Elf Princess

Elf Princess
Episode 7. Istana


__ADS_3

"Ke depannya anda akan tinggal disini, Nona. Semoga kamar ini cukup nyaman untuk ditinggali." Diana tersenyum sambil membuka tirai jendela kamarnya. "Jika anda melihat keluar jendela, ada taman yang sangat indah. Banyak putri bangsawan yang datang kemari dan mengunjungi taman, Nona juga pasti akan menyukainya." Diana tersenyum lembut dan menghampiri Rubby.


"Aku dengar, namamu Rubby, ya? Namamu cantik, seperti batu permata Rubby, sangat menawan." Diana mengelus lembut kepala Rubby. "Jika ada perkataan atau sikap Baginda yang membuatmu tidak nyaman, katakanlah padaku, ya?" ucap Diana kembali tersenyum.


"Ah, Baginda? Dia.. orang yang baik," Rubby tersenyum menyahut ucapan Diana.


Kenapa Dokter Lily dan Bibi Diana mengatakan hal itu? Padahal sifat Baginda tidak terlalu buruk.


"Bunyikan lonceng ini jika kau butuh sesuatu. Ada hal yang harus kuurus, kau istirahatlah, ya!" ucap Diana. Ia lalu berbalik badan dan pergi dari kamar Rubby.


"Kenapa rasanya aneh, ya?" Rubby bergumam pelan. Ia memegang dadanya yang tiba-tiba saja sakit. "Apakah manusia selalu memperlakukan orang asing seperti itu? Padahal, di dunia elf, biarpun aku adalah anak kandung Raja, ayahku, tapi aku tidak pernah diperlakukan layaknya putri kerajaan" Rubby tersenyum pahit, entah apa yang membuatnya begitu bertahan hidup selama ini.


*****


"Bagaimana kondisinya?" Zac menatap tajam dokter Lion, Dokter pribadi Kekaisaran.


"Dia hanya mengalami demam ringan, sepertinya ia belum sembuh sepenuhnya, apalagi ia adalah korban saat peperangan terjadi saat itu." jelas Dokter Lion.


"Baiklah, aku mengerti." Zac mengangguk paham. Ia mengulur tangan dan hendak memeriksa suhu tubuh Rubby. Namun dengan cepat ia tersadar dan menghela nafas kasar. "Aku berharap kau lebih cepat sadar." ucapnya bergumam.


"Yang Mulia, apa anda akan pergi sekarang?" Diana menatap sendu Zac yang sudah berbalik badan dan hendak pergi dari kamar Rubby. Mendengar ucapan Diana, Zac lantas mengangguk kecil. "Aku harus mengurus beberapa urusan penting, jadi tolong bantuannya, Baroness" ucap Zac pada Diana, dan wanita tua itu hanya bisa mengangguk dan mengiyakan ucapan Zac.


"Nona, cepatlah sadar." ucap Diana pelan. Itu karena ia adalah orang yang pertama mengetahui kondisi Rubby yang tiba-tiba saja kesakitan dengan mata yang terpejam. Setelah diperiksa, ternyata benar kalau tubuh Rubby panas, dan Dokter juga sudah mengkonfirmasi bahwa Rubby mengalami demam.


"Bagiku, istri Yang Mulia adalah putriku juga. Aku sudah merawat Baginda selama bertahun-tahun lamanya, maka dari itu kau adalah putriku, istri dari anak asuhku." Diana mengusap lembut kepala Rubby. "Istirahatlah jika kau merasa lelah atau sakit," ucap Diana parau.


"Nona Rubby yang cantik, mengapa tadi anda tidak memanggil saya? Jika anda memanggil saya, mungkin anda tidak akan tergeletak lemah diatas kasur seperti ini." tak sadar, bulir air mata mengalir di pangkal mata Diana. Baginya, baik Zac maupun calon istrinya, Rubby, adalah bagian dirinya yang berharga. Diana mungkin tidak terlalu mengenal Rubby, bahkan ia baru bertemu dengan Rubby hari ini. Namun, setidaknya Rubby jauh lebih baik dibanding putranya yang dengan tega membuang sang ibu.


"Ah, tanpa sadar aku jadi menangis di hadapan Nona." Diana mengusap pipinya, ia berusaha tersenyum seraya menggenggam tangan Rubby. "Tenanglah Nona, saya akan menjaga nona hingga nona tersadar."

__ADS_1


****


"Uhm.." sayup sayup Rubby mulai bisa membuka kedua matanya walau masih terasa berat. "Apa aku masih di istana?" gumam Rubby bingung.


"Wah, nona sudah bangun, ya?" Diana tersenyum dan menggenggam erat tangan Rubby. "Nona, cepatlah bangun! Bibi sudah menyiapkan makanan yang sangat enak khusus untuk nona!" ucap Diana bersemangat.


Suaranya familiar, tapi kepalaku masih lumayan pusing untuk membuka mata.


"Nona, apa nona masih merasa pusing?" Diana melambai-lambai tangannya di depan wajah Rubby. "Maafkan saya terkesan lancang, tapi apakah nona sungguh sudah baikan?" ucap Diana khawatir. Rubby mengangguk pelan dan mencoba membuka matanya.


"Apa bibi berjaga semalaman disini untuk merawatku?" Rubby tersenyum hangat begitu melihat Diana di sisinya.


"Apakah nona menyadarinya?" Diana tertawa kecil. "Habisnya, nona baru saya tinggal sebentar sudah demam, jadi saya tidak tega membiarkan nona sendirian." ucap Diana sambil menyiapkan sebuah sup yang ia masak dengan sepenuh hati.


"Bibi yang memasaknya sendiri?" tanya Rubby seraya menatap Diana yang berada di sebelahnya. "Tentu saja, saat saya bangun, nona masih tertidur, jadi saya memutuskan untuk memasak sup ini untuk nona. Saya pikir sup ini akan sangat enak karena Baginda dan putra saya sangat--"


Deg!


"Mereka sangat menyukainya?" Rubby tersenyum lembut dan mengambil sebuah sendok untuk menyantapnya. "Aku pikir aku juga akan sangat menyukainya." lanjutnya.


"Terima kasih, Nona." Diana tersenyum dan membuka tirai jendela yang tertutup. "Nona, setelah makan nanti bagaimana kalau kita ke taman? Apalagi cuacanya sangat mendukung untuk duduk disana," ucap Diana tersenyum.


"Baiklah, aku akan bersiap dengan baik," sahut Rubby sambil menyeruput teh hangatnya.


****


"Ternyata para pelayan juga sering mendatangi taman, ya?" ucap Rubby kagum. Pasalnya, pelayan disini bisa dengan bebas berkeliling tanpa ada hukuman.


Rasanya segar sekali, disini, aku bisa mendengar suara alam..

__ADS_1


Rubby adalah seorang Elf, dan jati dirinya tidak akan pernah bisa berubah. Biarpun keluarganya menganggap ia lahir sebagai kutukan, tapi nyatanya Rubby sama seperti Elf yang lain. Ia mempunyai kemampuan untuk berkomunikasi dan beradaptasi dengan lingkungan dan tumbuhan.


"Bunga apa ini? Ini bunga yang sangat cantik!" Rubby tersenyum dan memandang bunga yang terletak di dekat air mancur, ia menekukkan lututnya untuk mencium Bunga itu. Bunga itu seakan bernyanyi dan membuat nada ketenangan di dekat Rubby, dan Rubby bisa merasakannya.


"Apa nona menyukai nya?" tanya Diana tersenyum. "Bunga itu adalah pemberian dari menara sihir untuk kekaisaran, di dalam bunga itu terdapat kandungan sihir, sangat menarik, bukan?" ucap Diana menjelaskan. "Iya, aku menyukainya." jawab Rubby tersenyum.


"Jika Nona memintanya pada Baginda, Baginda pasti akan langsung memberikannya untuk Nona." ucap Diana menghela nafas.


"Tidak."


"Apa?"


"Maksud ku, aku tidak membutuhkannya. Lagipula bunga-bunga dan tumbuhan disini akan lebih nyaman jika hidup di lingkungan bebas seperti taman ini, kan? Aku lebih suka mengamatinya di tempat luas seperti ini." Rubby tersenyum lembut, "Bagaimana Baginda bisa membuat tempat seindah ini?" ucap Rubby kagum.


"Bukan Baginda yang membuatnya," Diana tersenyum tipis dan mengulur tangan untuk membantu Rubby berdiri.


"Maksudmu?" Rubby mengerutkan keningnya bingung.


"Permaisuri yang membuat taman ini. Beliau adalah ibu dari Baginda Kaisar yang sekarang. Sejak awal ia menikah dengan ayah Baginda, beliau sudah menyukai tumbuhan. Maka dari itu, ia meminta ayah Baginda sekaligus kaisar sebelum Baginda untuk membuatkan taman ini atas hasil gambarnya." ucap Diana menjelaskan.


"Setelah didengar, mereka pasti dulu sangat romantis, kan?" Rubby tersenyum tipis sambil memandangi tumbuhan yang berada di sana.


"Iya, mereka dijodohkan oleh orang tuanya karena alasan politik. Jauh dari itu, sebenarnya mereka sudah bersahabat bahkan mempunyai rasa satu sama lain," ucap Diana.


"Seperti cerita dongeng, namun ini nyata." sahut Rubby kagum.


"Nona.. juga bisa mendapatkan cinta itu dari Baginda."


"A-apa?"

__ADS_1


Tiba-tiba, Diana tersenyum dan mengatakan hal itu, ia bukannya tidak sengaja, tapi Diana ingin mengatakan dengan jujur kalau Rubby akan menjadi istri dari Baginda Kaisar.


__ADS_2