
Saya adalah kebenaran
Itulah kata yang disampaikan oleh seorang pecinta. Seorang yang sadar akan dirinya seorang hamba yang benar-benar jtuh cinta pada pemilik cahaya. Kata Khidr, kawannya itu adalah orang yang santun oleh kalangan kecil dan yang tersakiti oleh trauma maupun dosa. Dia tak banyak berkhotbah, hanya mengamalkan apa yang dianggapnya baik bagi semua makhluk hidup di semesta ini. Tak peduli kau pengikut Musa, Isa, maupun Ahmad, selama dia ciptaan Tuhan maka jangan pernah menyakiti.
Sebagian lagi menganggapnya sesat, sebab dia menentang dogma yang terlanjur menjalar dalam nalar masyarakat. Seorang pria tua yang mati di salib dan dicincang jenazahnya lalu dibakar. Tidak ada yang berani menyambanginya, bahkan menyebut namanya tak sanggup. Tetapi, dia abadi sebagai pembuka nurani yang dibungkam sang penguasa dari Baghdad. Setidaknya, dia abadi bersama keyakinannya, semua manusia membawa kebaikan semesta.
Setidaknya, itu yang tertulis dalam catatan si pria tua. Seorang yang mengajakku untuk kembali pada cahaya sebagaimana riwayat lakon dalam buku ini. Dia adalah seorang manusia yang percaya dengan apa yang dikatakan sang pemuka rohani, namun semua berubah kala kala ilahi dijadikan alat tirani para politisi dan penjual birahi. Sehingga dia mencari sendiri sejatinya ruhani dari langkah kaki. Sama sepertiku yang tengah mencari jati diri dari perjalanan sunyi ini.
Pria tua itu menyuruhku pergi, melihat langsung realita kehidupan dari tiap perjalanan. Semakin banyak melihat dan merasakan suka duka anak manusia. Dia berkata bila jawaban yang kucari ada dalam perjalananku, sebagaimana kisah dalam bukunya tentang pria suci yang rela mati demi mendekatkan diri dengan Sang Pencipta. Pria suci itu bernama Hallaj, Mansur Al Hallaj.
Kereta api yang kunaiki telah berjalan sejak pukul 21:15 dan masih berjalan menyibak gelap. Jam saku yang kubawa mendadak mati, padahal barusan beli. Jam yang ada di depan pintu gerbong juga mati, jarum jamnya masih menunjukkan angka sembilan untuk jarum pendek dan angka tiga untuk jarum panjang. Dalam sunyi kereta, hanya buku yang dibawakan Khidr teman perjalananku sebelum bertemu Ohba. Murid terbaik yang akan jadi teman Perjalananku nanti.
__ADS_1
Kurebahkan tubuhku di atas kursi untuk beristirahat sejenak. Nampaknya perjalanan ini masih panjang, maka kutenangkan diri sejenak. Entah masa laluku susah dilupakan, dia selalu hadir seperti hantu dari kedalaman kalbu. Sebagai mantan pelacur, orang-orang memandangku sebagai barang bukan manusia. Yang bisa diperjual belikan tanpa ada yang tahu apa yang tengah kurasakan. Orang yang seharusnya ada mendadak tiada, dan orang yang kusayang telah tiada menghadap sang kuasa.
Aku tak tahu, apakah aku bisa menemukan ketenangan diri. Setelah manusia didekatku membohongiku dengan janji manis, aku mulai takut mempercayai makhluk bernama manusia. Ayahku berjanji membawa adikku kembali, namun dia datang dengan karangan bunga. Mantan guruku pun berjanji mengobati keperihan hati, malah menjualku kepada orang lain. Semua berbohong atas nama kebaikan.
Namun sudahlah, biarkan masa lalu menjadi benang rajut yang harus dirangkai menjadi mantel hangat menyambut masa depan. Perjalanan ini masih panjang dan kereta ini belum berhenti di tempat tujuannya. Kereta yang berjalan di atas rel angin ini hanya berhenti di tempat yang tidak disangka dan tidak pula direncanakan. Dia berhenti bila ada peristiwa penting terjadi disana.
Sembari menunggu, kubaca ulang kisah pilu pria malang itu. Lekaki yang meyakini Tuhan lebih dekat dengan hambanya melalui cinta. Tidak semua yang berjalan berdasarkan nuraninya berakhir bahagia. Terkadang kematian lebih ramah dibandingkan kenyataan, namun menjadi diri sendiri itu adalah kebahagian yang lebih bernilai. Aku ingin menjadi Hallaj, yang bisa dekat dengan cahaya tanpa memadamkan cahaya yang lain.
Laju kereta mulai berhenti. Kabut putih mulai pergi dari jendela kereta api. Sebuah pemandangan rumah berbentuk jamur yang berbaris. Pertanda bila kereta telah sampai pada tujuannya, sebuah kota yang hanya dihuni oleh mereka yang telah mati nuraninya. Mungkin ini maksud dari si pria tua itu, yakni mencari manusia yang masih punya hati dan mau menerima suara ilahi.
Pintu kereta terbuka, dan pemuda berjaket hitam menyambut gadis kecil itu tepat di depannya.
__ADS_1
“Selamat datang kawanku, Elvy!”
“Ohba, Kau menungguku di sini?”
“Tentu, Si Tua menyuruhku menjadi pemandumu. Ayo, ada seseorang yang harus kita temui.”
“Siapa?”
“Orang yang ada dalam bukumu itu.”
Kini perjalanan baru akan dimulai. aku dan Arafis Ohba memasuki dunia yang berbeda dengan dunia manusia, dunia para arwah.
__ADS_1