Elvarette Shiro

Elvarette Shiro
Episode 26: Abjad


__ADS_3

Pov: Saki Fidela



Perjalanan laksana abjad dalam kitab bacaan.


Selalu terikat dengan makna yang hendak disampaikan.



Semua mulai terang atas pertemuan ini. Andai Elvy tidak menanyai perihal Azazil dan Namus dalam diskusi ini, mungkin sampai sekarang aku tidak tahu. Takdir memang unik. Kami yang memiliki masa lalu yang gelap nan suram ini rupanya masih memiliki harapan di masa depan.



Arafis yang dulu mantan pembunuh dan kami yang mantan pelacur. Dua pekerjaan yang hina di mata manusia. Namun kini, kini kami menjadi penjaga bagi mereka yang membutuhkan. Tak selamanya yang kita suka itu yang terbaik bagi kita, dan apa yang kita benci pun yang tercela bagi kita. Kutipan dari Namus yang disampaikan oleh Arafis ada benarnya juga.



Ibarat susunan abjad yang masih berantakan, kita tidak tahu makna yang hendak dimaksud. Terkadang kita perlu menyusun sedemikian rapi dan tersusun supaya kita tahu maksud dan tujuan dari sang penyusun. Maka itulah takdir, kita tidak tahu jalan takdir kecuali sang pemilik semesta sendiri yang memberi petunjuk laksana abjad.



Kembali pada kasus sebelumnya. Bagi Azazil, manusia adalah sebuah kesalahan yang akan terulang lagi kesalahannys. Namun bagi sang Cahaya, apa yang ditakutkannya hanya praduga semata. Sang Cahaya pasti memiliki pertimbangannya sendiri. Dan itu telah terjawab sudah melalui pertemuan kami bertiga di gerbong istimewah ini.



Sang Cahaya telah merencakan semuanya dengan sempurna. Selama ini kita melihat segala sesuatu sesuai apa yang nampak. Akan tetapi, dia ingin memberi sesuatu penting layaknya sebuah abjad. Sebuah pelajaran berharga tentang saling percaya. Mempercayai sesuatu yang berbeda untuk mencari persamaan yang bisa mendekatkan kita semua.



Perseteruan antara Azazil dan sang Cahaya dalam mengkritisi pendapat sang Cahaya memberi gambaran soal pentingnya sebuah kepercayaan. Perselisihan keduanya menjadi contoh bila kedengkian bisa menghilangkan logika yang dimiliki Azazil. Ketakutan menghilangkan rasa percaya diri dan ketenangan jiwa. Bila itu terjadi, maka sulit sekali bagi cahaya masuk ke dalam sanubari.

__ADS_1



Tak lama kemudian Elvy bertanya padaku dengan rasa penasaran yang masih menggebu-gebu seperti laju kereta hitam, dia bertanya padaku dan Arafis tentang sosok Namus. Dia penasaran dengan pemimpin para penjaga yang memberi kesempatan pada kami.



"Jadi, kau diajak langsung oleh Namus?" Tanya Elvy penuh keheranan.



"Mungkin, karena aku sendiri masih belum percaya telah diajak oleh Namus sang pemimpin." Jawab Arafis.



"Arafis, bila tugasmu menyampaikan pesan pada orang-orang terpilih berarti kita sudah direncanakan bertemu oleh-Nya?" Tanyaku.




"Tidak ada yang kebetulan. Semua sudah menjadi bagian dari rangkaian takdir yang berjalan pada jalurnya, Saki."



"Termasuk pertemuan ini Ohba?"



"Salah satunya, iya."


__ADS_1


"Ini menarik sekali Arafis. Lalu, bagaimana dengan Azazil? Apa dia juga telah direncanakan untuk menolak keteraturan?"



"Itu juga salah satunya. Menurut Pak tua Khidr, Azazil akan menjadi contoh nyata bagi semua makhluk. Dia ingin mengajarkan pada kita semua bahwa terang dan gelap itu perlu ada agar semesta bisa berjalan sebagaimana semestinya."



"Maksudmu tentang keseimbangan?"



"Benar, keseimbangan itu perlu Saki."



Perjalanan yang telah ditunjukkan oleh sang Cahaya laksana abjad dalam kitab bacaan. Selalu terikat dengan makna yang hendak disampaikan. Tidak ada yang tahu selain membacanya dan memahami isinya dengan seksama. Pembicaran kami telah usai, dan kini tujuanku mulai sampai. Ingin sekali berbincang lebih lama lagi, namun tugas harus diselesaikan dahulu.



Teringat aku akan pesan paman Khidr tentang filsafat abjad pertama. Alef adalah huruf pertama yang terucap dan tertulis dalam sejarah. Alef memulai namun terkadang digunakan pula dalam mengakhiri tulisan. Alef mewakili ilahi untuk terus mendekati cahaya diantara kegelapan.



Kita akan berjumpa di lain kesempatan. Sebagaimana huruf alef yang akan berjumpa dengan huruf yang lain. Aku berjanji kita semua akan bertemu. Kereta hitam mulai melambat pada stasiun selanjutnya. Namus mengutusku untuk memberi rezeki pada calon manusia di pohon kehidupan. Nasib mereka akan diarahkan sesuai kehendak sang Cahaya.



Arafis, aku berangkat dahulu. Dan Elvy, kita akan melanjutkan pembicaran kita. Namun sebelumnya, aku ingin melihat Arafis mengepakkan sayapnya untuk terakhir kalinya. Karena itu yang mengingatkan diriku padamu pertama kali bertemu. Sayap warisan semesta. Sayap yang menjadi tanda seorang utusan cahaya. Sayap yang memberi perlindungan bagi semua makhluk yang berlindung di bawah naungan cahaya sejati dari kejahatan gelap dan kebodohan.


__ADS_1


***


__ADS_2