
Jembatan adalah penghubung antar ego yang berlawanan menuju sikap saling memahami…
Orang yang ada dalam buku itu akan menemuinya, itulah yang dikatakan Ohba padaku. Perjalananku dan Arafis Ohba dimulai, sebuah pencarian di batas dunia. Kereta yang kutumpangi kembali melanjutkan perjalanan menjemput mereka yang menunggu di dunia fana. Antara bimbang dan senang, aku berkesempatan berjumpa dengan orang yang begitu dekat dengan cahaya pencipta. Berjumpa dengan salah satu orang yang menempuh perjalanan ruhani hingga sanggup mengetuk langit. Tetapi, apakah aku pantas berjumpa dengannya? Sedang aku hanyalah seorang pelacur.
“Ohba, apakah aku layak menemuinya? Dia lebih mulia dibanding diriku yang hina ini!”
“Bila kau menganggap dirimu hina, mungkin Si Tua Khidr tidak menyuruhku ke sini.”
“Tetapi…”
“Sudahlah, ayo kita bergegas. Dia sudah menunggu di seberang jembatan jiwa.”
Kami meninggalkan stasiun dengan langkah kaki yang cepat. Di sini dunia selalu malam, namun kehangatan menyelimuti malam layaknya siang hari. Baik di luar stasiun di tepi jembatan. Jembatan yang tersusun dari bebatuan putih tulang menyangga asa dan penyesalan dari aliran sungai yang deras layaknya kehidupan fana.
“Tunggu aku Ohba, langkahmu begitu cepat!”
“Benarkah?”
__ADS_1
“Kalau kau benar-benar menuntunku, seharusnya berjalan layaknya seorang manusia!”
“Sepertinya kau masih belum terbiasa Elvy, mari kubimbing berjalan di sini.”
Ohba mendekatiku lalu memegang bahu dan pinggul kecilku. Dengan sabar dia menuntunku berjalan sebagaimana penghuni di sini, berjalan seringan angin. Dia berpesan untuk berpikir tenang dan merasakan apa yang ada. Perlahan namun pasti, kakiku mulai terbiasa berjalan sebagaimana dirinya. Dalam kurun waktu setengah jam aku belajar memahami lingkungan sekitar.
Aku melayang, dan merasakan apa yang belum pernah kubayangkan sebelumnya. Lalu terbesit dalam pikiranku, bisa semua orang di sini bisa melayang, mengapa masih ada jembatan di tengah sungai ini? Baru beberapa detik pertanyaan itu terlintas, tiba-tiba dia menjawab apa yang kupikirkan.
“Kau pasti berpikir mengapa ada jembatan di sini?”
“Bagaimana kau…”
“Lalu jembatan ini?”
“Jembatan ini adalah sebuah monumen bagi mereka yang merasa masih hidup atau mereka yang berhasil menemukan arti hidup.”
“Apa maksudnya?”
__ADS_1
“Jembatan adalah penghubung antar ego yang berlawanan menuju sikap saling memahami. Kadang tidak perlu menjadi sama agar saling mengerti, asal kita mau meredam sedikit saja keangkuhan dalam diri kita.”
“Lalu bagaimana dengan bintang-bintang ini? Mereka melayang layaknya kunang-kunang di tepi sungai. Apakah ini nyata Ohba?”
“Elvy, konon manusia tidak bisa menyentuh bintang, namun di sini kitalah sang bintang. Jiwa yang bersinar layaknya bintang di langit.”
“Jadi, dulunya mereka pernah hidup?”
“Tidak semua bisa menjadi terang, hanya mereka yang selalu didoakan oleh orang-orang yang mengasihinya dan mereka yang berjuang sekuat hati dan tenaga medekatkan diri pada sang pencipta.”
“Aku mulai paham tentang ini, jadi mereka adalah orang-orang pilihan?”
“Benar, kau lihat bintang yang paling terang di ujung sana? Dia yang akan kita temui, jadi ayo kita lanjutkan perjalanan.”
“Baiklah Ohba, ayo kita temui dia.”
Kami lanjutkan perjalanan yang terhenti sejenak di tengah jembatan, dia menunjukkan arah yang harus aku lalui sebelum bertemu dengannya sebelum terangnya meredup tertutup kabut.
__ADS_1