ELLISE

ELLISE
Terpisah


__ADS_3

"katakan dimana Ellise dasar kau penyihir?!!!"


ucap Allen dengan lantang terhadap Ellise yang duduk tersungkur tak berdaya.


"!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!"


mendengar ucapan Allen membuat orang-orang di sekitar terkejut.


"hei hentikan, kau membuat Ellise terkejut!"


ucap Ron mencoba menghalangi Allen agar tak melukai Ellise


Allen tetap teguh pada pendiriannya, ia sama sekali tak berniat untuk menarik pedang yang terhunus ke arah Ellise, sebaliknya ia malah mendekatkan ujung pedang hingga mengenai leher Ellise dan membuatnya sedikit tergores


"sudah ku bilang hentikan!!"


seru Ron sambil memegang tangan kanan Allen yang menghunuskan pedang.


Ellise sadar akan kemarahan Allen dan tak bisa menyembunyikan kebenaran lebih lama lagi.


ia tiba-tiba merubah posisi menjadi duduk seolah berlutut kemudian perlahan berubah menjadi wujud aslinya,


"ampuni hamba"


ucap Ellise palsu seraya tertunduk dan tak berani menatap ke arah Allen maupun Ron.


ucapannya tersebut sontak membuat Ron terkejut melihat perubahan Ellise menjadi orang lain, bahkan membuatnya langsung menjatuhkan bunga lili ke tanah.


"aku tau kau penyihir yang hanya memiliki kekuatan merubah wujud, kau sama sekali tak bisa melukai orang lain jadi cepat katakan dimana Ellise!"


bentak Allen mencoba meminta penjelasan mengenai keberadaan Ellise.


si penyihir pun lantas menceritakan kejadian yang sesungguhnya.


pada awalnya ia memohon ampun lalu menjelaskan kebenaran Ellise asli yang sedang berada di markas besar Bannet, ia juga menceritakan kejadian yang di alami oleh Ellise mengenai tanda dewa yang ia dapat setelah mandi di sebuah danau suci, hal itu lah yang menyebabkan Bannet menahan Ellise.


mendengar hal tersebut membuat Allen begitu marah besar, ia kemudian mengikat penyihir dan memasukkannya ke dalam penjara khusus keluarga Collins.


Allen benar-benar hilang akal, ia sangat mengkhawatirkan keadaan Ellise.


Ron yang mendampingi Allen kala itu mencoba menenangkan sahabatnya tersebut,


"tenanglah, Ellise pasti akan selamat"


ucap Ron pelan pada Allen


"braakkkkk"


Allen menggebrak meja


"aku harus segera menyelamatkan Ellise!"


ucap Allen yang sudah bertekad untuk segera pergi, ia lantas mengambil jubah yang tergantung dan juga pedang di samping mejanya, ia berjalan dengan tergesa-gesa.


"tenanglah"


ucap Ron sambil memegangi tangan Allen, Ron berusa mencegah agar Allen tak bertindak gegabah


"lepaskan! aku harus..."


menepis tangan Ron namun dengan sigap Ron melumpuhkan Allen dan membuatnya jatuh tertidur di lantai..


"hentikan Ron!?!"


seru Allen yang tak mengerti dengan tindakan Ron


"aku harus mencegah mu bertindak gegabah, tenanglah, kita harus memikirkan rencana dengan matang"

__ADS_1


ucap Ron sambil terus mengunci Allen dalam posisi tertidur


Allen pun menyerah dengan tindakan Ron,


"baiklah aku menyerah jadi lepaskan"


ucap Allen mencoba menuruti saran dari Ron.


begitupun Ron yang langsung melepas kunciannya, keduanya sama-sama berdiri lalu duduk di kursi kerja Allen.


mereka membicarakan rencana penyelamatan Ellise dan Ron bersedia untuk membantu Allen apapun yang terjadi.



Ellise dan Rombongan Bannet masih berjalan hingga sampailah mereka di sungai namia.


saking luasnya bahkan ujung sebrang sungai sampai tak terlihat, Ellise sempat mengira jarak pandang ini adalah sihir namun David memberikan penjelasan bahwa sungai namia memang lah sungai yang seperti diceritakan, memiliki luas yang yang masuk akal.


karena hari hampir malam, mereka memutuskan untuk membuat camp di sekitar sungai namia namun sedikit menjauh agar tak memancing hewan buas keluar dari dalam sungai tersebut.


Ellise duduk di dekat perapian sambil melingkarkan kedua tangan di depan tubuhnya, ia merasa sedikit kedinginan.


melihat hal tersebut David pun berinisiatif mengambil selimut lalu melingkarkan pada tubuh Ellise agar ia merasa hangat.


"terimakasih"


ucap Ellise sambil melihat David kemudian merapihkan selimut yang melingkar pada tubuhnya


"apakah sudah lebih baik?"


tanya David kemudian duduk di dekat perapian namun menghadap ke arah Ellise.


Ellise merespon dengan menganggukkan kepala.


"sebenarnya apa yang kau bicarakan dengan Orc?"


"ohh itu.. dia hanya berpesan untuk tidak mengambil apapun selama perjalanan menuju gunung Etna"


ucap Eden sembari mengusap-usap kedua tangannya kemudian mengarahkan ke perapian agar terasa lebih hangat.


mendengar penjelasan Ellise, David merasa ada yang sedang disembunyikan darinya, namun David tidak berusaha untuk bertanya lagi, ia yakin bahwa Ellise memiliki alasan kenapa ia merahasiakan percakapannya dengan Orc.


"apapun yang terjadi besok kau harus terus berada di belakang ku David"


ucap Ellise lirih namun tak menatap ke arah David, ucapannya begitu lirih seperti memberi sebuah petunjuk.


"uhuum"


ucap David singkat seolah setuju dengan keinginan Ellise.


setelah menghangatkan diri, Ellise dan David bergegas kembali ke camp untuk beristirahat.


burung berkicau menandakan pagi telah tiba, tak biasanya Ellise bangun lebih cepat dari yang lain.


ia pergi menuju sungai namia untuk memeriksa keadaan disana, tak ada seorangpun yang tau bahwa Ellise pergi termasuk David.


Ellise kemudian mendekat ke air, ia meletakkan tangan di aliran sungai tersebut, tak berselang lama sungai yang tadinya mengalir deras tiba-tiba berubah menjadi tenang dan cahaya biru terpancar seolah membentuk retakan-retakan yang terus terhubung hingga ke ujung sungai.


hal itu sesuai dengan petunjuk dari Orc bahwa sebenarnya sungai namia adalah batas akhir untuk manusia biasa sedangkan hanya Ellise lah yang dapat melintas sendiri.


Ellise sempat ragu untuk menyeberang mengingat ia telah melibatkan David dalam perjalanan berbahaya tersebut.


Ellise tak bisa meninggalkan David sendiri bersama rombongan bannet, sejenak Ellise terdiam, ia lalu menyentuh sungai kembali dan retakan cahaya di permuakaan air sungai tiba-tiba menghilang.


Ellise kemudian duduk, pikirannya buntu, ia tak memiliki cara lain agar David bisa ikut bersama dirinya.


'tap'

__ADS_1


suara tepukan bahu yang sontak membuat Ellise menoleh, David berada di belakang Ellise, ia kemudian duduk di sebelah Ellise.


"melihat mu melamun membuat ku sangat tak nyaman"


ucap David sambil menata duduknya dalam posisi nyaman


Ellise lalu menghela nafas, ia tak merespon David dan hanya menatap ke arah sungai Namia.


"jika kita berdua selamat aku berjanji akan mengenalkan mu pada kakak ku"


ucap David sambil tersenyum pada Ellise


"jangan bodoh, aku yakin kakak mu itu tidak tampan"


celetuk Ellise menolak untuk dikenalkan dengan seorang pria


"aku berani bertaruh, kau akan jatuh cinta pada pandangan pertama jika melihatnya kelak"


ucap David sesumbar membanggakan ketampanan kakaknya


"ppfffttt... kau lucu sekali"


ucap Ellise meledek David.


suasana menjadi hening kembali, tak ada percakapan antara keduanya.


"aku bisa mengirim mu pulang"


Ellise mengucapkan kata-kata yang membuat David terkejut dan sontak melihat ke arahnya.


"aku sudah membius Bannet dan anak buahnya menggunakan asap dari api unggun semalam, mereka sedang pingsan saat ini"


imbuh Ellise mencoba menjelaskan situasi, ia kemudian melihat ke arah David lalu berbicara kembali,


"pergilah dulu selamatkan dirimu, aku tak bisa membawa mu melewati sungai namia bahkan Bannet pun tak bisa.. hanya aku sendiri yang bisa, jadi David.."


"tidak! kau pasti berbohong!"


menyela ucapan Ellise


dengan lembut Ellise memegang tangan David lalu berdiri untuk mengambil kuda, ia kemudian berjalan mendekat pada David,


'ktak.. ktak.. ktak.. "


suara kaki kuda yang berjalan mendekat, Ellise meraih tangan David lalu memintanya untuk berdiri.


awalnya David tak mau namun lama kelamaan hatinya luluh dan menuruti Ellise untuk berdiri.


"setidaknya kita harus pergi bersama"


ucap David lirih sambil memalingkan wajahnya


"kakak ku dalam bahaya, Ellise palsu sedang membelenggunya, jika aku ikut pergi bersama mu aku yakin Bannet akan menggunakan sihir untuk membunuh kakak ku jadi kau pasti mengerti keinginan ku David"


ucap Ellise sambil memegang ke dua tangan David berusaha meyakinkannya agar mau pergi.


"berjanjilah kau akan selamat"


ucap David lemas sambil melihat ke arah Ellise


Ellise kemudian menganggukkan kepala seolah berjanji pada David.


dengan berat hati David pun menaiki kuda, ia bergegas pergi mengikuti petunjuk Ellise untuk menyusuri sungai dengan arah yang berlawanan, karena di ujung aliran David akan menemukan sebuah desa dan di dekat desa tersebut sudah murapakan jalan lintas menuju The Great Wales.


'tunggulah Ellise aku pasti akan membawa kakak mu untuk menyelamatkan mu'


gumam David dalam hati

__ADS_1


__ADS_2