
"aku ingin tau alsannya"
tanya allen dengan serius
"karena dia teman pertama ku kakak.."
allen tak berbicara, ia terus menatap ke arah ellise dan membuat ellise merasa tak nyaman dengan sikap kakaknya saat itu, ia pun menyerah dan mengatakan alasan sesungguhnya.
"karena dia spesial"
ucap ellise singkat yang membuat allen terkejut dengan kemampuan ellise, kini allen mulai sadar bahwa ellise memang berbeda dari orang biasa, ia memang terlahir dengan kemampuan unik karena itulah kedua orang tuanya mati-matian menyembunyikan ellise di luar sana dulu.
allen pun menghela nafas panjang..
"beristirahatlah, kita bicarakan soal ini lagi besok"
ucap allen menutup percakapannya dengan ellise malam itu.
lega rasanya bagi ellise karena kakaknya tak mempermasalahkan kedatangan aciel, meskipun terlalu cepat setuju namun ellise tetap berpikir positif bahwa kakaknya memang memiliki sifat baik pada setiap orang.
keesokan harinya ellise berniat sarapan pagi dengan sang kakak untuk melanjutkan percakapan mereka yang sempat terhenti semalam, setibanya di ruang makan ellise tak melihat allen hanya beberapa pelayan yang sedang mempersiapkan peralatan makan juga beberapa pelayan yang lain sedang menghidangkan makanan di atas meja.
'aneh' gumam ellise melihat situasi tersebut, tak biasanya kakaknya telat datang sarapan.
hal ini tentunya menggugah rasa penasaran ellise, ia pun pergi menuju ruang kerja kakaknya, sama seperti sebelumnya allen pun tak ada di ruang kerjanya, ia pun terdiam lantas berjalan kembali menuju ruang makan.
tak sengaja ellise bertemu dengan albert asisten allen, albertpun berhenti sejenak memberi salam pada ellise.
"selamat pagi nona ellise"
ucap albert pelan lalu berjalan pergi, ellise pun segera mencegah albert melangkah lebih jauh.
"tunggu sir albert"
seru ellise yang membuat langkah albert terhenti lalu berbalik menghadap pada ellise
"ada apa nona ellise?"
tanya albert merespon panggilan ellise
"kakak ku, dimana dia sekarang? aku tak melihatnya sedari tadi"
ucap ellise menanyakan keberadaan allen
"tuan sedang pergi ke istana"
'istana?!'
gumam ellise yang sedikit terkejut karena kakaknya pergi keistana, ia mulai berpikir macam-macam bahwa kepergian allen keistana ada kaitannya dengan perjanjian ellise dan raja mengenai aciel dan juga pesta dansa. 'celaka' serunya dalam hati dengan sedikit gemetaran.
"nona.. nona ellise"
albert memanggil ellise menyadarkannya dari lamunan sejenak.
"ah iyaa?"
seru ellise sedikit ling lung
"anda tidak apa-apa? sepertinya anda sakit, wajah anda sedikit pucat"
'ahhh tidak.. tidak apa-apa gula darah ku mungkin sedang turun"
jawab ellise mencoba menutupi rasa gugupnya.
"oh iya mungkin nona penasaran, tuan allen pergi ke istana karena ada rapat dadakan mengenai keamanan negara, tuan allen datang sebagai perwakilan dari pasukan pelindung negara"
"hah...? apa itu?"
jawab ellise spontan merasa asing dengan nama jabatan yang di emban allen
"jadi begini nona, dalam wilayah negara the great walles memiliki dua pasukan besar yaitu pasukan pelindung negara yang di pimpin oleh tuan allen dan pasuka pengawal kerajaan yang di pimpin oleh marquez ertill joseph. pasukan pelindung negara bertugas melindungi perbatasan wilayah sedangkan pasukan pelindung kerajaan bertugas melindungi keamanan kerajaan"
"lalu bagaimana dengan pasukan khusus?"
"bagaimana nona ellise bisa mengetahui hal itu?"
sedikit canggung ellise pun menjawab,
"ahh itu sebenarnya aku tak sengaja pernah mendengar saat kakak dan pangeran ron sedang berbincang"
sambil sedikit menggaruk kepalanya.
"jadi begitu, sebenarnya pasukan khusus memiliki lingkup yang lebih luas yaitu menjaga keamanan dan keseimbangan wilayah another world, pasukan tersebut dibawah pengawasan negara suci secara langsung. perwakilan dari the great walles adalah duke argyll"
albert tanpa ragu menjelaskan secara rinci pada ellise, albert kembali melanjutkan ucapannya,
"oh iya nona, untuk berjaga-jaga sebaiknya anda harus menyulam sapu tangan"
__ADS_1
"hah? saputangan?"
ucap ellise dengan sedikit bingung
"benar sekali, sapu tangan untuk tuan allen, karena sepertinya setelah pergi mengikuti rapat beberapa hari kemudian tuan allen akan pergi ke perbatasan. dan sapu tangan di the great walles menjadi lambang harapan dan doa untuk kesatria yang pergi mengamankan negara"
imbuh albert menjelaskan mengenai sapu tangan dan maknanya
"kira-kira berapa lama allen akan pergi?"
tanya ellise penasaran
"tidak dapat dipastikan nona, yang jelas hingga urusan terselesaikan"
ellise pun terdiam, sejenak terbersit dalam pikirannya kekhawatiran terhadap keselamatan allen.
"bila tidak ada yang ingin nona tanyakan, hamba mohon pamit nona"
"sir albert setelah sarapan tolong siapkan kereta, aku ada janji bertemu dengan seseorang"
ucap ellise memberi perintah pada albert
"baik nona akan hamba siapkan"
"terimakasih"
ucap ellis yang di respon oleh alber seraya menundukkan kepal lalu berpamitan pada ellise dan berjalan pergi.
sambil berjalan ellise memikirkan allen, mungkin rumah akan terasa sepi ketika allen tak di rumah batinnya yang mulai risau.
ellise pun terus berjalan menuju ruang makan, disana sudah menanti aciel yang duduk tenang dan tidak menyentuh hidangan yang ada di hadapnnya, seperti sedang menunggu kedatangan ellise, melihat hal tersebut ellise langsung menyapa,
"aciel.. apakah tidur mu nyenyak?"
tanya ellise tersenyum sambil duduk dihadapan aciel
sedangkan aciel menanggapi sapaan ellise dengan mengangguk.
ya ellise lupa bahwa aciel sudah lama hidup di dalam cel tahanan jadi ellise juga mengerti bahwa mungkin saja aciel belum terbiasa bergaul dengan orang lain kecuali dirinya.
ellise pun mengambil roti lalu memberikannya pada aciel,
"makanlah"
sambil tersenyum pada aciel dan aciel pun menerima roti pemberian ellise lalu mulai memakan hidangan yang ada dihadapannya.
"sepertinya kau dulunya adalah seorang bangsawan, terlihat jelas dari cara mu menggunakan garpu"
ucap ellise yang tak di respon aciel, ia fokus untuk makan dan mengenyangkan perutnya.
"baiklah makan yang lahap aciel, kedepannya kau harus terbiasa dengan kehidupan disini"
imbuh ellise mengakhiri percakapan dan ikut menyantap sarapan yang tersaji di meja pagi itu.
* * *
(di istana the great walles)
dalam pertemuan penting yang diadakan sebulan sekali ini seperti tak biasanya, suasana sangat serius seolah ada masalah penting yang dihadapi oleh the great walles hingga mengundang perwakilan pasukan keamanan negara dan pasukan pengawal kerajaan dalam satu ruangan.
benar bahwa kali ini ada wabah besar yang sedang melanda perbatasan bagian timur, wabah tidak biasa dengan munculnya sekumpulan hewan pengerat yang menyerang lahan pertanian dan perkebunan hingga membuat gagal panen, dan anehnya ketika para petani akan membunuh hewan-hewan tersebut maka hewan itu akan berubah menjadi cair lalu masuk kedalam tanah, seolah tak ada habisnya.
selain menyerang lahan pertanian, bulu-bulu dari hewan yang rontok bila terhirup maka akan menyebabkan penyakit sejenis influenza berkepanjangan dan sulit disembuhkan.
sebelumnya pemerintah pusat sudah mengirim bantuan berupa tenaga medis dan juga persediaan obat namun karena kurangnya pengamanan rombongan yang ditugaskan mengantar persediaan obat-batan di serang saat dalam perjalanan, setelah serangan itu rombongan juga terjangkit penyakit aneh sperti semacam gatal pada tubuh.
tentu saja masalah kali ini menjadi kekhawatiran tersendiri bagi pemerintahan pusat the gerat walles, untuk itu sedang terjadi perundingan agar kerajaan mau mengirim tenaga medis juga memasok persediaan obat-obatan dalam sekala besar selain itu juga penugasan pasukan keamanan negara agar pengiriman tetap aman.
allen sendiri sebagai pemimpin pasukan keamanan negara setuju dengan usul tersebut, begitu pula pejabat lain sehingga pertemuan hari itu menghasilkan kesepakatan yang sama. kurang lebih beberapa hari ke depan allen akan menjadi pemimpin rombongan pengiriman ke wilayah timur.
di sudut lain istana, ellise datang sendiri, ia bermaksud menemui raja untuk memberikan obat bagi putri iris, tak di sangka ia bertemu dan berpapasan dengan putri iris,
"nona ellise?"
ucap putri iris memastikan bahwa yang baru saja berpapasan dengannya adalah ellise adik dari allen.
mendengar panggilan tersebut membuat ellise menghentikan langkah lalu berbalik menghadap putri iris,
"hormat hamba putri"
sambil menunduk memberi salam, putri iris begitu ramah ia menerima salam ellise dengan tersenyum lalu mengajaknya pergi ke sebuah taman.
keduanya kini sedang duduk di sebuah meja dengan suguhan berupa kue kering dan juga teh menambah manis obrolan mereka kala itu.
"jadi benar anda adalah nona ellise adik dari tuan allen yang hilang itu?"
tanya putri iris memastikan kebenaran desas desus yang sempat beredar sebelumnya
__ADS_1
"benar sekali yang mulia.."
putri iris merespon jawaban ellise dengan tertawa kecil dan membuat ellise sedikit terkejut juga bingung akan sikap putri iris padanya
"apakah ada yang lucu dari hamba yang mulia? apakah pakaian hamba atau rambut hamba?"
tanya ellise sambil melihat ke pakaian lalu menyentuh rambutnya memastikan apakah ada yang salah pada dirinya hingga membuat putri iris tertawa.
"tidak, bukan begitu, kau lucu sekali.. panggil aku kakak saja"
"tidak..!!!"
seru ellise dengan suara lantang lantas tergesa-gesa mengubah nada suaranya
"ti..tidak.. bisa begitu, hamba tidak mungkin melecehkan keluarga kerajaan"
"heii ayolah, meskipun seorang putri namun usia kita tak terpaut jauh, lagi pula aku sama sekali tak memiliki teman, apakah ellise bersedia berteman dengan ku.. hmmmm?"
ucap putri iris sambil menaik turunkan alisnya memberi kode agar ellise mau berteman dengannya.
"bila seperti itu hamba tidak dapat menolaknya putri..."
"kakak!"
bantah putri iris
"iya maksud hamba kakak"
ellise mengulang dengan menggunakan panggilan baru sesuai keinginan putri iris, sedikit canggung tapi terlihat jelas bahwa putri iris benar-benar tulus ingin berteman dengan ellise.
setelah itu suasana menjadi lebih santai, iris menceritakan banyak hal mengenai istana, kegiatannya sebagai putri dan banyak lagi terutama keinginan besarnya untuk bisa pergi keluar istana melakukan kegiatan sosial, membantu rakyat di camp pengungsian dan lain-lain.
keinginan putri iris yang begitu mulia dan juga cara pandangnya terhadap dunia luar seolah menginspirasi ellise, ia dengan serius mendengarkan cerita putri iris dan malahan ia pun berbagi pandangan mengenai dunia luar yang pernah ellise tinggali.
keduanya sangat cocok dengan topik pembicaraan hingga tanpa sadar ada semacam kecocokan antara keduanya,
"suatu saat kita harus pergi keluar bersama"
ucap ellise mengajak putri iris yang direspon dengan anggukan juga senyuman manisnya
"ohh iya, hamba dengar putri sedang sakit"
tanya ellise membuat putri iris tiba-tiba terdiam
"jadi berita itu sudah terdengar oleh nona ellise ya.. mm baiklah tak ada yang perlu ku sembunyikan, berita soal penyakit ku memang benar adanya.."
jawab putri iris sedikit lesu.
"sejujurnya hamba pernah berjanji akan mencarikan obat untuk putri iris dan ini..."
sambil mengeluarkan obat cair berwarna ungu dalam sebuah botol kecil
"iniii?!"
terkejut dengan benda yang dikeluarkan ellise
"benar putri, hamba berhasil mendapatkannya, semoga obat ini dapat menyembuhkan penyakit putri"
"terimakasih"
ucap putri iris dengan mata berbinar seolah bersyukur atas obat pemberian ellise.
hari itu pertemuan mereka berakhir, ellise memohon pamit untuk pulang karena merasa bahwa tugasnya mencarikan obat putri iris telah selesai.
dalam perjalanan kembali menuju kereta kuda tiba-tiba ellise di cegat, orang yang membuatnya berhenti tak lain adalah duke argyll, ia berdiri tepat dihadapan ellise seolah menghalangi jalannya.
"minggir!"
seru ellise mencoba mengusir duke argyll
"tidak mau kau saja yang menyingkir"
dengan egoisnya mencoba memerintah ellise, merasa masih waras ellise pun menyingkir kearah kanan namun duke argyll mengikuti nya, lalu ellise bergeser kearah kiri dan lagi-lagi duke argyll berdiri mengikuti langkahnya.
kesal dengan tingkah kekanakan duke argyll ellise pun membalikkan badannya menghindari duke argyll dan seolah ingin menvari jalan lain, merasa bahwa ellise sudah mulai kesal duke argyll pun mencoba menyusul langkah ellise dengan meraih tangan kanannya namun usahanya gagal.
ellise dengan cekatan memutar badannya ke arah kiri dan saat ini posisi ellise tepat berada di belakang duke argyll, sungguh mengagumkan kemampuan spesial ellise yang dapat membaca pergerakan duke argyll meskipun dari arah belakang.
kesal karena merasa di permainkan duke argyll pun membalikkan badan menghadap ke ellise kini keduanya berdiri saling berhadapan, begitu dekat, kedua mata mereka saling bertemu pandang, hingga keduanya sadar dan mundur masing-masing.
terlihat canggung begitulah keduanya saat ini membuat hugo asisten duke argyll tertawa kecil.
"diam!!"
seru duke argyll dan ellise bersamaan yang sepontan membuat keduanya kembali saling bertatapan lalu mebuang muka.
hugo menyadari bahwa keduanya mungkin sedang pada tahap awal memiliki perasaan satu sama lain meskipun tak terungkap, namun lucunya hal itu malah terlihat dari tingkah canggung keduanya.
__ADS_1