Elvarette Shiro

Elvarette Shiro
Episode 14: Azazil


__ADS_3

Untuk bisa bertarung dengan iblis,


Kau harus menjadi iblis.


Untuk bisa setara dengan iblis,


Kau harus menjadi malaikat


Untuk bisa mengalahkan iblis,


Kau harus menjadi manusia.


Karena Tuhan bersama manusia yang percaya pada-Nya.


 


 


***


 


 


Salah satu bintang di langit telah menghilang, pertanda ada seseorang yang baru saja terpilih menjadi penjaga yang ketiga. Setelah Arafis dan Fidela, ada orang lain yang dinobatkan dengan menyerap saripati cahaya. Ini menarik sekali, berarti lawanku kian beragam dan permainan semakin menarik.


“Tuan, nampaknya anda merasa resah mala mini?” Tanya seorang perempuan berpakaian serba merah.


“Lalita, kau lihat bintang di ujung sana? Akhir-akhir ini, salah satu bintang di dalamnya menghilang dari gugusannya” jabarku.

__ADS_1


“Bintang apa yang tuan maksud, gugusan orion? Ataukah…”


“Bintang yang pernah melahirkan penjaga yang kedua. Kini penjaga ketiga telah lahir.”


“Siapa penjaga yang ketiga itu?”


“Nampaknya dia menjadi eksekutor sepertiku. Karena posisi tersebut telah lama kosong. Terakhir kali yang menjadi eksekutor adalah Arafis Ohba. Aku adalah orang pertama dan Namus yang kedua.”


“Tetapi itu sudah sangat lama, dan mungkinkah manusia bisa menjadi penjaga?”


“Jika jiwanya, itu sangat mungkin, namun bagi yang sekarat? Ini sebuah tanda tanya bagiku.”


“Tuan, mungkinkah manusia bisa menjadi penggantimu? Bukannya manusaia adalah makhluk yang selalu berbuat keonaran?”


“Sayangnya begitu, semenjak makhluk lemah bernama manusia datang, semua menjadi kacau. Oh iya Lalita, maukah engkau mendengarkan cerita tentang manusia?”


“Dengan senang hati tuan.”


 


 


***


 


 


Lalita mendengarkan kisahku. Kisah ini dimulai dari lahirnya makhluk bernama Adam di tengah kami. Saat seorang anak adam meminta maaf, maka sejatinya dia tengah meminta secerca cahaya pada diri-Nya untuk menerangi kelamnya hidup dan menuntun ke jalan yang lurus. Aku tidak terima dengan perlakuan istimewa sang cahaya pada Adam, bapak bagi kaum manusia.

__ADS_1


Bagaimana makhluk keras kepala itu mendapat keistimewaan layaknya kami, dan wajar bila aku protes pada sang cahaya. Aku lebih baik darinya dan selalu taat apapun yang dikatakan oleh sang cahaya, namun mengapa dia lebih memilihnya. Aku kecewa namun tidak bisa berbuat apa-apa, pengabdianku harus sirna oleh pengabdian sang Adam. Protesku kala itu malah menjerumuskanku menjadi makhluk yang dilaknat oleh-Nya karena penentanganku  pada Adam.


Maka tak heran bila aku begitu sakit hati pada Adam. Dia adalah makhluk yang pandai menjilat dan menipu. Aku yakin, Adam dan anak turunnya akan melakukan kesahalan yang sama sebagaimana pendahulunya yang saling memangsa bagai binatang buas. Mereka yang membuat bumi bermandikan darah.


Mungkin aku, tindakanku adalah sebuah penentangan yang tak diharapkan oleh sang pencipta. Terkadang rasa cinta itu tidak selamanya seiya dan seirama, aku rela dikutuk oleh orang yang dikasih. Aku terjatuh ke jurang neraka, namun rinduku pada-Nya melebihi pujian kaum Adam sekalipun. Sepanjang malam hanya doa dan ratapan yang berkumandang dalam selimut malam.


Hingga suatu saat, rapsodiku didengar oleh-Nya. Ratapan sepanjang masa didengarkan oleh-Nya, sang cahaya agar aku bisa memeluk kasihnya. Aku telah diampuni dengan satu syarat, yaitu menjadi penguji bagi anak turun Adam. Ini sebuah penebusan dosaku walau dalam hatiku ini sebuah penghinaan, namun kuterima semua itu dengan lapang dada. Tugas ini sungguh berat melihat tabiat mereka yang mudah tersesat dan terombang-ambing.


Hati setiap makhluk memang aneh, mereka selalu menyalahkanku yang membuat mereka tersesat. Padahal mereka sendiri yang memilih jalan yang sesat. Tugas utamaku hanyalah menggoda dan membisikkan keburukan, bukan menyuruhnya. Jadi, semua adalah pilihan mereka atas apa yang mereka lakukan. Mereka mau memilih menjadi iblis atau malaikat terserah mereka.


Jika mereka sadar akan potensinya, maka aku akan berusaha menjatuhkannya dengan menjadikan mereka serupa dengan diriku yang telah dikutuk dan masuk ke dalam panasnya api neraka. Tetapi, bila mereka tetap kukuh dengan keinginannya sendiri pada sang cahaya maka apa boleh buat. Bentuk ibadahku adalah menjatuhkan dan menyesatkan. Tekad mereka sudah seperti tekad kami.


 


 


***


 


 


Menciptakan manusia adalah kesalahan, kesalahan yang membuat semesta kehilangan keseimbangan. Aku tak bisa menyalahkan kehendak-Nya, namun aku tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Kerusakan dan kerusuhan akan datang seiring perjalanan waktu dan bertambahnya anak turunnya di tempat asal mereka.


Sudah kubilang, mereka akan merusak bukan hanya bumi, namun juga semesta yang dijangkau oleh mereka. Memang mereka punya sifat cahaya, akan tetapi kegelapan jauh dominan sebagaimana pelopor mereka, Qabil. Aku hanya menyarankan bukan menyuruh, sayang dia termakan ambisinya sendiri. Iri hati adalah sifat tertinggi kedua setelah kesombongan. Bila kesombongan adalah raja, maka iri adalah ratunya. Dan itulah yang kuharapkan. Biarkan mereka memelihara iri hati sebagai pendampingku di alam bawah kelak.


Aku sang penjerumus, akan lebih giat menggiring manusia menuju gelap atas keinginan mereka. Tidak akan mundur sebelum mereka terkubur oleh nafsu. Karena itulah caraku mencintai sang cahaya dengan tulus. Bukan karena takut masuk neraka, maupun bernafsu merebut surga. Sebab mencintai cahaya harus tulus, bukan karena imbalan atau ancaman.


Aku, Azazil sang penjerumus. Telah bersumpah setia kepada pencipta cahaya, melindungi dan menuntun manusia yang serupa denganku dalam jalan kelam. Biarkan Namus, adikku menggantikan posisiku sebagai pemimpin para penjaga, sedangkan aku menuntun manusia yang mencintai kegelapan.

__ADS_1


 


 


__ADS_2