ELLISE

ELLISE
Keadaan Tak Menguntungkan


__ADS_3

"Ellise! Ellise.. !"


David berteriak memanggil nama Ellise, ia berharap bisa segera bertemu dengannya, meskipun lelah namun David tetap berjalan menyusuri hutan.


'srrrkkkkk' 'srrrkkkkk'


suara yang berasal dari semak-semak membuat langkah David terhenti, ia spontan bersembunyi di balik pohon sambil mengawasi.


'srraakkk.. duuuummmmm..."


seekor singa yang melompat dari balik semak dan mendaratkan langkahnya tepat di depan pohon tempat David bersembunyi.


David dengan sigap tertunduk dan membungkam mulutnya, ia khawatir jika singa tersebut akan menerkam dirinya sedangkan ia sendiri tak bisa melawan karena tak memiliki senjata apapun.


keringat dingin mulai bercucuran, David mulai ketakutan, baru pertama kali ia mengalami hal semacam ini.


"David"


'suara Ellise!!!'


gumam David dalam hati mengenali suara tersebut


"davidd..!!!"


seru Ellise memanggil namanya, David pun segera berdiri dan keluar dari tempat persembunyiannya,


"Ellise!"


teriaknya senang melihat Ellise yang selamat dari tragedi di tepi sungai, David pun bergegas menghampiri Ellise begitupun Ellise yang berjalan ke arah David..


rasa haru tak dapat mereka sembunyikan, mereka bersyukur karena masing-masing selamat.


hari mulai sore, keduanya memutuskan untuk mencari tempat beristirahat tak jauh dari tempat mereka bertemu, singa yang mengantar Ellise menunjukan sebuah goa, disanalah mereka akan tinggal malam ini.


David mencari kayu bakar disekitar goa, sedangkan Ellise bertugas membersihkan bagian dalam goa.


tak berselang lama singa yang menolong Ellise datang membawa ikan segar dengan ukuran lumayan besar di mulutnya.


singa itu memberikannya pada Ellise,


"hei kau membawa.. ikan?"


ucap Ellise terkejut dengan apa yang ia lihat, Ellise kemudian mendekati singa tersebut untuk menerima ikan yang ia bawa.


"terimakasih"


ucap Ellise sambil mengelus-elus si singa, dan singa itupun duduk menunggui Ellise yang sedang sedang bersih-bersih.


tak berselang lama David pun datang membawa kayu bakar, sebenarnya ia masih merasa takut dengan singa yang datanag bersama Ellise namun David menyembunyikan perasaan takutnya tersebut dengan cara menjaga jarak dan tentunya menghindari kontak mata dengan singa tersebut.


sesampainya di bagian dalam goa David pun mulai menata kayu untuk membuat api unggun, hal yang sama sekali baru bagi Ellise yaitu menyalakan api dengan menggunakan batu.


ia terheran menatap David menyalakan api, Ellise merasa kagum dengan hal tersebut dan membuatnya terfokus seperti sedang melamun.


"Ellise"


David memanggil namanya, sontak Ellise pun tersadar lalu mendekat pada David dengan membawa seekor ikan besar hasil tangkapan singa yang menolong nya tadi.


keduanya memutuskan untuk beristirahat, duduk di dekat perapian sambil menunggu ikan nya matang, karena penasaran dengan singa yang menolong Ellise David pun bertanya.


"kau bagaimana caranya bisa menaklukkan nya"


ucap David sambil menunjuk ke arah singa yang tengah tertidur lelap.


"ah maksud mu choco?"


jawab Ellise tersenyum


"choco? kau juga menamainya?!"

__ADS_1


tanya David yang sedikit terkejut dengan jawaban santai Ellise


"hahaha... karena warna nya sedikit coklat aku spontan menamainya seperti itu"


sahut Ellise dengan tertawa


"ehhemm.. jadi dia yang menghampiri ku, pada awalnya aku mengira dia ingin menerkam ku, tak taunya dia malah menjilati ku seperti seekor anjing kecil"


ucap Ellise sedikit tertawa kecil, mendengar hal tersebut tak sadar membuat David keheranan, bahkan saking terkejutnya membuat mulutnya terbuka karena tak percaya dengan sikap Ellise yang seolah tak takut akan apapun.


"kau sangat cocok bila bertemu dengan nya"


ucap David yang tiba-tiba sadar akan rasa herannya terhadap Ellise lalu mengingat kakaknya


"dia siapa?"


tanya Ellise penasaran


"kakak ku, dia adalah orang paling dingin dan misterius di the Great Wales, tak ada yang berani menatap matanya karena kengerian yang ia timbulkan hanya dari wajahnya"


ucap David menceritakan tentang kakaknya pada Ellise.


"jika dia adalah orang seperti itu lalu mengapa kau tidak? kau begitu ramah"


tanya Ellise kembali


"itu karena.. ahh sudah lah lain kali akan ku ceritakan hahaha"


jawab David mencoba mengalihkan pembicaraan


"ngomong-ngomong aku penasaran bagaimana kau bisa tertangkap oleh Bannet?"


"itu karena aku sedang sial, niat ku hanya ingin membantu kakak dengan cara mencari tahu rencana Bannet mengenai kudeta malah aku tertangkap.. hhaahhhh"


imbuh David seolah mengeluhkan kegagalan nya menjadi mata-mata


"jadi benar dia adalah orang yang berbahaya? aku pikir Bannet dan kawanannya hanyalah sekelompok kecil orang yang ingin melawan raja"


imbuh David menjelaskan secara rinci.


"aku berharap ia benar-benar tewas saat menyeberangi sungai tadi"


imbuh David


"ya aku juga"


ucap Ellise yang menutup pembicaraan keduanya malam itu.


keesokan harinya Ellise dan David sedang bersiap untuk melanjutkan perjalanan, keduanya menaiki choco menuju hutan Thorn.


Medan yang di lalui tak ubahnya sama seperti hutan biasa yang berisikan pepohonan dan juga semak-semak dedaunan.


tak ada halangan yang berarti kecuali beberapa hewan liar yang melintas namun tak mengganggu perjalanan keduanya karena sepertinya para hewan disana tunduk pada choco singa yang ditunggangi Ellise dan juga David.


sesampainya di depan hutan Thorn, Choco menghentikan langkahnya, entah kenapa ia tak mau berjalan lagi.


mengerti akan hal tersebut membuat Ellise dan David turun untuk melihat situasi.


dari depan hutan Thorn tampak seperti hutan biasa tapi anehnya Choco tak mau melintas, keanehan tersebut tentu saja membuat Ellise sadar bahwa hutan Thorn seolah diselimuti dengan kekuatan sihir yang menutupi keadaan asli hutan tersebut.


Ellise pun mendekat pada Choco, ia mencoba menenangkan dengan cara mengelus-elus Choco.


terlintas dipikiran Ellise mengenai pesan yang disampaikan oleh orc sebelumnya,


"tak ada jalan kembali, hanya anda yang dapat lewat sampai ke gunung Etna"


kurang lebih seperti itulah pesan yang disampaikan oleh orc padanya yang tentunya membuat Ellise terdiam sejenak berpikir mengenai keselamatan David dan juga misinya hingga ke gunung Etna.


ia juga teringat ketika menyuruh David kembali menggunakan kuda namun gagal karena David kembali, seolah jalan disekitar hanya memutar saja, lalu Ellise berinisiatif berbicara pada choco.

__ADS_1


"apakah ada jalan lain?"


sambil mengelusnya lembut, choco terdiam tak merespon


"jika ada tolong selamatkan David aku akan melewati hutan di depan sana"


imbuh Ellise sambil menunjuk ke arah hutan Thorn.


choco pun merepon dengan sedikit menghindari sentuhan tangan Ellise seolah tak suka dengan ucapannya, namun Ellise kembali mendekat pada Choco dan sedikit memeluknya,


"aku mohon, aku berjanji kita akan bertemu di sebrang sana"


ucap Ellise lembut yang meluluhkan choco, entah kenapa singa itu begitu penurut pada Ellise.


"David, naiklah di punggung choco"


seru Ellise yang membuat David kebingungan


"apa?"


"iya naiklah ke punggungnya, kita berpisah disini"


"tidak! tidak lagi seperti kemarin! jika aku meninggalkan mu aku hanya terlihat seperti pecundang"


ucap David memotong perkataan Ellise lalu membuang muka seolah tak senang dengan ide Ellise.


"kau tau apa yang orc sebelumnya ucapkan pada ku?"


imbuh Ellise yang membuat David spontan menoleh ke arahnya.


"tak ada jalan pulang, hanya anda yang dapat melewati nya sampai ke gunung Etna. kau pasti ingat kejadian saat aku meminta mu kembali tapi malah kau seperti mengambil jalan yang memutar, jadi... "


"jadi apa maksudmu?"


tanya David tegas


"jadi kau harus pergi mencari jalan lain bersama Choco, hutan itu sangat berbahaya bagi orang biasa, seperti yang dikatakan oleh Bannet mengenai diri ku saat ini sebagai orang terpilih dari dewa, kau pasti mengerti maksudku"


helaan nafas panjang keluar dari mulut David, ia hanya ingin agar Ellise dan dirinya bersama-sama segera keluar dengan selamat dan kembali ke the Great Wales.


David pun mengangguk seolah setuju, ia tak protes lagi dan langsung menaiki choco.


"berhati-hatilah.. aku percaya bahwa dewa tak pernah salah memilih mu"


ucap David di sambut anggukan oleh Ellise, David pun menaiki choco, ia lalu berpamitan dan choco langsung berlari meninggalkan Ellise.


"huuuhhh"


helaan nafas panjang dari Ellise, ia memandang ke arah hutan Thorn dan hutan tersebut tiba-tiba berubah menjadi semak berduri dengan batang yang besar.


dugaan Ellise memang tepat, hutan tersebut diselimuti kekuatan sihir yang dapat menipu siapa saja yang mencoba memasukinya.


dengan meneguhkan tekad Ellise pun mulai berjalan masuk ke dalam hutan, saat akan melangkah kaki tiba-tiba hutan tersebut membukakan jalannya untuk Ellise.


Ellise sempat ragu dan menghentikan langkah nya, ia curiga bahwa hal tersebut merupakan bagian dari ilusinya.


karena tak membawa senjata apapun Ellise mencoba melangkahkan kaki kanannya ke jalan tersebut dan jalan masuk merupakan hal yang nyata dan bukan sihir.


ia lalu melangkahkan kaki kirinya, kini badannya telah masuk ke wilayah hutan Thorn, tak ada sesuatu yang aneh seperti yang pernah diceritakan oleh Bannet sebelumnya bahwa hutan Thorn dapat menjerat siapapun saat masuk kedalamnya.


masih sedikit tak percaya Ellise pun berjalan masuk, dan jalan utama yang tadinya terbuka lalu perlahan menutup setelah Ellise melewati nya.


ia sempat terkejut namun ia berusaha untuk tetap tenang dan melanjutkan langkahnya.


selama perjalanan tak ada halangan yang terjadi, Ellise berjalan selayaknya di dalam hutan biasa, seperti hutan tersebut mengenali Ellise dan mempersilahkannya untuk lewat begitu saja.


di ujung perjalanannya dalam hutan Thorn Ellise di kejutkan oleh sisik besar yang menghadang jalannya seolah tak ingin membiarkan Ellise lewat.


sadar akan hal tersebut membuat Ellise bersikap waspada.

__ADS_1


'sial'


gumamnya dalam hati yang merasa kesal karena ia sedang dalam kondisi tak menguntungkan, ditambah dirinya tak membawa senjata sama sekali.


__ADS_2