Elvarette Shiro

Elvarette Shiro
Episode 20: Obrolan


__ADS_3


Jalan yang benar itu tergantung


dari jalan yang dipilih dan dipahami


 


 


Tak berselang lama, pesanan kami pun tiba. Secangkir kopi hitam, cappucino, dan coklat hangat, serta kripik kentang dalam porsi besar untuk teman diskusi. Gelas-gelas kertas masih mengepul asap putih membawa aroma ketenangan. Di bawah jendela kereta ada board desk, tempat khusus seperti meja, disana pesanan mereka di letakkan. Hanya si pemuda itu yang langsung menyeruput pesanannya, sedang keduanya masih menunggu minuman mereka berkurang panasnya.


Kereta api hitam selalu melewati rute yang eksotis, bukit-bukit melayang terlihat jelas di balik jendela kereta. Bagiku ini adalah pemandangan yang biasa, namun bagi Elvy si gadis mungil adalah keajaiban. Lalu kuselingi ketakjubannya dengan melontarkan beberapa pertanyaan padanya.


"Gadis kecil, bagaimana kabarmu?" sapaku pada si gadis mungil yang masih menatap jendela kereta.


"Baik kak, kakak sendiri bagaimana? Aku dengar kakak muridnya paman Khidr bersama Obha?" balasnya dengan malu-malu, duduk manis sambil menggenggam kedua tangannya sendiri dengan sedikit gemetar.


Kami mulai membuka percakapan untuk pertama kali. Kulihat mata zamrudnya penuh cerita kelam, tetapi dia selalu manutupinya dengan keceriaan. Garis takdirnya memang begitu malang, keras dan penuh derita. Tetapi ada harapan yang begitu kuat akan sebuah keajaiban. Tak banyak orang yang memilikinya, bagi yang sudah terjun ke dalam kegelapan adalah barang langka. Dia masih menyimpan dua cahaya, cahaya bintang dan cahaya dari dirinya sendiri.


Si kecil Elvy punya potensi yang belum tergali, sebab itu Arafis diminta untuk mengasah kemampuannya. Namun apakah dia siap menerima kenyataan bila dia akan menjadi penjaga ketiga yang punya tugas “menyeramkan” bagi sebagian orang. Karena itu, aku mencoba memantapkan hatinya untuk siap menerima kenyataan sebagai penjaga ketiga, yang tak lain adalah pencabut nyawa. Aku memulai obrolan ringan padanya.


"Aku ingin tahu kisahmu, kira-kira bagaimana kau bisa berjumpa dengan Arafis? Oh iya, tadi siapa namamu?"


"Shiro, Elvarette Shiro kak."


"Nama yang indah, aku melihat ada kemurnian dari dirimu, tetapi aku juga merasa ada kegelapan pula..."


"Yang sama seperti kakak?" jawab Elvy dengan aura yang berbeda.


Aku tahu kemampuan dasarnya mulai terbuka tetapi dia belum sadar. Pandangan matanya mulai bersinar saat menatapku, setiap penjaga pasti bisa “membaca” apa yang tidak bisa dilihat oleh mata biasa. Arafis pandai membaca pikiran dan perasaan, aku pandai membaca takdir dan masa lalu maupun masa depan. Sedangkan si kecil Elvy, aku rasa dia memiliki kemampuan membaca jejak rekam sebagaimana para pencabut nyawa.


Mata hijaunya kembali normal, seketika Elvy sedikit bingung tentang apa yang baru saja dia ucapkan. Lalu kudekati dirinya, membelai ubun-ubunnya dengan lembut sambil memberikan pijatan relaksasi untuknya. Dia bertanya tentang apa yang terjadi, seketika Arafis menjawab pertanyaannya sesuai dengan apa yang Elvy bicarakan.


“Elvy, sepertinya kemampuanmu mulai terbuka barusan!” ungkap Arafis.


“Kemampuan apa Ohba?” tanyanya


“Sayang, kau sudah bisa membaca masa laluku. Mungkin kau tidak mengatakan semuanya, tetapi aku tahu kau mengetahuinya. “


“Membaca masa lalu?”


“Benar, kita memiliki kemampuan ‘membaca’ yang tidak dimiliki oleh orang biasa. Arafis membaca pikiran dan perasaan, aku membaca takdir dan masa lalu maupun masa depan. Sedangkan kau, aku rasa dia memiliki kemampuan membaca jejak rekam.”


"Apa aku, membaca masa lalu kakak yang ‘itu’?"


“Iya, aku tahu kau sudah tahu masa laluku yang ‘Itu’sehingga kau sedikit gemetar.”


“Maafkan aku kak karena lancing memasuki hal yang paling privat dari kakak. Maafkan aku kak Saki.”


“Tidak apa-apa, kau pasti baru pertama kali memulainya. Lagi pula ada Arafis dan catatan sakti dari paman Hallaj kan?”


“Bagaimana kakak bisa tahu?”


“Semua penjaga punya kemampuan ‘membaca’ yang berbeda, dan kemampuan itu akan terasah bila ada pendampingan dan latihan yang terus menerus.”

__ADS_1


"Terima kasih kak Saki."


Dia nampak canggung, dia masih minder melihat diriku yang lebih tua darinya. Bila aku lihat ini pertama kali baginya menganggap diriku sebagai kakak tertuanya. Sedangkan Arafis dianggapnya sahabatnya sebelum pindah ke tempat yang gelap. Untuk membuat suasana sedikit hangat, aku ceritakan langsung pengalamanku pada mereka. Cara ini setidaknya bisa membuat perasaan sedikit tenang dan mampu memahami satu sama lain. Meski pun aku bisa saja menggunakan ‘pengelihatanku’, tetapi cara lama lebih baik dan bisa mengasah kemampuannya juga.


"Sepertinya kita akan saling kenal sebentar lagi, mungkin dari kau dulu?"


"Eh baiklah. Kisahku dimulai dari rumah yang tak ingin kurindukan, seharusnya rumah adalah tempat yang membuat kita selalu rindu akan kehangatan, namun kenyataannya malah membakar kenyamanan. Lebih sial lagi ayah dan ibuku lebih sibuk mencari pengakuan dari luar dibanding dari buah hatinya. Hingga lupa bila ada kami yang rindu.


"Kau merindukan mereka?"


"Sangat rindu, terutama adikku, Serena. Kami tumbuh dalam dogma rohani yang kuat, namun sayang hanya dijadikan mantel saja, inti dari ajaran leluhur tentang hubungan antar sesama dimaknai sebagai berkumpul dengan mereka yang kastanya sama. Aku lelah bila selalu memakai topeng yang sama, seakan ini bukan diriku.


"Lalu, apa kau berusaha melepas topeng itu?"


"Benar, kulepaskan topeng kepalsuan dan semua yang membelengguku, aku lari dari semua kepalsuan masyarakat yang tak ubahnya seperti binatang ternak. Dan itulah awal kisahku masuk dalam gelap.


"Hemm... Menarik juga, kau cukup berani juga rupanya."


"Aku... Aku... Hanya ingin mencari siapa aku? Selama ini aku hanya menjadi boneka saja yang tak tahu untuk siapa aku ada."


"Kini aku mulai menemukan kesamaan diantara kita berdua Elvy."


"Maksud dari kak Saki?”


“Kita punya kemiripan.”


“Kemiripan apa?"


"Kita berdua adalah seorang pemberontak, berontak dari kedunguan yang ada di masyarakat. Mungkin ini terdengar membingungkan bagimu, namun kau sudah berani melangkah atas kehendakmu sendiri."


"Kesalahan hanyalah proses pembentukan, kelak bila kau sering melakukan kesalahan, kau kan semakin tahu bila ada pilihan yang lain. Jalan yang benar itu tergantung dari jalan yang dipilih dan dipahami."


"Lalu, bagaimana dengan kakak sendiri?"


"Kawan seperjalananmu lebih tahu soal aku, benar kan Arafis?" jawabku yang kini mengambil segelas cappuccino hangat.


"Mengapa aku? Kau yang lebih tahu kisahmu sendiri?" balas pemuda tersebut yang kaget saat namanya disebut sang gadis berkacamata.


"Karena bahasaku sedikit lugas Arafis, aku takut membuat nona kecil kita akan kaget mendengarnya." balas gadis berkacamata itu yang kini mulai bisa tersenyum, karena selama perjalanan dia belum sekalipun memamerkan senyum manisnya tersebut.


"Baiklah kalau maumu seperti itu Saki, jadi begini Elvy, dahulu dia pernah mengalami masa kelam yang sama seperti dirimu, hanya saja dia sedikit lebih liar dibanding dirimu." Ungkapnya.


“Liar? Tapi kini dia nampak anggun Ohba?”


“Terima kasih atas pujiannya sayang!” jawabku


"Dan satu lagi Elvy, kini dia menjadi utusan langsung dari Namus, pemimpin para penjaga." Imbuh Arafis


"Benarkah itu?" tanya si gadis mungil.


"Tidak juga. Aku hanya menjalankan tugas semata, lagi pula tidak ada yang lebih baik selain paman Khidr bukan?"


"Namun kau telah duduk di gerbong nomer tiga kawanku!"


"Itu hanya kebetulan saja."

__ADS_1


“Kebetulan sebagian dari takdir yang kita sendiri tidak menduganya Saki.”


“Kau terlalu berlebihan soal itu Arafis.” Jawabku yang mencoba menutup senyumku dengan tangan kanan.


“Kau juga terlalu merendahkan diri.” Balas pemuda sambil tertawa.


“Lalu alasanmu untuk pergi apa kak Saki? Dan hendak kemana?” tanya Elvy yang sedari tadi menjadi penonton, mengamati keakraban kami.


“Aku pergi untuk menjadi diriku, menjadi mimpi yang lama aku tanggalkan.”


“Maksudnya?”


"Orang bodoh akan menyalakan obor di siang hari, kemudian mematikannya di malam hari. Sebenarnya kita telah diberi sesuatu yang tidak dimengerti oleh orang umum. Kita memiliki tugas untuk menjadi cahaya kala gelap tiba, bukan menjadi penyesat bagi sesama.”


“Namun apa masyarakat akan mau menerima kita?” ungkap Elvy


"Tidak, tapi kelak mereka akan butuh, percayalah."


"Mengapa kau begitu yakin Saki?"


"Karena pengalaman! Dan juga keyakinan yang kuat atas mimpi."


"Kau yakin? Kebanyakan mereka...."


"Mengucilkan?"


"Benar sekali."


"Dengarkanlah aku dengan seksama, tatap mataku lebih dekat." Balasku sambil memegang pipi putih si gadis kecil dan menatapmya dengan lemah lembut.


"Baik kak Saki!"


"Aku sudah lama meninggalkan omongan masyarakat yang ada ditempat asalku, aku pergi untuk mencari mimpiku kala masih duduk di taman kanak-kanak, menjadi guru. Namun kini, aku mulai mengerti, aku ingin menjadi guru, bukan sekadar guru yang hidup monoton, aku ingin menjadi guru bagi diriku sendiri yang rindu akan heningnya malam."


“Guru?”


“Bukan guru formal memang, tetapi guru kehidupan. Guru yang berani mendidik dengan realita yang ada.”


“Lalu?”


“Dan kau tahu sendiri pengalaman hitamku? Pengalaman yang sama sepertimu, pernah dijual seperti barang dagangan bagi pria bejat. Kau dijual oleh ayahmu, dan aku dijual oleh kekasihku. Serta pandangan orang sekitar tentang kita yang terlanjur dicap sebagai wanita nakal. Kita pernah mengalami rasa tidak berarti.”


“Ya ampun... kau juga mengalaminya kak Saki! Kukira hanya aku seorang kak.”


“Kita pernah mengalaminya, bahkan aku pernah berupa mengakhiri hiupku dengan menjatuhkan diri dari atas gedung. Untung, paman Khidr datang menolongku dan menjadi pembimbing spiritualku sampai saat ini.”


“Kakak… aku salut padamu.”


“Kelak, kau akan menjadi sosok yang lebih baik Elvy.”


Ketika keduanya berbincang, kereta memasuki terowongan di sebuah pegunungan, perlahan cahaya kian pudar, kian redup, lalu hilang. Tersisa gelap dari dalam terowongan yang konon telah berdiri sejak lama. Panorama indah itu kini tertutup bayangan hitam sebagaimana kisah hidupku dan hidupnya. Sedangkan bagi Arafis, dia hanya mengamati caraku memberi pendampingan bagi Elvy.


Pemuda itu hanya jadi pengamat saja kala itu. Mengamati arah pembicaraan dari dua insan yang memiliki pemahaman dan riwayat hidup yang sama, sebungkus keripik kentang menjadi kawan baiknya, dibuka lalu dimakanlah keripik rasa barbeque. Dia tak peduli dengan gelapnya terowongan tua. Asal ada kudapan, semua beres.


Pembicaraan kami berdua kian intens, semakin gelap justru semakin terang arah pembicaraannya. Entah itu sebuah gagasan, keluhan, pengakuan, pengalaman maupun “pengelihatan” dari tiap gadis, termasuk soal Bintang terang yang dibawa oleh mereka. Aku memiliki bintang berwarna merah marum, sedang Elvy memiliki bola cahaya berwarna magenta. Kujelaskan fungsi utama dari benda tersebut dan cara gunanya agar tidak salah penggunaan.

__ADS_1


***


__ADS_2