
Rubby tersenyum tipis, sebelum ia kembali mengangkat suara, nampak seorang gadis muda mengangkat tangan seraya mengerutkan keningnya. "Maaf, aku bukannya bermaksud ingin menyinggung Yang Mulia. Namun, perkataan anda barusan sangat tidak pantas dikatakan di hadapan banyak orang, terlebih, itu adalah aib seorang wanita!" ucap si gadis seraya mengepal tangannya.
Mendengar pernyataan gadis itu, Rubby menyikapinya dengan tenang. Ia tak membalasnya dengan amarah, "Aku mengerti apa maksud ucapan mu barusan, maka dari itu, aku bertanya kepada para wanita, tidak, maksudku, semua orang disini. Apa dari kalian ada yang pernah mengalami pelecehan.. atau.. kekerasan fisik?" ujar Rubby. Lagi, suasana kembali hening.
"Ya, aku mengerti perasaan kalian. Baik korban ataupun bukan, sebagai manusia, terlebih, seorang wanita, aku sangat prihatin pada kalian, para wanita yang telah diperlakukan tak layak oleh pria buruk diluaran sana." Rubby menghela nafas sejenak, ia lalu kembali melanjutkan ucapannya. "Mungkin banyak yang berpikir, kejadian kali ini bisa terjadi karena sebuah kedudukan seseorang. Tak ada yang tidak tahu kalau kedudukan seorang Marquess maupun Baron tentu saja lumayan tinggi bagi rakyat biasa. Tapi, bisakah kalian berpikir, bagaimana orang-orang diluaran sana, yang hanya berasal dari desa biasa, terlahir sebagai orang miskin, namun masih bisa melakukan kejahatan pada sesamanya?"
"Kita tak bisa menyalahkan korban, dan kita juga tak bisa berpikir bahwa selamanya yang berada di atas akan selalu menang."
"Tapi, bagaimana jika pelaku utamanya memang seorang bangsawan tinggi?" Rubby bertanya, dan semua orang kini berbisik-bisik.
"Masyarakat akan mempunyai dua pikiran umum sebelum kebenaran terungkap. Pihak rakyat akan berpikir bahwa bangsawan adalah orang yang jahat dan bersifat buruk sehingga memakan banyak korban kekerasan maupun pelecehan pada para wanita. Sedangkan pihak bangsawan akan berpikir bahwa si 'wanita-wanita' itulah yang telah mendekatkan diri dan menggoda pada bangsawan yang telah melecehkannya."
"Masalah utamanya kali ini adalah, bagaimana dan apa yang telah terjadi sehingga bisa timbul konflik atau masalah antara bangsawan yang memperbudak wanita dari kalangan biasa?"
"Dapat disimpulkan, kejadian ini bisa terjadi karena beberapa alasan, terutama 'si pelaku yang tidak bisa menahan nafsu dan keinginan untuk memperlakukan wanita selayaknya budak' dan 'si korban yang tidak mau mengakui bahwa ia telah diperlakukan kasar oleh si pelaku'."
Rubby tersenyum, matanya menangkap sosok Baron dan Marquess yang kini diseret untuk dibawa ke hadapannya.
"Baron, bukankah ucapan ku benar, kau membeli beberapa wanita pada Marquess untuk dijadikan budak, dan kau membuang mereka saat kau sudah tidak membutuhkannya."
Baron Jones terdiam, ia menelan ludahnya susah payah.
"Yang Mulia, bagaimana dengan Marquess Ahen? Bukankah katanya dia mengurung wanita-wanita yang dijadikan budak olehnya, sehingga mereka terkurung dalam genggaman jahat nya sehingga tak bisa melapor?" tanya seorang wanita dengan wajah yang sedikit berkerut, ia juga merupakan rakyat yang duduk di barisan pengamat.
"Benar, jika seperti itu, kita tidak bisa menyalahkan korban yang tidak mau melapor!" timpal wanita lain yang duduk di sebelahnya.
"Haruskah ku tekankan ucapanku beberapa saat lalu?" tanya Rubby dengan tatapan yang semakin mengintimidasi.
"Siapa yang berkata bahwa aku menyalahkan korban? Justru, aku sedang membela keadilan bagi mereka. Aku ingin mereka bersikap terbuka dan mengatakan dengan sejujur jujurnya pada hakim agar pelaku bisa didakwa dan divonis hukuman." Rubby berucap tenang, menjelaskan maksud utamanya.
__ADS_1
"Dan.. jika berita yang kudengar tidak salah, aku mendapat kabar bahwa beberapa wanita yang diperbudak oleh Baron Jones ada yang dibunuh karena tidak mau mengaborsi kandungannya. Apa itu benar, Baron?" tanya Rubby yang lantas membuat Baron Jones mendongakkan kepalanya.
Di samping itu, terlihat wanita paruh baya yang menatap sayu ke arah Baron dan Rubby saat ini. Rasa sesak di hatinya menyeruak, ia bahkan ingin muntah saat ini juga. "Apa? Mem... mem-bu-nuh?" cairan bening di pangkal matanya sudah menunjukkan perasaannya saat ini.
BRAK!
Dentuman keras dari arah samping membuat semua orang menoleh, seorang wanita yang kini pingsan di tengah-tengah persidangan sedikit mengacaukan keadaan pesta.
Bibi, maafkan aku. Rubby menatap sendu ke arah Diana yang pingsan saat ini, pasti sulit baginya menerima kenyataan pahit seperti itu. Tapi, Rubby tak bisa menghentikan nya begitu saja. Ia sudah terlanjur mengungkap segalanya, maka ia harus melanjutkannya sampai ke akar masalah.
"Yang Mulia, bagaimana bisa anda menuduh saya seperti itu? Saya.. saya tidak pernah membunuh seseorang, apalagi wanita!" elak Baron Jones tak mau mengaku.
"Kalau begitu, apa kertas ini cukup meyakinkan dirimu, Baron?" Rubby menunjukkan sehelai kertas berisikan catatan-catatan Baron Jones serta tanda tangan pemanggilan pembunuh bayaran yang ditemukan pengawal istana saat menyelidik kediamannya.
Rubby mengangkat tangan dan mengisyaratkan sesuatu. Tak lama setelahnya, datang beberapa orang berseragam putih suci membawa sebotol air suci dengan dua batu di tangannya.
"Air suci yang menyalakan api. Jika benar kertas ini tidak terbakar hangus saat di taruh air suci, maka terbukti bahwa kertas ini bukan rekayasa semata."
Api mulai menyala, kertas yang berada di dalam genggaman Rubby pun dihempaskan sebagai bukti.
Deg.. deg.. deg..
Tidak, bagaimana bisa...
Baron Jones mengeluarkan cairan bening di pangkal matanya begitu kejahatannya terungkap. Habis sudah masa depan yang ia mimpi-mimpi kan. Ia diseret oleh beberapa pengawal dengan tubuh penuh luka menuju tempat eksekusi. Kini, tinggal Marquess Ahen yang berada dalam ruangan persidangan.
Dari kejauhan, Zac yang sedari tadi menyimak tersenyum puas. Ia sangat bangga pada Rubby yang berhasil menangani kasus dengan tepat.
"Yang Mulia, apa yang ingin anda lakukan pada pelaku yang lain?" tanya sang hakim berucap pelan sambil melirik Marquess Ahen sekilas.
__ADS_1
Rubby tersenyum tipis, ia mendekatkan tubuhnya dengan melangkah mendekati Marquess Ahen.
"Jika kalian bertanya-tanya, siapa yang telah membuatku bisa menyelidik sampai seperti ini, tentu saja jawabannya adalah Marquess Ahen." ucap Rubby yang lantas membuat Marquess Ahen tersenyum.
Baron, aku akan sering mendoakan mu, karena kau lah kunci untuk membuatku terbebas dari hukuman ini.
Flashback..
"Jadi, transaksi apa yang kau inginkan?" tanya Rubby langsung pada intinya.
"Aku ingin anda yang jadi pelapor saat di persidangan akhir nanti." ucap Marquess Ahen yang membuat Rubby mengerutkan kening. "Maksudmu?" tanya Rubby.
"Saya tahu, anda mempunyai citra yang cukup buruk karena mempunyai gelar tinggi hanya dengan status rakyat biasa. Jadi, saya ingin menawarkan bantuan terkait kasus Baron Jones. Tapi, anda harus berjanji akan membebaskan saya dan mengembalikan citra saya setelah itu." jelas Marquess Ahen tersenyum.
"Hanya itu?" Rubby memiringkan kepalanya.
"Tidak, aku juga akan memberikan penawaran bagus." ucap Marquess Ahen kembali menyunggingkan senyuman di wajahnya.
"Apa.. maksudnya?" tanya Rubby bingung.??
"Kau sangat menyayangi bibi-- tidak, maksudku, kau sangat menyayangi Baroness Diana bukan? Jika tidak salah, keinginannya selama ini adalah mendapat mayat putrinya dan menguburnya dengan layak. Jika kau masih punya perasaan, harusnya kau membantuku, dan aku akan mengembalikan mayat putri Diana setelah persidangan selesai." ucap Marquess Ahen panjang lebar. Namun, jauh dalam lubuk hatinya, ia sangat mengharapkan bahwa Rubby mau menerima penawarannya
"Ya, baiklah, aku akan melakukannya."
Flashback end
"Jadi, Marquess lah yang telah memberi tahu Yang Mulia tentang kebusukan Baron?"
"Yah, mereka kan bekerja sama. Mustahil Marquess tidak tahu rencana busuk Baron."
__ADS_1
Kembali, terdengar gaduh suara yang terdengar dalam ruangan itu. Namun mereka berhenti saat Rubby kembali mengangkat suara.
"Aku berterima kasih atas kejujuran mu, tapi, kejujuran mu yang seolah-olah adalah jalan agar aku membebaskan mu, tentu saja pemikiran mu salah." ucap Rubby yang lantas membuat pupil mata Marquess Ahen membesar.