ELLISE

ELLISE
Neverland


__ADS_3

* * *


"dahulu kala ada sebuah legenda mengenai pulau misterius di dunia.


pulau ini terdapat di belahan Unjung dunia, hanya orang-orang tertentu yang dapat melihat penampakan pulau tersebut.


Neverland, penduduk bumi menyebutnya dengan nama tersebut karena sampai saat ini tak ada yang bisa membuktikan kebenaran pulau misterius ini.


konon pulau ini memiliki semacam pelindung sehingga tidak dapat dilihat oleh dunia luar.


ada dua versi cerita berbeda tentang Neverland, yang pertama adalah cerita dari para pelaut.


kabarnya Neverland merupakan dataran yang subur dan hijau bahkan ada yang mengatakan bahwa terdapat harta Karun yang sangat melimpah di sana.


para penduduk yang tinggal di Neverland tak ada yang miskin, mereka semua makmur karena hasil bumi yang begitu melimpah.


cerita kedua datang dari para penyihir yang mengatakan bahwa Neverland merupakan neraka dunia yang tidak bisa ditinggali.


dari kedua cerita tersebut kembali lagi bahwa sampai sekarang penduduk bumi belum ada yang bisa membuktikan kebenarannya.


namun dari kedua cerita tersebut memiliki sebuah kesamaan yaitu hanya orang-orang spesial yang dapat masuk ke Neverland.


orang-orang yang dimaksud yaitu memiliki hati suci dan bersih, dan juga orang yang berasal dari Neverland yang bisa bebas keluar masuk pulau"


"apakah cerita itu nyata?"


tanya seorang anak


"emmm entahlah, mungkin saja nyata.. ayoo semuanya lekas tidur"


ucap Ellise seraya membantu anak-anak untuk berbaring di tempat tidur masing-masing.


ia hidup di sebuah panti asuhan dan membantu mengurus anak-anak yang tinggal di sana.


* * *


Ellise Mary Collins merupakan seorang anak yang hidup sebatangkara.


kehidupannya berubah ketika satu persatu orang tuanya meninggal.


(flashback)


'ayah.. tidak ini tidak mungkin terjadi' Ellise kecil menangis tersedu mendengar kabar ayahnya yang hilang saat melaut.


ia bersama ibunya terus menunggu tim evakuasi datang berharap membawa kabar mengenai ayahnya.


namun sayang, tak ada kabar yang berarti.


ayah Ellise dinyatakan mati dan mayatnya tak ditemukan.


kini ia hidup bersama ibunya, ibunya yang tampak layu, dengan lingkaran hitam di bawah mata memperlihatkan raut wajah kesedihan yang begitu mendalam.


peristiwa itu merupakan awal dari kemalangan Ellise selanjutnya.


40 hari pasca ayahnya pergi, ibu Ellise terus mengalami penurunan kondisi kesehatan.


celakanya tak berselang lama ibu Ellise dinyatakan meninggal karena depresi yang berkepanjangan.


Ellise kecil kini hidup sebatang kara, usianya baru sepuluh tahun, tak ada kerabat dari ayah maupun ibu yang bersedia mengasuhnya. hal itu juga yang membuat Ellise harus tinggal di panti asuhan.


9 tahun berlalu, Ellise kini telah tumbuh menjadi gadis remaja yang cantik.


Ellise begitulah orang-orang memanggilnya, ia tak pernah menyebutkan nama panjangnya cukup mengenalkan diri sebagai Ellise.


rambutnya hitam panjang dengan bola mata berwarna coklat jernih menggambarkan sosok yang polos dan suci.


bila tersenyum ia terlihat sangat cantik dan ketulusan terpancar jelas dari raut wajahnya.


selama hidup di panti asuhan Ellise sama sekali tak pernah mengeluhkan nasibnya. hingga kini tiba saatnya bagi Ellise untuk meninggalkan panti asuhan, ia sudah berada disana cukup lama dan bagi penduduk setempat usia Ellise saat ini dianggap sudah cukup dewasa untuk hidup mandiri.


sebelumnya, Ellise sudah berencana untuk bekerja di luar pulau dan pergi ke kota.


karena akses menuju kota sangatlah jauh dan tidak ada pesawat yang terbang ke pulau tempatnya tinggal, maka Ellise harus menaiki kapal pesiar.


kapal pesiar merupakan satu-satunya transportasi yang dapat mengantarkan penduduk pulau menuju kota dengan jarak tempuh kurang lebih satu bulan.


meskipun cukup lama namun tak ada pilihan lain yang tersedia karena pulau tempat tinggal Ellise merupakan pulau terjauh di bumi dan sangat terpencil.


* * *


pagi itu Ellise diantar oleh pengurus panti asuhan, sekalian berpamitan.


"jaga diri baik-baik, jangan lupa beri kabar bila sudah sampai di kota"


ucap pengurus panti asuhan sembari memeluk tubuh Ellise.


"baik ibu, aku akan mengabari nanti jika sudah sampai. aku sangat menyayangimu. terimakasih telah merawat ku"


jawab Ellise dengan sedikit menitihkan air mata.


pengurus panti asuhan lalu menyentuh wajah Ellise dan mengusap air mata yang jatuh di pipinya.


"ngggguuuuuuunngg"


bunyi kapal pesiar telah siap berangkat, Ellise melepas tangan ibu asuh nya kemudian bergegas menaiki kapal.

__ADS_1


tak lupa ia pun melambaikan tangan dari atas kapal dan di balas lambaian tangan lain oleh ibu asuh.


Ellise tak bisa membendung air matanya, ia terus saja menangis meskipun mencoba untuk menahannya.


sambil berjalan sedikit terhuyung, Ellise menuju kamar yang akan ia tempati selama berada di kapal.


sesampainya di kamar, Ellise mulai menata barang-barangnya.


ia kemudian merebahkan badan sembari menghela nafas,


"kuatkan lah dirimu Ellise, kau pasti bisa!"


ucapnya menyemangati diri sendiri.


seminggu berlalu, kapal terus melaju dan untung saja kala itu sedang musim panas sehingga tak ada badai dan gelombang laut besar yang menerjang kapal.


siang itu, Ellise berjalan menuju deg kapal, ia ingin melihat laut dan menikmati hembusan angin.


sejenak Ellise termenung, ia mengingat kejadian masa lalu, dimana kemalangan menghampiri nya ketika ia masih kecil.


dalam lubuk hati Ellise yang paling dalam ia begitu merindukan kedua orang tuanya, betapa bahagia kehidupan bersama orang tuanya dulu meskipun hanua hidup berkecukupan, tanpa sadar Ellise larut dalam lamunannya tersebut.


sekilas Ellise sempat melirik, dari kejauhan nampak kumpulan awan hitam pekat, awalnya ia mengira itu adalah sebuah pulau namun ketika diperhatikan dengan seksama terlihat jelas kilatan petir yang terus menyambar dari arah awan tersebut.


Ellise bergegas turun untuk mencari petugas, ia berusaha memberitahu tentang awan hitam tersebut.


ia berlari menyusuri kapal, sesekali ia bertanya pada orang yang lalu lalang mengenai keberadaan petugas.


"apakah anda melihat petugas?"


tanya Ellise pada seorang penumpang


"aku rasa di sana ada petugas"


jawab si penumpang sambil menunjuk bagian belakang kapal.


"terimakasih"


ucap Ellise kemudian bergegas menuju ke arah yang di tunjukkan oleh penumpang tersebut.


ia berlari berpacu dengan waktu, ia melihat sekeliling untuk terus mencari, hingga akhirnya sampai di kemudi kapal.


anehnya ketika sampai ia tak menemui seorang pun di ruang kemudi kapal.


ia kemudian menoleh ke belakang lalu berlari keluar dan tak ada seorangpun disana.


ia kembali ke ruang kemudi kapal dan melihat kapten sedang berdiri tegap dan memandang ke depan.


ia sangat lega karena tadi ia mengira tak ada orang namun kini kapten sedang berdiri tepat dihadapannya,


ucapannya terhenti, Ellise merasa ada kejanggalan, kapten kapal yang ia ajak bicara terlihat aneh.


kapten tersebut berdiri diam mematung dan hanya menatap ke depan dan sama sekali tak bergerak.


Ellise mencoba mendekat, ia mengarahkan tangannya di depan wajah sang kapten dan mengayunkan telapak tangannya namun sang kapten sama sekali tak merespon.


begitupula dengan petugas lain yang berada dalam ruangan, mereka hanya diam dengan tatapan kosong.


Ellise kembali memeriksa, ia mendekati salah satu anak buah kapal dan mengatakan tangannya ke depan wajah anak buah kapal tersebut kemudian mengayunkan telapak tangannya namun sama sekali tak ada respon. Ellise kemudian berbalik ke arah kapten kapal dan menggoyangkan tubuhnya namun tak ada hasil, kapten kapal hanya diam meskipun tubuhnya terkoyak.


kapten kapal tetap menatap lurus ke depan seolah sedang terhipnotis oleh sesuatu.


Ellise keluar dengan tergesa-gesa, ia melihat kerumunan orang yang sedang duduk di meja makan, tatapannya sama seperti sang kapten.


Ellise lagi-lagi berlari menuju keluar dan naik ke atas deg kapal.


ia mengawasi situasi dari atas dengan menggunakan teropong, kapalnya semakin mendekati kumpulan awan hitam tersebut.


Ellise teringat sesuatu, ia sebenarnya sedikit paham mengenai sistem navigasi kapal karena mendiang ayahnya pernah mengajarkan pada nya, ia pun kembali ke ruang kemudi kapal.


Ellise menggeser kapten dengan cara mendorongnya, dengan mudahnya sang kapten jatuh tersungkur kesamping.


kini Ellise mencoba untuk mengarahkan kemudi kapal,


"baiklah, mari kita coba"


gumamnya sambil memeriksa sistem navigasi kapal.


'cetiikk'


suara tangan Ellise menekan sesuatu, ia kemudian mengarahkan haluan kapal agar berbelok ke samping kanan dan memutar.


usaha pertamanya gagal, navigasi tak bisa membaca perintah meskipun ia menggerakkan setirnya ke kanan maupun ke kiri.


Ellise kembali mencoba, kali ini ia mengirim pesan untuk meminta bantuan, tak berselang lama pesan tersebut gagal terkirim karena ada gelombang magnetik yang sangat kuat hingga membuat sistem navigasi terganggu.


Ellise kembali berkonsentrasi dan memikirkan cara lain agar dapat menyelamatkan kapal.


"booommmm!!"


terdengar suara ledakan yang membuat Ellise terduduk meringkuk.


ia begitu terkejut dengan suara asing tersebut dan membuatnya sedikit ketakutan.


tubuhnya bergetar hebat, kini ia mulai berpikir yang tidak-tidak, pikirannya mulai kacau, ia takut kalau mereka adalah bajak laut atau ia berpikir bahwa hidupnya akan berakhir hari itu juga.

__ADS_1


hatinya mulai tak tenang, Ellise menangis tersedu, Ellise yang malang tak bisa berbuat apa-apa.


kesedihannya berhenti, sebuah harapan muncul ketika Ellise teringat bahwa ada kapal kecil yang tersedia di samping untuk evakuasi.


ia kemudian memutuskan untuk pergi menyelamatkan dirinya.


Ellise segera mengambil tas dengan barang yang ia perlukan saja, berupa makanan dan beberapa potong pakaian.


Ellise bergegas menuju bagian luar kapal dan berlari ke arah kapal kecil yang tergantung di samping.


ia kemudian mengambil pelampung lalh memasangkan pada tubuhnya.


"klik..klik.."


bunyi pelampung telah terpasang kuat di tubuh Ellise.


Ellise berusaha menurunkan kapal kecil namun talinya terikat dengan kuat.


dengan sigap ia mengambil sebilah pisau yang tergeletak tak jauh dari tempatnya berdiri, ia menggunakan pisau tersebut untuk memotong tali pengikat pada kapal kecil.


Ellise segera melemparkan tas nya, ia kemudian berdiri di pinggiran kapal berusaha untuk melompat ke kapal kecil tersebut,


"baiklah kau berani Ellise.. huuhhh""


gumam Ellise sambil mengatur nafasnya.


saat akan melompat tiba-tiba terjadi sebuah goncangan kecil, namun Ellise masih bisa mempertahankan keseimbangan


kini kapal yang ia tumpangi semakin mendekati awan hitam dan kembali membuat goncangan besar hingga membuat kapal kehilangan arah lalu terhuyung.


tubuh Ellise kini tak seimbang, ia tak bisa mempertahankan posisinya dan membuatnya terjatuh ke lantai kapal,


"brruukkkk"


suara tubuh Ellise yang terjatuh dan membuatnya tersungkur, ia tersenyum perih memperlihatkan raut wajah kesakitan.


Ellise berusaha untuk bangkit, ia memegangi pinggiran kapal dan berdiri kembali,


"brrraakkkk....spllaaassssss"


kapal kecil yang akan ia naiki malah terjatuh ke bawah karena menghantam pinggiran kapal.


"tidak!!!!"


teriak Ellise seolah tak percaya sambil memandangi kapal kecil yang jatuh ke bawah.


seketika tubuhnya menjadi lemas, Ellise terduduk dan tak kuasa membendung air matanya.


Ellise kembali putus asa, ia sudah tak memiliki jalan lain untuk menyelamatkan diri dan kini kapal yang ia tumpangi sudah memasuki wilayah awan hitam.


tak berdaya, tak bisa berbuat apa-apa, begitulah gambaran Ellise kala itu, ia tak bisa memikirkan apapun agar selamat.


Ellise begitu terlarut dalam kesedihan dan ketakutan akan kematian.


"duuuummmmm"


suara hantaman keras menyadarkan Ellise dari rasa tak berdayanya itu.


tangisnya berhenti ketika bayangan hitam besar seolah mendekat dari belakang.


Ellise menoleh,


"menyilaukan"


gumamnya sambil menutupi sedikit matanya.


cahaya terang terus mengarah padanya lalu semakin lama semakin redup.


setelah diamati dengan seksama benda hitam tersebut merupakan sebuah kapal, kapal pesiar yang memiliki ukuran lebih besar dari kapal yang ia tumpangi.


pemandangan tersebut sontak membuat Ellise berdiri, ia terkejut namun tanpa sadar melambaikan tangan sembari melompat untuk memberitahu bahwa ada orang yang masih hidup.


"heii.. tolong aku.. tolong.. aku di sini.. aku masih hidup.. tolong.. tolong"


seru Ellise mencoba meminta tolong.


kapal tersebut kemudian berhenti dan mengeluarkan tangga tepat di hadapan Ellise.


Ellise sedikit tenang, ia mundur ke belakang agar tangga itu dapat terpasang dengan benar.


"tukk..tuukk..tukk.."


hentakan kaki melangkah menuruni tangga.


"drrap...drraapp..drraapp"


hentakan itu semakin keras, seperti rombongan besar yang menuruni tangga.


beberapa orang muncul, mereka terlihat seperti pria dengan badan yang tegap dan besar, terus berjalan mendekat ke arah Ellise.


Ellise mengusap-usap mata seolah tak percaya dengan apa yang ia lihat.


orang-orang yang terus mendekat pada Ellise mereka menggunakan pakaian aneh.


"tentara? kesatria? pakaian mereka begitu aneh??!!!!?"

__ADS_1


gumamnya seolah masih tak percaya dengan apa yang ia lihat.


__ADS_2