Elvarette Shiro

Elvarette Shiro
Episode 7: Rasa


__ADS_3

Tuhan sengaja menjatuhkan satu peristiwa buruk, agar menumbuhkan seribu kebaikan


Arafis menikmati secangkir teh hangat dari Hallaj. Aku merenungi apa yang disampaiakan olehnya namun masih belum sepenuhnya paham dengan kata-katanya yang sederhana nan penuh misteri. Lalu pria tua itu mengajakku keluar ke pekarangannya sejenak, melihat dedauan kering yang jatuh tertiup angin.


“Paman, apa yang kita lakukan di pekarangan ini?”


“Anakku, kau lihat dedaunan ini?”


“Iya”


“Apa yang lebih buruk dari daun berguguran?”


“Aku tidak tahu paman?”


“Daun yang jauh akan membusuk di tanah, namun daun yang bermanfaat akan diolah menjadi rempah dan obat.”


“Daun yang jatuh? Sepertinya paman membahas masa laluku?”


“Kadang kala apa yang kita anggap hina sebenarnya punya makna yang tersirat, kita hanya perlu mempelajarinya agar tidak membusuk laksana daun.”


“Lalu, mengapa Tuhan membuatku terjatuh?”


“Sebab kau begitu istimewa!”


“Istimewa?”


“Nak, kau lihat jamur di atas kayu itu?”


“Aku melihatnya paman.”

__ADS_1


“Apa yang kau lihat tentang kayu yang ditumbuhi jamur itu?”


“Kayu itu mulai lapuk tetapi jamur-jamur itu tumbuh subur.”


“Lalu?”


“Jamur itu bisa dipanen kan? Ini jamur merang yang biasa kita masak?”


“Benar, lalu apa jamur itu bisa dimanfaatkan anakku?”


“Bisa.”


“Itulah kehidupan nak, Tuhan sengaja menjatuhkan satu peristiwa buruk agar menumbuhkan seribu kebaikan yang bermanfaat bagimu dan orang-orang di sekitarmu.”


“Tetapi ini begitu menyakitkan paman?”


“Derita adalah tanda cinta, sebab cinta itu butuh pengorbanan yang tangguh.”


Pria tua itu duduk di atas batu besar dekat sungai, diambil salah satu bintang yang berpijar. Aku terdiam melihat panorama yang tengah ditampilkan olehnya, pesan malam untuk seorang gadis yang terjebak dalam gelap. Bintang yang dipegangnya diserahkan padaku, terangnya mulai meresap dalam pembuluh darahku dengan deras.


“Kau merasakan apa yang kau pegang nak?”


“Ini terasa hangat paman, seakan mengalir dalam diriku.”


“Itu terjadi karena gelap mulai terisi oleh terang. Cahaya datang menerangi gelap, itulah yang membuatmu terpilih.”


“Jadi apa yang selama ini kualami…”


“Adalah persiapan supaya engkau siap menerima pencerahan, seperti kertas putih yang baru.”

__ADS_1


“Kini aku paham maksudmu paman.”


“Bagus, jadi kau telah siap menjadi rekan Arafis, menjadi pelita bagi malam?”


“Semoga aku bisa menanggung amanah ini paman.”


“Aku suka dengan tekadmu nak, kau mau menerima derita demi tanggung jawab.”


“Apa kalian sudah selesai?” Tanya Arafis pada kami.


“Sebentar lagi kami selesai Ohba!” jawabku penuh keyakinan.


“Baguslah, sebab aku juga ingin tahu cerita apa yang kalian diskusikan!”


“Tenang saja tuan Arafis, kami akan membagikannya seusai makan malam.”


“Bukankah di sini selalu malam tuan?”


“Kau bisa saja Arafis.”


“Uh… sekarang kau yang tak sopan Ohba.”


“Tidak apa nak, oh iya apa kalian mau kubuatkan sup jamur?”


“Bagaimana Elvy?”


“Boleh, kebetulan aku sudah mulai lapar.”


“Kalau begitu, kupetikkan dulu jamur yang membuatmu berpikir keras Elvarette. Tapi ingat jangan sampai pusing hanya gara-gara jamur merang.” Gurau pria tua itu.

__ADS_1


“Huh… kalian ini meledekku ya?”


“Tidak, hanya menggodamu saja.” Cetus Ohba.


__ADS_2