Elvarette Shiro

Elvarette Shiro
Episode 5: Lonceng


__ADS_3

Hidup adalah cerminan diri kita, maka persiapkan yang terbaik dari dirimu.


Sesampainya di tepi jembatan, Elvarette meminta untuk ijin beristirahat sejenak. Aku tahu dia belum terbiasa dengan tempat ini, dulu kejadian ini pernah kualami beberapa abad yang lalu. Namun perlahan akan terbiasa dengan segala yang tidak biasa di sini, karena alam fana menanpilkan apa yang kita impikan sedangkan di sini menampilkan apa yang kita kerjakan. Arus sungai menjadi refleksi diri yang paling jujur dan gadis kecil itu melihat aliran waktu semasa hidup.


Kulihat dia duduk memaku menunduk wajahnya di tepi sungai. Riak mengombak merombak rasa, setetes kenangan merangkum peristiwa yang dialami Elvarette. Dia menitihkan air mata melihat kenangan buruk tentang kematian sang adik, kematian yang membuatnya sempat menggugat Sang Pencipta. Beruntung sinar rembulan menuntunnya kembali. Rembulan itu ialah pesan sang adik di alam seberang.


“Apa kau merindukan adikmu?” tanyaku.


“Tentu, hanya dia yang mau mendengarkan keanehan yang aku alami. Ketika kedua orang tuaku lebih sibuk mengejar dunia mengatasnamakan Tuhan, dia menyakinkanku bila Tuhan masih menyayangiku.”


“Lalu?”


“Setelah dia menyakinkanku untuk tetap percaya, dia pergi bersama lara yang telah lama meradang dalam darah. Dia meninggal disaat keluarga kami pecah karena keserakahan. Aku marah bercampur duka, mereka hanya memikirkan ego mereka semata dan tidak ada yang peduli dengan keadaan kami yang merana.”


“Dia tidak meninggalkanmu, namun tengah menyambutmu.”


“Kami selalu berharap, suatu saat bisa mendengar suara lonceng. Namun bukan lonceng kematian yang aku harapkan.”


“Kematian pula yang mempertemukan kita di sini, Elvy.”

__ADS_1


“Kau benar, dan saat ini aku benar-benar rindu dengan Serena.”


“Kelak kita akan menemuinya, maka mari lanjutkan perjalanan menemui pria dalam legenda.”


“Benarkah itu?”


“Aku lupa belum memberi pesan kepadamu, sebuah tugas mulia bagi semua.”


“Tugas apa Ohba?”


“Selama masih di sini, kau perlu berguru kepada orang-orang bijak.”


“Berguru? Kukira tugasku mencari jiwa yang tersesat sepertiku?”


“Aku baru tahu itu Ohba, jadi kita temui pria itu dulu?”


“Benar.”


“Lalu bagaimana dengan keretanya?”

__ADS_1


“Dia akan menyusul kita bila tugas selesai.”


“Baiklah bila begitu.”


Dia kembali bangkit dan menyeka air mata dari pipi seputih porselen. Mata birunya kembali jernih memandang jalan yang lurus, jalan penebusan dari sesal dan sesat. Aku yakin bila dia benar-benar orang yang pantas dituntun seperti kata Si Tua Khidr. Dia perlu bimbingan dan wawasan yang cukup sebagaimana Rabiah dan Teresa.


Perjalanan dilanjutkan, sebentar lagi kami sampai di kediamannya yang sederhana. Kepulan asap putih membumbung tinggi dari cerobong batu, Elvarette merasakan keberadaan sang pria dalam buku. Kini dia yang mengajakku untuk bergegas menemuinya, gemericik air yang berasal dari kincir menggema. Tepat di sana, kuketuk daun pintu coklat namun tiada balasan dari dalam.


“Permisi…”


“Apa dia keluar rumah, Ohba?”


“Entahlah, tapi asap dapurnya masih mengepul Elvy?”


“Ada yang bisa kubantu nona?” ucap pria tua berjanggut kelabu.


Dia berdiri tepat di belakang Elvarette. Diserongkan badannnya dan sontak terkejut dengan keberadaan seorang kakek yang membawa keranjang rotan, spontan saja dia bertanya “Siapa kakek?”


“Oh tuan Hallaj, maaf kami mengganggu anda.”

__ADS_1


“Hallaj? Ada dia orangnya Ohba?”


“Tentu, dialah yang kita cari Elvy!”


__ADS_2