
Temui aku dengan hati yang murni.
Akhirnya aku makan sup jamur merang bersama-sama. Setiap sendoknya manis dan gurih. Ini pengalaman pertama bagiku, makan bersama seperti keluarga sendiri. Jarang sekali aku makan seperti ini, makanan sederhana yang diracik dengan cinta memang berbeda dibanding kata-kata manis yang sering dibuat ingkar janji. Kehangatan adalah rupa cinta yang telah lama kuimpikan bersama Serena. Andai kau ada saat ini adikku sayang.
Dalam mangkuk sup terdapat kenangan orang yang terkasih. Kuah kaldu yang dimasak dengan perasaan tulus akan mengetuk memori yang lalu. Kami bertiga telah usai menyantap sajian makan malam yang dibuatkan oleh pria dalam legenda. Sebuah kehormatan dan momen langka bagi kami.
"Kalian pasti kelelahan, sebaiknya kalian beristirahatlah semalam di sini sebelum melanjutkan perjalanan."
"Terima kasih paman"
"Tuan Hallaj, maaf jika kami mengganggu."
"Tidak perlu meminta maaf, aku selalu memaafkan kalian bahkan sebelum meminta."
"Paman terlalu baik pada kami, sudah membuatkan makan malam dan memberi kami tempat beristirahat."
"Elvy, terkadang berbuat baik itu salah satu cara menenangkan hati. Berbuat baik bisa melunakkan ego yang tinggi."
"Berbuat baik? Paman, dulu aku sering berbuat baik pada semua orang namun orang yang kutolong malah mendorongku ke lubang prostitusi?"
"Benih yang baik akan selalu menumbuhkan pohon yang terbaik, percayalah pada sang pemberi benih Elvy."
"Aku mengerti paman. Pohon apel tidak pernah menumbuhkan buah anggur."
"Kini kau mulai paham anakku, jadi kau boleh beristirahat di kasur pojok. Aku dan kawanmu ini ada urusan sebentar."
"Ok, aku akan beristirahat. Aku pamit dulu!"
"Selamat malam Elvy, jangan lupa berdoa sebelum tidur."
"Terima kasih!"
Pria itu keluar ke teras bersama Arafis. Aku tidur di tempat yang telah disediakan, kasur putih yang cukup lebar untuk ukuran anak-anak. Setidaknya ini lebih dari cukup, kubuka selimut putih dan masuk ke dalam hangatnya pelukan kain kelabu yang terbuat dari bulu domba. Malam ini adalah malam yang panjang. Kelopak mata ini mulai menutup pandangan alam sadarku. Lalu kututupi tubuh mungil ini dengan selimut.
Hendak kupejamkan mata ini, merebahkan diri yang telah letih dari perjalanan tanpa henti. Namun batinku terasa terpanggil, suara gadis yang sangat kukenal. Semakin lama panggilan yang syahdu meluluhkan kalbuku yang terus berduka bertahun-tahun. Apa mungkin itu dia? Serena yang memanggilku? Tetapi apa benar itu dia?
"Kakak!"
"Rena, apa itu kau?"
__ADS_1
Seorang gadis kecil bermata biru menyapa Elvarette dengan suara yang lemah lembut. Dia berdiri di sampingku mengenakan gaun hitam yang kontras dengan kulitnya yang putih seperti dirinya. Rambut panjang lurus nan hitam menambah keyakinanku jika dia benar adikku, Serena Shiro. Air mataku menetes tanpa sadar melihatnya datang menemuiku, langsung saja kupeluk dirinya erat-erat untuk mengobati rindu yang membelenggu kalbuku.
"Ini aku kak Elvy, mengapa engkau terlambat?"
"Aku... Aku..."
"Kau selalu gegabah, tetapi kau yang paling peduli dari semua yang kukenal."
"Rena, mengapa kau tinggalkan kakak?'
"Aku tidak pernah meninggalkanmu kak, kekalutanmu sendiri yang menjauhkanku padamu."
"Tapi..."
"Aku tahu dirimu marah pada kedua orang tua kita. Mereka memang menelantarkan kita, akan tetapi apa pantas kita menghapus hubungan antara anak dan orang tua?"
"Mengapa kau berkata seperti itu Rena?"
"Sebab hatimu masih ada amarah yang masih kakak kekang. Aku tak ingin kakak terluka oleh makhluk buas yang kakak ikat sendiri."
"Tetapi mereka berdua itu jahat Rena, mereka yang membuatmu mati dalam kesepian?"
"Mengapa kau masih mau memaafkan mereka Rena?"
"Karena aku ingin kau menemuiku dengan hati yang memaafkan!"
"Kau, kau ingin bertemu denganku?"
"Benar, aku menunggumu kak. Hanya saja kita tidak bisa langsung bertemu, ada sekat yang memisahkan antara aku dan engkau."
"Sekat apa itu?"
"Emosi, ambisi, dan rasa sakit."
"Serena... Kau"
"Kakak ke sini memiliki misi, menjadi penolong bagi mereka yang butuh diobati."
"Serena, terkadang kau lebih dewasa daripada kakakmu ini."
__ADS_1
"Namun tidak ada yang paling peduli melebihi kakak."
"Lalu bagaimana kita bisa bertemu lagi Rena?"
"Bila kakak selesai mengalahkan egomu, kita akan bertemu lagi di tempat ini."
"Rena, jangan pergi... Serena!"
"Sampai jumpa, kakak..."
"Rena... Serena... Jangan pergi..."
"Kita akan bertemu kak, jangan khawatir."
"SERENA... JANGAN PERGI!!!"
"Hei, bangun Elvy. Kau mengigau?" Gugah Ohba.
Aku terbangun dari kasur, sontak tubuhku kaku kala sadar itu hanya mimpi. Hanya saja mimpi itu begitu nyata adanya. Ohba membangunkanku di saat yang tepat, mungkin saja aku akan terus berteriak memanggil Serena.
"Kau bermimpi buruk?"
"Aku bermimpi bertemu adikku, Serena."
"Itu bukan mimpi maupun ilusi Elvy, itu adalah janji batin yang harus dilunasi."
"Janji?"
"Itu benar anakku, nampaknya batinmu mulai terasah di sini."
"Aku masih belum mengerti Ohba, paman?"
“Kau akan tahu sebentar lagi nak, kira-kira apa dia berpesan sesuatu padamu?
"Temui aku dengan hati yang murni. Dia hanya mengatakan itu saja.”
“Berarti kau harus bersiap sebantar lagi, Elvy.”
“Bersiap untuk apa?”
__ADS_1
“Bertemu dengannya setelah tugas selesai.”