ELLISE

ELLISE
Ellise and The Glory Of Ten Powers


__ADS_3

(sebelumnya)


Ellise melanjutkan perjalanan menuju gunung Etna sendiri, berkat kedatangan Duke Argyll iapun kini dapat menunggangi kuda tanpa harus lelah berjalan.


selama perjalanan dalam benak Ellise teringat dengan ucapan Bannet sebelumnya mengenai gunung Etna, gunung yang hanya bisa di capai oleh kesatria pilihan dewa.


bagi orang biasa gunung Etna akan terlihat sangat jauh namun bagi kesatria Terpilih gunung Etna tak sejauh yang di duga.


benar saja setelah menunggangi kuda selama 3 jam Ellise pun sampai di gunung Etna, gunung yang tampak begitu gagah menjulang tinggi ke atas langit.


tak berlama-lama ia pun segera turun dari kuda dan mengikatkannya pada sebatang pohon berharap ia berhasil dan akan menaiki kuda tersebut nanti setelah selesai melaksanakan misi.


Ellise pun mulai mendaki gunung Etna, tak di sangka jalan yang ia lalui seolah terbuka sendiri menunjukkan sebuah jalur pendakian, selama perjalanan tak ada rintangan berarti kecuali semilir angin yang berhembus dan juga hawa dingin yang semakin terasa menembus kulit.


tubuh Ellise pun seolah merespon terhadap sesuatu karena sulur-sulur yang berasal dari tanda dewa mulai keluar memenuhi tubuhnya, sulur-sulur tersebut bercahaya dan tak mengganggu sama sekali malahan sangat membantu pencahayaan selama pendakian.


perlahan namun pasti selama dua jam berlalu Ellise pun telah sampai pada ujung jalan, bila melihat ke arah kanan angin yang berhembus sangat kencang karena merupakan jurang yang sangat curam.


"gggrrrrrrkkkkkkkk..... duummmm"


suara gesekan batu yang membuka jalan baru, kali ini sebuah jalan masuk terbuka tepatnya di sebelah kiri Ellise.


Ellise sempat kehilangan keseimbangan dan hampir saja terjatuh karena tak dapat bertahan, beruntung ia memiliki sebilah pedang milik Duke Argyll yang Ellise tancapkan pada dinding-dinding batu, pegangannya semakin kokoh dan berhasil menyelamatkan dirinya dari guncangan.


guncangan pun berhenti debu dari reruntuhan batu mengepul membuat Ellise sedikit terbatuk-batuk, ia mencabut pedang yang tertancap di dinding batu,


"uhhuukk.. uhhuukk"


sembari mengibaskan tangan agar debu segera pergi dari sekitarnya lalu perlahan melangkah mendekati pintu yang terbuka tersebut, ia pun masuk perlahan-lahan dan tetap waspada.


jalan yang begitu gelap berupa sebuah terowongan satu jalur, dari arah depan terasa hawa panas yang berhembus melewati tubuh Ellise.


meskipun gelap Ellise terbantu dengan cahaya yang berasal dari tubuhnya, ia tak kenal takut, entah apa yang merasuki diri Ellise sekarang sehingga ia berani melakukan hal yang belum pernah ia lakukan sebelumnya.


cahaya merah terang mulai terlihat dari pandangan Ellise, ia menduga bahwa sesuatu telah membawanya ke inti gunung Etna karena kulitnya terasa begitu panas, tanda dari dewa lagi-lagi merespon sesuatu namun kali ini terasa sedikit nyeri.


sesekali Ellise tersenyum sepat karena merasakan sensasi sakit yang tak biasa, panas dan gatal namun ia tak dapat menghentikan rasa tersebut.


kini sampailah Ellise dipenghujung terowongan, benar yang ia duga sebelumnya bahwa tanda dari dewa telah menuntun Ellise ke inti gunung Etna dimana lahar panas mengelilingi sebuah ruangan.


dalam ruangan besar tersebut terdapat sebuah arca yang berdiri tegak di tengah, jalan menuju kesana pun tak mudah karena hanya ada satu jalan setapak.


semakin lama Ellise berdiri maka semakin lama pula ia akan merasakan sakit pada sekujur tubuhnya, Ellise pun bergerak, dengan hati-hati ia berjalan melewati jalan setapak tersebut.


kanan kiri yang terlihat hanyalah lahar panas yang mendidih, namun pemandangan itu sama sekali tak membuat Ellise goyah, justru ia semakin berkonsentrasi dengan tujuan utamanya yaitu membawa keluar pedang The Glory of ten powers agar misinya selesai dan ia bisa pulang menemui Allen.



(di ujung hutan Namia)


perdebatan antara Duke Argyll dan David tak kunjung berhenti, David ingin menyusul Ellise ke gunung Etna sedangkan Duke Argyll tak ingin tahu dan tak ingin terlibat dengan urusan Ellise.


sebuah kilatan cahaya merah memancar keluar dari gunung Etna seolah sedang merespon sesuatu, kilatan cahaya itu mengalihkan mata siapa saja yang melihat tak terkecuali para penduduk yang berada di wilayah lain, begitupun Allen dan juga Ron yang telah selesai dari istirahat nya.


fenomena tersebut merupakan kejadian langka yang belum pernah terjadi sebelumnya sehingga sempat menimbulkan kegaduhan di beberapa wilayah, banyak spekulasi bermunculan tentang adanya fenomena alam tersebut, ada yang mengaitkan dengan portal penjaga semakin melemah dan dikaitkan pula dengan bencana alam maha dahsyat yang akan segera terjadi.


David yang melihat fenomena ini pun menjadi khawatir terhadap keselamatan Ellise, ia bersikukuh memaksa kakaknya untuk menyusul Ellise.


bagi Duke Argyll fenomena alam yang baru saja terjadi adalah fenomena aneh pertama yang ia saksikan seumur hidupnya, sama seperti David, ia pun menjadi khawatir dengan keselamatan Ellise.


tanpa berlama-lama ia pun memerintahkan 2 orang prajurit untuk menemui Allen dan melaporkan apa yang terjadi sedangkan prajurit yang tersisa bersama Duke Argyll dan David akan berangkat menuju gunung Etna.


kali ini ia menggunakan gate agar segera sampai, meskipun sebenarnya gunung Etna merupakan lokasi yang tak diketahui namun ia berusaha agar bisa cepat sampai dan menolong Ellise.

__ADS_1



Ellise mengalami pergulatan yang hebat, semakin mendekat pada titik tengah semakin membuat tubuh Ellise tersiksa namun bila tak diteruskan maka tak ada jaminan ia akan bisa kembali dengan selamat dan bertemu dengan kakaknya yaitu Allen.


dengan menahan rasa sakit Ellise pun berhasil menyebrangi jalan setapak dan sampai di titik tengah dimana arca berada.


tak sampai disitu, hawa yang timbul dari lahar panas membuat Ellise hampir kehilangan kesadaran karena banyak mengeluarkan keringat hingga membuatnya hampir dehidrasi.


namun Ellise tetap bertahan, ia berjalan meskipun tertatih dan sampailah Ellise di depan arca, Ellise menyentuhnya namun arca tak berherak sama sekali, Ellise lalu mengeluarkan pedang milik Duke Argyll kemudian mengayunkannya,


"sriiingg"


dengan sekali ayunan telah membuat arca retak, perlahan merambat dan membuatnya pecah.


benar saja di dalam arca terdapat sebilah pedang yang tertancap pada batu.


"aku harus menyelesaikan nya"


gumam Ellise sembari berjalan mendekat lalu memegang pedang tersebut dan mulai mencabut nya perlahan.


ketika proses mencabut pedang ada harga yang harus Ellise bayar, ia akan menerima Hujaman api yang mencul entah dari mana, api-api tersebut terus merasuk ke dalam tubuh Ellise sehingga membuatnya seolah terbakar seperti pada tanda sulur-sulur yang kini berubah menjadi merah gelap.


"aaaaarrhhhhhhhhh....."


seru Ellise yang masih menahan sakit, ia terus menarik pedang keluar dan Hujaman api semakin intens namun tentu saja tak membuat Ellise berhenti malah terus menariknya agar cepat selesai.


(di sisi lain di waktu yang sama)


Duke Argyll, David dan para prajurit telah sampai di gunung Etna.


mereka melihat seekor kuda yang diikatkan di pohon dan menyadari bahwa kuda tersebut adalah kuda yang di tunggangi Ellise, tak jauh dari sana mereka menemukan jalan untuk naik dan tak berlama-lama mereka pun segera naik.


berpacu dengan waktu, langkah mereka tergesa-gesa apalagi selama perjalanan naik ke atas mereka mendengar suara gemuruh dari gunung Etna, setengah perjalanan beberapa prajurit kelelahan namun tidak dengan Duke Argyll yang memiliki stamina diatas rata-rata, semakin lama ia malah semakin cepat dan hampir meninggalkan rombongan.


tanpa ragu mereka pun masuk kedalam, sama seperti Ellise mereka merasakan hawa panas dari dalam terowongan yang berhembus keluar.


dengan sedikit menutupi wajah menggunakan tangan ketiganya pun bergegas masuk agar segera sampai.


sedangkan situasi didalam Ellise mengalami pergulatan hebat karena Hujaman api yang tiada berhenti, saking panasnya hingga membuat pakaian Ellise lenyap terbakar habis, tubuhnya kini tak memeakai sehelai benangpun dan hanya di selimuti oleh api.


Ellise pun berhasil mencabut pedang dan Hujaman api telah berhenti begitupun suara gemuruh yang sedari tadi membusungkan telinga.


pedang The Glory of Ten powers kini resmi tercabut dari tempatnya dan berada di genggaman tangan Ellise, seketika tubuhnya menjadi lemas dan membuat Ellise kehilangan kesadaran, iapun jatuh tersungkur.


Duke Argyll, David dan asisten nya sampai di sebuah ruangan besar.


pandangannya tak bisa fokus karena hawa panas yang terasa begitu menyengat di kulit, Duke Argyll yang melihat sekeliling menemukan Ellise tergeletak di tengah ruangan, ia sadar bahwa Ellise tak mengenakan sehelai kain pun yang membuatnya spontan membalikkan badan.


"balikkan badan kalian!"


perintah Duke Argyll pada David dan asistennya, tak mengerti situasi mereka masih saja bingung dengan perintah Duke Argyll.


"cepat balikkan tubuh kalian!"


serunya sedikit memaksa dan membuat keduanya pun membalikkan badan, lalu Duke Argyll mulai berbicara lagi.


"dia, maksud ku Ellise berada di tengah.."


belum selesai bicara David menoleh namun dengan sigap Duke Argyll menahan kepala David agar tak menoleh ke belakang dan melanjutkan ucapannya.


"Ellise tak memakai sehelai benangpun, ia telanjang"


ucapan Duke Argyll kali ini membuat wajah keduanya memerah.

__ADS_1


"aku akan kesana dan menyelimutinya lalu membawanya pergi dari sini"


ucap Duke Argyll


"kau ini memang sang hidung belang sejati!"


ucap David yang menyindir kakaknya dengan wajah yang masih memerah.


"lalu apa kau yang mau pergi kesana?"


Duke Argyll membalas ucapan David yang tentu saja membuat David bungkam tak berani menjawab.


Duke Argyll pun membalikkan badan sembari melepas jubah yang ia kenakan, hawa panas begitu menyengat kulitnya namun ia tahan,


'bagaimana bisa ia tahan dengan hawa panas seperti ini'


gumamnya dalam hati yang merasa sedikit kagum pada keberanian Ellise.


tak berselang lama para prajurit datang berbaris masuk, sontak membuat David dan asisten berteriak,


"balikkan badan kalian!"


seru keduanya membuat para prajurit spontan menurut.


kini Duke Argyll telah sampai pada tengah ruangan ia melihat pedang miliknya lalu mengambilnya.


Duke Argyll sempat terpaku dengan tubuh Ellise, ia tergeletak membelakangi Duke Argyll yang terlihat dari pandangannya hanya bagian punggung Ellise.


yang membuatnya terpaku ialah kulit Ellise yang diselimuti oleh semacam sulur-sulur berwarna merah kehitaman yang lama-kelamaan tertarik masuk ke sebuah tanda di punggung Ellise, Duke Argyll tak mengetahui tanda apa yang ia lihat dan segera setelah sulur menghilang ia pun menyelimuti tubuh Ellise rapat agar semua bagian tubuh nya tak ada yang terlihat.


saat akan mengangkat Ellise, Duke Argyll mencoma menyentuh pedang yang di pegang Ellise namun pedang itu menyengat tangannya seperti menolak untuk di sentuh oleh orang lain.


gak berselang lama pedang itu masuk ke dalam melalui tangan Ellise, perlahan masuk hingga menghilang dan seperti meninggalkan tanda pada nadi Ellise, tanda itu terlihat jelas bergambar seperti pedang namun berupa sulur-sulur kecil.


Duke Argyll pun menggendong Ellise, hawa panas masih terasa dalam tubuh kecil Ellise, ia pun bergegas menghampiri rombongan.


"cepat jalan!"


perintah Duke Argyll yang membuat semuanya berjalan tanpa menoleh kebelakang sama sekali.


setelah keluar dari terowongan mereka berjalan turun perlahan-lahan hingga sampailah di bawah gunung Etna.


terakhir orang yang turun ialah Duke Argyll sembari menggendong Ellise, bersamaan dengan itu terowongan dan juga jalan setapak pun menghilang masuk kedalam gunung Etna.


Duke Argyll yang melihat fenomena ini pun merasa bahwa Ellise memang ditakdirkan untuk misi ini, ia pun berjalan pergi menuju kuda yang Ellise tumpangi tadi, sedangkan yang lainnya masih belum berani menoleh ke arah Duke Argyll.


"buka gate nya!"


perintah Duke Argyll yang membuat dua orang prajurit membuka gate sihir, mereka pun membuka jalan mempersilahkan Duke Argyll masuk terlebih dahulu dengan menundukkan kepala dan menutup mata tak angin melihat keadaan Ellise yang katanya telanjang karena hal itu adalah tidak sopan.


setelah Duke Argyll masuk yang lainnya pun ikut masuk secara bergantian, kecuali David yang tertahan karena mendengar suara langkah yang berlari, hal itu tentu saja membuat asisten Duke Argyll merasa heran, ia pun segera menghampiri David dan bertanya.


"tuan David kita harus segera pergi"


ucapnya


"tidak, tunggu dulu ada sesuatu mendekat"


jawab David seolah sedang menunggu sesuatu.


benar saja Choco datang dengan berlari menghampiri David, ia sepertinya ingin ikut menemui Ellise.


tak ada pilihan lain, David pun mengajak Choco turut serta, mereka pun kembali ke kediaman Duke Argyll menggunakan gate.

__ADS_1


__ADS_2