
"selamat datang lady Ellise"
sambut para pelayan sambil berdiri berjajar dan menundukkan kepala.
Ellise masih belum percaya dengan apa yang ia lihat, ia hanya bisa diam kebingungan menghadapi situasinya saat ini.
salah seorang kepala pelayan bernama Gideon mendekati Ellise dan memperkenalkan diri,
"perkenalkan nona, nama hamba Gideon, hamba adalah kepala pelayan disini. bila nona bersedia hamba akan mengantar nona untuk berkeliling"
ucap Gideon sambil sedikit menundukkan kepala menunjukkan rasa hormat.
karena masih belum terbiasa dengan panggilan nona, Ellise bingung harus merespon seperti apa, ia melihat ke arah Allen dengan canggung.
Allen merespon tatapan Ellise dan menganggukkan kepalanya seolah mengisyaratkan bahwa Ellise harus menerima tawaran Gideon.
Ellise pun merespon Gideon,
"dengan senang hati hamba ingin ikut berkeliling"
ucap Ellise kemudian pergi meninggalkan Allen.
Gideon yang merupakan kepala pelayan di keluarga Collins sangat tau seluk beluk keluarga tersebut, mengenai silsilah keluarga, peraturan, visi misi bahkan arsitektur gedung yang sudah berulang kali di renovasi Gideon sangat memahaminya.
pada awalnya terasa menyenangkan, tapi lama kelamaan rasanya seperti ospek murid baru.
rasanya begitu membosankan dan juga melelahkan namun Ellise bertahan karena menghargai cerita Gideon.
setelah lima jam berlalu akhirnya pelajaran singkat mengenai rumah telah selesai,
"haahhhh..."
helaan nafas panjang Ellise sembari merebahkan badannya di atas kasur,
"sangat melelahkan, bagaimana dia bisa tau semuanya bahkan arsitektur gedung juga, Gideon itu benar-benar manusia langka" ucapnya sambil sedikit mengeluh.
Ellise memutuskan untuk beristirahat, tak butuh waktu lama bagi Ellise untuk tertidur pulas dikamarnya.
keesokan harinya, para pelayan sibuk mempersiapkan sarapan pertama Ellise, yang tak kalah sibuk juga adalah pelayan pribadi Ellise yang kebingungan memilih baju warna apa yang paling disukai Ellise.
sedangkan Ellise masih terus melanjutkan tidur pulasnya, sesekali Allen masuk untuk memeriksa apakah Ellise sudah bangun, namun Ellise tetap saja tertidur, ia terlihat begitu lelah sampai tak terbangun meskipun beberapa orang masuk kamar untuk memeriksanya.
'keterlaluan'
Allen menggerutu karena Ellise tak juga bangun, padahal hari sudah sore.
"apakah tidak ada yang mendidiknya sebelumnya!!"
sambil memukul meja, Allen terlihat begitu sebal pada Ellise.
"hamba akan membangunkan nona Ellise tuan"
ucap Gideon pada Allen dengan sopan
"jangan!! apakah kau tega membangunkan seorang malaikat kecil yang sedang tertidur.. betapa lucunya Ellise saat tidur hingga aku tak kuasa membangunkannya"
ucap Allen dengan sedikit marah namun penuh perhatian pada Ellise.
pelayan merasa serba salah melihat tingkah Allen, mereka ingin membangunkan Ellise namun Allen melarang, tetapi jika tidak dibangunkan Allen akan menggerutu dan marah-marah.
mereka hanya menggelengkan kepala melihat tingkah aneh Allen.
"hoooaammmm"
Ellise menguap, ia bangun dari tidur panjangnya.
tubuhnya terasa lebih ringan sekarang, ia mengusap dan membuka matanya pelan.
betapa terkejutnya Ellise melihat kakaknya Allen duduk di sofa dalam kamarnya, Ellise buru-buru bangun dan merapihkan diri.
"kau sudah bangun? jadi sudah sejauh mana mimpi mu?"
ucap Allen seolah meledek Ellise
"ahahaha itu aku tidak yakin tuan, eh maksud ku kakak"
menjawab Allen dengan sedikit kikuk sembari menggaruk kepalanya seolah merasa bersalah.
Allen beranjak dari sofa tempat ia duduk, "cepatlah mandi kemudian makan, kau sudah melewatkan sarapan dan makan siang, kini hanya tersisa makan malam, dan ingat jangan sampai terlambat"
ucap Allen sambil berlalu pergi meninggalkan Ellise.
Ellise merasa bersalah mendengar ucapan Allen, ia merasa bodoh karena bangun begitu terlambat.
Ellise sedikit malu dengan kesan pertama yang ia tunjukkan pada kakaknya itu.
* * *
(di ruang makan)
makanan sudah tertata rapih di atas meja, biasanya Allen selalu makan di meja sendiri tanpa ada yang menemani.
kini ia sudah tak sendiri karena Ellise telah kembali.
Ellise berjalan pelan dan mencoba untuk terlihat anggun dihadapan Allen, namun rasa tak nyaman begitu jelas terlihat dari wajah Ellise, rasa tidak nyaman tersebut berasal dari korset yang ia kenakan, begitu sesak rasanya hingga membuat wajahnya mulai memerah karena sedikit kesulitan bernapas.
Allen tersenyum melihat ekspresi wajah Ellise, ia kemudian mempersilahkan Ellise untuk duduk dan makan makanan yang telah disajikan oleh pelayan.
disela-sela makan malam, Allen menanyakan bakat apa yang dimiliki Ellise.
Ellise merespon dengan menggelengkan kepala, ia merasa tak memiliki bakat apapun.
namun Ellise teringat sesuatu, ia pernah belajar menembak dan juga mengikuti kursus ilmu beladiri.
mendengar hal tersebut, membuat Allen menjadi sedikit yakin akan kemampuan Ellise.
Allen meminta Ellise untuk mulai latihan besok bersamanya, Allen juga memberitahukan bahwa latihan yang akan dihadapi Ellise bukanlah latihan biasa melainkan latihan yang membutuhkan kekuatan fisik yang kuat.
Ellise sedikit takut dengan latihan yang akan ia hadapi besok, dan ia tak bisa menutupi raut wajahnya itu.
melihat adiknya yang terlihat sedikit murung membuat Allen sedikit menghiburnya dengan kata-kata, dan itu berhasil membuat Ellise sedikit tersenyum riang.
__ADS_1
* * *
keesokan harinya, latihan dimulai yaitu berupa pemanasan fisik dengan berlari.
meskipun tubuh Ellise begitu kecil namun ia memiliki kecepatan lari di atas rata-rata hingga membuat Allen puas dengan latihan awal hari ini.
hari berikutnya Allen memerintahkan Ellise untuk berlari menggunakan kantong pasir hingga siang hari tiba.
Ellise hanya akan mendapat waktu istirahat selama 1 jam lalu melakukan latihan fisik lain seperti angkat beban, melompat dan halang rintang hingga sore hari tiba.
sore itu Ron datang berkunjung untuk melihat Allen melatih Ellise.
ia menunggu dengan sabar hingga waktu istirahat tiba.
dengan membawa bunga di tangganya Ron berniat untuk mengenal Ellise lebih jauh, karena sebelumnya raja sudah memberi pesan bahwa kandidat terkuat yang akan menjadi ratu adalah Ellise sehingga Ron tak punya pilihan selain mendekati Ellise agar ia mau menerimanya.
"ada urusan apa kemari"
tanya Allen sambil berjalan menghampiri Ron, ia melihat Ron membawa seikat bunga di tanggannya.
"jangan bilang kau mau.."
"aku tak punya pilihan lain calon kakak ipar"
jawab Ron sambil menaikkan bahu lalu menurunkannya.
"pergilah, akan kuberikan bunga ini pada Ellise"
sambil merebut bunga yang ada pada tangan Ron
"kau kejam sekali.."
ucap Ron ketus
"pergilah sebelum aku mengusir yang mulia pangeran dengan tidak hormat"
jawab Allen sedikit marah,
Ron mengangkat ke dua tangannya dengan telapak tangan menghadap ke depan sambil berkata,
"ya baiklah aku kalah, tapi mulai sekarang dan seterusnya aku akan datang atau mengirimkan bunga seminggu sekali pada Ellise"
ucap Ron lalu pergi.
tepat setelah Ron pergi, Allen menyudahi latihannya.
Ellise duduk dengan kaki lurus, ia berusaha mengatur nafas yang sedikit terengah-engah.
karena penasaran melihat Ron yang sudah pergi Ellise pun bertanya,
"dia siapa kak?"
tanya Ellise sambil terus mengatur nafasnya
"dia salah satu teman ku"
jawab Allen sambil duduk di sebelah Ellise lalu memberi seikat bunga padanya
Allen sama sekali tak curiga karena Ellise nampak baik-baik saja.
latihan hari itu selesai dan latihan selanjutnya akan terus dilakukan selama 2 Minggu.
* * *
dua Minggu berlalu, kini Ellise harus berlatih ke tahap selanjutnya dimana ia harus menguasai penggunaan senjata.
dari senjata yang disediakan, Ellise hanya tertarik pada dua senjata yaitu pedang dan juga panah, untuk itu Allen memfokuskan pelatihan dengan ke dua senjata tersebut.
hari demi hari, Minggu demi Minggu, kemampuan Ellise telah terasah.
ia melakukan latihan begitu keras dan kini kekuatan fisiknya telah terbentuk, hanya perlu sesekali berlatih agar kemampuannya semakin meningkat.
di sela-sela latihan Ron secara rutin mengirim bunga pada Ellise dan itu dilakukan hampir setiap hari.
Ron selalu mengirim karangan bunga yang berbeda, namun setelah menerima bunga tersebut Ellise memberikan pada pelayan agar si pelayan mengurus bunga tersebut.
saking seringnya bunga di kirim kamar Ellise kini penuh dengan vas bunga dengan warna yang beragam.
awalnya Ellise tak menyadari karena latihan yang begitu ketat sehingga membuatnya kelelahan dan tidur lebih cepat hingga membuatnya tak memperhatikan sekitar.
namun suatu hari bau bunga yang ada di kamar Ellise begitu menyengat.
"haaaccchhuuuuuu"
Ellise bersin
"haaaccchhuuuuuu.. haaaccchhuuuuuu.. haaaccchhuuuuuu"
ia terus bersin sambil keluar ruangan
Allen tak sengaja melihat kejadian tersebut lalu dengan sigap menghampiri Ellise dan bertanya,
"apa kau sakit?"
tanya Allen dengan penuh rasa khawatir
"haaaccchhuuuuuu.. ii.iituu haaaccchhuuuuuu"
Ellise terus bersin sambil menunjuk ke dalam kamarnya
"hei katakan dengan jelas"
tanya Allen semakin khawatir
"ii..ttuu.. haaaccchhuuuuuu.. buu..bbuungaa haaaccchhuuuuuu.. aku alergi bunga"
menjawab Allen dengan hidung sedikit mampet karena terus bersin
mendengar hal tersebut Allen pun segera meminta pelayan untuk mengeluarkan semua bunga di kamar Ellise.
ia bahkan meminta pada seluruh pelayan dan juga petugas keamanan bila putra mahkota mengirim bunga lebih baik bunga tersebut di buang saja.
__ADS_1
Allen memperingatkan pada semuanya untuk tidak menaruh bunga apapun di dekat Ellise.
semua pelayan dan petugas keamanan mematuhi perintah Allen dan bergegas membantu menyingkirkan semua bunga yang ada dalam kamar Ellise.
Ellise tergeletak di sofa, matanya sayup-sayup dengan hidung yang ia tutup menggunakan selembar sapu tangan agar serbuk bunga tak masuk ke dalam hidungnya.
bagi Ellise, serbuk bunga adalah benda yang mematikan karena alergi yang ia miliki dapat menyebabkan ia sulit bernafas.
Allen lalu mendekati Ellise, ia memegang dahi Ellise mencoba memastikan apakah keadaannya baik-baik saja.
"ah kakak"
Ellise terkejut dengan sentuhan tangan Allen lalu segera bangun dari sofa dan duduk tegap
"apakah kau sudah membaik? kau bisa tiduran dan tak perlu sekaku itu"
ucap Allen menanyakan keadaan Ellise dan mencoba mencairkan suasana
"aku sudah sedikit membaik kak, sambil sesekali mengelap hidungnya menggunakan sapu tangan"
jawab Ellise sedikit canggung
"seharusnya dari awal kau mengatakan pada kami kalah memiliki alergi bunga"
sambung Allen yang terlihat begitu khawatir pada Ellise
Ellise merasa sedikit bersalah karena telah membuat kakaknya khawatir,
"ii.. ituu.. aku hanya tidak ingin di anggap aneh, karena mungkin saja aku akan terus mendapat bunga dari seseorang kan kak, emm maksudku jika ada orang yang menyukai atau ingin melamar ku.. kau pasti mengerti maksudku kak"
jelas Ellise dengan suasana yang sedikit canggung
Allen memahami maksud dari ucapan Ellise, ia pun mengelus-elus rambut Ellise,
"aku tidak akan membiarkan mu menikah dengan seorang pria yang hanya bisa memberi bunga"
ucap Allen sambil tersenyum
rasa canggung yang sedari tadi menghinggapi Ellise kini mulai hilang, ia merasa Allen adalah sosok kakak yang baik untuknya.
* * *
kurang lebih selama 3 bulan Ellise menjalani latihan yang intensif, kini tiba saatnya bagi Ellise untuk beristirahat dari rutinitas yang telah membelenggunya selama beberapa bulan terakhir.
"ahhh aku lelah sekali, kakak bahkan tak memberikan toleransi nya pada ku meskipun aku ini adiknya, keterlaluan"
gumam Ellise seraya merebahkan tubuhnya di atas kasur, karena terlalu lelah Ellise tertidur lelap.
Allen mengutarakan niatnya untuk mengajak Ellise mengunjungi makan ayahnya yang berada di balik bukit.
makam ke dua orang tua mereka terletak sedikit jauh dikarenakan hukuman dari raja.
keesokan harinya, keduanya berangkat menuju bukit untuk berziarah ke makam ke dua orang tua mereka.
keduanya memutuskan untuk menaiki kuda masing-masing, dikarenakan jalan di bukit begitu terjal dan tidak memungkinkan menaiki kereta.
mereka melaju beriringan, Ellise begitu senang karena bisa keluar rumah walau hanya sebentar.
hembusan angin mengiringi perjalanan keduanya, hingga sampailah mereka di sebuah sabana yang yang luas dan hijau.
begitu menyejukkan mata yang melihat, Ellise memutuskan untuk turun dari kuda dan menuntunnya ke arah sebuah pohon tunggal yang terletak di tengah sabana tersebut.
tak jauh dari pohon terdapat sebuah danau kecil dengan air yang begitu jernih.
Allenpun ikut turun dan berjalan di belakang Ellise sembari menuntun kuda.
mereka mengikatkan tali di pohon, keduanya duduk.
Ellise membuka perbekalan yang ia bawa dari rumah, ia memberikannya pada Allen, keduanya makan dengan lahapnya.
setelah menghabiskan makan siang mereka, Allen tertidur pulas karena sedikit kelelahan. karena tak ingin mengganggu kakaknya yang tertidur pulas, Ellise memutuskan untuk berjalan-jalan sejenak mendekati sebuah danau yang tak jauh dari tempat mereka beristirahat.
Ellise mendekati danau dan mencuci mukanya dengan air tersebut, air tersebut begitu sejuk terasa membasahi wajah Ellise.
Ellise menoleh ke kanan dan ke kiri memastikan tidak ada orang disekitarnya, ia kemudian memutuskan untuk melepas baju dan masuk ke dalam air untuk mandi sebentar.
saat seluruh tubuh telah dibasahi air, tiba-tiba pikiran Ellise menjadi kosong sejenak ia seolah terhipnotis.
warna air tersebut berubah menjadi merah dan perlahan menyelimuti seluruh tubuh Ellise hingga membuat Ellise mendapatkan sebuah bayangan dalam benaknya.
bayangan tersebut tergambar jelas dalam pikiran Ellise, sebuah burung Phoenix yang terbang.
Ellise melihat dirinya terbang mengendarai burung Phoenix dengan menggunakan perlengkapan perang, langit disekitar Ellise berwarna merah dan dataran dibawahnya terbakar.
tak berselang lama Ellise tersadar, nafasnya terengah-engah, ia terdiam dan masih tak percaya dengan apa yang ia lihat.
seperti sebuah gambaran masa depan yang akan dialami Ellise nantinya.
matanya tertuju pada satu titik, seseorang tepat berada di depan Ellise mengarahkan pedang padanya, tak berselang lama datang yang lain dan mengarahkan tombak dan juga panah pada Ellise.
ia pasrah tak bisa melawan, Ellise menyerah, orang asing tersebut meminta Ellise untuk mengenakan baju terlebih dahulu kemudian ikut dengannya.
setelah selesai mengenakan pakaian, tangan Ellise di ikat, ia berjalan mengikuti sekelompok orang asing tersebut.
dari yang ia lihat, kelompok tersebut seperti suku lokal karena pakaian yang mereka kenakan terlihat primitif dengan beberapa garis riasan di pipi.
Ellise tak ingin kakaknya ikut terlibat karena itulah ia tidak berusaha memanggil kakaknya, Ellise sempat meninggalkan sebuah kain sebagai petunjuk jika kakaknya tersadar nanti.
sore hari menjelang, Allen terbangun dari tidurnya.
ia tampak kusut dan berusaha merapihkan diri sambil melihat sekeliling untuk mencari Ellise.
setelah beberapa menit berlalu, Allen sama sekali tak menemukan Ellise dimanapun.
kudanya masih terikat di pohon, Allen kini menjadi khawatir akan keselamatan Ellise hingga ia menemukan sebuah kain bekas robekan baju Ellise.
Allen menduga bahwa Ellise telah di culik oleh seseorang, ia bergegas menaiki kuda dan bergerak mencari Ellise.
Allen berharap bahwa Ellise belum pergi terlalu jauh dari tempat mereka beristirahat.
"Ellise bertahanlah!!"
__ADS_1