ELLISE

ELLISE
Pesta Dansa


__ADS_3

"haaahhhh... rasanya seperti mau mati saja"


keluh ellise sambil bersandar pasa sofa besar di ruang baca paviliun belakang, ia sedang berusaha menenangkan diri dari situasi di ruang makan tadi pagi, baru pertama kali ia merasa bagaikan nyawa nya telah hilang setengah mendengar peringatan allen.


"tuh kan, aku bilang juga apa"


ucap aciel menambahi penderitaan yang tengah dirasakan oleh ellise.


"kau bisa tidak jangan menambah penderitaan ku"


ucap ellise ketus pada aciel namun aciel terdiam tak menanggapi ellise.


rasanya bagaikan hari penuh sial bagi ellise, selain karena kemarahan allen ia pun harus menghadapi datang bulan di hari pertama,


'pantas saja aku merasa sekujur tubuh ku lemas dan emosi ku hampir saja meledak tadi, di tempat tinggal ku dulu ini bisa di sebut dengan pms'


gumam ellise dalam hatinya sambil mengelus-elus perutnya, merasakan penderitaan bagi kaum wanita setiap satu bulan sekali di tambah ia harus mengenakan korset yang ketat membuat nyeri semakin menjadi-jadi, sadar ada hal aneh pada ellise membuat aciel bertanya padanya,


"kau sedang tidak sehat? kenapa wajah mu pucat sekali"


tanya nya serius mengkhawatirkan ellise


ellise menghela nafas panjang sambil menjawab,


"haahhh.... kau tidak akan pernah mengerti bagaimana rasanya pms setiap bulan"


"aa..ap.. apa ? pm apa kata mu?"


tanya aciel bingung dengan istilah yang diucapkan ellise


"sudahlah, kau tidak akan paham... hei ngomong-ngomong besok malam kita tetap melaksanakan rencananya"


mendengar ellise membahas kembali permintaan nya kemarin membuat aciel sedikit tegang.


"hei aku yakin kau bisa mengelabuhi allen"


sambil menepuk pundak aciel menenangkan dirinya dari rasa tidak percaya diri akan kemampuan yang ia miliki.


aciel hanya menganggung tak menjawab juga tak memprotes keinginan ellise, keduanya pun menghabiskan waktu di ruang baca bersama.


***


keesokan harinya menjelang sore hari merupakan hari dimana pesta dansa kerajaan di adakan, pada pesta ini seluruh gadis yang menginjak usia 20 tahun akan memulai debutnya di pergaulan kelas tas.


moment penting yang di tunggu oleh para gadis ialah berdansa dengan putra mahkota, momentum ini tentu saja dapat menjadikan gadis pilhan putra mahkota menjadi primadona selanjutnya.


selama ini putra mahkota tidak sembarangan mengajak gadis bangsawan berdansa, terakhir kali lucia lah yang berdansa dengan putra mahkota itupun 3 tahun yang lalu, kali ini banyak sekali yang berharap bisa mendapat kesempatan baik tersebut.


di dalam kamarnya ellise sedang berdandan dan mengenakan gaun di bantu oleh para pelayan, bagi ellise pesta dansa adalah hal yang paling ingin ia hindari mengingat ia belum pernah datang sekalipun, juga ia tak tertarik dengan kaum sosialita, bagi ellise hal ini semacam eksploitasi untuk kaum wanita.


"ku dengar tahun ini nona lucia mensabotase seluruh butik dan perias di negeri ini"


ucap salah seorang pelayan pada pelayan lain yang sedang menyiapkan gaun untuk ellise.


"benarkah? rubah itu.. dasar.. uppss maaf nona hamba tidak bermaksud"


jawab pelayan yang lain namun tiba-tiba berhenti membicarakan lucia karena ellise datang untuk dipakaikan baju oleh keduanya.


"lucia, memang dia siapa?"


"nona ellise anda harus berhati-hati pada wanita bernama lucia, dia adalah rubah licik.."


ucap elena seorang pelayan yang bertugas mengganti pakaian ellise namun segera berhenti berbicara saat carol menyenggol untuk mengingatkan ketidaksopanannya menyebut bangsawan sebagai rubah licik


"maksud hamba anda jangan sampai berurusan dengan nona lucia, dia adalah primadona di negeri ini yang haus akan pujian.. sudah tiga tahun ia menyabotase seluruh salon kecantikan dan butik-butik gaun agar berhenti menerima permintaan dress cantik sebelum pesta dansa kerajaan diadakan.. hamba merasa kasihan pada puteri bangsawan tempat teman hamba bekerja, dia sampai menangis karena tak berhasil mendapat gaun dengan ualitas terbaik di kota ini"


elena pun bercerita mengenai kejadiaan yang selalu terjadi sebelum pesta dansa kerajaan


"bagaimana itu bisa terjadi, semua bangsawan di negeri ini memiliki uang, tinggal menambah biaya saja pasti para pemilik butik mau membuatkan"


ucap ellise membeberkan logikanya mengenai masalah yang diceritakan oleh elena.


"masalahnya keluarga nona lucia adalah satu-satunya bangsawan yang menyetok persediaan kain di kota ini nona jadi sudah sebulan yang lalu mereka menghentikan pasokan kain kualitas terbaik dan memilih untuk menimbunnya di gudang pribadi sampai pesta dansa selesai di adakan"

__ADS_1


imbuh elena menceritakan secara detil permasalahan sesungguhnya


"nona lucia memang benar-benar kejam, di balik wajah cantiknya tersimpan sifat yang tak terduga"


imbuh carol terhadap cerita yang disampaikan elena


"tetapi untung saja tuan allen sudah mempersiapkan dress nona dengan baik, setiap tahun setidaknya tuan allen sellau membawa pulang kain dengan kualitas terbaik dan ia simpan di tempat menyimpanan"


"ya sepertinya tuan allen saat itu akan membawa nona ellise kembali namun beliau belum menentukan waktunya, dan tanpa di sangka nona di jemput secara paksa oleh raja.."


"hei kau ini sedang bicara apa..."


carol kembali menegur elena yang bercerita kesana kemari tidak fokus dengan topik yang sedang dibicarakan


"yahh pokoknya nona ellise harus berhati-hati dengan lucia, anda harus pandai memilih teman karena nona kami ini mungkin saja akan menjadi primadona selanjutnya"


"benar, nona ellise sangatlah cantik bila mengenakan dress"


ucap carol sambil mengikat kencang korset pada tubuh ellise.


"awwwww.... bisa kendorkan sedikit tidak"


ellise berteriak kesakitan dan memohon agar korsetnya diperlonggar, namun dengan tegas carol menolak keinginan ellise dengan menggelengkan kepalanya.


"sudah selesai.. wahh ternyata memang benar nona ellise sangat cantik mengenakan gaun ini"


seru elena sambil menyatukan tangannya terkagum akan keanggunan juga kecantikan ellise, begitupun carol yang menganggukan kepala setuju dengan pendapat elena.


seperti yang dibicarakan kedua pelayan, ellise mengenakan dress berwarna biru laut dengan potongan sabrina, rambutnya di tata up do agar menambah kesan elegan pada ellise.


namun ellise sendiri belum menyadari kecantikan dirinya, ia pun sama sekali tidak menanggapi pujian kedua pelayan itu dan segera pergi keluar rumah menemui allen yang mungkin sudah menunggunya sedari tadi.


ellise pun berjalan terus tanpa memperhatikan sekeliling dan tanpa sadar banyak pasang mata yang melihat kearahnya karena kagum akan kecantikan ellise kala itu, sesampainya di halaman depan ia memanggil allen, sontak allen pun menoleh ke arah ellise dan membuat dirinya juga diam terpatung sejenak allen pun terpesona dengan kecantikan ellise membuat ellise merasa bingung akan tatapan kakaknya.


"kenapa kakak memasang tatapan seperti itu, jangan bilang kakak terpana akan kecantikan ku hari ini, hemm dasar"


ucap ellise sambil berjalan melewati allen lalu sedikit merapihkan poninya seolah meledek allen lalu segera menaiki kereta kudanya.


'kau memang cantik'


***


sama hal nya dengan allen, duke argyll dan david pun tengah dalam perjalanan menuju kerajaan untuk hadir dalam pesta dansa kerajaan.


sedari tadi ada hal yang sangat mengganggu pikiran david, hal ini adalah keikutsertaan kakaknya pada pesta dansa kali ini padahal kakaknya sama sekali tak pernah hadir dalam pesta pergaulan kerajaan.


biasanya duke argyll akan lebih memilih untuk menyelesaikan pekerjaannya di ruang kerja atau biasanya ia akan datang ke camp pelatihan dan menghabiskan waktu disana, kakaknya ini bukanlah tipe orang yang peduli dengan status sosial yang ia pedulikan hanyalah memperkuat status keluarga.


"bukankah ini aneh"


ucap david spontan membuat duke argyll melihat ke arahnya.


"iya ini aneh tidak biasanya kakak datang pada pesta seperti ini"


imbuh david mengeluhkan sikap kakaknya yang tak biasa itu.


"hyde juga sepertinya akan hadir karena itu aku juga harus datang"


ucap duke argyll mengalihkan kecurigaan david terhadap dirinya dengan menyebutkan nama hyde sebagai alasan padahal ia sendiri tak tahu apakah hyde akan hadir atau tidak.


"benarkah, kalau begitu ini kesempatan baik bagi ku untuk menemuinya"


seperti yang sudah diperkirakan ucapannya dapat mengalihkan rasa curiga david terhadap dirinya, david ini memang masih saja polos di usia yang sudah 20 tahun.


menggunakan hyde sebagai alasan adalah senjata yang paling ampuh untuk memecah konsentrasi david karena duke argyll tahu benar bahwa david begitu mengidolakan hyde dibandingkan dirinya padahal duke argyll dan hyde memiliki kemampuan yang seimbang, keduanya juga berada di daftar teratas kesatria terbaik di neverland.


terkadang sedikit menyakitkan mengetahui adik kandungnya sendiri malah mengidolakan lawan ketimbang kakaknya sendiri namun duke argyll tetap saja mendukung segala keinginan david meskipun ia mendidik david dengan keras hingga ia sempat kabur untuk membuktikan kemampuan kakaknya dan malah berakhir tertangkap komplotan bannet (lihat episode 5).


kereta tiba-tiba berhenti, mendapati keanehan tersebut membuat duke argyll membuka tirai jendela untuk memastikan keadaan di luar, ia pun mendapati banyak kereta sedang mengantri untuk masuk ke dalam istana.


tak sabar dengan antrian tersebut duke argyll meminta hugo sang asisten untuk menunjukkan stempel raja yang berarti ia memiliki kartu bebas akses dan membuat kereta kuda milik duke argyll bisa masuk tanpa mengantri.


sesampainya di depan istana duke argyll segera turun bersama david, di sana suasana cukup ramai hingga membuatnya memilih untuk menunggu sejenak sampai agak legang.

__ADS_1


di waktu yang sama, ellise masih terjebak antrian untuk masuk ke istana, ia merasa sedikit lelah karena terus duduk dan menunggu keretanya berjalan kembali.


terbersit dalam pikirannya mengenai undangan khusus untuk dirinya yang diberikan oleh raja secara langsung, ia penasaran dengan sebuah kartu yang di bubuhi stempel diatasnya, ellise lalu memeriksa barang bawaannya dan menemukan apa yang ia cari.


"kakak ini apa?"


tanya ellise sambil menunjukkan kartu tersebut pada allen,


"dari mana kau mendapatkannya?"


sedikit terkejut dengan benda yang di tunjukkan ellise.


"ini terselip di dalam undangan, jadi apa fungsinya?"


ucap ellise sambil mebilak-balik kartu dan melihatnya dengan seksama, dengan sigap allen merebutnya,


"berikan pada ku"


segera setelahnya allen membuka tirai jendela dan memberikannya pada albert, tak lama kemudian kereta yang di tumpangi allen dan ellise pun berjalan.


"jadi apa yang terjadi?"


tanya ellise penasaran


"benda yang kau pegang adalah kartu bebas akses, kau bisa juga meminta apapun hanya dengan menunjukkan kartu itu"


allen menjelaskan kegunaan benda yang di terima oleh ellise dari sang raja


"apakah aku bisa meminta sebidang tanah? atau tambang berlian?"


tanya ellise sedikit iseng dengan penjelasan kakaknya


"tentu saja, bukan hanya itu bahkan jika kau meminta daerah kekuasan baru dan menjadi pemimpin di dalamnya pun akan dikabulkan oleh raja"


mengimbuhi penjelasannya


"benarkah"


jiwa materialistis ellise pun tergugah, ia menunjukkan ekspresi yang tergiur akan benda yang ia dapatkan dari raja tersebut,


"tapi sayangnya bagi bangsawan setingkat kita benda tersebut hanya bisa digunakan sekali"


kini allen mencoba membunuh jiwa materialistis ellise dengan penjelasan yang lebih logis berdasarkan fakta yang membuat ellise menjadi tak bisa berkata apa-apa,


"jangan katakan kakak menggunakannya untuk.."


allen langsung menganggukkan kepalanya seolah mengiyakan firasat buruk ellise bahwa kartunya telah digunakan untuk bisa terbebas dari antrian panjang.


"kakak.....!"


ellise berteriak kesal karena merasa kartunya telah terbuang sia-sia hanya untuk bebas dari antrian, bagi ellise akan lebih baik jika kartu itu digunakan untuk mendapatkan sebidang tanah, atau pertambangan, atau setidaknya bisa ia gunakan untuk membangun sebuah kastil megah yang akan ia tinggali sendiri, batinnya menangis sedih tapi tak dapat berbuat apa-apa.


dari sudut pandang allen melihat ekspresi ellise kala itu merupakan hal yang lucu, bagaimana adiknya bisa seimut itu meskipun sedang bersedih hingga membuatnya tertawa kecil.


"kakak benar-benar jahat kenapa tidak memberitahu ku sebelumnya"


ucap ellise yang kedengaran seperti penuh penyesalan atas apa yang terjadi barusan namun allen tak benar-benar serius menanggapi dan malah tetap tertawa.


keduanya pun sampai, allen turun terlebih dahulu sedangkan ellise berusaha menenangkan hatinya secepat mungkin karena hari ini adalah hari yang spesial.


saat sudah merasa tenang ellise segera turun menyusul allen, ia memegang tangan allen dan menuruni tangga kereta perlahan, lalu segera memegang siku allen sesuai etika yang berlaku karena gadis yang akan debut harus di antar masuk oleh anggota keluarga.


belum siap, itulah yang dirasakan oleh ellise, tiba-tiba ia tertunduk merasa sedikit gelisah dan rasa percaya dirinya berkurang setelah melihat betapa cantinya gadis-gadis bangsawan di sekitanya.


"tenanglah, ellise ku jauh lebih cantik dari mereka, tegakkan pandangan mu dan tunjukkan harga diri keluarga collins dihadapan bangsawan lain"


allen berusaha menenangkan adiknya tersebut membuat ellise sedikit lega karena setidaknya di the great walles ada satu orang yang menganggapnya cantik yaitu allen, dengan penuh percaya diri ellise pun mulai berjalan bersama allen.


kini ia tak sedikitpun ragu untuk melangkah masuk bersama allen, cantik, anggun dan penuh kharisma ketiga hal tersebut terpancar dari ellise juga di tunjang dengan gaun biru cantik cantik yang membuat ellise semakin bersinar dengan kulit putih susunya.


tanpa sadar kerumunan yang dilalui oleh ellise dan allen perlahan menyingkir ketika keduanya lewat, mereka terpesona dengan gadis cantik yang berjalan bersama ellise dan belum pernah mereka lihat sekalipun di the great walles, banyak yang berspekulasi bahwa gadis tersebut merupakan pasangan allen namun bila dilihat dengan seksama keduanya memiliki ciri fisik yang mirip dan beranggapan bahwa mungkin saja perempuan yang bersama allen adalah sepupu jauh keluarga collins.


merasa tak nyaman dengan banyak pasang mata yang memandangnya membuat ellise meminta kakaknya untuk berhenti namun allen segera menyentuh tangan allen agar ia tetap berjalan dan menyapa putra mahkota karena hal ini wajib dilakukan bagi gadis yang akan debut.

__ADS_1


keduanya hampir sampai di hadapan putra mahkota dan disana tepat berdiri duke argyll yang sedang berbincang dengan putra mahkota ron, mendengar sedikit riuhan suara sontak membuat duke argyll menoleh dan ia pun mendapati ellise sedang berjalan ke arahnya.


pertama kali dalam hidupnya ia terpanah oleh seorang gadis yang tak pernah ia sangka sebelumnya seolah membuat waktu di dunianya berhenti begitu saja..


__ADS_2