
Mendadak suasana menjadi hening, semua mata tertuju pada Baron Jones yang tengah gelagapan dengan keringat yang bercucur di wajahnya. Seharusnya jika pria itu memang benar tidak melakukannya, ia tidak perlu sampai setakut ini, bukan?
"Ayah, mengapa mereka mengatakan hal itu? Bagaimana jika.." seorang pria yang terlihat lebih muda dari Baron Jones dan berdiri di sampingnya itu juga ikut takut, ia tak kuasa menahan tubuhnya yang menampilkan reaksi tak mengenakkan.
"Tutup mulutmu, anak tak tahu diri!" ditengah kekesalannya, Baron Jones juga melibatkan putranya itu. Ia juga mengomel tak jelas dan berbicara gugup bahwa yang dikatakan oleh Marquess Ahen tidaklah masuk akal dan hanya sebatas kebohongan.
"Jangan memalsukan cerita, dasar bedeb*h! Benar-benar pendosa tak tahu diri!" ucap Baron Jones mengomel.
"Jika.. anda benar-benar tidak melakukannya, mengapa anda gugup, Baron?" Marquess Ahen tersenyum tipis.
Jika aku harus mati sekarang, maka kau juga harus mati, sialan! batin Marquess Ahen dengan tangan yang masih terikat ke belakang.
"Tampaknya akan menjadi masalah besar jika salah seorang diantara mereka tidak mau berkata jujur." ucap Rubby pelan, Zac yang mendengarnya lantas menoleh ke arah Rubby. "Apa aku perlu menghentikan mereka?" tanya Zac meminta pendapat.
"Tidak, lebih banyak penjahat yang disingkirkan, lebih bagus." Rubby tersenyum, bukannya jiwanya psikopat, tapi itu lebih baik daripada para penjahat itu berkembang ke tahap yang lebih merugikan banyak orang.
"Kesan mu sedikit berbeda dari awal pertemuan, Rubby. Aku jadi bingung, sebenarnya bagaimana sifat aslimu?" pertanyaan Zac lantas membuat Rubby menoleh dan menatap suaminya itu. "Tidak peduli bagaimana pun sifatku, selama itu sifat asliku maupun tidak, tidak masalah bagimu, bukan?" tanya Rubby, dan Zac lantas membalas dengan anggukan kepala.
"Aku selalu menerima keputusan mu, Rubby." seru Zac dengan wajah yang masih datar menatap ke arah hakim dan para pelaku serta faksi yang duduk di bagian depan.
Rubby terdiam mendengar ucapan Zac barusan. Entah darimana pria itu belajar kata-kata seperti itu, Rubby menghela nafas kasar.
"Baginda, sebenarnya apakah kau sudah tahu semuanya dari awal? Seberapa banyak yang kau ketahui?" tanya Rubby. Ia tak bisa membaca jalan pikir Zac, tapi sebelum ia mencari informasi lebih, Zac pasti akan lebih dulu mengetahui nya.
__ADS_1
"Tidak banyak, tapi sebagai Kaisar sudah seharusnya aku mencari informasi tentang hal-hal yang merugikan rakyat ku, kan?" Zac tersenyum tipis, ia lalu merubah posisi duduknya menjadi kaki kanan diatas kaki kiri, ia juga menopang dagunya dengan telapak tangan dan siku yang menempel pada pahanya.
"Aku salut, kau adalah Kaisar yang bertanggung jawab." Rubby tersenyum tipis, pandangan mereka lalu kembali terfokus pada bintang utama di persidangan kali ini. Lebih tepatnya, pelaku yang tengah dibicarakan saat ini, juga Baron Jones yang masih duduk dengan ekspresi cemas di atas bangku dengan masyarakat dan faksi lain.
"Bagaimana pendapat anda, Baginda?" tanya sang hakim yang lalu menoleh menatap wajah Zac. "Menurut ku?" Zac tersenyum tipis.
"Aku hanya menginginkan kejujuran disini, maka, jika ada salah seorang yang berkata bohong, aku tidak akan tinggal diam!" Zac berkata sinis, sementara Baron Jones mendelik tajam, ia juga mengigit bibirnya sendiri.
"Saya.. tidak melakukannya, su.. sungguh" ucap Baron Jones sedikit terbata.
"Ya, baiklah." Zac terdiam dan kembali menyenderkan punggungnya pada singgasananya.
"Apa? bagaimana bisa Baginda hanya mengatakan hal itu?!" Marquess Ahen mengerutkan kening, ia tak terima bahwa hanya dirinyalah yang dinyatakan bersalah dan harus dihukum mati.
"Jika memang ada terdakwa lain yang harus diurus, apa seharusnya persidangan hari ini akan diselesaikan dan diundur begitu saja?" tanya Zac yang lantas membuat para faksi dan masyarakat saling menatap.
"Baginda, bagaimana bisa kita membiarkan seorang penjahat begitu saja? Jika memang ada penjahat lain yang harus diurus, mengapa kita tidak menyelesaikan masalah mengenai penjahat pertama dulu? Kita tak perlu memperpanjang masalah!" ucap salah satu faksi bangsawan, ia adalah salah satu faksi pihak kekaisaran.
Masyarakat mulai beradu mulut, beranggapan bahwa Marquess Ahen tak boleh dibiarkan begitu saja. Namun disisi lain, ada juga faksi yang bertentangan dan ingin mengurus masalah Baron Jones bersamaan dengan Marquess Ahen.
"Yang Mulia, menurut saya, sebaiknya kita undur persidangan hari ini, karena.. Marquess Ahen juga merupakan bukti dalam masalah kali ini." ucap salah satu Faksi bangsawan.
Zac terdiam, ia mengangguk kecil. "Baiklah, aku akan mengundur persidangan kali ini." ucap Zac sambil melirik Rubby yang juga mengangguk kecil tanda mengiyakan.
__ADS_1
****
"Rubby, apa kau benar-benar tidak masalah? Aku mengundurnya, karena kupikir ini memang harus ditangani lebih lanjut." seru Zac ditengah pembicaraan nya dengan Rubby setelah suasana Persidangan kembali sepi dan sunyi karena tidak ada orang disana. Sedangkan nasib Marquess Ahen dan Baron Jones, mereka sementara ditangkap untuk menginvestigasi lebih lanjut.
"Iya, saya mengerti akan keputusan Baginda. Toh, kita juga tidak bisa membiarkan Baron Jones yang mungkin saja juga merupakan pelaku. Mereka harus mendapat perlakuan setimpal," jelas Rubby serius, ia tak ingin lagi bermain-main mengenai nyawa seseorang. Bisa saja, di masa depan akan tumbuh pria yang sama yang memperbudak wanita.
"Rubby, tenanglah. Aku akan mengurusnya dengan baik. Dan.. kau tidak perlu khawatir, sejauh ini, aku sudah mencari ke segala sudut wilayah kekaisaran, dan hasilnya, aku tidak menemukan yang namanya perdagangan budak seperti Marquess Ahen" ucap Zac yang membuat perasaan Rubby sedikit tenang. Wanita itu menghela nafas kasar, "Dimana mereka sekarang? Aku ingin menemuinya." ucap Rubby yang lantas membuat Zac membuka matanya lebar.
....
Krekk...
"Kau sudah menunggu lama, Marquess?" ucap Rubby begitu membuka jeruji penjara yang mengurung Marquess Ahen. Untuk berjaga-jaga, ia membawa Sir Ethan di belakangnya.
Rubby terdiam sejenak, ia mengingat hal konyol yang dikatakan oleh Zac sebelum ia memasuki penjara bawah tanah ini, bahwa ia harus membawa pisau kesana guna menusuk perut Marquess Ahen jikalau ada hal yang tidak memungkinkan. Padahal, ia sudah membawa Sir Ethan di sisinya.
"Pikirkanlah sendiri." ucap Marquess Ahen terkesan tak peduli. Ia memutuskan untuk memalingkan wajah begitu kedua mata mereka saling bertatapan.
"Aku heran, mengapa seorang pria yang dulunya begitu sombong padaku, kini malah memalingkan wajah seakan takut?" ucap Rubby memancing, dan Marquess Ahen yang memang pada dasarnya tak mudah direndahkan mulai kesal mendengar ucapan Rubby barusan. "Bisakah anda berhenti mengulang-ulang kalimat yang sama?" Marquess Ahen memantapkan hatinya untuk menatap wajah wanita di sampingnya itu.
"Baiklah, aku juga sudah lelah berdebat denganmu. Jadi, anggap saja tadi hanya permulaan untuk berbasa-basi." Rubby menarik nafas panjang, ia menghembuskan nya ke udara. Tatapannya kini berubah menjadi tatapan tajam yang mengarah pada Marquess Ahen. "Jadi, apa masalah penting yang bahkan seorang Marquess, ah tidak, seorang tahanan sepertimu, memanggilku datang kemari?" tanya Rubby langsung pada intinya. Ya, kedatangannya kemari sebenarnya bukan hanya keinginannya, pada awalnya, Marquess Ahen lah yang meminta untuk bertemu dengan Rubby, ia juga berjanji tidak akan menyakiti Rubby selagi mereka bertemu.
"Aku ingin membuat transaksi."
__ADS_1