tanya seekor naga yang baru saja singgah di istana naga, istana yang dihuni oleh Raja naga yang mempunyai kekayaan melimpah sehingga tak terhitung jumlahnya.
"Raja sedang tidak ada di singgasana nya sekarang. Silakan pergi sebelum kami berbuat hal lain." ucap pengawal yang juga merupakan bangsa naga, ia berdiri tegap di depan istana dengan wujudnya yang besar serta sayap yang bisa menutup manusia jika berada di dalamnya.
"Apa?! Lagi-lagi ia tidak ada di istana?" kemarahan para naga mulai mencuat. Bagaimana bisa pemimpin berkeliaran dan tidak melindungi bangsanya? Bahkan rumor jahat mulai bermunculan dikalangan mereka. Apa gerangan yang membuat sang raja tidak pernah keluar dari istana dan tidak menetap dalam singgasananya?
Mereka mulai berpikir yang tidak-tidak. Rumor bahwa sang raja yang sudah lelah dengan posisinya sekarang, membuat banyak kontravensi antar naga kala itu.
"Kita harus berbuat sesuatu, jika tidak maka bangsa naga bisa bahaya tanpa perlindungan seorang raja."
Ya, bagi bangsa naga, kepemimpinan diatas semua naga adalah hal yang sangat penting. Jika ada seorang pemimpin, maka bangsa ataupun ras lain tidak ada yang akan berani mendekati naga, karena sudah dipastikan bahwa Raja dari para naga akan diberi anugerah rantai suci, rantai yang mengikat hubungan antara para naga yang membuat mereka tidak bisa terpecah belah, begitu hukum yang berlaku antar naga.
"Seharusnya kita memilih raja baru sekarang. Sebelum kabar bahwa raja dari para naga tidak kembali ke tempat asalnya menyebar ke ras lain." kesedihan sekaligus kemarahan bercampur menjadi satu.
Hingga, sebuah kebenaran terungkap..
"Apa? Bagaimana mungkin? Raja... raja naga bertemu secara diam-diam dengan gadis desa yang merupakan seorang manusia?" lagi-lagi, rumor jahat kembali menghantui Alentys. Di samping itu, para pengawal serta seluruh penduduk naga mulai khawatir. Bagaimana bisa seekor naga yang mempunyai kekuasaan tinggi bertemu, dan mungkin berkencan secara diam-diam dengan musuh mereka? Karena bagi bangsa naga, selain naga, maka mereka menganggap ras/bangsa lain adalah musuh. Itulah sebabnya mereka juga membenci manusia, yang jauh berbeda dari mereka.
"Manusia? Bangsa rendahan itu berkencan dengan seekor naga seperti Raja Alentys?"
Mereka merendahkan pihak wanita yang merupakan manusia. Banyak juga yang berpikir mungkin saja sang wanita yang menggoda Alentys dengan sihir atau guna-guna, sehingga Alentys akhirnya terpikat olehnya.
Kian lamanya, Alentys akhirnya kembali ke istana. Kini semua naga sudah berkumpul di hadapan Alentys, menanyakan pertanyaan-pertanyaan yang sudah mereka tahan selama ini.
"Apa benar, anda berkencan dengan seorang wanita dari kalangan manusia secara diam-diam?" tanya seekor naga yang juga mempunyai kekuatan tinggi, sama seperti naga-naga yang tengah berkumpul saat ini, merubah wujud menjadi seperti manusia dengan sayap besar yang masih terpampang jelas di bagian belakang tubuh mereka.
"Apakah sopan menanyakan hal pribadiku secara terang-terangan?" Alentys yang tengah duduk di singgasana nya menatap tajam para naga yang sudah berkumpul di hadapannya. Beberapa kontravensi dari mereka, mereka ungkapkan saat ini juga.
"Justru kami bertanya secara terang-terangan seperti ini, karena sudah banyak mata yang melihat anda berkeliaran dan bertemu diam-diam dengan seorang wanita dari ras manusia. Kami yang seharusnya menatap anda dengan tatapan yang anda berikan pada kami sekarang!" tegas salah satu naga disana. Ia menatap tajam, sangat tajam, pada pemimpinnya itu.
__ADS_1
Apa? Mereka bahkan berani menentang ku sekarang?!
BRAK!
"Berikan aku waktu! Aku akan menunjukkan bahwa semua perkataan kalian hanya kebohongan semata!" tegas Alentys sedikit berteriak. Kini semua naga yang bertentangan dengan Alentys mulai terdiam. Bagaimana pun Alentys adalah seorang pemimpin, ucapannya adalah kemutlakan yang harus dipatuhi.
"Baik. Jika tidak ada rumor mengenai anda menemui wanita itu dalam satu Minggu ke depan, maka kami akan mempercayai anda." mereka mengangguk bersamaan.
"Akan tetapi.."
"Jika anda ketahuan diam-diam menemuinya lagi, tidak ada jaminan bahwa kami masih setia menunggu anda." tegas salah satu dari mereka dengan tatapan mengintimidasi.
Dengan santai, Alentys mengangguk, ia ibarat sama sekali tidak bersalah, dan sikapnya seakan-akan mengatakan kejujuran pada semua naga disana.
🍂🍂🍂
Hari mulai berlalu dengan cepat, larut malam, sebuah cahaya merubah seorang naga besar menjadi manusia seutuhnya. Ia tersenyum pahit, melompat cepat dengan ketinggian yang tak bisa terbayangkan.
'Ryn, maafkan aku..'
Di hari terakhirnya, Alentys tersenyum pahit. Dari kejauhan matanya menatap seorang wanita yang berdiri sambil berteriak, memanggil namanya.
"Alentys! Alentys! Dimana kamu?" teriakan itu begitu jelas terdengar di telinga Alentys. Wanita cantik yang berhasil memikat hatinya, wanita yang selalu membuat hatinya tenang sekaligus sedih saat berada di dekatnya.
Alentys melompat mendekati wanita itu, dengan teguh ia memantapkan hatinya untuk memutuskan hubungan antara mereka.
"Netsiryn.." suara Alentys terdengar parau. Cairan bening mulai mengalir dari sudut matanya. Membuat wanita yang kini berdiri di hadapannya bingung.
"Alentys, kenapa kau malah menangis?" Netsiryn mengernyitan kening dan berkali-kali menampar pelan wajah Alentys, seakan-akan ia ingin menyadarkan Alentys yang dianggapnya aneh karena tiba-tiba menangis.
"Ryn, hentikan!" Alentys mencengkram erat pergelangan tangan wanita itu. Kedua matanya berusaha menatap tajam Netsiryn.
"A-apa?" Netsiryn, atau yang akrab disapa Ryn itu kembali mengernyitan kening. "Kau.. barusan..." Ryn tidak menyangka bahwa pria di hadapannya itu juga bisa berkata keras padanya. Padahal, sejak pertemuan pertama mereka, hingga berbulan-bulan lamanya, Alentys tidak akan tega berkata lantang pada Ryn, wanita yang ia sukai selama ini.
"Ryn, dengarkan aku!" giliran Alentys yang kini menangkup pipi Ryn sama seperti wanita itu ketika melihat Alentys menangis. "Tatap mataku, Ryn!" Alentys masih berkata serak, ia tak kuasa menahan tangisnya kala kenyataan membuat dirinya harus berpisah dengan sang pujaan hati. Namun, Ryn sama sekali tidak paham. Mengapa, dan bagaimana bisa Alentys menjadi begitu berbeda hari ini?
__ADS_1
"Alentys yang kukenal bukan seperti ini.." Ryn bergeleng kecil, ia mendorong tubuh Alentys pelan, dan memastikan apakah benar pria yang ia temui malam ini adalah kekasihnya.
"Siapa kau? kau pasti bukan Alentys--- kan?" tanya Ryn menatap tajam Alentys.
"Tidak, Ryn! Tolong, dengarkan penjelasanku sebentar!" tegas Alentys berusaha menutup kesedihannya.
"Penjelasan? Apa yang harus kau jelaskan? Katakan, Alentys!" Ryn mulai meninggikan suaranya, membuat Alentys semakin merasa bersalah pada wanita di hadapannya itu.
"Kita harus menghentikan hubungan ini, Ryn." samar-samar pria itu mulai mengutarakan maksudnya menemui Ryn hari ini. Ia sungguh merasa gagal sebagai seorang pria yang meninggalkan pasangannya secara sepihak seperti ini. Namun, dunia punya norma, dan seorang manusia dan seekor naga tidak akan pernah bisa bersama.
"Y-ya? Kau pasti sedang bercanda, kan? bukankah begitu?" Ryn tertawa kecil, namun air mata yang keluar dari pangkal matanya menjelaskan perasaan sesungguhnya saat ini.
"Ryn! Tenanglah.. Ryn! Coba dengarkan aku!" Alentys mendekatkan wajahnya pada wajah Ryn, ia menaruh kedua telapak tangannya diatas bahu Ryn kala itu.
"Ryn, kau tahu.. hubungan kita, ya, hubungan kita saat ini, itu sama sekali tidak benar, Ryn!" Alentys menarik nafasnya dalam-dalam, berat, sangat berat ia harus menerima fakta bahwa perbandingan antara dirinya dan seorang manusia seperti Netsiryn sangatlah jauh.
"Tidak!" sanggah Ryn dengan tatapan tajamnya. "Kita bisa bertemu secara diam-diam seperti ini, kan? lalu mengapa kau malah mengakhiri hubungan yang sudah kita bangun sudah payah seperti ini? Katakan dengan jelas, ALENTYS!" antara amarah dan rasa tidak percaya bercampur menjadi satu. Sungguh, jika ditanya siapa yang patut dikasihani saat ini, jawabannya bukanlah Alentys, melainkan Ryn. Coba pikirkan bagaimana perasaan wanita yang sudah cinta mati pada pasangannya, lalu ditinggalkan secara sepihak tanpa persetujuan darinya?
"Ryn, kau tahu, hubungan kita sampai kapan pun tidak pernah direstui semesta, Ryn! Maka dari itulah aku--"
"TIDAK! HENTIKAN! HENTIKAN PERKATAAN MEMUAKKAN MU ITU, ALENTYS!" Ryn menutup telinganya, ia berteriak kencang di tempat yang tak ada seorang pun yang datang kesana.
"RYN, DENGAR! DENGARKAN AKU!" Alentys menatap Ryn dengan tatapan tajam namun kedua matanya menyiratkan sebuah kesedihan yang mendalam. Wanita itu akhirnya terdiam namun masih dengan Isak tangisnya.
"RYN, KITA PUNYA CINTA, NAMUN DUNIA PUNYA NORMA! INGAT ITU RYN, INGAT!" teriakan yang begitu lantang memenuhi pendengaran wanita itu. Sakit? tentu saja. Wanita mana yang tidak sakit hati jika berada di posisi Ryn?
Namun, benar kata Alentys, dunia punya norma, dunia punya peraturannya sendiri. Selamanya, bahkan seumur hidup, Ryn dan Alentys tak akan pernah bisa bersatu.
Fakta bahwa seekor naga dan seorang manusia mempunyai posisi yang berbeda, tak bisa diterima oleh dua pasangan yang kini tengah berdiri di tengah-tengah pepohonan yang menyembunyikan mereka.
Ryn terdiam sejenak, gadis itu melepas cengkraman tangan Alentys, sungguh, ia tak rela jika hubungan nya harus berakhir begitu saja.
Ryn berlari menjauhi Alentys, bahkan tubuhnya perlahan menghilang dari pandangan Alentys.
"Maaf, maafkan aku, Ryn.." Alentys berkata parau. Pria itu memejamkan matanya sejenak, wujudnya kembali seperti semula. Seekor naga besar, ya, wujud yang begitu mengerikan jika harus diperlihatkan.
__ADS_1
Dengan sayapnya, Alentys terbang dan kembali ke istananya, tempat dimana ia hidup selama ini.