
"Viona, aku tidak tahu alasanmu membenciku. Tapi, bisakah sekali saja aku memelukmu?" Diana tak peduli akan segalanya. Ia hanya ingin melepas rindu dengan putrinya, Viona. Hanya itu, tidak lebih. Ia berusaha keras menahan air mata yang akan segera mengalir dengan tetap tersenyum.
Diana merentangkan tangan, berharap Viona melangkah mendekati dan memeluknya, ia ingin Viona menangis haru dalam dekapannya. Ia ingin Viona datang dan tersenyum menatapnya, walau mungkin untuk saat ini gadis itu tak akan bisa tersenyum.
Viona terdiam, gadis itu masih menatap tajam ibunya. Tak peduli bagaimana perasaan sang ibu, bagi Viona, Diana adalah kutukan baginya. Namun.. mengapa?
"Kau adalah wanita yang telah melahirkan ku di dunia. Melihatkan ku bagaimana kejamnya dunia ini. Dan sekarang, kau malah tersenyum seakan-akan tidak mengerti perasaanku?" Viona tersenyum parau. Gadis itu masih berdiri tegap di tempatnya, seakan ia menolak rentangan tangan dari sang ibu yang menunggu kehadiran Viona dalam dekapannya.
Diana terdiam. “Bodoh, kau bodoh sekali, Diana!” Diana merutuki dirinya sendiri. Ia bergumam dan menyesal akan segalanya. Tapi semua telah terlambat.
"Maafkan aku. Aku hanya menginginkan kebahagiaan mu." Diana tersenyum, sekeras apapun ia mencoba menjelaskan bahwa ia hanya menginginkan kebahagiaan putrinya melebihi kebahagiaan dirinya sendiri, pada akhirnya Viona tetap teguh akan pendiriannya bahwa ia begitu membenci wanita yang telah membuatnya lahir dan merasakan penderitaan dunia.
Sakit, sakit rasanya harus mendengar kebencian dari seorang putri yang telah susah payah dilahirkan ke dunia. Padahal Diana selalu memikirkan Viona, memikirkan bagaimana keadaan putrinya itu. Bukan hanya putrinya, bahkan ia juga merindukan putranya yang juga sudah membuangnya dari awal. Dan sekarang.. haruskah ia menerima fakta bahwa putrinya juga membuangnya?
Diana meremass gaunnya, rasanya ia ingin menghilang saat itu juga. Penyesalan selalu datang diakhir. Jika Diana tahu bahwa di masa depan ia akan ditolong oleh kekaisaran setelah berpisah dengan suaminya, mungkin Diana akan memilih untuk membawa putrinya. Dan bisa saja Viona hidup tenang di istana saat ini, bukan?
"Marquess, apa anda yang telah membawa saya ke tempat ini?" Diana mengigit bibir bawahnya. Kini bola matanya tertuju pada seorang pria yang berdiri tepat di samping putrinya.
"Kalau iya, kau mau berbuat apa, mantan Baroness?" tanya Marquess Ahen dengan nada merendahkan. Ia tertawa renyah begitu Diana menatap tajam dirinya.
"Jika kau membawaku kemari hanya untuk memperlihatkan hal ini, seharusnya kau melepaskan ku sekarang!" tegas Diana menahan air mata yang mungkin akan segera turun dari matanya.
"Ah, begitukah? Padahal aku hanya ingin membantu seorang ibu melepas rindu dengan putrinya. Tak disangka, kan? Kalau putrinya malah berkata begini." Marquess Ahen kembali tertawa renyah, hal itu membuat Diana semakin muak berlama-lama disini.
Diana menoleh ke arah pintu yang masih terbuka, ia baru sadar bahwa sedari tadi ia dikurung layaknya seorang tahanan dalam jeruji besi. Dengan cepat, Diana memajukan langkahnya dan hendak keluar dari sana.
"Tunggu!" panggilan dari seseorang membuat Diana menghentikan langkahnya. Ia berbalik badan, matanya lalu terbuka lebar melihat apa yang tengah di genggam Marquess Ahen saat ini.
"Pi..pisau? Apa anda gila?! Apa yang ingin anda lakukan sekarang?!" Diana mengigit bibir bawahnya, ia berlari menghampiri Marquess Ahen yang mencoba menyayat leher Viona, putrinya. Entah apa mau pria itu sekarang.
"Hentikan! Katakan apa maumu!" tegas Diana menatap tajam Marquess Ahen.
"Mauku, ya?" Marquess Ahen tersenyum tipis. Pria itu menatap Diana dan Viona bergantian.
"Kau akan mengiyakan semua keinginanku? Kalau iya, maka aku tidak akan membunuh putrimu ini." seru Marques Ahen santai.
"Membunuh? Apa kau gila?!" Diana mengepal tangan. Ia tidak mempunyai hubungan buruk dengan pria itu, lantas mengapa Marquess Ahen sampai berbuat sejauh ini?
"Aku ingin nyawa anak asuh mu itu, sialan!" Marquess Ahen membuka matanya lebar. Ia melepas pisau dalam genggamannya dan mencekik leher Diana secara tiba-tiba.
__ADS_1
"ughh.."
"Anak asuhku?.. Apa... apa yang kau maksud?" Diana mengernyitkan kening, ia juga berusaha melepas cekikan tangan Marquess Ahen yang dengan kejam mencekik lehernya. Ia bahkan sulit untuk berbicara saat ini.
"Iya, Kaisar bodoh itu. Aku mau dia mati saat ini juga," ucap Marquess Ahen berbicara tanpa dosa. Pria itu berbicara santai seakan-akan ajal dekat akan segera menjemput Zac, si Kaisar yang dimaksud.
"Kau.. dasar pria gila! Lepaskan aku!" Diana kembali mengernyitkan kening dan mendorong tubuh Marquess Ahen.
"Jika bukan karena kau yang berada di dekatnya, maka pria bodoh itu pasti sudah mati karena mental nya yang lemah." ucap Marquess Ahen. Ia tidak segan-segan menghina Zac walau statusnya resmi menjadi Kaisar.
Diana terdiam. Memang benar perkataan Marquess Ahen bahwa selama ini ialah yang menyemangati Zac. Namun apa alasan Marquess Ahen sampai seperti ini? Apa dia membenci Zac karena alasan tertentu? Diana masih terdiam karena tak bisa menjawabnya.
"Apa kau mau berurusan dengan seorang Kaisar?" seru Diana. "Jangan mengada-ada." tambah Diana menghela nafas.
Marques Ahen terdiam sejenak. "Apa kau tidak tahu, kalau anak asuh mu itu sekarang sedang berperang?" ucap Marquess Ahen, ia lantas melepas tangannya yang mencekik leher Diana.
"Apa?" Diana mengernyitkan keningnya.
"Ya. Aku baru saja ingat kalau hari ini pasti kerajaan-kerajaan itu sudah mengajukan peperangan dengan Kaisar sendiri. Dan ya, sepertinya aku tidak harus memintamu untuk meracuninya."
Perkataan Marquess Ahen semakin membingungkan, ah, bukan, bisa terbilang gila.
"Apa?!" Diana mengepal tangan, baginya Zac sudah seperti putranya sendiri. Tapi sekarang, ia malah diam saat putranya dihina.
"Sebentar lagi dia akan mati, maka dari itu aku harus membunuh kau beserta putrimu ini agar tidak menjadi penghalang di masa depan." ucap Marquess Ahen menyeringai.
Ya, alasan utama ia membawa Diana dan Viona di tempat ini adalah untuk membunuhnya. Karena Diana adalah salah satu pendukung Zac.
Marquess Ahen kembali mengambil pisau yang tergeletak di tanah, ia mulai mendekatkan nya ke arah leher Viona.
"Hentikan! Dasar gila!" Diana melangkah cepat dan berusaha menghentikan aksi Marquess Ahen.
"Gila? Ya, aku memang gila. Jadi biarkan aku membunuh putrimu." ucap Marquess Ahen mengangkat sudut bibirnya. Diana mengigit bibir bawahnya, ia berusaha menangkis pisau yang mungkin akan menyayat leher Viona.
"Ibu, pergilah jika kau masih mau hidup." Viona berkata lemah dan menatap Diana. Diana terdiam. Ibu? Putrinya memanggilnya ibu? Hati Diana tersentuh kala Viona mau memanggilnya ibu. Namun, hal itu tak berlangsung lama karena Marquess Ahen dengan cepat mengambil kesempatan dan..
KREKK...
"Vi.. Viona.."
__ADS_1
Deg.. deg.. deg.. jantung Diana berdegup kencang, dilihatnya jasad putrinya yang baru saja kehilangan kepalanya, di depan matanya sendiri. Diana bahkan tak bisa mengeluarkan air mata karena terlalu terkejut, jantungnya seakan berhenti berdetak.
"Ka.. kau.. kau pembunuh!"
Masih tak percaya, Diana menatap dalam mayat putrinya. Kakinya seketika lemas, namun dilain sisi ia tak bisa tumbang begitu saja.
"Sekarang giliran mu." dua kata yang terucap dari mulut Marquess Ahen membuat Diana mengepal tangan. Ia tidak mau meninggalkan jasad putrinya, tapi jika ia terus berada disini, ia akan bernasib sama seperti Viona.
Diana menatap ke arah pintu yang terbuka. Dengan cepat, Diana berlari keluar walau dengan kondisi kaki yang sudah lemas.
"Mau lari, ya?!" Marquess Ahen mengernyitkan keningnya kesal. Ia ikut berlari mengejar Diana.
Sepanjang perjalanan, Diana melihat wanita-wanita muda yang terkurung sama seperti nya tadi. Namun, Diana tak ada waktu untuk memerhatikan nya dengan jelas, karena yang terpenting sekarang adalah lari sejauh-jauhnya.
"Sialann!!!" Marquess Ahen berdecih, karena sudah lelah, pria itu memerintahkan pengawalnya untuk melanjutkan mengejar Diana.
Sementara Diana, tak peduli bagaimana rasa sakit di tubuhnya, ia tetap berlari untuk menyelamatkan diri. "Hah.. hah.. hah.."
Baginda, siapapun, tolong aku... Batin Diana seraya mengigit bibir bawahnya.
"KAU SUDAH TERTANGKAP!" teriakan dari seorang pengawal membuat Diana berbalik badan. Diana terdiam sejenak, ia lalu kembali membelakangi pengawal itu, namun seorang pengawal kembali berdiri di depannya.
Diana telah terkepung.
Wanita itu memejamkan matanya, ia sudah pasrah akan nyawanya yang sudah diambang Kematian.
Namun..
BRAKK!
"JANGAN SENTUH BARONESS!" tiba-tiba saja datang seorang pengawal yang berseragam lengkap, namun jauh berbeda dengan pakaian yang dipakai oleh pengawal-pengawal Marquess Ahen.
Diana terdiam sejenak. Lambang yang tertempel di lengan atas pria itu menyadarkan Diana akan status pengawal itu.
"Pengawal.. kekaisaran?"
Ya, pengawal Kekaisaran datang, nyawanya terselamatkan.
"Pergilah lewat belakang, Nyonya. Disana ada kereta kuda yang akan mengantar anda kembali ke istana."
__ADS_1