ELLISE

ELLISE
Dia bukan Ellise


__ADS_3

di markas besar Bannet, anak buahnya sedang sibuk mempersiapkan peralatan untuk perjalanan menuju gunung Etna.


gunung tersebut bukanlah gunung yang dapat di lihat dengan mata biasa dan yang dapat menemukannya hanyalah penyihir sakti dan juga orang yang telah dipilih oleh dewa melalui danau suci.


Bannet sudah menghabiskan waktu berpuluh-puluh tahun untuk menemukan gunung Etna, dan ia sudah menemukannya letak gunung Etna secara pasti meskipun ia sendiri tidak bisa melihat gunung tersebut dan melalui penyihir lah ia dapat menemukannya.


gunung Etna terletak di dataran Greenland, untuk menuju kesana membutuhkan waktu yang cukup panjang karena harus melewati Black Forest, sungai Namia dan hutan thorn.


tak ada jalan lain selain mereka harus melalui rute tersebut, Black Forest merupakan hutan misterius dan dikatakan bahwa dalam hutan tersebut banyak tinggal Orc pemakan manusia.


lalu sungai Namia merupakan tempat berkumpulnya hewan buas seperti predator darat dan laut.


sedangkan hutan thorn merupakan hutan yang di tumbuhi semak belukar berduri, kabarnya tak ada orang yang bisa melewati hutan tersebut karena semak berduri seolah dikendalikan sihir sehingga semak-semak tersebut akan melilit siapapun yang lewat.


banyak yang mengatakan bahwa jika sudah masuk hutan thron maka tidak ada yang bisa keluar, karena itulah membutuhkan persiapan yang matang agar bisa sampai ke gunung Etna.


Ellise sendiri melakukan latihan mandiri untuk mengasah kemampuannya, meskipun ia tak begitu tertarik namun ia berusaha agar bisa melindungi dirinya dan tidak menggantungkan diri pada orang lain.


Ellise mencoba berlatih menggunakan dua pedang, ia begitu handal dalam mengayunkan pedang hingga membuat David terpana melihat kemampuan Ellise tersebut.


setelah selesai latihan, David menghampiri Ellise dan memberikannya minum karena Ellise terlihat kelelahan.


"jangan terlalu serius, kau bisa mati jika berlatih terlalu keras"


ucap David sembari memberikan minum pada Ellise.


Ellise menanggapi David dengan tersenyum dan menerima air minum pemberian David kemudian meminumnya.


"oiya kalau aku boleh tau kau berasal dari keluarga mana?"


tanya David penasaran


"Collins, aku berasal dari keluarga Collins, kenapa kau tau sesuatu tentang keluarga kami?"


Ellise kembali bertanya pada David.


David sedikit terkejut mendengar jawaban Ellise, yang ia tahu bahwa putri bungsu keluarga Collins sudah meninggal dalam misi beberapa tahun yang lalu.


"ahahaha.. aku rasa aku kurang paham dengan nama keluarga tersebut"


ucap David sambil menggaruk kepala menggunakan jari telunjuk dan berusaha untuk menyembunyikan ekspresi kagetnya itu di depan Ellise.


David lalu mengalihkan pembicaraan karena kurang tepat jika pada situasi saat ini ia malah membicarakan keluarga Collins.


David akan menanyakannya lain kali jika mereka selamat dan bisa terbebas sebagai sandra dari Bannet.


* * *


seminggu berlalu, hari ini adalah hari dimana Allen dan Ellise memenuhi undangan raja.


Ellise mengenakan dress indah berwarna kuning cerah dengan kerah sabrina, rambut nya di ikat ke atas dengan rapih dan di bagian depan rambut di tata sedikit membentuk kepangan kecil yang membentang dari kanan ke kiri.


tak lupa Ellise juga di dandani menggunakan make up yang tipis, kulitnya begitu bersih dan merona sehingga perpaduan antara dress dan make up begitu cocok.


sedangkan Allen yang mengenakan pakaian formal seperti biasa, ia terlihat begitu tampan dan mempesona dengan pakaiannya saat itu.


sesampainya di istana, Allen turun terlebih dahulu tak lupa ia pun membantu Ellise untuk turun dari kereta kuda.


wajah senang tak dapat disembunyikan Ellise karena ia di undang secara khusus oleh yang mulia Raja.


Allen juga ikut merasa senang karena Ellise merespon dengan baik undangan tersebut bahkan Ellise terlihat begitu antusias, itulah yang tergambar jelas dari pengelihatan Allen.

__ADS_1


keduanya berjalan menuju tempat perjamuan yaitu di taman kerajaan.


raja secara khusus mengadakan perjamuan minum teh dan tidak sembarangan orang bisa di undang dalam perjamuan yang bertempat taman istana.


mulai dari pintu gerbang Allen dan Ellise di kawal oleh pelayan khusus yang sengaja disiapkan untuk mengantar keduanya menuju taman istana.


sesekali Ellise menoleh ke kanan dan ke kiri karena kekagumannya dengan arsitektur istana dan juga karena ini pertama kali baginya masuk menghadap raja.


sesampainya di taman istama, raja tersenyum menyambut dengan senang hati kedatangan Allen dan Ellise.


Allen memulai untuk memberikan salam pada raja lalu diikuti salam berikutnya oleh Ellise.


raja mempersilahkan keduanya untuk duduk, tak berselang lama Ron ikut bergabung dalam perjamuan teh tersebut.


raja memulai percakapan dengan menanyakan kabar Ellise,


"bagaimana kabar anda nona Ellise"


raja bertanya pada Ellise sambil sedikit tersenyum,


lalu Ellise menjawab dengan lembut pertanyaan yang mulia Raja,


"kabar hamba baik yang mulia, lalu bagaimana dengan kabar yang mulia raja?"


tanya Ellise dengan nada sedikit canggung


"kabar ku tentu saja baik nona Ellise"


suasana pagi itu sedikit canggung, mereka sama-sama menunggu salah satu untuk berbicara.


pelayan di sekitar pun tengah sibuk menuangkan teh ke dalam gelas lalu berpamitan pergi.


karena penasaran yang mulia raja menanyakan mengenai masa-masa ketika Ellise tinggal di luar wilayah Naverland.


pertanyaan raja sontak membuat Allen sedikit terkejut dan juga kaku.


Ellise pun yang sedang meminum teh tiba-tiba terbatuk-batuk dan menjadi gugup karena tidak tau harus menjawab apa mengenai pertanyaan yang mulia raja.


"uhuukk.. uhhuukk.. ma.. maafkan hamba yang mulia"


ucap Ellise sambil mengelap bibir dan mencoba menenangkan dirinya.


melihat Ellise yang batuk membuat yang mulia raja khawatir,


"minumlah dengan pelan"


ucap raja lembut


dengan terbata-bata Ellise kembali meminta maaf karena ia tidak sopan pada yang mulia raja.


Ellise kemudian memulai cerita nya bahwa ia dulu hidup dengan baik dan ke dua orang tua Ellise sangat baik padanya, karena itulah sekarang Ellise bisa tumbuh sebagai gadis remaja yang sehat.


yang mulia sangat senang mendengar cerita Ellise tentang kehidupan terdahulunya.


Allen yang mendengar cerita Ellise merasa ada kejanggalan, seingat Allen orang tua asuh Ellise meninggal saat usianya baru 10 tahun.


Allen berusaha menjaga ekspresinya dan memilih untuk tetap tenang, ia meminum teh yang telah disajikan sambil berfikir dan sesekali melirik ke arah Ellise.


rasa curiga Allen terhadap Ellise ia sembunyikan sementara agar tidak merusak suasana perjamuan teh pagi itu.


perjamuan teh telah selesai, Allen dan Ellise berpamitan untuk pergi, yang mulia raja meminta Ron untuk mengantar keduanya sampai ke tempat kereta kuda berada.

__ADS_1


dalam perjalanan Ellise senyum-senyum sendiri dan sesekali melihat ke arah Ron, ia sepertinya sedang jatuh hati pada Ron.


Ron awalnya tak memperhatikan tingkah Ellise, namun semakin lama ia sadar bahwa Ellise memiliki ketertarikan pada dirinya.


ia hanya menanggapi dengan sedikit tersenyum.


Ellise yang melihat Ron tersenyum padanya kemudian memberanikan diri untuk bertanya,


"yang mulia pangeran apakah ada hal yang anda sukai?"


tanya Ellise malu-malu


"ahh aku, emmm aku tidak memiliki sesuatu yang ku suka, kalau putri Ellise apakah anda memiliki sesuatu yang disukai?"


pangeran Ron bertanya kembali pada Ellise.


"ham..hamba sebenarnya suka dengan bunga"


Ellise menjawab pertanyaan Ron dengan sedikit malu dan wajahnya mulai memerah


"ahhh bunga ya, kalau begitu lain kali aku akan membawakan bunga lagi untuk nona Ellise jika berkunjung ke rumah anda nanti"


ucap Ron sembari tersenyum


"lili, hamba sangat menyukai bunga lili"


ucap Ellise merespon dengan cepat perkataan Ron padanya.


'lili? sepertinya ada yang ku lewatkan soal bunga, tapi aku tak bisa mengingat apa itu'


gumam Allen dalam hati sembari berfikir seolah tak yakin dengan ucapan Ellise.


sesampainya di kereta kuda, Allen membantu memegangi tangan Ellise untuk naik ke kereta, keduanya berpamitan pada Ron.


selama perjalanan pulang, Allen memperhatikan gerak gerik Ellise, Ellise yang saat itu melihat keluar jendela tidak sadar jika Allen memperhatikannya.


Allen kemudian membuka pembicaraan dan mencoba memancing Ellise berbicara untuk memeriksa sebuah kebenaran,


"Ellise, mengenai orang tua mu bahkan kau tidak pernah bercerita soal itu pada ku"


tanya Allen dengan menatap serius ke arah Ellise.


Ellise menoleh ke arah Allen dan menjawabnya,


"ah maafkan aku kakak, karena sibuk latihan aku jadi tidak sempat bercerita apa-apa, lain kali akan ku ceritakan kak"


ucap Ellise sembari tersenyum dan menggaruk kepalanya.


'bohong, jelas-jelas kita pernah bertukar cerita tentang masa lalu'


gumam Allen dalam hati


"baiklah aku mengerti, lalu mengenai bunga lili sejak kapan kau suka bunga bukankah kau lebih suka boneka"


imbuh Allen mencoba memastikan kembali


"ahh benarkah, akhir-akhir ini bunga sedang populer dan aku mulai menyukainya terutama bunga lili"


kembali menjawab Allen dengan sedikit ragu-ragu lalu membuang muka untuk mengalihkan pandangannya dari Allen


'bohong, kini aku ingat dengan jelas bahwa Ellise tidak suka bunga karena alergi, sudah dipastikan dia bukan Ellise'

__ADS_1


gumam Allen dengan memasang wajah penuh kebencian


__ADS_2