
Ajarkan dia cinta yang sejatinya cinta.
Aku dan Tuan Hallaj keluar ke teras saat Elvarette tidur di tempatnya, kasur putih yang cukup lebar untuk ukuran anak-anak. Setidaknya itu cukup baginya beristirahat layaknya anak-anak pada umumnya. Di sini malam adalah keabadian dan mentari terlahir bagi mereka yang takut akan kegelapan diri. Oleh sebab itu kami ada menuntun mereka yang tersesat dalam gelap, salah satunya adalah nona kecil yang tertidur.
“Apa pendapatmu tentang gadis kecil itu, Arafis?”
“Pendapatku? Sepertinya dia masih belum siap untuk menjadi penjaga tuan, dia masih menyimpan dendam dan amarah dalam hatinya.”
“Lalu?”
“Dia masih belia dan butuh pendampingan dari orang lebih bijak.”
”Sebab itu Khidr memintamu membimbingnya Arafis.”
“Aku? Aku masih belum layak tuan!”
“Memang tidak ada yang layak, karena kelayakan membutuhkan waktu. Lagi pula, Khidr adalah orang yang pandai membaca waktu.”
“Mengapa tuan begitu yakin padaku dan padanya?”
“Karena itu sudah jadi takdir kalian, dan bukankah itu salah satu tugas para penjaga?”
“Meski aku telah menjadi penjaga bagi orang-orang yang mencari cahaya, aku masih memiliki kelemahan!”
“Dan kelemahanmu itu akan tertutupi oleh temanmu itu.”
“Elvy?”
__ADS_1
“Khidr tahu, dia punya potensi menjadi baik dari segala kekacauan yang pernah dialaminya. Akan tetapi, di tangan yang salah dia akan menjadi sosok yang merusak bagi semua insan. Yang perlu baginya saat ini adalah orang yang bisa menuntun.”
“Terkadang aku masih belum bisa membaca pikiran dari guruku itu. Dia punya banyak misteri yang aku sendiri bingung?”
“Itu yang menjadikan gurumu istimewa, dialah orang yang paling bijak membaca takdir. Orang-orang yang sangat dekat dengan cahaya akan mendapat petunjuk untuk bertindak.”
“Lalu apa yang harus aku lakukan selanjutnya tuan?”
“Ajarkan dia cinta yang sejatinya cinta.”
“Mencintai pemilik cinta?”
“Benar, dia berada di persimpangan jalan. Jadi bantulah dia menemukan cinta pada sesama makhluk. Tidak semua makhluk itu jahat.”
“Seandainya dia salah jalan?”
“Dia yang dulunya dihormati para penjaga lainnya seperti Namus dan lainnya.”
“Jadi, jangan sampai dia menjadi dirinya yang buruk seperti pendahulumu.”
“Baiklah tuan, aku akan membimbingnya.”
“Sebentar lagi dia akan terbangun dari tidurnya, itu pertanda dia akan mendapat pesan selanjutnya dari pemilik cahaya.”
“Bukankah itu dari adiknya?”
“Adiknya adalah perantara agar dia mau menerima pesannya.”
__ADS_1
“Hem… mari kita tunggu tuanku.”
Belum sempat kami berdiskusi tentang Elvarette, nona kecil itu berteriak histeris. Bergegas kami menuju asal suara memastikan apa yang disampaikan oleh pria bijak itu. Aku membangunkannya saat Elvy terus berteriak memanggil nama Serena. Dia terbangun dari kasur, tubuhnya kaku saat sadar dari mimpi.
"Kau bermimpi buruk?"
"Aku bermimpi bertemu adikku, Serena."
"Itu bukan mimpi maupun ilusi Elvy, itu adalah janji batin yang harus dilunasi."
"Janji?"
"Itu benar anakku, nampaknya batinmu mulai terasah di sini."
"Aku masih belum mengerti Ohba, paman?"
“Kau akan tahu sebentar lagi nak, kira-kira apa dia berpesan sesuatu padamu?
"Temui aku dengan hati yang murni. Dia hanya mengatakan itu saja.”
“Berarti kau harus bersiap sebantar lagi, Elvy.”
“Bersiap untuk apa?”
“Bertemu dengannya setelah tugas selesai.”
Apa yang kami duga terbukti, dia mendapatkan pesan dari sang cahaya. Sekarang tinggal menuntunya menjadi penerus ketiga setelah aku dan temanku dulu. Keesokan harinya, Elvarette menceritakan keresahan hatinya yang gundah gulana, termasuk kisah kelam hidupnya yang membuat Elvy enggan mempercayai manusia.
__ADS_1