ELLISE

ELLISE
Ellise Palsu


__ADS_3

setelah menghabisi semua orc yang menghadang jalan mereka, Ellise kembali terlihat tenang.


pedang yang berlumuran darah ia siram dengan sebotol air dan mengelapnya kemudian memasukkannya kembali.


"aku tidak tahu bahwa anak buah mu sepayah ini!"


ucap Ellise mencoba untuk merendahkan Bannet


"yaa.. harus ku akui kemampuan mu di atas rata-rata nona, kau sangat hebat"


ucap Bannet sedikit memuji Ellise.


"hentikan omong kosong mu dan urusi anak buah mu"


ucap Ellise dengan lantang kemudian menghampiri David dan menolongnya.


Bannet memerintahkan anak buah yang tidak terluka untuk menolong yang lain, Ellise melihat David yang sedikit terluka mencoba membantunya.


"sraakkkkk"


suara pedang yang diayunkan menebas leher membuat Ellise sepontan menoleh.


ia mendapati bahwa Bannet dan anak buahnya yang tidak terluka membunuh satu persatu dari mereka yang terluka.


benar-benar memuakkan, Ellise memalingkan wajah dan mencoba membalut luka David.


ia begitu kaget, tak bisa berkata apa-apa, tubuhnya sedikit gemetar dan tak sengaja air matanya menetes.


melihat hal tersebut David menutup telinga


Ellise agar ia tak mendengar suara tebasan pedang lagi.


"jangan dengarkan"


ucap David mencoba menenangkan Ellise.


Ellise memandang David, ia kemudian menghapus air matanya sendiri dan kembali membalut luka David.


setelah lukanya selesai di balut, Ellise membantu David berdiri, lukanya tidak cukup parah karena hanya luka bekas goresan saat terjatuh.


Ellise menuntun David pelan dan membantunya naik ke atas kuda, Ellise sama sekali tak menghiraukan Bannet, bahkan tak sudi melihat kearahnya untuk saat itu.


tak ingin berlama-lama Bannet memerintahkan semuanya untuk melanjutkan perjalanan kembali.


5 jam berlalu, mereka sampai di sebuah sungai di dalam hutan black forest, kali ini orc kembali kembali menghadang mereka tanpa melakukan kamuflase seperti sebelumnya.


Ellise menduga bahwa orc kali ini adalah yang terkuat sehingga ia tak takut melawan musuh yang datang.


orc yang mereka lihat kala itu hanya berdiri tegak memandangi mereka, ia sama sekali tak bergerak dan hanya mengawasi.


ia terus melihat satu persatu wajah dari orang-orang Bannet dan terpaku melihat Ellise, ia terus memandang kearahnya kemudian menyingkir.


begitu mengejutkan karena orc tidak melakukan perlawanan seperti sebelumnya.


mereka pun lewat begitu saja tanpa dihalangi oleh orc besar tersebut.


ketika Ellise melewatinya orc tertunduk, Ellise heran dan menghentikan laju kudanya, ia kembali mendekati Orc dan terjadi percakapan intens antara keduanya.


dari kejauhan Bannet dan anak buahnya merasa heran dengan yang dilakukan oleh Ellise, begitupun David yang tidak bisa memahami situasi.


setelah selesai berbincang, Ellise kembali menghampiri rombongannya kemudian melanjutkan perjalanan agar mereka bisa segera keluar hutan black forest.


Bannet penasaran dengan percakapan yang terjadi antara Ellise dan Orc, ia pun mencoba bertanya apa yang mereka bicarakan,


"apa yang dia katakan?"


tanya Bannet


namun Ellise hanya diam menolak untuk menjawab dan mengacuhkan Bannet begitu saja, ia bahkan hanya melihat sinis kearahnya.


Bannetpun tak bisa memaksakan keingintahuannya tersebut, ia tetap diam dan tidak mencoba untuk mengganggu Ellise lagi.

__ADS_1


* * *


beberapa hari sebelumnya Allen mengirim sebuah surat pada Ron, surat tersebut berisi sebuah undangan minum teh untuk lusa depan.


karena Ron sedang tidak sibuk, ia pun menerima undangan dari Allen untuk datang ke rumahnya.


lusa pun tiba, hari dimana Ron di undang ke rumah Allen untuk minum teh.


sebelum berangkat Ron menyempatkan diri mampir ke toko bunga dan membeli buket bunga lili sebagai hadiah untuk Ellise.


buket bunga tersebut sangat cantik dan Ron beberapa kali mencium buket bunga tersebut sambil tersenyum senang, ia pun tengah dalam perjalanan menuju kediaman keluarga Collins.


(di kediaman keluarga Collins)


Allen kala itu bangun pagi, ia berjalan keluar kamarnya untuk menghirup udara segar di taman.


seperti biasa ia mendapati Ellise sudah bangun dari tidurnya dan sedang duduk di taman, kebiasaan yang sangat asing bagi Allen karena biasanya Ellise selalu bangun di atas jam 9 pagi.


Allen sudah memikirkan sebuah rencana sebelumnya namun urung terlaksana karena Ellise selalu menolak untuk melakukan nya dengan berbagai alasan.


kali ini Allen ingin mencoba mengetes kembali kemampuan berpedang Ellise.


ia menghampiri Ellise dan mengajak untuk latihan dengan alasan bahwa Ellise sudah lama tak memegang pedang, Allen beralasan bahwa khawatir kalau Ellise lupa cara untuk berperang.


"mau latihan pedang dengan ku?"


ucap Allen sambil duduk di salah satu kursi taman


dengan cepat Ellise menolak ajakan Allen,


"ahh.. aku sedang tidak enak badan"


ucap Ellise lirih kemudian berpura-pura lemas.


Allen tiba-tiba menyentuh dahi Ellise,


"kau tidak demam, mungkin hanya perasaan mu saja"


"tapi aku sungguh sedang tidak enak badan"


imbuh Ellise dengan suara buatan yang sedikit serak.


bAllen menggunakan alasan lain untuk memaksa Ellise,


"beberapa hari yang lalu kau juga menolak ajakan ku? apakah kau memang sesakit itu? jika memang sakit seharusnya kau sedang berbaring di atas ranjang"


ucap Allen sedikit ketus


merasa tak nyaman dan takenak hati dengan ucapan kakaknya, Ellise pun tidak bisa menolak ajakan tersebut,


"baiklah, aku akan bersiap untuk latihan. aku permisi dulu "


ia berpamitan kembali ke kamar untuk bersiap.


rasa gugup mengiringi langkah Ellise menuju kamarnya, sesampainya di kamar ia menggigit jari telunjuknya dengan tubuh yang gemetar.


'matilah aku, aku tak punya kemampuan berpedang sehebat Ellise asli, jika Allen sampai tau maka aku akan mati'


gumam Ellise dengan wajah yang semakin pucat.


pelayan yang memergoki sikap Ellise yang aneh pun mencoba menanyakan keadaan Ellise,


"nona, apakah anda sedang tidak enak badan? wajah anda begitu pucat dan mengeluarkan keringat"


tanya seorang pelayan dengan ekspresi khawatir pada Ellise


"ahh aku tidak apa-apa ini karena kelelahan"


ucap Ellise dengan ekspresi yang terlihat gugup


"kalau begitu hamba akan mengambilkan vitamin untuk anda"

__ADS_1


ucap si pelayan lalu pergi meninggalkan Ellise.


pelayan yang lain meminta Ellise untuk berdiri karena ia akan membantunya berganti pakaian.


Ellise sempat menolak namun ia sadar bahwa penolakan hanya akan semakin membuatnya di curigai untuk itu Ellise menuruti si pelayan dan berganti pakaian latihan.


di arena latihan, Allen meminta beberapa pelayan laki-laki untuk mempersiapkan perlengkapan latihan sambil menunggu Ellise selesai berganti pakaian.


beberapa pelayan sibuk menata senjata dan semua alat telah selesai di siapkan.


saking fokusnya mengawasi pelayan hingga membuat Allen tak sadar bahwa putra mahkota Ron telah datang.


dari kejauhan Ron memperhatikan Allen yang tengah sibuk mempersiapkan arena latihan, ia urung mendekat karena Ron merasa ada hal yang janggal dengan Allen.


tidak biasanya Allen terlihat begitu antusias dengan latihan kecil seperti itu sehingga membuat Ron penasaran.


Ron memutuskan untuk mendekati Allen dan mulai berbicara padanya,


"kau terlihat antusias sekali Allen"


ucap Ron sambil menepuk pundak Allen


Allen membalikkan badannya dan mendapati Ron sudah datang,


"tentu saja aku sangat antusias karena aku akan berburu"


ucap Allen menjawab pertanyaan Ron, ekspresi wajahnya masih saja serius dan tidak sedikitpun menunjukkan sedang bercanda.


"apakah aku salah tempat? seingat ku kau mengundang ku untuk minum teh"


ucap Ron sedikit ragu dengan kedatangannya.


"minum teh hanyalah alasan, karena hari ini aku ingin menunjukkan sesuatu pada mu"


ucap Allen sambil melihat ke arah Ron, tatapannya jelas bukan main-main.


Ron sedikit kebingungan dengan ucapan Allen dan sedikit memiringkan kepalanya seolah terheran.


"dan satu lagi, ku harap kau tidak menyesal karena telah repot-repot membawa bunga lili untuknya"


imbuh Allen sambil memeriksa beberapa peralatan.


'untuknya ? bukankah kalimat yang benar adalah "adik ku" atau setidaknya menyebutkan nama "Ellise"? apa maksud ucapan Allen ini?'


gumam Ron sambil menggelengkan kepala dan menaikkan bahunya karena tidak mengerti dengan ucapan Allen barusan.


Ron berjalan menuju sebuah kursi untuk duduk, ia meletakkan bunga lili di sebelahnya sambil menunggu pertunjukan apa yang akan diperlihatkan oleh Allen padanya.


tak berselang lama Ellise pun datang, ia melihat ke arah Ron dan sedikit tersenyum, sangat jelas ekspresi canggung terlihat dari wajah Ellise, namun ia terus berjalan ke arah Allen.


Allen meminta Ellise untuk berlatih pedang, sebelum memulai Allen menyempatkan bertanya pada Ellise,


"selama di dunia luar kemampuan apa yang kau kuasai?"


tanya Allen sambil melemparkan sebilah pedang pada Ellise.


"ahh i itu, sebenarnya aku tidak pandai dalam hal fisik"


ucap Ellise terbata-bata, perasaan gugup tak bisa ia tutupi.


Allen sudah dalam posisi siap, ia mulai menyerang Ellise membabi buta, Ellise tak bisa menghindari serangan tersebut.


serangan Allen pada Ellise membuat Ron terkejut bahkan beberapa pelayan yang melintas di sekitar arena latihanpun ikut terkejut karena Allen sangat tidak manusiawi terhadap Ellise.


serangan tersebut sangat kuat hingga membuat Ellise terjatuh, tanpa ragu Allen menghunuskan pedang ke arah leher Ellise,


"katakan dimana Ellise dasar kau penyihir?!!!"


ucap Allen dengan lantang terhadap Ellise yang duduk tersungkur tak berdaya.


"!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!"

__ADS_1


mendengar ucapan Allen membuat orang-orang di sekitar terkejut.


__ADS_2