Elvarette Shiro

Elvarette Shiro
Episode 22: Ancaman


__ADS_3


Pov: Elvarette Shiro


 


Kematian bukanlah akhir


Namun awal dari kehidupan baru.


 


 


Aku baru pertama kali bertemu dengannya, dia nampak anggun dengan kacamata berbingkai merah rubinya. Perawakannya tenang nan dewasa, dia mengobrol padaku seakan kami pernah berjumpa sebelumnya. Dia tidak canggung maupun menjaga jarak, tapi justru dia memulainya dengan santai dan hangat layaknya saudara dekat. Kereta mulai memasuki lorong gelap dan kak Saki mulai melanjutkan pembicaraannya.


"Kau tahu mengapa kita mendapat bintang seperti ini?" tanyanya sambil memegang bintang terang yang menyerupai bola kelereng.


"Karena mereka memilih kita?" jawabku setahuku.


Lalu kak Saki tersenyum sambil mengusap ubun-ubunku dengan tangan kanannya, lalu dia membuka buku yang dia punya dari dalam tas kecilnya. Sebuah buku merah kecil yang sama seperti yang aku punya dan dia mulai mencarikan sesuatu di dalamnya dengan seksama dan teliti.


“Kakak sedang mencari apa?”


“Mencari benda yang kita bicarakan, nah ini dia!”


“Inikan?”


Kak Saki menunjukkan gambar bintang yang sama seperti milik kami. Kak Saki mulai menerangkan maksud dari gambar tersebut. Menurut catatannya, bola bintang tersebut adalah “Pusat data” mini yang mencangkup segala pengetahuan dan catatan kebijaksanaan dari masa ke masa. Selain itu, bintang tersebut menjadi indikator bagi sang pemilik bila ada perubahan diri.


"Itu salah satunya, namun ada yang lebih daripada itu."


"Apa itu kak?"


"Bintang ini menjadi penuntun bagi kita, dia menuntun kita apabila ada kesalahan yang pernah kita lakukan."


"Jadi, ini semacam alarm begitu?"


"Tepat sekali. Selain itu, ini menjadi kunci segala hal jika kita ragu atau tengah gundah gulana. Bila buku yang kau terima menjadi penuntun wawasan, maka bintang yang kita miliki menjadi penuntun ruhani Elvy."


"Ternyata benda ini punya banyak guna kak." ujarku


"Oh iya, apa kau sudah tahu apa saja tugas dari para penjaga?"


"Aku baru tahu sebagiannya saja kak, kira-kira menjaga orang-orang dari kesesatan."

__ADS_1


"Bagus, kau paham tugas utamanya. Namun akan kujelasan lebih terperinci soal tugas dari masing-masing penjaga."


"Baik kak."


Aku mendengarkan penjelasan soal tugas para penjaga secara terperinci. Ada tiga tugas utama dari tiap penjaga. Penjaga pertama memiliki tugas menyampaikan pesan penting bagi mereka yang terpilih, serta menuntunnya. Lalu tugas penjaga kedua adalah memberi pemberian berupa rezeki, wawasan dan kebahagiaan kepada semua makhluk. Dan terakhir adalah penjaga ketiga yang memiliki tugas mencabut nyawa bagi yang sudah waktunya serta menunjukkan jalan bagi mereka, jalur mana yang harus dilalui bagi jiwa yang bertemu dengan cahaya.


Seketika aku terdiam membisu. Wajahku mendadak berubah menjadi pucat. Gelas kosongku terjatuh ke lantai kereta saat kak Saki menjelasan perihal tugas penjaga ketiga. Jelas aku benar-benar syok mengetahui tugas utama baginya adalah mencabut nyawa. Sedangkan kak Saki nampaknya tidak kaget, lalu dia menjelaskan pengalamannya dulu. Dia juga awalnya kaget karena dulu dia juga mengalamai perasaan yang sama saat mencabut nyawa seseorang.


"Kak, apa ini benar tugas bagiku?" Tanyaku dengan nada ragu-ragu.


Aku bingung sekali dengan apa yang aku dengar. Bagaimana aku harus mencabut nyawa seseorang? Lalu kak Saki mengambil napas panjang dan menghembuskannya dengan perlahan. Tak lupa dia memperbaiki posisi kacamata merahnya. Kemudia dia melanjutkan pembicaraannya padaku dengan sabar dan tenang.


"Itu benar, dulu aku juga merasakan kecemasanmu itu, sebelumnya aku pernah berada di posisimu juga." Jawab kak saki dengan senyum manisnya.


"Kakak pernah menjadi penjaga ketiga?"


"Itu benar, aku pernah berada di posisimu pada awal debutku. Aku merasa takut kala itu karena harus mencabut nyawa orang yang tidak ingin kucabut. Tetapi ada pengalaman tersendiri bagiku, sebuah pengalaman yang sangat berharga bagi kita."


"Pengalaman apa itu kak?"


"Bahwa kematian bukanlah akhir namun awal dari kehidupan baru. Mungkin kita menganggap maut adalah musibah tetapi kita tidak tahu ada apa dibaliknya. Kematian selalu ditakuti layaknya musibah, padahal bila ingin berjumpa sang pencipta perlu melalui tahapan ini."


Heningnya kereta kala itu membuat kami larut dalam pembicaraan. Dalam pembicaraan ini aku baru tahu bila adikku pernah berjumpa dengan kak Saki. Dari ceritanya aku mulai tahu ternyata apa yang aku bayangkan sebelumnya hanya ketakutanku saja. Penjaga ketiga masih memiliki hati dalam bertindak dan berkatnya pula aku bisa bertemu dengannya walau hanya sebentar saja.  Kemudian kami melanjutkan diskusi dengan lain pembahasan


“Lalu?” Tanyaku lagi.


“Jadi, kita berdua adalah merak, yang sejatinya berharap menjadi merpati saja, hanya seekor merpati saja. Jadi tiada beban dan gunjingan dari kicau burung-burung lain Elvy."


“Tetapi kita sudah terlanjur menjadi merak kak, kita tidak bisa mundur lagi.”


“Kini kau mulai tahu jalan pikiranku sayang!”


“Kalau burung unta? Merak terlalu pendek.” Oceh Ohba seperti biasa.


“ARAFIS, OHBA!!!!” Teriak kami berdua.


“Kalian benar-benar kompak ya, he…he…he….”


Lalu kami menikmati minuman yang telah kami pesan. Dalam kegelapan pasti ada secercah terang, entah dari luar maupun dari dalam. Tak ada yang menduga bila takdir telah merencanakan segalanya. Misteri akan terjawab pada akhir perjalanan kita dan syukuri apa yang ada saat ini. Karena kita tidak tahu apa yang akan terjadi di masa depan.


 


 


***

__ADS_1


Perjalanan masih panjang, lorong gelap masih terbentang. Aku dan kak saki hanyut dalam diskusi kaya isi. Dua bintang milik kami menerangi gerbong kereta api yang masih masuk dalam lorong perbatasan alam penantian menuju alam perenungan. Alam penantian adalah tempat bagi mereka yang masih belum tenang melaksanakan kewajibannya di dunia. Ada penyesalan yang teramat sangat, biasanya mereka akan memilih menjadi jiwa yang gentayangan atau seorang pesakitan yang mengemis belas kasih dari mereka yang hidup.


Sedangkan di alam perenungan adalah tempat singgah bagi mereka yang telah siap melanjutkan perjalanan menuju tujuan akhir, namun waktu kedatangan mereka terlalu cepat. Maka mereka ditempatkan dalam alam yang digunakan untuk merenungkan apa saja yang pernah dilakukan semasa hidup. Baik itu kebaikan maupun keburukan. Mereka beristirahat sembari mengingat masa lalu serta masa depan.


Menurut catatan dari paman Hallaj, kami sebagai para penjaga memikul tanggung jawab yang besar akan keteraturan dimensi. Tugas dari para penjaga adalah menuntun mereka semua. Tiga penjaga adalah perwakilan dari tiga malaikat menurut beberapa keyakinan. Ada yang mengatakan penjaga itu perwujudan dari malaikat Jibril, malaikat Mikail, dan malaikat Izrail. Ada pula yang menghubungkan kami sebagai Brahma, Wisnu, dan, Siwa. Serta, ada pula yang mengaitkan kami pada siklus kehidupan seluruh makhluk seperti kelahiran, kehidupan, dan kematian.


Masih menurut catatan paman Hallaj, para penjaga memiliki kewajiban dan hak tergantung masing-masing tugas. Penjaga pertama berkewajiban memberi pencerahan dan menyampaikan pesan penting bagi mereka yang telah ditunjuk oleh sang cahaya. Tidak pandang bulu pesan itu turun, selama masih ada setitik cahaya dalam sanubatinya, maka mereka pantas mendapat pesan cinta dari pemilik semesta untuk menyampaikan ke komunitas mereka masing-masing atau antar golongan dengan kasih.


Sedangkan hak yang dimiliki oleh penjaga pertama adalah menyodorkan siapa saja yang pantas diberi petunjuk dan diberi pertolongan berdasarkan cinta yang dimiliki. Boleh menolong langsung ataupun melalui perantara. Selama tidak bertentangan dengan jalan takdir yang telah terukir di atas daun kehidupan. Daun yang berasal dari pohon penciptaan, tempat semua makhluk telah ditentukan jalan hidupnya.


Kemudian, kewajiban dari penjaga kedua adalah memberi pemberian berupa apa-apa yang menunjang keberlangsungan kehidupan. Semua makhluk mendapatkannya  kasih dari sang Cahaya. Dia tidak mengenal siapa saja yang pantas, sebab semua makhluk sudah dipastikan diatur kehidupannya baik yang taat maupun bejat. Tetapi bagi yang taat akan mendapat perlakuan khusus dari sang pencipta berupa rasa sayang yang tiada tara.


Penjaga kedua memiliki hak khusus berupa memberi pertolongan sebagaimana hak penjaga pertama. Pertolongan yang dapat diberikanya berupa memberi takaran sesuai kebutuhan salah satu hambanya yang dianggap layak. Takaran yang memiliki hikmah dan juga ketenangan bagi mereka yang taat dan benar-benar cinta pada sang Cahaya. Semakin sering digunakan maka semakin berkah kehidupannya.


Lalu, yang terakhir adalah penjaga ketiga yang memiliki kewajiban berupa mengakhiri sisa kehidupan para makhluknya menuju alam yang telah dijanjikan. Semua makhluk pasti akan menemui akhir perjalanan. Tidak pandang bulu, tua muda, pria wanita, kaya miskin akan merasakan kematian. Hanya saja cara untuk mengambilnya berbeda berdasarkan perbuatan yang pernah dijalani selama mereka masih hidup. Bisa berupa keheningan layaknya orang yang tertidur tanpa derita, ada pula yang berupa derita yang tidak bisa dibayangkan. Semua itu tergantung dari perbuatan masing-masing.


Sedangkan hak yang dimiliki oleh penjaga ketiga adalah memberi kesempatan pada mereka yang sudah ditetapkan meninggal untuk bertemu dengan orang yang dikasihinya. Setidaknya memberi ucapan selamat tinggal atau pesan lainnya. Juga memberi kesempatan pada mereka yang tengah berusaha memperbaiki diri dengan mengulur waktu secukupnya.


Itulah tugas para penjaga. Tiga penjaga yang memiliki peran penting dalam mengatur keseimbangan. Harmoni alam harus terjaga agar semesta berjalan selayaknya kehidupan. Ada yang baru menggantikan yang lama, yang lama membimbing yang baru. Bagi yang telah usai diminta berbagi pada mereka yang lahir. Semua itu sudah menjadi perintah sang pencipta.


Sayangnya ada yang menolak keteraturan tersebut. Mereka yang menginginkan hal yang lebih dari apa yang mereka terima. Mereka yang tergoda oleh hasrat semu akan sesuatu yang fana. Harta, tahta, dan cinta menjadi anugerah sekaligus godaan bagi manusia. Yang memanfaatkannya dengan bijak akan selamat, sedang yang serakah akan mendapat laknat.


Selain itu, kami para penjaga mendapat amanah berupa memberi nasihat kebaikan pada semua makhluk, terutama bagi keturunan Adam. Sebab ada yang memberikan nasihat keburukan pada anak-anak Adam. Dia yang telah bersumpah pada sang Cahaya untuk menyesatkan mereka ke jalan kehancuran. Dia tak lain adalah Azazil sang pengabdi sebelum menjad Azazili sang penyesat.


Kak Saki mendapat pesan dari Namus sang pemimpin Penjaga. Tugas mereka kian berat untuk kedepannya. Pengikutnya semakin banyak memenuhi bumi dengan pemikiran sesatnya. Entah mereka yang telah menjauh diri dengan mengutuk Cahaya, maupun mengatasnamakan Cahaya demi berbuat kebejatan. Tugas kami untuk saat ini adalah menyelamatkan mereka yang tersisa di masa akhir ini.


Saat ini kita memasuki era akhir dari empat masa. Keempat era itu adalah era emas, era perak, era perunggu, dan era hitam. Empat era ini memiliki kekhasan dan penandanya sendiri. Era emas adalah era dimana manusia sangat dekat dengan cahaya dalam semesta. Mereka yang berada dalam era ini benar-benar menjunjung tinggi kebaikan, moral, dan cinta pada semua makhluk. Baik yang nampak maupun yang kasat mata. Era ini menggambarkan situation awal Adam dan Hawa yang turun ke bumi dan bertemu  kembali setelahat pencerahan.


Era perak, menurut catatan paman Hallaj adalah masa dimana manusia mulai mengenal dosa dan kegelapan hati. Di era ini mulai bermunculan kaum penentang Cahaya karena merasa Cahaya telah mengkhianati mereka. Cahaya hanya memilih orang-orang yang tertentu sebagaimana Kain yang kecewa pada cahaya, sang cahaya lebih memilih Habel. Dalam literasi lain, ada pula yang menyebut Kain sebagai Qabil dan Habel sebagai Habil. Yang pasti, di era ini kegelapan mulai merasuk dalam hati anak-anak Adam. Akan tetapi jumlah para pengikut cahaya masih banyak.


Kemudian berganti menuju era perunggu, era dimana para pengikut cahaya dan kegelapan saling berhadapan. Jumlah mereka setara dan saling mendominasi agar keberadaan keduanya tetap ada. Pada era ini, mereka yang mengikuti Cahaya dapat dikenali, baik secara penampilan, perbuatan, pemikiran, maupun bentuk kecintaannya dengan nyata. Pada era ini pula paman Khidr dan paman Hallaj ada menuntun mereka yang setia pada Cahaya.


Sedangkan mereka yang memilih kegelapan juga sama. Para pengikut kegelapan mendengarkan perintah dari utusan-utusan Azazil yang menyebut diri mereka sebagai "Belis" yang terdiri dari golongan Jin dan manusia yang sudah berikral setia padanya, sang penyesat Azazil. Awalnya kedua belah pihak dapat dikenali, namun menjelan akhir era perunggu keduanya mulai sudah dikenali.


Dan yang terakhir adalah era hitam, era dimana kegelapan mendominasi dunia. Di sini tidak dapat dibedakan mana kawan dan mana lawan. Semua nampak sama karena banyaknya kaum munafik, orang-orang yang berpura-pura mengikuti Cahaya, akan tetapi perbuatannya mengikuti para pengikut kegelapan. Mereka itulah yang mengatasnamakan Cahaya dalam setiap kejahatannya. Dan bagiku, aku tahu siapa mereka yang mengatasnamakan Cahaya.


Cahaya semakin redup pada era ini, yang teguh memegang Cahaya akan ditindas oleh pengikut kegelapan dan pengikut cahaya yang palsu. Era ini yang aku dan kak Saki rasakan. Era yang mengerikan bagi kami, dari peristiwa ini pula kami nyaris kehilangan secerca harapan karena diri ini sudah terlanjur kotor. Tidak mungkin kami bisa kembali ke sisi terang sebagaimana yang dahulu. Tetapi tidak ada yang tahu akan takdir setiap hambanya.


Mungkin hanya Ohba saja yang benar-benar meninggalkan dunia. Sedangkan kami berdua adalah insan yang terpilih menjadi penjaga dalam keadaan moksa, keadaan diama kami meninggalkan alam bukan hanya ruh, tetapi juga raga dan pemikiran. Melintasi dimensi yang tak bisa ditembus makhluk lain kecuali dengan izin sang pemilik semesta itu sendiri.


Maka tugas ini harus kami lakukan agar mereka yang tertindas merasa aman dan yakin bila Cahaya selalu ada di sisi mereka. Biarkan mereka yang merasa paling benar mendapat apa yang dicari hingga ambisinya sirna oleh ketamakannya sendiri. Tugas kami melindungi dan menyelamatkan yang setia pada Cahaya hingga masa pembalasan telah tiba pada waktunya.


 


 

__ADS_1


__ADS_2