
Hyde merasa curiga dengan tabir pelindung yang menutupi si utusan dewa, satu-satunya cara agar ia dapat menyingkap tabir tersebut ialah dengan memeriksanya dalam ruang ritual namun masalahnya ruang ritual hanya bisa berfungsi etika kelima penjaga negara suci berada dalam satu ruangan.
sangat sulit untuk mempersatukan ke lima penjaga saat ini karena masing-masing dari mereka sedang menjalankan tugas yang jauh lebih penting dari pada menemukan utusan suci dan mengamankan the glory of Ten powers dari orang-orang jahat.
meskipun demikian Hyde sudah mengirim surat pada masing-masing penjaga dan surat tersebut sedang dalam proses pengiriman saat ini, perkiraan 2 hingga 3 hari kedepan surat tersebut akan sampai.
Hyde kini hanya bisa mempersiapkan segala kebutuhan dalam ruang ritual dan juga membaca beberapa buku sejarah untuk mempertajam pengetahuannya mengenai jenis tabir yang melindungi si utusan suci.
'seandainya aku tahu jenis tabir apa yang melindunginya saat ini aku pasti bisa menyingkap dan menemukan siapa dalang di balik kejadian ini'
gumam Hyde dalam hati seraya berjalan menuju ruang ritual.
* * *
"ngomong-ngomong bolehkah hamba bertanya sesuatu pada anda tuan?"
tanya Ellise pada Duke Argyll
"anda bisa berbicara santai dengan ku, lagi pula aku masih seusia Allen.. katakan apa yang ingin anda ketahui nona Ellise ?"
"jadi apa pekerjaan anda Duke Argyll?"
tanya Ellise sedikit ragu yang di sambut senyuman oleh Duke Argyll
"apa yaa.. mungkin aku adalah seorang pedagang"
ucap nya menjawab Ellise tak serius
"benarkah? tapi sepertinya bukan itu saja"
sahut Ellise mencoba menyangkal jawaban Duke Argyll
"lalu menurut nona Ellise apa pekerjaan ku?"
sambung Duke argyll yang kemudian mengubah posisi duduknya dari bersandar lalu tegap menatap Ellise
"kesatria? ahh tidak lebih tepatnya seorang kesatria pelindung?"
ucap Ellise spontan yang membuat Duke Argyll terkejut dengan tebakan Ellise, begitu juga David dan Hugo sang asisten yang ikut terkejut namun berusaha menyembunyikan ekspresi wajah mereka.
"apakah saya benar? dari ekspresi anda sepertinya jawaban nya benar"
sambung Ellise yang cepat sadar bahwa jawabannya membuat Duke Argyll terkejut
"menarik sekali"
ucap Duke Argyll sambil tersenyum simpul lalu melanjutkan ucapannya lagi
"tapi biar aku tebak, sepertinya nona Ellise tidak ingin tahu mengenai pekerjaan ku melainkan mengenai kesatria pelindung ?"
ucap Duke Argyll yang kini berbalik membuat Ellise terkejut.
"sepertinya aku tak bisa menjawab apapun mengenai hal itu"
sambung Duke Argyll
"kenapa?"
"karena aku tak ingin"
jawab Duke Argyll singkat, Ellise pun berhenti bertanya pada Duke Argyll karena ia bukanlah tipe orang yang memaksa agar semua rasa penasarannya bisa terjawab dalam satu malam untuk itu ia memilih diam dan mengalihkan pandangannya.
melihat ekspresi Ellise yang tiba-tiba berubah menjadi diam membuat Duke Argyll penasaran dengan hal yang sedang dipikirkan oleh Ellise, ia pun memberanikan diri untuk bertanya kembali.
"aku tak bisa menjawab semua rasa penasaran nona Ellise, atau mungkin nona Ellise bisa datang ke perpustakaan pribadi milikku, disana banyak catatan langka yang mungkin dapat menjawab rasa penasaran nona"
"sejujurnya hamba akan lebih paham dan mengerti jika ada seseorang yang menjelaskan, terimakasih atas kemurahan hati Duke Argyll mengizinkan hamba untuk datang ke perpustakaan pribadi namun akan lebih baik jika hamba tidak masuk kesana"
ucap Ellise yang seolah tak ingin memperpanjang masalah keingintahuannya tersebut yang tentu saja membuat orang di sekitarnya terdiam dan berpikir bahwa ia adalah orang yang tenang dalam memutuskan suatu hal dan membuat Duke Argyll secara pribadi kagum akan sifat tak terduga Ellise tersebut.
hari menjelang sore, sudah saatnya untuk Ellise kembali pulang, ia pun mengucapkan salam perpisahan pada Coco.
"sampai bertemu besok, aku sangat ingin membawa mu kembali tapi tidak bisa untuk saat ini karena aku mengenakan gaun."
ucap Ellise sambil mengelus-elus Coco, ia lantas beranjak pergi menuju halaman depan bersama David yang setia menemaninya.
__ADS_1
tiba saatnya bagi Ellise untuk pergi, ia telah siap menaiki kereta kuda lalu membuka tirai yang menutupi pintu kereta dan segera melambaikan tangan ke arah David, kereta pun berjalan mengantar Ellise kembali ke rumahnya.
selama perjalanan ke rumah Ellise sedikit menyesali ucapannya menolak tawaran Duke Argyll, ia bahkan membentur-benturkan kepalanya pada dinding di sampingnya sambil bergumam,
"bodohnya aku, bagaimana aku bisa menolak kesempatan emas tersebut? apa yang telah kau lakukan Ellise, kau tidak harus terlihat bijaksana tadi, informasi yang dimiliki Duke Argyll pasti penting"
gumam Ellise yang terus menyalahkan diri sendiri dan menyesali perbuatannya tadi.
kereta tiba-tiba berhenti, membuat Ellise terkejut dan menanyakan hal apa yang menghentikan laju keretanya.
"kenapa berhenti pak kusir?"
seru Ellise memastikan keadaan, lalu seseorang membuka pintu kereta yang tengah di tumpangi Ellise, ia sempat kaget mendengar suara pintu terbuka dan orang yang berada di luar ialah Duke Argyll.
"apakah anda punya waktu?"
tanya Duke Argyll pada Ellise yang membuatnya sepontan mengangguk.
kereta kuda kini berjalan kembali tanpa Ellise di dalamnya, Duke Argyll meminta sang kusir untuk pulang terlebih dahulu dan menyampaikan pesan pada Allen bahwa Ellise sedang pergi bersama dirinya.
tak tahu mengapa Duke Argyll bertindak demikian membuat Ellise terdiam dan hanya menurut saja, Duke Argyll mengajak Ellise menaiki kereta kuda bersama dengan dirinya menuju ke pusat kota.
keudanya kini duduk dalam kereta yang sama dan saling berhadapan, rasa canggung tak dapat di tutupi oleh Ellise, terlihat begitu jelas dari ekspresi wajahnya dan sebenarnya Duke Argyll mengetahuinya namun berusaha untuk mengacuhkan agar Ellise merasa nyaman.
keduanya pun sampai di suatu tempat, yaitu di sebuah caffe yang menyediakan berbagai jenis kue dan juga minuman.
tanpa sadar Ellise berjalan masuk mendahului Duke Argyll karena pikirannya teralihkan oleh makanan lezat yang ada di hadapannya.
Duke Argyll pun segera menyusul masuk mendahului langkah Ellise dan mendekati sang pemilik caffe yang kala itu sedang berjaga di kasir.
"Ohoo.. Duke sudah lama sekali tak pernah datang ke tempat ini, apakah anda ingin memesan sesuatu "
ucap Gary sang pemilik caffe, pria Flamboyan yang memiliki gaya berpakaian necis bak desainer kondang.
"aku memesan lantai dua, kosongkan ruangan itu"
ucap Duke Argyll pada Gary singkat.
menanggapi hal tersebut gary sedikit curiga dan melihat sekitar, matanya tertuju pada Ellise yang berdiri tepat di belakang Duke Argyll, ia lantas merespon dengan sedikit meledek Duke Argyll.
ucap Gary sambil berbisik pada Duke Argyll lalu melirik Ellise dan kembali melihat Duke argyll dengan mengedipkan mata kiri seolah Gary salah paham dengan hubungan antara Duke Argyll dan Ellise.
tak berselang lama banya orang yang turun dari lantai dua sambil mengeluhkan pelayanan caffe yang tiba-tiba mengusir mereka untuk pindah ke lantai bawah.
melihat fenomena tersebut membuat Ellise sadar bahwa Duke Argyll sengaja memesan semua kursi di lantai dua hanya untuk mereka saja dan tak ada orang lain di atas.
ia lantas memperhatikan sekeliling dan kini banyak pasang mata tertuju pada Ellise sambil saling berbisik seolah sedang menggosipkan sesuatu.
Ellise tentu saja merasa tak nyaman karena ini merupakan pertama kali ia keluar dengan orang selain Allen kakaknya, Ellise kemudian mendekat pada etalase yang berisikan kue-kue lezat, tak sadar ludahnya hampir keluar namun ia segera menelannya,
"pesanlah yang kau suka"
ucap Duke Argyll pada Ellise
"benarkah?"
tanya Ellise memastikan yang di balas dengan anggukan Duke Argyll
"kalau begitu aku mau pesan ini saja, lalu yang ini juga, apakah boleh?"
Ellise menanyakan kembali dan di sambut dengan senyum kecil Duke Argyll, ia lantas memanggil pelayan dan memesankan kue yang di inginkan Ellise.
tanpa memperdulikan sekitar Ellise segera naik ke lantai dua diikuti Duke Argyll yang berjalan tepat di belakang Ellise.
"permisi Duke Argyll"
seru seorang wanita yang memanggil Duke Argyll, namanya Anna berasal dari keluarga Marques salah satu bangsawan terpandang di the great Wales, wajahnya kecil rambutnya panjang berwarna pirang, sudah sejak lama ia menyukai Duke Argyll namun ia tak berani mengajaknya berbicara karena Duke Argyll sangat terkenal dengan sikap dinginnya pada semua wanita kecuali wanita yang ia ingin dekati.
mendengar ada yang memanggil baik Duke Argyll maupun Ellise pun berhenti sejenak dan menoleh.
"apakah anda punya waktu sebentar?"
tanya Anna pada Duke Argyll sedikit tersipu, melihat hal tersebut membuat Ellise sadar bahwa wanita itu menyukai Duke Argyll.
"sepertinya aku akan ke atas duluan"
__ADS_1
ucap Ellise berbisik namun di cegah oleh Duke Argyll, ia memegang tangan Ellise yang tentunya membuat orang saling berbisik melihat kejadian tersebut, Ellise berusaha untuk tetap tenang dan melepas cengkraman tangan Duke Argyll namun gagal karena ia begitu kuat.
"maaf aku sedang sibuk"
jawab Duke Argyll ketus lalu berbalik arah.
"sebenarnya ada yang ingin hamba tanyakan, a.. apakah benar anda akan bertunangan dengan putri Iris?"
langkah Duke Argyll terhenti lalu kembali menoleh ke arah si wanita.
'iris?'
gumam Ellise dalam hati seperti mengenali nama tersebut.
"ah dari ekspresi anda sepertinya itu tidak benar, lalu apakah anda akan datang ke pesta kedewasaan, hamba ingin.. "
"aku tidak akan datang. permisi aku sedang ada urusan"
jawab Duke Argyll singkat, terlihat jelas bahwa sikapnya sangat dingin pada wanita yang baru ia kenal, hal ini membuat Ellise sedikit merasa kesal terhadap sikap Duke Argyll yang menurutnya tak sopan namun Ellise berusaha untuk tidak menunjukkan rasa kesalnya itu.
"apakah anda tidak bisa bersikap lebih lembut pada wanita? bagi nya untuk berbicara pada anda membutuhkan keberanian yang besar"
ucap Ellise seolah mengeluhkan sikap Duke Argyll namun Duke Argyll tak menjawab keluhan Ellise dan malah menarik kursi lalu mempersilahkan Ellise untuk duduk kemudian berjalan menuju kursi di hadapan Ellise, kini keduanya berada dalam satu meja dan saling berhadapan.
"hei.. kenapa anda tidak menjawab? apakah sulit menjawab pertanyaan ku?"
sambung Ellise yang masih mempermasalahkan sikap cuek Duke Argyll.
"jadi benar aku adalah kesatria pelindung, apakah kau tertarik untuk bergabung?"
ucap Duke Argyll mengalihkan pembicaraan,
"apakah aku bisa masuk sebagai anggota?"
jawab Ellise yang sangat tertarik dengan ucapan Duke Argyll, topik tersebut berhasil membuat fokus Ellise teralihkan dan tak mempermasalahkan kejadian barusan.
"sejujurnya aku tak bisa menerima mu sebagai anggota tetapi.."
Duke Argyll menghentikan ucapannya
"tetapi?"
tanya Ellise penasaran
"ada satu orang yang bisa membuat mu masuk namun mungkin agak sulit"
"katakan apa yang harus saya lakukan?"
Ellise menunjukkan ketertarikan yang begitu kuat terhadap topik pembicaraan tersebut dan membuat Duke Argyll senang dengan respon Ellise.
"Allen"
ucap Duke Argyll singkat yang membuat Ellise terdiam sejenak dan berpikir.
"ada apa, kenapa kau tidak seantusias sebelumnya?"
tanya Duke Argyll penasaran yang disambut helaan nafas panjang Ellise.
"aku rasa tidak bisa, Allen sangat over protektif bahkan aku sempat salah sangka dia seperti kekasih ku"
gumam Ellise yang membuat Duke Argyll tertawa kecil.
"jangan menertawai ku!"
ucap Ellise ketus
"baiklah baiklah maafkan aku, lalu ada satu cara lagi"
"apa itu cepat katakan"
sambut Ellise antusias dengan solusi lain Duke Argyll.
"Raja"
ucapan Duke Argyll kini membuat Ellise terbelalak kaget, Allen saja tak bisa ia taklukan bagaimana dengan raja.
__ADS_1