
End Flashback...
***
Istana Kekaisaran..
"Apa? Marquess Ahen seorang pembunuh? Apa aku tidak salah dengar?"
"Apa wanita itu mengada-ada? Tapi, dia kan wanita yang dijadikan saksi utama oleh Baginda sekarang."
Ocehan-ocehan kembali terdengar dari dalam istana. Tentunya karena Diana mengungkap fakta bahwa Marquess Ahen adalah pelaku pembunuhan putrinya.
"Jangan menuduhku!" sarkas Marquess Ahen yang masih teguh akan pendiriannya.
Namun, kali ini tak ada lagi yang mempercayai orang itu. Bagi semua orang, Marquess Ahen hanyalah beban kekaisaran sekarang. Mau ia benar melakukan kejahatan atau tidak, yang terpenting reputasinya sudah sangat buruk.
Diana menatap Zac sekilas, wanita itu kembali mengangkat suaranya, "Baginda, bolehkah saya memberikan pelajaran untuk nya sekarang? Setelah itu, Baginda boleh melakukan apa saja padanya." ucap Diana dengan kepala yang sedikit menunduk.
"Lakukan apa maumu, Baroness." ucap Zac mengangguk kecil. Tidak masalah baginya jika Diana memberi pria itu pelajaran. Lagipula, yang korban disini adalah para wanita termasuk Rubby dan Diana.
Diana terdiam sejenak, tangannya mengepal untuk sesaat, ia meremass kuat gaunnya dan berusaha menahan tangis. Ia tak ingin terlihat lemah untuk menghajar pelaku pembunuhan putrinya.
Pembunuh tetaplah pembunuh. Kau tak pantas hidup layak di dunia ini. Diana membatin, mengigit bibir bawahnya kasar sehingga satu cipratan darah menetes dari bibirnya.
...
PLAK!
"Ini adalah tamparan karena KAU telah MEMPERBUDAK PARA WANITA!"
PLAK!
"INI ADALAH TAMPARAN KARENA KAU TELAH MENGHINA PERMAISURI."
__ADS_1
PLAK!
"Dan yang terakhir..." Diana terdiam sejenak, hatinya tiba-tiba merasa nyeri, bahkan jantungnya seakan berhenti berdetak.
"Ini adalah tamparan..."
"KARENA KAU SUDAH MEMBUNUH PUTRIKU, VIONA."
Tak peduli pandangan semua orang terhadapnya. Sekarang, di hadapan banyak orang, ia hanya ingin memberi pelajaran atas semua yang telah terjadi karena ulah Marques Ahen. Bahkan, tamparan bukanlah harga setimpal atas semua yang telah pria itu lakukan. Banyak nyawa yang menghilang, dan para wanita yang diperlakukan seenaknya.
Para bangsawan kembali berbisik-bisik, ada juga dari mereka yang tertawa puas karena Marquess Ahen diperlakukan hina kali ini, sama seperti biasanya ia memperlakukan orang lain.
Grttt.. Marquess Ahen mengigit bibir bawahnya, perasaan kesal sekaligus malu tercampur menjadi satu. Namun ia hanya bisa tertunduk lemah di hadapan banyak orang.
Setelah puas menampar Marquess Ahen, Diana kembali ke tempat semula. Rasa lega sedikit muncul dalam benak hatinya. Setidaknya ia lega bisa menghajar seorang pembunuh dari putrinya. Ya walau hal tersebut masih belum bisa membayar nyawa yang telah hilang.
Kerumunan orang mulai memudar seiring berjalannya waktu, karena malam juga sudah larut, maka Zac memerintahkan para bangsawan untuk pergi dari Istana.
Lalu sekarang, yang tersisa hanya Rubby, Diana, dan para wanita yang ditemukan di ruangan tersembunyi dalam tanah dan dijadikan budak oleh Marquess Ahen.
Tapi tetap saja, wanita-wanita itu masih terdiam dengan kepala yang tertunduk. Wajah mereka terlihat suram, dan tubuh mereka masih sedikit bergetar. Bahkan ada dari mereka yang memainkan kukunya sehingga berdarah.
Rubby mengepal tangan sejenak, wanita itu lalu menghembuskan nafas kasar. "Aku hanya akan memberinya hukuman pengasingan jika kalian terus diam." seru Rubby penuh penekanan. Pengasingan? tentu saja itu terlalu mudah untuk memberi pelajaran pada seorang pembunuh sekaligus seorang pria yang telah tega menyiksa wanita.
Para wanita itu lantas mengangkat dagu mereka, kini Rubby bisa melihat jelas wajah mereka semua, dan tentu banyak dari mereka yang mempunyai bekas luka di wajahnya.
Deg!
"Wajah... kalian.." Rubby bergumam pelan. Kedua matanya terbuka lebar.
Sementara Zac yang menyadarinya, ia lantas menarik bahu Rubby agar menghadapnya, ia tidak tega jika Rubby harus melihat wajah-wajah wanita itu yang mungkin bisa dibilang sangat seram, ya, seperti kutukan. Banyak bagian yang robek dan rusak, sungguh tak layak jika disebut mereka baik-baik saja.
"Baginda, apa yang anda laku--"
__ADS_1
"Shttt! Jangan melihat, Rubby." ucap Zac khawatir. Namun dengan cepat Rubby bergeleng, ia melepas tangan Zac yang masih berada diatas bahunya. "Aku tidak apa, sungguh." ucap Rubby tersenyum.
Rubby menggenggam tangan Zac dan bergeleng kecil, ia mengisyaratkan untuk tidak memikirkan wajah wanita itu. "Aku adalah wanita, apa kau lupa?" ucap Rubby. Ia mengubah gaya bahasanya menjadi lebih santai, yang tadinya berbahasa formal saya, sekarang menjadi aku.
"Ma.. maafkan kami." para wanita itu kembali menunduk, mereka berpikir bahwa wajah mereka memang seperti monster. Tapi, itu semua bukan salah mereka. Setiap wanita pasti mempunyai wajah yang cantik, dan yang menyebabkan luka-luka itu bukan mereka, tapi Marquess Ahen si pendosa, ah, mungkin lebih bagus jika dibilang begitu.
Rubby mendekati para wanita itu, ia menggenggam jari jemari mereka dan menyatukannya. "Jangan khawatir, aku adalah wanita, dan aku mengerti bagaimana perasaan kalian." ucap Rubby tersenyum. "Katakanlah, apa hukuman yang pantas untuk si pendosa sepertinya?" kini, ucapan Rubby beralih lebih serius. Ia menatap lekat wajah mereka yang kembali terdongak.
Para wanita itu saling memandang, mereka lalu mengangguk kecil, dan salah seorang darinya mengangkat suara. "Kami ingin dia hilang di dunia ini, Baginda" ucap salah satu wanita pada Rubby. Menghilang? Rubby terdiam sejenak, tidak butuh waktu lama untuknya mengerti.
Rubby mengangguk paham, wanita itu berbalik badan dan kembali menatap Marquess Ahen yang sudah lemah tak berdaya. "Baginda, Saya ingin.. mengajukan permintaan hukuman mati untuk Marquess Ahen, bisakah... persidangan dilakukan esok?" tanya Rubby dengan mata yang menatap tajam ke depan, dan di samping itu, Diana membuka matanya lebar. Cukup mengagetkan jika wanita dengan wajah lembut seperti Rubby kini berkata tegas, ia bahkan tak segan-segan mengatakan hukuman besar yang berkaitan dengan 'darah'.
Rubby mengangkat sudut bibirnya, ia melihat Diana yang masih terkejut akan ucapan yang barusan ia keluarkan. "Jangan terkejut, bibi. Karena aku juga sudah dewasa, aku sudah mempertimbangkan nya dengan matang." seru Rubby yang membuat Diana hanya mengangguk pelan namun tak bisa berkata-kata.
"A-apa? Baginda! Saya mohon ampuni saya! Sa.. saya rela jika gelar saya dicabut, tapi jika hukuman mati maka--"
"Berhenti beroceh, suaramu membuatku muak." Zac memotong ucapan Marquess Ahen, ia menatap pria itu dengan tatapan dingin dan beralih menatap Rubby. "Aku akan meminta Edward mempersiapkannya, tepat esok hari." tegas Zac penuh penekanan.
"Sir Ethan.." Zac menatap netra mata Ethan yang masih berdiri tegap disana. Ya, selain Rubby, Diana, Zac, dan juga para wanita bekas diperbudak, jangan lupakan Ethan yang masih setia berada di samping Rubby untuk menjaga nyonya nya itu.
"Saya akan membawanya ke ruang bawah tanah, Baginda." tak perlu dijelaskan, tampaknya Ethan sudah mengerti akan tatapan Zac yang mengisyaratkan banyak hal itu. Ethan membungkukkan badannya sedikit dan menarik pergelangan tangan Marquess Ahen untuk dibawa ke penjara bawah tanah, ruangan yang sempit dan gelap, sama seperti Marquess Ahen yang memperbudak para wanita yang ia taruh di dalam jeruji penjara.
"Ha.... hah.." kaki Diana melemah, ia sudah cukup lelah hari ini. Wanita itu mengernyitkan keningnya beberapa saat. "Biar saya yang antar bibi ke kamarnya." ucap Rubby pada Zac yang masih berdiri disana, pria itu mengangguk kecil.
"Kau juga istirahat lah." ucap Zac menghela nafas. Ia memijit pelipisnya sendiri karena ia juga cukup lelah mengurusi kasus Marquess Ahen.
"Eum, Baginda, bagaimana dengan wanita-wanita ini?" Rubby berbisik pelan.
"Aku akan menyuruh para pengawal menempatkan mereka di tempat yang layak, tenanglah, jangan khawatir." sahut Zac yang sedikit menyunggingkan senyuman di wajahnya, hal itu membuat Rubby sedikit lega. "Sampai bertemu esok hari, Baginda" Rubby tersenyum tipis. Wanita itu lalu berbalik badan untuk mengantar Diana yang sudah lemas ke kamarnya.
Sementara itu, entah sejak kapan hujan kembali turun membasahi istana. Zac menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskan nya.
Hujan?
__ADS_1
Entah mengapa perasaan Zac menjadi tak enak, rasa sesak bergemuruh dalam hatinya. "Sudahlah," Zac memutuskan untuk berbalik badan dan mengalihkan pandangan dari rintik hujan yang ia lihat lewat jendela.