
Pov: Saki Fidela
Aku hidup dan mati
Aku mengabdi dan memberontak
Aku dari darimu dan selamanya begitu
Aku dalam farvahar.
Konon pohon kehidupan adalah tempat pertama manusia menerima takdir dan nasibnya. Sebelum membuka kehidupan di alam fana, mereka menunggu saat dipanggil oleh sang Cahaya melalui peran penjaga kedua. Kelahiran, jodoh, dan kematian setiap insan telah disiapkan sampai ke bagian paling kecil sekalipun. Tidak ada yang terlewat.
Aku mendapat amanah yang cukup berat namun harus dijalankan dengan hati yang lapang. Memberi kebahagiaan kepada semua makhluk adalah kewajiban penjaga kedua. Sebab kebahagiaan adalah pelita bagi hati yang tenang. Penasihat yang paling mencegah kesesatan. Serta rasa syukur atas segala pemberian yang telah lama diterima semasa hidup.
Pohon kehidupan, sebuah pohon yang menumbuhkan benih kehidupan semesta. Selain pena untuk menulis takdir dan samudera sebagai tintanya, pohon kehidupan menggugurkan daunnya untuk media menulis takdir semua makhluk. Daun yang tak bisa rusak maupun dirusak selain sang Cahaya sejati itu sendiri. Daun-daun itu lalu jatuh ke bumi dan menjadi surat ijin kehidupannya melalui kelahiran.
Hampir sebagian kepercayaan meyakini tanah dan adalah perwujudan dari kehidupan awal di bumi. Dari ujung sahara sampai stepa, pohon sudah menjadi bagian dari sejarah peradaban manusia. Simbolisasi dari kebutuhan utama sekaligus perlindungan dari Mara bahaya yang mengancam.
Tugasku harus diselesaikan sebelum dedaunan berguguran. Sebelum daun-daun itu jatuh, sudah ada yang tertulis sebagaimana yang telah aku terima catatan dari sang Cahaya melalui Namus. Takdir mereka akan mereka peroleh sebentar lagi. Kadang aku masih penasaran dengan takdir seseorang yang diberi kesusahan sepanjang hidup padahal dia baik, serta mengapa ada seseorang yang buruk perilakunya namun selalu mendapat apa yang diinginkannya.
Namus, aku teringat pesan dari paman Khidr tentang rahasia takdir. Kita tidak akan tahu akhir kisah bila tidak mengikuti rangkaian kisah secara runut. Mungkin kita menilai itu tidak adil, tetapi ada maksud penting yang menjadikannya abadi kisahnya. Takdir seseorang sudah tertulis sejak awal penciptaan, tulisan yang sangat rahasia itu memberi akhir kisah seseorang berdasarkan tindakan yang dilakukannya semasa hidup. Kematian tidak bisa dirubah namun sejarahnya bisa.
Paman Khidr memberi contoh kisah hidupku dulu yang hancur menjadi pelacur, kini menjadi penolong. Jalan yang harus kulalui memang memilukan memang, tetapi aku sadar mengapa aku harus melaluinya. Kesengsaraan yang kita lewati layaknya sebuah jalan yang tengah diperbaiki menuju tujuan perjalanan, sebuah pantai kehidupan yang menyimpan mutiara bernama intisari kehidupan.
Takdir dibuat untuk memberi pelajaran penting bagi semua, tentang betapa bernilainya sebuah perjalanan dan proses. Takdir adalah tanda yang memberi petunjuk bagi semua makhluk, tujuan akhir yang akan ditemui melalui rintangan dan ujian. Tujuan itu tidak bisa diubah, namun rintangan masih bisa diubah oleh semua makhluk yang ingin berusaha berubah.
Sehingga ada ungkapan lama mengenai takdir "Untuk tahu baiknya seseorang, lihatlah saat dia meninggalkan alam ini." Sebuah petuah yang cukup dalam menurutku. Seperti yang aku pikir dahulu, mengapa manusia baik selalu sengsara? Sebelum kita menilai kehidupan diri kita, alangkah baiknya mempelajari perjalanan dari mereka yang telah tiada melalui cara dia menyiapkan kematiannya. Manusia yang cerdas adalah mereka yang mempersiapkan kematian sebaik mungkin.
Mempersiapkan kematian bukan berarti menyiapkan pemakaman yang mewah dan meriah, bukan itu yang penting dari menyiapkan kematian. Persiapan yang terbaik bagi kematian adalah apa yang dapat kita berikan pada sesama. Entah itu berupa perbuatan yang baik selama masih bernapas atau apa yang telah kita berikan pada mereka yang membutuhkan.
Aku hanya memberi patok berupa takdir, namun untuk bisa didatangi dan dirindukan oleh orang-orang yang tercinta harus melalui perjuangan. Sama halnya mengukir relief pada batu cadas yang keras. Susah namun bertahan lama dan selalu dikenang sepanjang masa. Itulah pentingnya takdir bagi semua makhluk.
***
Angin kehidupan telah berhembus meniup dedaunan. Daun yang masih hijau akan tetap menemani sang pohon dan yang telah kering akan segera menerima tanda takdir. Aku menuliskan apa-apa yang harus ditulis. Tidak ada yang dikurangi maupun dilebihi sedikit pun.
Sebagai penjaga kedua, tugas menjaga kehidupan seluruh makhluk ada di pundakku. Dengan pena dari paman Khidr dan kitab dari Namus, kutulis dan kuperiksa apa yang telah tercantum dalam manifes kehidupan. Satu goresan pena telah menggerakkan seribu pena lainnya dalam memberi tanda takdir.
Saat penaku menulis, ponselku berdering. Rupanya ada panggilan dari Namus, menurutku tumben sekali dia menghubungiku saat menjalankan tugas. Laku segera kuangkat panggilan tersebut dan menjawabnya.
"Halo Saki!"
"Halo, ada angin apa yang membuat dirimu mendadak menghubungiku?"
__ADS_1
"Maaf bila mendadak menghubungimu, ada hal penting yang ingin kusampaikan tentang penjaga ketiga."
"Hal penting tentang penjaga ketiga?"
"Iya, dan ini juga ada hubungannya denganmu."
"Denganku juga? Memang ada apa Namus?"
"Aku merasa kalian akan didatangi oleh tamu dari masa lalu."
"Tamu dari masa lalu? Maksudnya apa Namus?"
"Kemungkinan kalian akan didatangi oleh sang penyesat."
"Azazil!"
"Mungkin kau sudah pernah bertemu dengan sayapnya saat pertama kali bergabung."
"Kau benar, sayapnya saja sudah membuatku merinding. Padahal sudah lama sayap itu tergantung di mimbarnya!"
"Saki, sebelumnya maaf."
"Sebenarnya sebelum menjadi penjaga, mereka Harus diuji dahulu apakah dia layak atau tidak."
"Lalu?"
"Yang telah melalui ujian tersebut adalah penjaga pertama, Arafis."
"Baik, mulai dari sini aku mulai paham. Lalu apa yang menjadi masalahnya?"
"Masalahnya adalah orang yang akan menguji kalian. Orang yang menguji kalian adalah orang yang dahulu pernah dikutuk seumur hidupnya dalam kegelapan."
"APA??" Jawabku dengan nada terkejut.
"Aku mohon maaf, tapi itulah cara kerjanya. Meski dia sudah tidak menjadi pemimpin para penjaga, namun kemampuan dalam menguji masih dimiliki olehnya. Dan dia sudah bersumpah akan menguji semua manusia yang ada. Kebetulan kalian berdua masih manusia secara teknis."
"Jadi, kami harus bagaimana?"
"Tidak ada cara lain selain menghadapinya. Aku yakin kau sudah pernah menghadapinya ujian di alam manusia, kau lebih tegar menghadapi celaan dan hinaan. Namun aku khawatir pada penjaga baru kita. Dia masih butuh pendampingan agar tidak mudah tersesat seperti dirinya."
__ADS_1
"Kalau memang begitu, mengapa kau membiarkan dia mengujinya?"
"Sebab dia punya kesamaan dengan penjaga ketiga. Dia paling cerdas dan semuanya dan penjaga ketiga juga sama, hanya saja dia belum menyadarinya."
"Apa dia akan disesatkan menurutmu?"
"Bisa jadi, sebab itu alasan Khidr mengirimnya ke Hallaj agar mengokohkan tekadnya. Namun aku masih khawatir karena kemiripan riwayat mereka."
"Bukannya di sana ada Arafis?"
"Aku tahu, tetapi Arafis masih belum cukup untuk menghadangnya. Mereka memang sama-sama berasal dari kehidupan yang keras, namun Arafis masih memegang etika dalam bertempur. Sedangkan dia tidak, dia bisa menghalalkan segala cara untuk bisa menang."
"Itu gawat Namus!"
"Jadi aku memintamu untuk membantu Arafis dan Elvy. Dia perlu bantuan moral dan pengalaman dari kalian berdua."
"Baiklah kalau begitu Namus, aku akan membantu Elvy karena dia juga punya kesamaan denganku."
"Nampaknya kau sudah menemukan rasa sayangmu kembali Saki."
"Kau benar, melihatnya membuatku ingat akan diriku di masa lalu. Kami sama-sama menderita oleh kekejaman manusia buas yang selalu mengatasnamakan Tuhan dalam melakukan dosa."
"Tetapi jangan sampai kau menyalahkan Tuhan sebagai penyebab derita kalian. Karena melalui itu Azazil akan masuk ke dalam dirimu dan dirinya."
"Aku mengerti Namus, terima kasih telah mengingatkan diriku."
"Ingat, ambillah jalan layaknya Farvahar!"
"Matahari bersayap!"
"Mencari cahaya sekuat sayap, hidup dan mati bersama Cahaya."
"Aku akan ingat itu Namus, namun sebelumnya akan kuselesaikan tugasku dan bergegas menyusulnya."
"Baik kalau begitu, aku akan menghubungimu lagi lain waktu."
"Baik Namus, terima kasih atas infonya."
"Sama-sama"
Namus mengakhiri teleponnya, rupanya itu yang hendak disampaikan. Azazil melihat celah untuk menguji kami yang masih membawa raga manusia di alam ini. Mendengar kengerian yang dibawanya, membuatku harus ekstra waspada terutama untuk Elvy yang baru tiba di sini.
__ADS_1
***