Elf Princess

Elf Princess
Episode 26. Sebuah permata


__ADS_3

"Dimana Baginda?" Rubby bertanya pada salah seorang pengawal yang juga ikut bertugas saat Zac pergi keluar kota. Ia baru saja lewat di sekitar kamar Zac.


"Sepertinya beliau sedang berada di kamarnya. Apa mau saya panggilkan, Yang Mulia?" tanya pengawal itu hormat. Sontak, Rubby bergeleng. "Tidak." jawab Rubby singkat. Ia memang tengah berada di dekat kamar Zac, tapi bukan berarti ia ingin menemui Zac. Ia hanya ingin memastikan keadaan suami nya itu.


Dan Ingat, bahwa Rubby masih tidak mempunyai perasaan apapun pada Zac. Keputusannya untuk tidak mencintai bangsa manusia sudah ia katakan berulang kali. Namun, bagaimana pun selama ia berada di dunia manusia, Zac sudah banyak menolongnya. Jadi, Rubby harus membalas dengan hal setimpal sebagai bentuk balas Budi.


"Apa kau tidak merindukan ku? Kenapa masih berdiri disana?" pertanyaan dari arah belakang Rubby membuat wanita itu menoleh. Ia menangkap sosok pria yang tengah mengancingkan pakaiannya dan berjalan mendekatinya.


"Salam, Yang Mulia." Rubby membungkuk hormat.


"Ayo, kau belum makan malam, kan?" Zac tersenyum tipis. Pria itu mengajak Rubby untuk pergi makan malam bersama. Ia baru saja selesai mandi setelah pulang dari luar kota.


"Baginda.. ingin makan malam bersama saya?" tanya Rubby mengernyitkan kening.


"Ada sesuatu yang harus kusampaikan padamu, jadi apa salahnya jika kita makan bersama, bukan? Toh, para pelayan juga bilang bahwa kau belum makan malam." jelas Zac dengan langkah besar menuju ruang makan.


Rubby hanya mengangguk-anggukan kepalanya kecil, wanita itu terus mengiringi langkah Zac.


Beberapa hidangan dan pencuci mulut tengah disiapkan oleh para pelayan. Sementara Zac dan Rubby, mereka juga masih memasang kain di leher mereka.


"Bagaimana perjalanan anda? Apa semua berjalan baik?" tanya Rubby setelah menyeruput teh hijau miliknya.


"Ya, aku bersyukur karena kondisi kekaisaran bisa pulih kembali setelah peperangan." jawab Zac menghela nafas.


"Saya turut berbahagia akan itu." jawab Rubby masih dengan bahasa kaku.


Zac terdiam sejenak dan menatap bola mata Rubby. Entah mengapa pandangannya tak bisa untuk tak fokus pada wajah cantik wanita itu.


"Apa ada sesuatu di wajah saya?" Rubby mengerutkan kening dan meraba-raba wajahnya.

__ADS_1


"Tidak." jawab Zac sontak. Mereka lalu melanjutkan makan malam dengan tenang.


Sampai setelah suapan buah terkahir masuk ke dalam mulut Rubby, Zac mulai mengangkat suara kembali.


"Ini sudah malam, istirahatlah. Terima kasih atas hari ini." Zac tersenyum tipis. "Oh, ada yang mau kusampaikan padamu." tambah pria itu.


Zac menghela napas panjang, "Besok, datanglah ke ruangan ku, ada yang mau kuberikan padamu." ucap Zac yang lantas membuat wanita di hadapannya itu terdiam untuk beberapa saat.


"Baiklah." sahut Rubby singkat.


****


Esok harinya..


"Silakan, Yang Mulia." ucap seorang pengawal mempersilakan Rubby untuk memasuki ruangan Zac.


Dengan langkah kecil, wanita itu berjalan menghampiri Zac yang masih termenung menatap kearah luar jendela. "Kau sudah datang, ya?" Zac berucap pelan dan berbalik badan. Dilihatnya seorang wanita berambut pirang dengan gaun berwarna biru muda yang dipakainya. Ia sungguh cantik.


"Kemarilah, ada yang ingin kuberikan padamu" Zac tersenyum tipis, ia mengeluarkan sebuah kotak kecil dari saku celananya.


Apa.. Yang ingin ia berikan? Rubby membatin. Ia mengernyitkan keningnya bingung. "Jika Baginda ingin memberikan hadiah untuk saya, maka saya akan menolaknya. Saya.. saya sungguh berterima kasih, namun--"


"Permata Rubby, persis seperti namamu." Zac menyela ucapan Rubby. Pria itu membuka kotak kecil berisikan permata bernama 'Rubby'. Permata Rubby, ya, permata yang amat sangat langka itu Zac temukan di pasar gelap sebelum ia pulang ke istana.


'Aku melakukan ini untukmu, Rubby. Tolong, terimalah' batin Zac. Ia takut Rubby menolak pemberiannya. Padahal, pria itu sudah merelakan dirinya pergi ke pasar gelap hanya untuk membeli permata Rubby, permata yang muncul 40 tahun sekali. Dan Zac, ia mendapatkannya dengan tidak mudah.


Flashback beberapa waktu lalu..


"Tuan, bisakah anda bertanya apa keperluan anda? mungkin saja saya bisa membantu anda." seorang pria dengan topeng berbentuk kelinci berwarna hitam tersenyum menghampiri Zac. Ia tampak bingung dengan style Zac yang begitu tertutup. Karena wajar saja, Zac memakai jubah hitam dan penutup wajah yang membuat tidak ada seorang pun yang bisa melihat wajahnya dengan jelas.

__ADS_1


"Saya.. membutuhkan permata Rubby." seru Zac pada pria itu. Ia langsung mengatakan pada intinya.


"Baiklah, biar saya antar anda ke tempat penjualan permata, mungkin mereka menjual permata langka tersebut, kan?"


Begitulah Zac menemukan permata Rubby, ia bahkan menghabiskan waktunya berlama-lama disana untuk mencari sebuah permata langka.


"Tuan, apa benar anda mencari permata Rubby?" tanya seorang penjual permata. Sama seperti pria yang menghampiri Zac tadi, pria itu juga memakai topeng kelinci berwarna hitam. Entah apa artinya, tapi yang jelas kebanyakan penjual disini memakai topeng itu untuk menyembunyikan wajah asli mereka.


Zac hanya mengangguk. Lalu segera, penjual permata itu menyeringai. "Kalau begitu, anda telah mendatangi tempat yang tepat." ujarnya tegas.


Benar saja, tak lama setelah ia masuk ke dalam tokonya, pria itu mengeluarkan permata yang dicari-cari oleh Zac. Permata berwarna merah cerah dengan sinar yang menyinarinya. Sudah dipastikan bahwa permata itu asli.


Zac mengernyitkan kening. "Apa kau mau bercanda denganku?!" ia berkata lantang. Tangan Zac meraih kerah pakaian penjual itu dan menatapnya dengan tajam. Tatapannya yang mengintimidasi membuat sang penjual mendelik dengan tubuh yang sedikit bergetar.


"Hey, tuan! Bisakah kau tenang? akh.."


Memang sudah biasa jika ada pembeli yang seperti itu. Jadi, pria itu tak bisa berkutik dan membalas fisik pada Zac.


"Lalu, bagaimana bisa kau membuktikan bahwa itu adalah barang asli?!" tanya Zac penuh penekanan. Ia sebenarnya hanya ingin memastikan apakah permata itu benar-benar asli atau tidak. Namun, jika dilihat melalui bola mata Zac yang sudah terbiasa mengecek keaslian sebuah permata, bisa dipastikan 99% bahwa permata itu memang asli.


"Ya, baiklah. Saya akan mencoba menggunakannya, jadi, tolong lepaskan saya, oke?" penjual itu mengigit bibir bawahnya kesal. Ia membatin dan mencemooh Zac dalam hatinya itu.


"Seperti yang anda tahu, legenda nya, permata Rubby berasal dari jantung seekor naga yang memberikannya pada daerah di bagian Timur. Dan seharusnya, permata ini bukanlah permata biasa. Permata Rubby, orang-orang banyak yang menyebutnya permata sihir karena bisa mengeluarkan sihir. Jadi, saya akan membuktikannya sekarang juga!" jelas penjual itu panjang lebar.


Penjual itu mulai menutup mata dan menggenggam permata itu. Sebuah sihir besar mulai muncul di sekitarnya, menunjukkan betapa kuatnya permata itu.


Zac menutup sebagian matanya, ya, jujur saja, permata itu bahkan lebih kuat darinya. Dan membuat Zac harus menahan cahaya yang mungkin akan menusuk matanya. Jika saja pria itu tidak mempunyai mana yang kuat, maka Zac tidak akan bisa menahannya. Serta salah satu alasan ia bisa menahan kekuatan dalam kalung Elf yang ia gunakan saat peperangan, adalah karena mana yang berada di tubuhnya.


"Baiklah, aku akan menerimanya." Zac terdiam sejenak, ia sudah memantapkan dirinya.

__ADS_1


'Jika Rubby adalah pemilik kalung yang aku gunakan saat peperangan. Mungkin saja permata ini juga bisa ia gunakan,' Zac mulai berpikir, bisa saja Rubby mempunyai mana yang kuat sepertinya.


"Katakan berapa bayaran yang harus kubayar. Aku akan mengeluarkannya." ucap Zac dengan tatapan tajam.


__ADS_2