
Manusia adalah binatang yang bisa berbicara.
Malam ini aku pergi, meninggalkan masa lalu di tanah terkutuk ini. Jam tembaga menunjukkan pukul sembilan malam kurang lima menit dan kereta yang kutunggu belum datang. Di ruang tunggu hanya aku sendiri, duduk di kursi besi paling tepi. Baju putih yang kukenakan sangat kontras dengan suasana peron yang sunyi di malam hari.
Namaku Elvarette Shiro, namun orang sering memanggilku Elvy. Seorang anak yang ditelantarkan oleh ambisi orang tuaku, tersesat oleh kebodohanku sendiri. Setidaknya kini aku sadar akan kesalahanku dan mencoba memperbaikinya. Melakukan perjalanan mencari makna bersama kawan yang menunggu di tempat tujuan.
Seorang pria tua menuntun jalan bagiku yang tengah kalut. Saat itu aku aku kabur dari mucikari dan bersembunyi di taman. Tidak ada rumah bagiku yang hina, tidak ada tempat berlindung selain berjuang sendiri. Aku takut dengan langkah sesatku yang tak berpikir panjang, gemerlap yang kuperoleh hanya ilusi sebelum maut menanti, mereka yang telah lewat masa jayanya akan mati seperti bangkai hewan di tepi jalan. Aku takut, aku kalut, aku malu. Segala emosi bersatu padu dalam kalbu hingga dia datang mengulurkan tangan.
“Ada apa nak?”
“Jangan, jangan sakiti aku!”
“Tenang nak, tenang. Aku tidak akan menyakitimu, percayalah!”
Pria tua berpakaian krem itu mengulurkan tangan padaku yang berpenampilan berantakan. Tanganku gemetar memegang telapak tangannya yang lebar, dari sana awalku mengenal Khidr si bijak dari seberang. Selama enam bulan aku belajar padanya tentang memaafkan diri sendiri.
Hari demi hari aku mengikuti Khidr, dia pria sederhana yang memiliki pengalaman yang tak terduga. Kesehariannya terasa tenang nan sejuk dalam menjalani kehidupan. Aku melihatnya bekerja sebagai penjaga taman, merawat bunga dan tumbuhan di sekitar taman. Ketika membantunya bekerja, aku bertanya padanya
“Paman, mengapa hidupmu begitu tenang ada masalah?”
“Masalah?”
“Benar, selama aku mengikuti paman tak pernah aku melihat kalut maupun bersedih?”
“Sepertinya aku jarang memikirkan masalah mungkin Elvi, ha…ha…ha…ha….”
“AKU SERIUS PAMAN!”
__ADS_1
“Huh?”
“Eh, maafkan aku paman, aku tidak bermaskud untuk menbentakmu. Maafkan aku…”
Diusaplah rambut merah panjang lurusku yang bersanding dengan kulit porselen. Aku takut dia akan marah atas perbuatanku, namun anehnya dia hanya tersenyum saja tanpa rasa marah di wajahnya. Lalu dia menyuruhku duduk di sebelahnya di bangku taman.
“Elvi, sepertinya kau perlu berjalan-jalan agar tahu tentang dunia. Dunia yang kau pahami baru sebagian saja.”
“Maksud paman?”
“Perasaan itu tergantung dari apa yang kita pikirkan, dan apa yang kita pikirkan berasal dari pengalaman dan pengetahuan yang kita pelajari dari sebuah perjalanan. Bila ingin hidupmu tenang, maka sesekali cobalah untuk berkelana mencari pengalaman hidup Elvi.”
“Jadi, kau menginginkaku pergi?”
“Aku hanya memintamu jalan-jalan saja Elvy, selain itu kau akan tahu bagaimana caranya menenangkan batin.”
“Mereka tidak bisa mengejarmu, lagi pula kau akan ditemani oleh muridku di tempat tujuan nak.”
“Murid, kau punya murid paman?”
“Tentu, dulu dia sama sepertimu, bimbang dan penuh keputusasaan, tetapi kini dia menjadi penuntun bagi orang-orang sepertimu. Yang takut akan tipu muslihat dari binatang yang pandai berbicara.”
“Binatang yang pandai berbicara?”
“Iya, sejatinya manusia adalah binatang yang bisa berbicara. Namun manusia yang sadar dan waspada akan menjadi sejatinya manusis.”
“Sejatinya manusia?”
__ADS_1
“Sejatinya manusia adalah manusia yang sadar tujuan hidupnya, sadar bila mereka hanya singgah sejenak di sebuah kedai menuju tempat tujuannya yang bernama rumah.”
“Rumah? Paman, aku sudah tidak punya rumah lagi semenjak ayah ibuku pergi mencampakanku dan adikku, Serena, hingga dia meninggal dengan cara yang mengakitkan.”
“Mungkin kau kehilangan rumah yang lama, tetapi percayalah aka nada rumah baru yang menerimamu apa adanya, sayang.”
“Aku kurang yakin paman, apa mereka mau menerimaku dengan masa laluku yang gelap ini?”
“Semua aka nada jalannya sendiri Elvi, percayalah!”
“Baik paman.”
“Oh iya, kau mau mendengarkan sebuah cerita?”
“Cerita apa itu paman?”
“Sebuah kisah dari tanah seberang, dia adalah temanku yang telah bertemu dengan cahayanya cahaya.”
“Cahayanya cahaya?”
Pria itu bercerita mengenai temannya yang akan kukunjungi. Seorang pria yang mencintai cahaya melebihi dirinya. Dia mengambil sebuah buku yang cukup tebal bersampul kulit cokelat. Dibukalah buku itu dan dia mulai bercerita. Itulah yang kuingat betul momen saat dia mendongeng dengan runut dan santun.
Saat ini aku mendapat tugas untuk melakukan perjalanan. Merangkai kisah dari setiap perjalanan yang kulalui dan mengabadikannya dalam goresan pena yang diberikannya padaku. Khidr telah menghubungi muridnya yang bernama Arafis Ohba di tempat tujuan. Selain itu dia telah menyiapkan akomodasi dan segala keperluan yang kuperlukan.
Tiket kereta yang kupedang menunjukkan waktu kedatangan pukul sembilan lewat lima menit. Sebentar lagi kereta akan tiba di stasiun, sinar lampu mulai terlihat dari kejauhan menarik gerbong-gerbong laksana naga dari kegelapan. Perlahan lajunya melambat dan berhenti di stasiun.
Kereta telah tiba, segera kuangkat koper putih dan buku pemberian paman Khidr. Dengan langkah cepat kumasuki gerbong nomer tiga mencari kursi sesuai dengan tiket. Kursi 12A telah kutemui dari kursi-kursi lain yang kosong tak berpenumpang. Lalu kuletakkan koperku di atas rak tas yang terbuat dari besi dan melanjutkan membaca buku menunggu kereta berjalan.
__ADS_1