
Pov: Elvarette Shiro
Kisah sang penyesat Azazil membuatku berpikir, mengapa orang yang begitu taat bisa jatuh ke jurang yang dalam. Kemudian Ohba mulai buka cerita tentang sang penyesat tersebut pada kami di gerbong kereta.
"Mungkin diantara kalian akan berpikir mengapa Azazil yang begitu taat pada sang Cahaya jatuh ke dalam kenistaan bukan?"
"Kau membaca pikiranku lagi?"
"Sedikit, tetapi ada hal yang harus aku luruskan agar tidak ada kesalahpahaman."
"Salah paham?"
"Kalian sudah tahu tugas utama dari para penjaga bukan? Salah satunya menuntun mereka yang tersesat." Tutur Ohba
"Itu benar Arafis." Jawab kak Saki
"Iya Ohba." Jawabku.
"Lalu kalian tahu mengapa kita harus menuntun mereka?"
Seketika kami terdiam merenungkan apa yang dikatakan oleh Ohba. Lalu terang dalam bintang kami mengalami sedikit perubahan. Warnanya mulai memudar tetapi mulai menampakkan sebuah peristiwa layaknya sebuah rekaman video pengintai yang ada di duniaku. Sebuah peristiwa yang menceritakan kisah dari Azazil sang penyesat.
"Elvy, coba kau lihat bola bintangmu! Di sana telah menampilkan apa yang kita bahas tentangnya." Pinta Ohba.
Aku melihat apa yang ditampilkan oleh bintangku. Sebuah peristiwa yang belum aku ketahui sebelumnya. Kilas balik ini menunjukkan kejadian dimana Azazil masih menjadi pemimpin para penjaga sebelumnya. Sesosok pria gagah nan rupawan dengan rambut putih terurai.
"Elvy, kau melihat seseorang yang rambutnya putih panjang?"
"Iya kak Saki."
"Itulah orang yang kita bahas selama ini, dulunya dia pemimpin para penjaga. Dan dia adalah guru sekaligus kawan dari pemimpin kita, Namus sebelum dia yang menggantikan posisinya."
"Ngomong-ngomong yang mana kak orang bernama Namus?"
"Dia ada di belakangnya, oh iya kau belum bertemu dengan Namus ya?"
"Belum kak."
"Aku lupa bila kau baru pertama kali moksa. Baiklah akan kuperkenalkan siapa Namus, coba kau tengok pemuda cantik berambut perak mengkilap itu!"
__ADS_1
"Yang potongan rambutnya lebih pendek kah?"
"Iya, betul sekali. Yang rambutnya lebih pendek darinya."
"Dia cantik sekali kak!"
"Tapi dia pria tulen yang cukup disiplin namun humanis pada semua orang Elvy. Ketegasan dan keramahannya berimbang."
"Kakak pernah bertemu dengannya kah?"
"Kemarin aku bertemu dengannya, ada tugas yang harus kuselesaikan dan membutuhkan persetujuan darinya."
"Lalu hubungan antara mereka berdua itu apa kak?"
"Sangat berkaitan Elvy, sangat berkaitan."
"Berkaitan seperti apa kak?"
"Arafis, apa kau mau membantuku menjelaskannya? Kau yang paling dekat dengannya dibanding diriku."
"Ok, akan kujelasan Saki tentang mereka berdua."
"Keduanya, karena keduanya adalah mentorku saat masih menjadi penjaga ketiga."
"Kau juga pernah jadi penjaga ketiga?"
"Kita semua pernah mendapat amanah ini. Tapi kondisinya sekarang telah berubah jauh dari masaku."
"Apa kau mau menjelaskannya padaku Ohba?"
"Sudah tentu, tapi aku harus memesan secangkir kopi lagi agar lebih lancar."
"Tidak perlu repot biar kupesankan kopi dan makan malam untuk kita, tolong titip ranselku ya Ohba, Elvy!"
"Baik kak Saki."
"Ok, akan kuceritakan cerita tentang mereka berdua."
Kak Saki beranjak dari kursinya dan pergi ke gerbong lain. Dia pergi memesan minuman dan makan malam untuk kami semua. Tak lama kemudian Ohba memulai ceritanya tentang Azazil dan Namus. Menurut kisahnya, Azazil adalah orang yang paling baik diantara semua pengabdi cahaya yang ada. Dia memiliki jasa yang amat besar dari semua penjaga.
__ADS_1
***
Sebelum era emas, ada satu era yang belum tercatat dalam sejarah di alam bumi. Era itu adalah era penciptaan atau era langit. Era dimana semua kehidupan tercipta dan eksisitensi mereka telah ada. Cahaya menerangi kegelapan awal dari sebuah gunjangan dahsyat yang menyebar ke segala penjuru. Ledakan adalah awal dari segalanya.
Dari kehampaan menuju keberagaman. Cahaya mulai menyusun kehidupan dari partiker terkecil menjadi terbesar. Dari tiada kehidupan menuju kehidupan yang tersebar di penjuru sisi. Dari sini awal kisah para penjaga, kisah mengenai makhluk yang lahir dari naungan cahaya.
Sejatinya para penjaga terlahir dari cahaya dari sumber maha cahaya. Namun ada satu yang terlahir berbeda dari penjaga lain. Dia, penjaga yang pertama kali tercipta dari api. Sumber dari cahaya utama, sumber kehidupan yang terus bergerak dan berkembang seiring berjalannya waktu. Oleh sebab itu dia disebut sebagai Azazil, yang tak lain bermakna penguasa cahaya.
Setelah Azazil lahir, terciptalah sisi terang dari dirinya. Dari radiasi cahaya yang menyebar ke penjuru sudut melahirkan sosok lebih ringan dan tegas sesuai tujuan. Dialah Namus yang menjadi saudara ideologi baginya. Azazil dan Namus memiliki tugas dalam menata semesta yang baru saja tercipta. Ibarat rumah, mereka memiliki peran dalam menata mana yang harus dibenah dan mana yang harus dibedah.
Pada awalnya, Azazil seorang hamba yang taat dan setia terhadap perintah sang Cahaya sejati. Tiada tugas yang terbengkalai, tiada perintah yang tidak dibantahnya. Semua dikerjakan atas tanda syukur karena telah lahir di atas langit kelam. Dia memiliki cahaya yang sangat terang, namun masih kalah terang dibanding milik sang Cahaya sejati.
Sedangkan Namus, dia menjadi pendamping bagi Azazil dan selalu membantu apa yang hendak dikerjakan olehnya. Merekalah yang menjadi makhluk pertama yang menjadi seorang hamba. Seorang pecinta yang tulus ikhlas mengapdi tanpa pamrih dan tak ada keinginan lain selain menjalankan apa yang bisa mereka kerjakan.
Hingga suatu masa, masa dimana Cahaya hendak membuat hamba lain dari materi lain. Bukan dari api tetapi dari tanah, tanah yang selalu menopang api yang tengah membara. Awalnya tidak ada yang protes dengan keinginan sang Cahaya sejati. Namun tidak bagi Azazil, dia berpendapat bila ini adalah sebuah kesalahan. Karena dia telah melihat sendiri bagaimana watak makhluk selain api dan cahaya.
Dia melihat kekacauan dan pembantaian terjadi di mana mereka ada. Azazil melihat sendiri bagaimana mereka saling menghancurkan sesama dan semesta yang ada. Azazil melihat sendiri bagaimana mereka merusak tatanan yang ada. Dia melihat langsung dan melihat masa depan yang ada.
Apa yang disampaikannya tidak sepenuhnya salah. Sebab Azazil sendiri yang menangani segala permasahan yang ada di penjuru semesta. Dia sendiri yang memberantas kerusakan yang dilakukan oleh makhluk sebelum manusia tercipta. Dan kala itu pun Namus sependapat dengan apa yang disampaikan oleh Azazil.
Sebelumnya, bumi pernah mengalami prahara pembantaian oleh makhluk serupa binatang buas. Makhluk gahar yang gemar membakar amarah dan perpecahahan serta lingkungan. Maka untuk menghentikan semua kekacauan itu, Azazil membumihanguskan mereka agar tidak terjadi lagi darah yang mengalir sia-sia.
Bagi Azazil, menciptakan manusia adalah sebuah kesalahan yang hendak diulang. Namun bagi sang Cahaya, apa yang ditakutkannya hanya praduga semata. Sang Cahaya pasti memiliki pertimbangannya sendiri. Lalu Namus bertanya dengan kerendahan hati, dia bertanya tentang apa yang hendak dibuatnya. Membuat makhluk yang memiliki zat yang begitu rendah?
Lalu sang Cahaya berfirman tentang apa yang diragukan olehnya. Selama ini mereka melihat apa yang nampak. Selain itu, dia ingin memberi memberi pelajaran berharga tentang saling percaya. Mempercayai sesuatu yang berbeda untuk menyatakan ini sebuah keraguan itu adalah dosa yang berbahaya.
Namus yang awalnya mengikuti Azazil mulai memikirkan apa yang diserukan sang Cahaya sejati. Selama ini mereka semua makhluk selain kaum mereka pasti sama seperti mereka yang merusak. Tetapi apa mereka harus membenci mereka? Dalam benaknya dia mulai memikirkan apa yang terjadi bila dia berada dalam posisi mereka? Tetapi Azazil masih kukuh dengan pendapatnya. Dia yakin dengan apa yang dilihat dan yang dia ketahui. Dari sini awal perselisihan timbul antara Azazil dan sang Cahaya.
***
"Kak Saki, apa ini awal kisah para pendahuluku?"
"Seperti yang kau lihat Elvy."
"Ohba?"
"Kisah ini akan panjang Elvy."
***
__ADS_1