ELLISE

ELLISE
aktifnya tanda suci


__ADS_3

'sudah beberapa hari ini Ellise terlihat ceria, hal itu karena David yang selalu datang berkunjunh ke rumah hampir setiap hari. bahkan terkadang Ellise merengek ketika David tak akan datang ke rumah sampai-sampai aku harus mengirim utusan untuk menjemputnya. aneh, perasaan apa ini, bagaimana bisa aku cemburu pada seorang teman lelaki adik ku'


keluh Allen dalam hati dan pikirannya, kala itu ia sedang berada di ruang kerjanya menghadap pada dokumen-dokumen yang ada di atas meja sambil memegang bolpoint dan memangkukan dagu dengan tangan kirinya.


seolah terlihat serius namun tatapan kosonya terlihat jelas dari sudut pandang Albert sang asisten yang sedari tadi menemani Allen dengan berdiri di sampingnya.


Albert tak ingin mengganggu lamunan Allen kala itu karena ia tahu benar temprament sang tuan yang tak bisa di tebak, namun ketenangan itu tiba-tiba hilang seketika saat Ellise masuk menemui Allen bersama dengan David.


dengan senyum ceria tampak jelas dari raut wajah Ellise namun membuat Albert merinding karena ia bisa membaca hal yang ingin di utarakan Ellise dan menurut Albert hal menggembirakan itu bisa saja membuat Allen kesal karena ada kaitannya dengan David.


Albert mulai mempersiapkan diri untuk ledakan emosi Allen yang sebentar lagi akan keluar, ia pun menarik nafas panjang,


"kakak, aku akan ke rumah David"


ucap Ellise dengan senyum terlihat cerah dari wajahnya.


'matilah aku'


gumam Albert dalam hati sambil melirik ke arah Allen memperhatikan tindakan Allen selanjutnya, alisnya mengerut seolah tak senang.


"hei kak, aku akan menjemput Coco, hewan yang aku temukan setelah selamat dari hutan Namia, aku kan pernah bercerita pada kakak"


imbuh Ellise mengutarakan niatnya.


"Coco? kau tak pernah bercerita pada ku"


sanggah Allen merasa asing dengan nama yang disebutkan Ellise.


"ahhh benar aku ingat pernah bercerita pada tuan Albert"


sambil menunjuk ke arah Albert lalu melanjutkan ucapannya,


"di izinkan atau tidak aku akan tetap pergi, da kakak"


sambil melambaikan tangan lalu keluar ruangan.


Albert semakin tegang karena Ellise menyebut namanya apalagi ia lupa menceritakan hal penting tersebut pada Allen, ia pun meneguk ludahnya, keringatnya sedikit menetes dan juga tak berani menatap Allen.


"Albert!"


seru Allen kesal, entah apa yang terjadi dalam ruang kerja Allen malam itu, yang jelas Albert mendapat banyak tekanan dan juga kemarahan yang di keluarkan oleh Allen terhadap dirinya karena rasa cemburu.


* * *


sesampainya di kediaman Duke Argyll, David lantas mengajak Ellise masuk menuju ruang tengah dan mempersilahkannya duduk, tak lupa David juga memerintahkan pelayan menyajikan teh beserta cemilan untuk Ellise.


"hei, bisakah kita langsung bertemu Coco? aku sangat merindukannya"


ucap Ellise spontan


"kau tak ingin istirahat dulu?"


tanya David memastikan keinginan Ellise.


Ellise pun menggelengkan kepala nya


"baiklah, aku akan meminta pelayan untuk membawakan teh dan cemilan ke taman belakang, tunggu sebentar"


Ellise mengangguk setuju dengan David, segera setelah David pergi mencari pelayan Ellise pun berjalan sembari melihat ruangan tengah, banyak benda antik yang menarik baginya, hiasan dinding, corak langit-langit yang bergaya klasik membuat Ellise sempat terkagum, ia mendongak ke atas cukup lama karena memperhatikan tiap sudut ruangan memiliki corak yang berbeda dan tak sadar membuatnya menabrak sesuatu.

__ADS_1


"ounchh..."


seru Ellise kesakitan dengan mata yang sedikit tertutup, ia lalu memastikan benda apa yang telah ia tabrak dan bukanlah benda melainkan seorang pria gagah berdiri di hadapan Ellise, pria tersebut memiliki tinggi sekitar 185 cm, tubuhnya besar tegap mengenakan pakaian serba hitam dengan perpaduan bordir berwarna emas di setiap ujung pakaian yang ia kenakan, garis wajah yang tegas, rambut hitam dengan bola matanya merah menatap tajam ke arah Ellise, membuatnya seketika kikuk dan mengagumi ketampanan pria yang ada di hadapannya itu.


Ellise segera menggelengkan kepala dan menepuk-nepuk pipi menggunakan kedua tangan,


'sadarlah Ellise kau hampir saja terpesona dan kehilangan akal sehat'


gumam Ellise dalam hati yang masih saja menepuk-nepuk pipnya, merasa tak nyaman si pria pun memegang kedua tangan Ellise,


"hentikan, kau bisa melukai wajahmu"


ucap si pria yang wajah nya semakin terlihat dari sudut pandang Ellise seperti ada cahaya yang terpancar dari wajah si pria.


"kakak apa yang kau lakukan!"


seru David dari kejauhan yang melihat kakak nya memegang kedua tangan Ellise.


Duke Argyll pun segera melepas tangan Ellise begitupun Ellise yang yang kembali memposisikan dirinya sebagai tamu laku segera memberi salam,


"ehmm.. mohon maaf perkenalkan saya Ellise Marry Collins, senang bertemu dengan anda...?"


salamnya tiba tiba terhenti, Ellise melihat ke arah David berusaha memberi kode menanyakan siapa nama kakaknya namun David tak mengerti dengan kode yang di berikan Ellise.


"Kent Luctecrus Argyll, anda bisa memanggil aku Luc, senang bertemu dengan anda lagu nona Ellise"


'hmmm?'


Ellise merespon heran dengan salam perkenalan Duke Argyll, suasana menjadi hening lantas membuat Ellise segera sadar dan menjawab kembali,


"baiklah senang bertemu dengan anda tuan Luc".


tak ingin Ellise semakin lama bersama sang kakak David pun segera menyela keduanya, ia mendekat pada Ellise lalu memegang tangan Ellise untuk mengajak nya segera pergi menemui Coco,


"kita harus segera ke belakang bertemu coco"


ucap David dan Ellise pun tak menolak, ia berjalan dengan tangan di tarik oleh David namun matanya sama sekali tak berpaling dari Duke Argyll, begitu pun Duke Argyll yang merespon Ellise dengan tersenyum simpul.


sesampainya di halaman belakang Ellise langsung di sambut oleh Coco, ia segera menghampiri Coco dan memeluknya meskipun tangan Ellise sebenarnya tak bisa melingkar di leher Coco namun terlihat jelas bahwa Ellise sangat merindukannya.


Ellise pun segera melepaskan Coco dan mengelus-elusnya begitupun Coco yang seolah senang bertemu dengan Ellise.


namun saat itu ada hal yang masih mengganjal dalam benak Ellise mengenai kakak David yang ia temui sebelumnya, perlahan-lahan ingatan sebelum berangkat ke gunung Etna seolah kembali seperti potongan puzzle yang perlahan menyatu.


Ellise kembali teringat mengenai mimpi yang ia alami sepanjang malam dan mimpi itu terus berulang tak pernah berubah membuat Ellise mencoba sesuatu mengenai kekuatan yang dapat ia berikan pada seekor hewan yang kedepannya akan bisa ia kendarai kemanapun dirinya pergi.


Ellise melihat ke sekitar memastikan tak ada yang memperhatikannya bahkan ia menoleh ke arah David dan terlihat bahwa David sedang disibukkan dengan ikut mengatur tata letak teh dan juga cemilan bersama pelayan.


namun Ellise tak memperhatikan kediaman keluarga Argyll yang ternyata Duke Argyll sendiri sedang memperhatikan Ellise dari balik jendela sebuah ruangan.


merasa ada yang mencurigakan dengan gerak-gerik Ellise ia pun segera turun untuk menghampirinya.


Ellise merasa situasi sedang aman, ia pun menyingkap lengan baju dan perlahan membuka perban yang menutupi tanda pada tangannya tanpa sepengetahuan David.


perlahan Ellise meletakkan telapak tangan pada dahi Coco lalu keluar cahaya dari tanda yang ada di tangan Ellise seolah sedang menyalurkan sebuah kekuatan pada Coco, Ellise berdecak kamum dan tak bisa berkata apa-apa selain hanya melihat cahaya yang terpancar keluar.


'Tap'


Duke Argyll dengan sigap memegang tangan Ellise dan menjauhkannya dari Coco, tubuh Ellise berbalik menghadap Duke Argyll dengan pandangan mata kosong ia seperti terhipnotis lalu segera sadar setelah Duke Argyll kembali menutup rapat tanda pada tangan Ellise.

__ADS_1


bingung, itulah yang dirasakan Ellise melihat Duke Argyll memasangkan perban pada tangan nya dengan rapih lalu menutup lengan baju Ellise.


"berjanjilah kau tidak akan membukanya lagi"


ucap Duke Argyll segera setelah selesai merapihkan lengan baju Ellise.


namun Ellise tak merespon, ia menunduk lalu melihat ke arah Coco dan kembali menatap Duke Argyll.


"pe.. pedang anda, maaf hamba.."


"bukankah lebih baik berterimakasih"


sahut Duke Argyll memotong ucapan Ellise


"apa?"


"anda bukan anak kecil yang tidak mengerti ucapan ku barusan, dan panggil saja aku Luc"


"tidak!"


seru Ellise spontan


"maksudnya itu tidak sopan, hamba akan memanggil anda Duke Argyll saja"


kembali meneruskan ucapannya sambil menatap mata Duke Argyll.


"baiklah terserah nona Ellise saja"


jawab Duke Argyll sembari melepas pelan tangan Ellise yang sebelumnya masih ia pegang, Ellise pun memegangi tangan kanannya menggunakan tangan kiri dan spontan mengelusnya pelan.


"Ellise teh nya sudah siap"


seru David dari kejauhan sambil melambaikan tangan, mengetahui kakaknya juga berada di tempat yang sama membuat David pun menawarkan kakaknya untuk ikut perjamuan bersama.


"kakak kemarilah"


Duke Argyll menggelengkan kepalanya


"Ellise seret dia kemari"


imbuh David tak ingin berbasa-basi, Ellise pun segera merespon dengan memegang tangan Duke Argyll kemudian menggeret ya menuju kursi taman.


awalnya Duke Argyll menolak dengan menahan tubuhnya agar tak beranjak pergi namun Ellise malah semakin erat memegang tangannya dan malah membuatnya sedikit merasa nyaman dengan sentuhan, sejenak ia berpikir dan sadar bahwa itu pertama kalinya seorang wanita menyentuh tangan kasarnya.


mereka pun segera duduk di kursi masing-masing sambil menikmati hidangan kecil di temani cerita David yang lucu dan mengundang gelak tawa bagi siapapun yang mendengarnya.


* * *


(di gereja negara suci)


Hyde yang sedang memejamkan mata tertidur di bawah pohon tiba-tiba tersadar karena suatu hal yang membuat matanya terbuka lebar,


'tanda nya telah aktif, aku bisa merasakannya, hanya saja lokasi tempat orang tersebut berada begitu samar'


gumam Hyde dalam pikirannya merespon kejadian yang baru saja terdeteksi oleh dirinya.


'aku harus segera ke tempat ritual dan mencari tahu bagaimana tanda itu bisa aktif dan siapa orangnya, pasti ada cara untuk menemukannya'


imbuh Hyde yang kemudian bergegas masuk ke dalam gereja.

__ADS_1


__ADS_2