
Hanya teratai yang mekar dari tempat yang nista.
Di sini, di kereta api hitam ini perjalananku dimulai, aku yang tengah duduk di tepi jendela kereta. Pantulan bayangan itu mendadak kabur, dari luar jendela kereta itu aku lihat pemberhentian terakhir, stasiun tempat penjaga pertama dan ketiga menunggu kedatangan kereta api yang kunaiki ini. Sebentar lagi aku akan bertemu dengan teman seperguruan, Ohba dan sang penjaga ketiga yang baru.
Kata paman Khidr, aku akan bertemu dengan mereka sebentar lagi di dalam kereta api. Kereta api hitam mulai melambat lajunya dan akan tiba sebentar lagi di tempat mereka. Kereta api hitam adalah kendaraan lintas alam dan dimensi. Kereta yang mampu melakukan perjalanan menebus ruang dan waktu. Kendaraan yang mengangkut kami, para pencari cahaya ini selalu tiba di stasiun menjemput siapa saja yang membutuhkan pencerahan. Kereta api melaju diantara lorong gelap dan melesat menuju titik terang.
Kereta api seperti kita, dia selalu membawa beban dibelakang namun tak pernah meninggalkannya. Justru beban yang dibawanya menjadikan dirinya terus maju dan memberi manfaat bagi orang lain. Sama seperti kita. Mungkin kita malu akan masa lalu kita, tetapi percayalah, semua itu akan menjadikan kita punya tujuan untuk memperbaiki diri dan memberi manfaat baik bagi kita maupun untuk orang lain. Pengalaman adalah pemicu kita menuju tujuan sejatinya kita. Mencari ketenangan dan kebahagiaan.
Aku mulai merasakan keberadaan mereka. Dua orang yang menunggu dengan sabar kedatangan kereta api. Yang pertama sudah kenal sejak lama siapa dia, namun yang kedua ini yang asing bagiku. Mungkin dia orang yang dimaksud oleh paman Khidr tentangnya. Gadis kecil yang menjadi penjaga ketiga.
Laju kereta mulai melambat dan berhenti. Kepulan asap masih membumbung tinggi di saat berhenti dan membukakan pintu bagi para penumpangnya termasuk dua orang yang kutunggu itu. Kereta hanya menunggu sebentar saja sebelum kembali melanjutkan perjalanannya. Suara sirine berbunyi tanda kereta akan berjalan lagi, roda-roda baja mulai berputar di atas relnya. Awalnya berjalan lambat, lalu perlahan putarannya mulai cepat dan bertenaga menarik gerbongnya.
Aku merasa mereka akan menemuiku, sebentar lagi mereka datang membawa cerita tersendiri yang akan kami bagikan bersama. Sebab di sini kereta adalah tempat yang cocok untuk berbagi perjalanan. Kereta semakin kencang melaju, pepohonan berubah menjadi butiran pasir yang tertiup dan terhempas oleh kereta tersebut. Langit cerah menjadi kelam, tak lagi terdengar suara bising kereta, hanya hening yang meliputi segalanya.
Kala hening tiba, dari pintu gerbong itu muncul dua orang yang masuk ke gerbong kereta nomer tiga, tempat sang gadis tersebut duduk. Seorang gadis kecil berpakaian putih berumbai dan rok putih panjang, lengkap dengan hiasan rambut berbentuk bunga lili, menempel di telinga kanan, aroma bunga lavender menyertai gadis mungil tersebut. Dan satunya adalah seorang pemuda tinggi bertopi koboi coklat usang, namun dia mengenakan jaket dan celana panjang yang serba hitam, rapi dan bersih. Wajahnya jauh lebih terang dibanding kawan seperjalannya itu. Bagiku, wajah pemuda itu tak asing.
Mereka duduk di depanku yang memperbaiki posisi kacamata berbingkai merah, keduanya duduk sesuai dengan tiket yang mereka bawa, yang kebetulan saling berhadapan dengannya. Aku mencoba mengingatnya, sosok pemuda tersebut, selang kemudian, gadis berkacamata itu ingat dengan sosok pemuda tersebut. Dia yang pernah membantu mengambilkan buku bersampul hijau muda, buku yang selalu dia baca.
"Saki, kau di sini?" tanya pemuda itu.
"Arafis, kau juga disini, sebuah kebetulan yang tak terduga, ada angin apa yang membawamu kemari? Dan siapa gadis yang ada di sampingmu itu?" balasku
"Aku, aku tengah mengantarkan kawanku yang tengah belajar ini, dia seorang penjaga yang ketiga. Oh iya, perkenalkan dia Saki Fidela, kawanku, dan dia Elvy, nama lengkapnya Elvarette Shiro."
"Perkenalan, namaku Elvarette Shiro, salam kenal."
__ADS_1
"Saki Fidela, senang bisa berkenalan denganmu."
"Sudah berapa lama kau ada di sini saki?" tanya pemuda tersebut.
"Sudah sejak lama kawanaku duduk di sini, entah berapa lama aku duduk sendiri menatap jendela kereta dengan pemandangan yang sama setiap saat." jawabnya dengan wajah dinginnya, namun masih ada secerca senyum kejujuran di sudut bibir tipisnya.
"Kau masih sama saja, Saki." Sela Arafis
"Kau juga tak berubahArafis, masih memakai topi butut itu kemana pun kau pergi."
"Sudah tentu, ini adalah topi pertamaku saat aku bertugas, tugas menjadi pembawa pesan dari Namus."
"Dan pesan-pesan yang kau bawakan ternyata tertuju pula bagiku, Arafis."
"Semua orang pasti akan mendapat pesan, tetapi yang sadar akan pesan itu hanya segelintir saja Saki, dan kau adalah sebagian yang beruntung, sebagamana kawanku yang duduk di sampingku ini."
"Kau juga termasuk nona kecil?"
"Berarti kau saat ini dalam tugas?"
"Bisa dibilang begitu Saki, Jarang sekali menemukan permata di kubangan lumpur, hanya teratai yang mekar dari tempat yang nista." Jawab Arafis
"Namun tak selamanya teratai akan abadi kawanku." Balas Elvy secara spontan.
"Itu tergantung kawanku, kau mau kopi? Elvy kau mau pesan apa?" tawarku pada keduanya.
"Aku pesan cappucino saja!" jawab Arafis
"Aku coklat hangat saja!" pinta Elvy
__ADS_1
"Baiklah, nona pelayan, kami pesan kopi hitam, cappucino dan coklat hangat, juga keripik kentang enam ya."
Lalu nona yang biasa membawa makanan di kereta itu mencatat pesanan yang diminta sang pemuda itu. Dengan senyum manisnya, sang nona mengulang kembali pesanan yang dipesan dan segera menyiapkannya. Obrolan mereka pun kembali dilanjutkan, percakapan dua teman lama yang lama tak bertemu.
"Kalau boleh tahu, kau hendak kemana Saki? Apa kau mau bertamasya?" tanya Arafis padaku.
"Entahlah, aku hanya ingin pergi saja dari tempatku, kadang kita perlu mencari sesuatu yang baru." Jawabku.
"Kau benar, lalu apa kau sudah tahu apa tujuanmu pergi?"
"Itulah yang tengah kupikirkan, tujuanku masih belum pasti, hanya buku pemberianmu saja yang menjadi referensiku tuk pergi."
"Boleh aku tebak, kau mau mencari kehidupan yang lebih baik?"
"Menurutmu?"
"Menurutku itu bagus, kau harus harus mencari jalanmu sendiri."
"Namun, aku masih bimbang dengan jalan yang aku pilih, terkadang aku ragu mana yang harus kulalui, banyak yang berkata jalan yang aku pilih adalah jalan yang salah, namun apa yang kau sampaikan padaku lebih menenangkan batinku."
"Semua mempunyai pilihan, pilihan yang kita pilih menentukan jalan kita sendiri sebagaimana jalanan liar di pegunungan, rumput yang liar perlahan menjadi tanah yang padat bila sering dilalui oleh sang pendaki."
"Kau lihat jendela itu? Setiap saat aku selalu melihat tetumbuhan dan rimbunnya pohon bergerak lalu menghilang oleh laju kereta ini. Setiap aku melihatnya, aku merasa diriku tak ubahnya seperti pohon yang aku lihat, menghilang ditelan waktu. Mengeluh hanyalah cara bagi sang pecundang, namun merenungi nestapa yang kita terima terkadang menjadi cermin bagiku."
"Kau sudah mulai paham soal itu, lalu mengapa kau masih ragu?"
"Bukankah ragu sebagian dari kunci membuka pintu?"
"Namun ragu tanpa dasar sama saja dengan tidak yakin."
__ADS_1
Tak berselang lama, nona yang membawa pesanan merekapun tiba membawa kopi hitam, cappucino, dan coklat hangat, serta beberapa kripik kentang. Gelas-gelas kertas masih mengepul asap. Di bawah jendela kereta ada board desk, tempat khusus seperti meja, disana pesanan mereka di letakkan. Hanya si pemuda itu yang langsung menyeruput pesanannya, sedang keduanya masih menunggu minuman mereka berkurang panasnya.
***