Elf Princess

Elf Princess
Episode 17. Cinta Buta


__ADS_3

Slynie menyeringai kecil, ia menatap tajam Rubby dan bangkit dari kursinya. "Biar kupikir, bagaimana cara seorang permaisuri ini menghibur rakyatnya?" tanya Slynie mengigit bibir bawahnya.


"Haruskah saya memberi tahunya? Sedangkan kau sekarang menatapku seakan-akan aku adalah seorang penjahat." ucap Rubby mengerutkan kening. Padahal, awalnya Rubby benar-benar tulus ingin menghibur wanita itu.


SRING!


"MATILAH KAU!" Slynie berteriak keras, bahkan teriakannya terdengar sampai ke dalam istana. Wanita itu dengan nekat mengeluarkan sebilah pisau dan mendekati wajah Rubby. "Kau pasti sangat membangga-banggakan wajahmu ini, kan? Sekarang, biar kau lihat bagaimana ekspresi Baginda yang akan merasa jijik akibat luka di wajah mu." ucap Slynie tertawa jahat. Ia menyayat wajah Rubby dengan pisau yang ia bawa tanpa Rubby sadari.


Rubby mengepal tangannya, ia mengangkatnya dan mencekik leher Slynie. "Kau.. kau bilang aku wanita yang tidak tahu diri, kan? Sekarang, coba katakan siapa yang lebih tidak tahu diri disini!" ucap Rubby berkata keras. Ia tidak peduli bagaimana pandangan orang lain jika melihatnya, tapi ia sangat tidak menyukai kalau dirinya bisa ditindas begitu saja. Kejadian saat ia masih berada dalam dunia elf, ia tidak akan mengulanginya di dunia kedua ini.


"Rubby!" Zac berlari menghampiri istrinya itu. Matanya terbuka lebar begitu mendapati luka yang membekas di wajah Rubby. Pria itu mengigit bibir bawahnya, ia merasa kesal karena tidak bisa menjaga Rubby dengan baik. "Bukankah sudah kubilang agar jangan mengikuti dia?! Dia itu sudah gila! Kau harus menuruti ku kali ini, Rubby!" ucap Zac. Zac tidak ingin mengulang hal yang sama dengan mencengkram lengan Rubby, saat sadar, Zac buru-buru memeluk tubuh wanita itu dan memeriksa lukanya.


"Apa ini sakit?" tanya Zac serak. Rubby bergeleng, "Tidak, tidak sakit sama sekali." jawab Rubby. Mungkin sekarang ia sedang berbicara dengan Zac, tapi tatapannya tidak bisa beralih menatap Slynie yang kini tertawa puas melihat wajah Rubby.


"Baginda, Lihatlah! apa lagi yang harus anda banggakan dengan wanita itu? Wajahnya bahkan sudah tergores dan meninggalkan bekas luka!" ucap Slynie tertawa. Benar saja perkataan Zac, Slynie sudah gila, lebih tepatnya psikopat. Ia melakukan segala cara, bahkan menggunakan benda tajam hanya karena kebencian dalam hatinya.


"Orang gila tidak akan mengaku dirinya gila, begitupun denganmu, Nona Slynie." ucap Rubby menekankan, kedua matanya menatap dingin wanita yang kini tersungkur diatas tanah akibat Rubby. Setelah mencekik leher Slynie, karena kesal, Rubby membanting tubuh Slynie dan mengempaskannya keatas tanah.


"Apa? Baginda, bagaimana bisa anda mengatakan hal seperti itu? Yang.."


"Yang seharusnya ada di samping Baginda sekarang adalah saya! Saya.. saya adalah wanita yang tepat untuk anda! Bisakah anda mengerti itu, Baginda?" Slynie mengerutkan kening dan meremas gaunnya.

__ADS_1


"Nona Slynie, ini adalah peringatan pertama sekaligus terkahir untukmu.." Zac menghentikan langkahnya. "Menjauh lah dari kehidupan ku, dan berhenti mengganggu istriku." ucap Zac dingin. Mendengarnya, Slynie hanya bisa terdiam. Ia bahkan tidak bisa menangis karena terlalu terkejut akan apa yang terjadi.


"Aku mempertimbangkan mu karena kau adalah putri dari seorang bangsawan. Tapi, ternyata kau lebih gila daripada yang aku kira. Kau sekarang bahkan telah menjadi seorang pembunuh." ucap Zac tegas. Tak ingin membuang waktu dan meluapkan emosi terlalu banyak, Zac meminta para pengawalnya untuk mengurus Slynie. Sementara itu, Zac mengarahkan Rubby untuk beristirahat di kamar dan mengobatinya.


Zac juga meminta untuk terpaksa menghentikan pestanya karena kejadian buruk telah terjadi.


*****


"Baginda, saya kan sudah bilang ini tidak sakit sama sekali!" ucap Rubby menghela napas. Namun Zac dengan keras kepala mengambil kotak obat dan mengobati luka Rubby. Lukanya lumayan dalam. Wajar saja, benda yang menyayat wajah Rubby adalah sebuah pisau tajam, dan tidak mungkin luka itu tidak meninggalkan bekas luka dalam.


Padahal luka ini akan mudah hilang karena aku mempunyai kemampuan Elf. Tapi ia tetap saja keras kepala ingin mengobatiku.. lagi-lagi Rubby menghela napas. "Bagaimana pun terima kasih." ucap Rubby tulus. Ya, walaupun Rubby tidak mempunyai kekuatan yang besar, tapi setidaknya lukanya akan cepat sembuh karena ia adalah keturunan Elf.


Zac mengangguk pelan, "Aku menerima pernyataan terima kasih mu." ucap Zac yang masih fokus mengobati luka Rubby. "Maka dari itu, sekarang kau harus belajar untuk bisa duduk dengan tegak dan tidak bergerak. Atau kalau tidak, obatnya bisa saja memasuki matamu." ucap Zac yang membuat Rubby membuka bola matanya lebar sesaat.


"Nah, sudah siap!" Zac tersenyum lebar menatap wajah Rubby. Ia juga sudah menempelkan plester di wajah wanita itu.


"Kalau begitu, saya akan kembali ke kamar saya." Rubby tersenyum tipis, ia bangkit dari tempat tidur dan membungkuk. "Terima kasih sekali lagi karena anda sudah--"


"Kau akan tidur bersama ku hari ini." ucap Zac tegas.


"A-apa?" kedua mata Rubby terbuka lebar, Zac memang selalu mengagetkan dirinya karena sering bicara terlalu tiba-tiba.

__ADS_1


"Saya akan kembali ke kamar saya saja, Baginda. Saya minta maaf karena.."


"Terlalu berbahaya bagimu tidur sendiri sekarang. Setidaknya, hanya hari ini atau mungkin tiga hari ke depan aku memastikan tidak akan bahaya yang mengancam, kau boleh tidur di kamarmu." ucap Zac sungguh-sungguh. Lantas, ia melangkah dan mengambil salah satu bantal diatas tempat tidur. "Kalau kau keberatan, aku akan tidur di sofa, tenanglah." ucap Zac menghela napas. Karena niatnya memang sungguh hanya karena khawatir akan keadaan Rubby, ia sama sekali tidak terpikirkan hal lain, karena memang Zac baru bertemu beberapa kali dengan wanita yang kini sudah menjadi istrinya itu.


Tak ingin ambil pusing, Rubby akhirnya mengiyakan untuk tetap berada di kamar Zac sementara. "Saya akan berada disini, tapi Baginda tidak perlu tidur diatas sofa seperti itu." ucap Rubby.


"Dimana kau akan tidur?" Zac mengerutkan keningnya bingung. Tidak mungkin kan Rubby menawarkan diri tidur diatas sofa?


"Aku akan tidur di atas kasur anda juga. Kita kan bisa membatasinya menggunakan sesuatu, Hem.. semisal.. guling?" jawab Rubby agak ragu. Ia tahu bahwa Zac pasti tidak akan memperbolehkan dirinya menggantikan Zac tidur diatas sofa.


"Apa kau tidak keberatan jika harus tidur seranjang?" tanya Zac ragu, namun dengan cepat Rubby mengangguk.


"Baiklah," Zac ikut menganggukkan kepalanya. Ia berpamitan pada Rubby untuk pergi sebentar karena ada tugas yang belum ia selesai kan. Ia meminta agar Rubby tetap berada di kamar karena kamar Zac mendapatkan penjagaan yang jauh lebih baik dibanding kamar lain.


"Huft.." Rubby menghela napas panjang, setelah waktu yang cukup lama ia lalui untuk pernikahan ini, akhirnya tiba juga hari dimana ia menikah dengan Zac, Kaisar Kekaisaran Goncalves itu.


Dengan hati-hati, Rubby membaringkan tubuhnya yang nyaris remuk itu. Ya, tentu saja itu karena ia mempersiapkan berhari-hari untuk pesta satu malam yang diadakan di istana.


Rubby menarik selimut dan menutupi sebagian tubuhnya. Ia mulai terpejam karena rasa lelah yang sudah tak bisa ia tahan lagi.


Esok harinya..

__ADS_1


"Ba.. bagaimana bisa??"


__ADS_2