Elvarette Shiro

Elvarette Shiro
Episode 25: Alasan


__ADS_3

Pov: Arafis Ohba



Manusia itu unik


Dia perpaduan cahaya dan kegelapan


Dalam satu wujud



Aku memberi gambaran tentang kejadian itu. Perseteruan Azazil dan sang Cahaya membuat dirinya berani mengambil langkah nekad yang tidak pernah dipikirkan sebelumnya. Dia memilih menolak dan mengkritisi segala perkataan sang Cahaya. Maka dari sini awal perselisihan keduanya. Tak lama kemudian Elvy bertanya pada Saki dengan kebingungan yang masih mengganjal, setelah itu dia bertanya padaku.



"Kak Saki, apa ini awal kisah para pendahuluku?"



"Seperti yang kau lihat Elvy."



"Ohba?"



"Kisah ini akan panjang Elvy."



"Panjang?"



"Kisah seteru ini yang melatarbelakangi pemilihan para penjaga. Mengapa kau, dia, Dan aku terpilih menjadi penjaga."



"Dan itu yang membuat kita semua bertemu Elvy, kita dipertemukan dalam kesamaan nasib dan takdir." Ujar Saki.



"Jadi, karena Azazil kita semua dipilih?" Tanya Elvy.



"Secara tidak langsung, iya." Jawabku.



"Tidak langsung?"



"Sebab semenjak Azazil dikutuk, posisinya digantikan oleh Namus. Dia mulai berpikir untuk memberi kesempatan pada kita agar bisa memahami ciptaan sang Cahaya yang begitu dicintainya. Dan kini dia mulai menyadari penyebab sang Cahaya menyukai Kita semua."



"Alasan apa itu Ohba?"



"Bahwa manusia itu unik."



"Unik? Unik bagaimana?"


__ADS_1


"Sejatinya kita ini adalah perpaduan dari dua sifat yang saling bertolak belakang namun saling melengkapi. Manusia memiliki dua sifat semesta yaitu sifat cahaya dan sifat kegelapan dalam satu wujud."



***



Dalam gelap aku menceritakan cahaya. Sama persis seperti Namus yang menjelaskan hakikat cinta padaku di awal tugas. Cinta bukan sekadar suka semata, namun juga duka dan pengorbanan menuju kesepahaman. Berkaca pada kasus Azazil, sebagai seorang pecinta harus siap menerima apa yang terjadi, baik yang kita suka atau apa yang kita benci.



Tak selamanya yang kita suka itu yang terbaik bagi kita, Dan apa yang kita benci pun yang tercela bagi kita. Kita tidak tahu jalan takdir kecuali sang pemilik semesta sendiri, api memang lebih mulia karena mampu memancarkan cahaya, akan tetapi api tak mampu menumbuhkan benih meski benih membutuhkan cahaya.



Api terlalu kuat menerima cinta yang membumi. Sedangkan tanah bersedia merawat benih meski dirinya tidak semulia api. Dia rela dilupakan sang benih dikenal oleh para makhluk, dia tidak keberatan menerima segala elemen semesta berjumpa padanya tanpa takut atau rasa angkuh.



Nasihat dari Namus itu kini kuulang kembali pada Elvy. Elvy mengingatkan dirinya padaku yang telah lama meninggal empat ratus tahun yang lalu. Masih polos Dan belum mengerti. Di era perunggu aku merasakan kematian sebagai kegelapan yang sangat menyeramkan. Akan tetapi semua berubah saat aku berjumpa dengan Namus.



Kematian adalah awal perjalanan, setiap langkah memiliki tujuan yang penuh misteri. Aku yang seorang pendosa malah mendapat kesempatan untuk memperbaiki kesalahannya, kesalahan yang juga dilakukan oleh kaumnya. Namus yakin bila aku akan menjadi jembatan antara kaumku dengan kaumnya.



***



Saki membuka catatannya, tak lupa dia meminta Elvy membuka catatan yang diberikan tuan Hallaj. Sebelum membuka, Saki menunjukkan wajah sang pemimpin penjaga. Namus sang sayap putih adalah pengganti Azazil yang memilih kegelapan. Dia sudah berpengalaman dalam mengurus tugas yang ditinggal oleh Azazil. Selain itu, dia adalah hamba yang terbuka terhadap perubahan serta sesuatu yang baru.



Ketika Adam ditunjuk sebagai wakil dari bumi, dia punya pemikiran yang hampir sama sebagaimana Azazil. Akan tetapi, ketika Namus dan Adam bertemu secara langsung, dia menyadari kelemahan yang dia miliki. Adam pun merasa rendah diri dengan pengabdian sang Namus.




Memang keturunan Adam labil dalam menyikapi masalah, terkadang taat sekaligus sesat dalam satu kesempatan. Akan tetapi manusia itu cenderung mencari sesuatu yang membuatnya nyaman. Kenyamanan setiap insan pun juga berbeda. Tetapi ada satu yang menyamakan hati manusia, yaitu kerinduan pada jalan yang terang. Tiada yang ingin hidupnya gelap bahkan bagi seorang penjahat sekalipun.



Itu yang aku alami, aku yang dahulu seorang pembunuh pada masa abbassiyah. Membantai adalah jalan hidupku dulu. Sebagai minoritas di tengah minoritas aku bertahan dari tekanan penguasa terdahulu. Perbedaan keyakinan membuatku selalu waspada pada segala intimidasi dan pengucilan dari mayoritas yang fanatik buta. Belum lagi para pemuka dan penguasa yang lebih mementingkan urusan pribadi yang fana.



Dahulu aku taat pada guruku, guru para pembunuh orang-orang jahat. Kami membunuh dalam senyap dan cepat tanpa jejak. Dengan belati terhujam dalam jantung, lawanku menemui sang Cahaya tanpa merasa tersiksa. Awalnya aku anggap ini adalah jalan yang benar, menyingkirkan para penguasa lalim agar bisa dekat dengan sang Cahaya.



Namun ada janggal dalam setiap tindakanku. Semakin lama aku kehilangan tujuanku, dulu guruku memerintahkanku membunuh para penguasa lalim, namun kini aku harus orang-orang yang tidak bersalah. Mereka yang tak sepemahaman dengan guruku turut menjadi korban.



Aku menolak cara yang dilakukan oleh guruku, baru kali ini aku menentang orang yang paling kuhormati. Tetapi tindakan yang dilakukannya telah menebar teror dan ketakutan di penjuru negeri. Tidak seharusnya pemuka keagamaan menghalalkan segala cara demi urusan duniawi. Tidak sepantasnya menggunakan nama sang Cahaya untuk berbuat kebatilan.



Maka aku memberontak padanya. Aku tak mau menjadi penjahat berjubah pengabdi cahaya. Tetapi ada harga yang harus dibayar, nyawaku menjadi target selanjutnya. Para murid dari sang guru mencoba membunuhku dalam setiap kesempatan. Setiap saat adalah ancaman bagiku. Tidak ada tempat yang aman, bahkan dalam rumah suci sekalipun.



Ayah, ibu, dan saudara-saudaraku menjadi korban keganasan sang guru. Maka tidak ada jalan lain selain melawan. Melawan penindas yang semena-mena, jadi rencana penyerangan pun dimulai bersama orang-orang yang memiliki nasib yang sama. Pemberontakan pun dimulai.



Benteng sang guru jadi saksi pertumpah darahan antar satu sekte. Satu aliran namun beda tujuan. Lebih dari separuh pengikut sang guru telah mati dan separuh dari kelompokku mati. Sang guru berhasil kami kalahkan, namun itu baru awal kisahku. Kami dikepung oleh penguasa setempat dan mengira kami bagian dari kelompok sang guru.

__ADS_1



Kami kalah jumlah, pengepungan prajurit raja memaksa kami pasrah. Tidak Ada jalan untuk selamat selain mati berjuang. Hingga hujan anak panah menusukku dan kawan seperjuanganku. Prinsip kejujuran harus kalah dengan taktik licik. Tidak ada peperangan yang tidak menggunakan cara Kotor.



Aku mati memegang keyakinanku, aku pergi meninggalkan raga yang fana ini. Entah apa aku masuk surga atau neraka, karena aku yakin biar sang Cahaya yang memutuskan atas eksisitensi diriku. Aku tak pantas masuk surgamu, namun aku juga tak kuat dengan neraka milikmu. Maka aku hanya berharap cinta-Mu padaku.



***



Seorang pria dengan sayap putih mengembang mendatangi diriku. Sosok yang diselimuti cahaya terang mengulurkan tangannya padaku sembari bertanya namaku. Dia sosok yang ramah kala berjumpa pertama kali. Aku ingat momen itu, momen dimana dia mengajakku ke suatu tempat yang belum pernah aku bayangkan sebelumnya.



Yang dia tanyakan setelah namaku bukan apa golonganku maupun siapa aku. Yang dia tanyakan setelah itu adalah siapa yang aku percayai? Sebab setiap orang memiliki alasan untuk menemui sang pencipta. Setidaknya ada keinginan untuk berjumpa dengannya. Kemudian dia memperkenalkan dirinya sebagai Namus, seorang penjaga yang diutus oleh sang Cahaya untuk mencari jiwa yang tulus.



Dia melihat diriku yang ada kemiripan dengan pendahulunya sebelum menjadi sesat. Ada gelora api perjuangan yang terus membara membakar penindasan dan ketidakadilan. Sebab itu aku diajaknya mengurus tugas-tugas yang ada di pundaknya. Dari menjadi penjaga ketiga yang diajar oleh Pak tua Khidr, menjadi penjaga kedua yang menemaninya. Hingga akhirnya dia mengangkat diriku menjadi penjaga pertama.



Namus percaya bila aku bisa menjalankan tugasnya dengan amanah. Dia berharap ada sosok sang pengabdi sejati sebagaimana pendahulunya. Maka tugasku menjaga keseimbangan yang ada serta memberi risalah bagi mereka yang memiliki hasrat suci dalam mencari sang Cahaya.



Banyak insan yang telah diberi petunjuk, dan saat itu aku mulai bertugas. Mereka yang diberi petunjuk oleh sang Cahaya secara langsung adalah Saki dan Elvy. Mereka yang telah diberi petunjuk langsung dan berguru dengan orang-orang Saleh secara langsung pula.



Konon dengan cara ini, sumpah Azazil dalam menjerumuskan anak turun Adam dapat diminimalkan. Sebab para pengikut cahaya di era hitam bisa diselamatkan dari tipu muslihat kaum Azazil. Semoga mereka yang percaya akan ditolong olehnya dan dapat berjumpa langsung dengan-Nya seperti leluhur mereka, Adam dan Hawa.



***


"Jadi, kau diajak langsung oleh Namus?" Tanya Elvy penuh keheranan.



"Mungkin, karena aku sendiri masih belum percaya telah diajak oleh Namus sang pemimpin." Jawabku.



"Arafis, bila tugasmu menyampaikan pesan pada orang-orang terpilih berarti kita sudah direncanakan bertemu oleh-Nya?" Tanya Saki.



"Tidak ada yang kebetulan. Semua sudah menjadi bagian dari rangkaian takdir yang berjalan pada jalurnya, Saki."



"Termasuk pertemuan ini Ohba?"



"Salah satunya, iya."



"Ini menarik sekali Arafis. Lalu, bagaimana dengan Azazil? Apa dia juga telah direncanakan untuk menolak keteraturan?"



"Itu juga salah satunya. Menurut Pak tua Khidr, Azazil akan menjadi contoh nyata bagi semua makhluk. Dia ingin mengajarkan pada kita semua bahwa terang dan gelap itu perlu ada agar semesta bisa berjalan sebagaimana semestinya."


__ADS_1


***



__ADS_2