
"siapa kau?!"
tanya Ellise mencoba memastikan identitas si pria namu pria yang ada dihadapannya tak berkata apapun malah semakin mendekat pada Ellise, lama kelamaan wajah nya terlihat, sorot matanya begitu tajam seolah tak senang dengan Ellise.
Ellise tak pantang mundur, ia tetap pada posisi semula tak ada yang ia takutkan meski ia tak membawa senjata apapun.
dengan sigap Ellise bergerak mendekati si pria lalu mengambil pedang milik pria itu kemudian menghunuskannya dari arah belakang si pria.
terkejut melihat gerakan gesit Ellise membuat si pria terkagum sedangkan prajurit lain mengeluarkan pedang mereka lalu menghunuskannya ke arah Ellise.
situasi yang tak menguntungkan bagi Ellise maupun si pria.
"turunkan senjata mu!"
seru seorang prajurit mengancam Ellise, namun Ellise tak memperdulikannya dan masih terus menatap sinis ke arah pria tinggi besar yang membelakangi dirinya.
tertarik dengan kesigapan Ellise dalam mempertahankan diri si pria pun membalikkan badannya menghadap Ellise lalu meminta para prajurit untuk menurunkan pedangnya dengan cara mengangkat tangan sejajar bahu lalu menurunkannya.
awalnya para prajurit tak langsung menuruti perintah tuannya tersebut, malah semakin menghununuskan pedang ke arah Ellise.
"turunkan kata ku!"
seru si pria pada prajurit yang membuat mereka segera menurunkan pedang masing-masing.
Ellise masih bersikap waspada dengan mempertahankan posisi pedang terhunus pada si pria, si pria yang penasaran pun mulai bertanya pada Ellise,
"aku tak mengerti kenapa ada seorang perempuan sendirian di tempat asing ini, adakah seseorang yang sedang kau tunggu?"
tanya si pria pada Ellise
"bukan urusan mu"
ucap Ellise ketus
"emm.. baiklah, sebenarnya aku kesini untuk mencari seseorang yang bernama David"
ucap si pria kembali sambil mengawasi ekspresi Ellise.
mendengar ucapan si pria membuat Ellise sontak terkejut.
"dari ekspresi wajah mu seperti nya kau mengenal David"
"apa mau mu?!"
seru Ellise mencoba mengelak lalu mendekatkan ujung pedangnya ke leher hingga hampir menyentuh kulit si pria.
"hei tenanglah nona, aku adalah kakak dari David, dia sudah menghilang selama sebulan lamanya, baru saja ku dengar bahwa David di bawa oleh rombongan Bannet menuju gunung Etna"
jelas si pria pada Ellise namun Ellise tak berniat menurunkan pedangnya karena ia masih belum percaya dengan ucapan si pria.
"percaya atau tidak tapi inilah yang sebenarnya, kau bisa menanyakan pada David jika bertemu dengan nya nanti"
ucapan si pria membuat Ellise menurunkan pedangnya lalu tetap memegang pedang tersebut di samping kanan.
"David, kami berjanji akan bertemu di ujung hutan Namia, ia sedang menuju kemari bersama Choco. tolong bawa dia keluar dari sini lalu..."
Ellise tiba-tiba menghentikan ucapannya lalu terdiam sejenak,
"lalu apa?"
tanya si pria
"lalu aku bisa menyelesaikan apa yang telah ku mulai"
ucap Ellise lalu membalikkan badannya, ia mulai berjalan meninggalkan si pria.
"oh iya sebagai ganti telah menumpangi Choco pedang ini akan ku bawa dan aku berjanji akan mengembalikannya pada anda tuan...?"
sambil sedikit menoleh ke belakang.
__ADS_1
"panggil saja aku Luc"
Ellise tersenyum lalu segera berjalan pergi sendirian, tak ada niatan bagi Luc untuk menahan Ellise, entah mengapa sejenak ia tersebut kagum dengan Ellise tanpa sadar bahwa pedang yang di bawa Ellise bukanlah pedang biasa dan tak sembarang orang bisa memegangnya.
ia tak peduli, asalkan bisa bertemu dengan Ellise lagi kelak.
kini Ellise berjalan sendirian, ia tak peduli dengan bahaya yang menyambutnya di gunung Etna nanti, yang ia inginkan hanyalah agar bisa segera kembali dan bertemu dengan Allen.
tanpa sadar mata Ellise berbinar, ia seakan menahan kesedihan karena rindu akan rumah dan juga Allen, sesekali Ellise mengusap matanya agar air mata tak keluar.
(di sisi lain)
jalan yang dilalui David merupakan jalan memutar, yaitu 3x lebih jauh dibandingkan melalui hutan Namia, setidaknya memerlukan waktu hingga 12 jam atau dini hari baru David akan sampai dan bertemu dengan Ellise di ujung hutan Namia.
David terus menggerakkan laju choco agar ia bisa segera sampai.
sementara itu Allen, Ron dan rombongan prajurit masih bergerak, mereka pun sama berpacu dengan waktu.
Allen seolah tak peduli dengan yang lain, ia semakin melaju kencang, sadar bahwa Allen seperti hilang kendali Ron pun menyusulnya
"hei kita harus istirahat!"
seru Ron namun tak di pedulikan oleh Allen
"Allen kita harus berhenti!!"
Ron kembali berteriak mencoba menyadarkan Allen.
sadar mendengar terikan Ron, Allen pun menghentikan laju kudanya, ia lalu memandangi Ron dan juga prajurit yang jauh berada di belakang mereka.
dengan sedikit menyesal Allen pun meminta maaf pada Ron,
"maafkan aku, pikiran ku menjadi kacau"
fajar mulai menyingsing, tak kenal lelah David terus melaju mengarahkan Choco untuk terus berlari agar ia bisa segera sampai dan menemui Ellise.
jalan yang ia lalu sebenarnya tak mudah karena hutan Namia seperti sebuah hutan tanpa ujung, tak ada celah maupun batas wilayah yang dapat dilalui, beruntung choco merupakan penghuni di sekitar wilayah tersebut sehingga ia tau harus ke arah mana agar dapat melewati hutan Namia.
perkiraannya tepat, David segera sampai di sebuah Padang rumput jalan satu-satunya menuju gunung Etna seperti yang di bicarakan Ellise sebelumnya.
dari kejauhan David tak melihat tanda keberadaan Ellise melainkan terlihat sekumpulan orang yang seolah sedang menunggu dengan menyalakan api unggun.
salah satu di antara mereka berdiri seolah sedang mengawasi atau bergantian untuk berjaga.
David pun terburu-buru menghentikan lari choco dan menenangkannya, namun sepertinya David terlambat karena pergerakannya lekas diketahui oleh pria yang sedang berdiri tersebut.
tak ada pilihan selain terus melaju dan menghampiri gerombolan tersebut, dengan segala konsekuensi yang ada David telah siap berhadapan entah mereka memiliki niatan Jahat atau pun tidak, David hanya perlu memperlihatkan bahwa ia berani.
sesampainya disana berapa terkejut nya ia melihat pria yang sedang berdiri adalah kakaknya sendiri pemimpin keluarga Duke Argyll.
"kakak!"
seru David tak percaya dengan apa yang ia lihat, David menghentikan laju Choco ia buru-buru menghampiri kakaknya dan spontan memeluknya.
David begitu senang melihat kakaknya dapat menemukan dirinya namun pelukan David malah terlihat sangat memalukan di mata prajurit yang menyaksikan, ia pun langsung melepas pelukan itu.
tampak jelas raut wajah marah dari Duke Argyll, sadar akan kemarahan tersebut David pun segera bersembunyi di belakang asisten sang kakak yang bernama Hugo.
"anda ini bersalah tuan bagaimana bisa anda bersembunyi dibelakang ku"
gumam Hugo seolah menolak dirinya digunakan sebagai tameng
"tolonglah bantu aku"
jawab David sedikit berbisik dan terlihat ketakutan
__ADS_1
"siapa wanita itu?"
tanya Duke Argyll pada David
"wanita siapa?"
ucap David berbisik pada Hugo
"tentu saja wanita yang berjanji menemui mu disini, asal kau tau dia membawa pergi pedang kakak mu"
jelas Hugo
"apa?!!"
seru David terkejut
"b..b..bagaimana bisa.. pe pedang kakak?"
imbuh David yang masih tak percaya dengan ucapan Hugo
"dia siapa?"
tanya Duke Argyll
Hugo sedikit menyenggol David seolah memintanya untuk menjelaskan situasi.
dengan berat hati David pun segera mendekat pada kakaknya.
"Ellise, namanya lengkap nya Ellise Mary Collins, dia adalah adik dari Allen yang merupakan musuh bebuyutan kakak"
Hugo menyenggol David karena ucapannya yang menyinggung hubungan kakaknya tersebut dengan Allen.
Duke Argyll tersenyum simpul menanggapi cerita David tentang Ellise.
"Ellise.. pantas saja Allen terlihat kacau tapi aku tak peduli dengan urusan mereka, ayo kita segera pergi"
"baik!"
jawab para prajurit mematuhi perintah Duke Argyll
"tidak!!"
seru David menghentikan semua gerakan, termasuk Duke Argyll yang kembali melihat ke arah David,
"aku akan menyusul Ellise!!"
ucap David keras kepala
"tidak! kau akan pulang"
sanggah Duke Argyll
"kami sudah berjanji pergi bersama sebelumnya dan.."
"Ellise yang meminta ku untuk membawa mu dan choco keluar dari tempat ini sebagai jaminannya dia telah membawa pedang ku dan berjanji akan mengembalikannya"
jelas Duke Argyll pada David
"kakak, dia seorang wanita bagaimana bisa kakak...."
ucapannya terhenti
sebuah cahaya terang berwarna merah menyala datang dari gunung Etna.
seperti sebuah kilatan yang membuat silau setiap mata yang memandang.
"Elise!"
ucap David merasa Ellise dalam bahaya.
__ADS_1