
Malam musim kemarau
Jamur merang telah tumbuh subur
Saatnya memasak panen
Kuali tembaga berisi irisan wortel, kentang, daging kambing dan bumbu rempah berpadu dalam pusaran air kaldu. Tak lupa dia menambahkan irisan jamur merang yang baru saja dipetiknya dari pekarangan rumahnya. Semerbak aroma kaldu dan rempah menggoda perutku yang sudah lapar dari perjalanan itu. Pria tua itu telaten memasak di tengah sepinya hutan, apakah dia tidak memiliki teman?
“Elvy, jangan berpikiran yang aneh-aneh!” tegur Ohba kepadaku.
“Kau curang Ohba, dari tadi kau membaca isi pikiranku!”
“Kau kira ini lomba apa? Lagi pula kau lucu kalau sedang marah, mirip seekor bebek yang kelaparan!”
“Paman, dia dari tadi meledekku!” rengekku.
“Ternyata aku salah info, kukira menjaga seorang gadis anggun, ternyata anak kecil.”
“Bicara apa sih kamu?”
“Ha…ha…ha…ha… akhirnya rumah ini dipenuhi oleh tawa lagi setelah berabad-abad lamanya tak ada yang bergurau seperti kalian ini.”
“Apa? BERABAD-ABAD!” teriakku.
__ADS_1
“Biasa saja, tidak perlu berlebihan seperti bocah.” Sindir Ohba.
Entah kali ini aku mulai merasa emosiku kembali. Perasaan hangat dan semangan yang telah lama hilang kini kembali lagi.
“Jadi aslinya kamu ini anak manja ya?”
“Ohba, jangan sekali-kali membaca pikiran orang tanpa ijin!”
“Baik-baik, aku tidak akan menggodamu dengan membaca pikiranmu lagi. Tapi kalau membaca perasaanmu boleh tidak?”
“Daripada kalian ribut, lebih baik kita makan bersama. Sudah lama aku tidak masak dengan porsi yang banyak.”
“Paman, apakah paman tidak merasa kesepian tinggal di sini sendiri?”
“Kesepian?”
“Nampaknya kau mulai berpikir kritis anakku, tapi aku suka dengan caramu berpikir. Selalu mengamati dan bertanya. Baik akan kujawab, paman tidak pernah merasa kesepian semala tinggal disini?”
“Mengapa paman?”
“Sebab orang-orang yang paman kasihi selalu ada di sini.” Ujar paman sambil menunjukkan dada dengan jari telunjukknya.
“Di sini?” tunjukku menirukan sang paman.
“Benar, orang yang kita sayangi tak pernah pergi, mereka hanya berpindah saja.”
“Berpindah dalam arti apa?”
__ADS_1
“Mengasihi itu tentang rasa, selama ada rasa tiada duka yang perlu disesali.”
“Rasa? Aku jadi teringat kata-kata dari adikku, Serena, sebelum tiada.”
Merangkai kata indah
Di musim panas yang damai
Bersama menikmati hari.
Mendadak aku meneteskan air mata. Kata-kata yang terkenang dalam benakku mengingatkan diriku padanya yang telah lama meninggal. Serena gadis yang baik, namun sayang nasibnya kurang baik. Andai aku bisa bertemu dengannya sebelum hari kematiannya, aku ingin mengatakan aku saying padanya. Dan meminta maaf sebab telah gagal menjadi kakak yang baik baginya. Andai waktu bisa diulang.
“Kau tak bisa mengulang waktu, yang bisa kau lakukan adalah mendoakannya agar dia termasuk dalam gugusan bintang di angkasa Elvi.”
“Lagi-lagi kau membaca pikiranku, tapi kuterima apa yang kau katakana Ohba.”
“Pengorbanan paling besar adalah melepaskan apa yang sayangi Elvy. Adikmu akan bangga dengan kebesaran hatimu melepasnya dengan mendoakannya. Sebab cinta tidak mengenal ruang dan waktu. Selama rasa masih ada dalam jiwa, selama itu juga cinta tetap bersemanyam dalam senyap.” Kata sang paman.
“Terima kasih atas nasehatnya.”
“Ngomong-ngomong, jika kita mengobrol saja di sini, apa gunanya aku memasak sup sebanyak ini? Ayo silahkan makan supnya selagi hangat.”
Akhirnya kami makan sup jamur merang bersama-sama. Setiap sendok yang kumakan terasa manis dan gurih. Ini pengalamanku pertama makan bersama seperti keluarga sendiri. Jarang sekali aku makan seperti ini, makanan sederhana yang diracik dengan cinta memang berbeda dibanding kata-kata manis yang sering dibuat ingkar janji. Kehangatan adalah rupa cinta yang telah lama kuimpikan bersama Serena.
__ADS_1