
Pov: Arafis Ohba
Terkadang, orang cerdas itu
Berpura-pura bodoh
Agar orang bodoh sadar
Dari kebodohan yang mereka perbuat.
Sudah lama aku tidak mampir kemari setelah berganti posisi. Penjaga pertama memang memiliki posisi yang cukup disegani karena dekat dengan sang Cahaya dan Namus sang pemimpin. Namun bagiku ini biasa saja, tidak ada yang dibanggakan karena memang apa yang perlu dibanggakan?
Ini adalah amanat yang harus dijalankan dengan sungguh-sungguh. Karena berkaca pada kasus Azazil dan guruku semasa aku hidup, amanat sebuah jabatan adalah godaan yang paling berbahaya. Banyak insan yang jatuh ke lubang neraka karena mendewakan jabatan dan kedudukan.
Saat masih menjadi penjaga ketiga aku melihat sendiri bagaimana orang-orang yang cinta dunia dan tamak harta enggan mati dan berusaha menghindari panggilan bernama maut. Maut adalah momok bagi mereka yang takut mati dan cinta dunia, namun lain cerita bagi mereka yang telah siap menghadapi kematiannya.
Mereka yang telah siap menanti maut akan menyikapinya tenang dan ikhlas menerima apapun yang terjadi. Itu pernah terjadi pada rekanku yang kini dalam perjalanan. Dia sudah siap dijemput namun sampai sekarang maut masih sungkan menjemputnya karena keyakinannya yang sangat kuat pada sang Cahaya. Maka sang Cahaya menjadikannya wakil di dunia menyampaikan apa yang diterimanya untuk dirinya maupun untuk orang lain yang membutuhkan.
Alice Yuki, salah satu wakil di alam manusia yang bertugas melindungi para pengikut cahaya yang tersisa. Aku mengenal perempuan tangguh ini saat masih menjadi penjaga ketiga. Saat hendak menjemput dirinya sesuai daftar rombongan kereta. Namun pertemuan itu menjadi awal persahabatku dengannya, rupanya yang kujemput bukanlah dirinya namun orang yang ikut dengannya.
Dia menuntun jiwa yang tersesat di alam manusia. Mereka yang jiwanya tak punya tujuan atau mereka yang terpaksa meninggalkan dunia karena dibunuh. Mereka yang tersesat membutuhkan tempat perlindungan dan disaat yang sama dia telah diangkat menjadi wakil manusia. Dengan tempatnya dia menolong dan menampung mereka yang tersesat sampai ada yang mendoakan mereka untuk pulang.
***
Kulihat layar ponselku, waktu menunjukkan pukul sembilan dan seharusnya dia sudah sampai. Tak lama kemudian, seorang yang telah lama kukenal masuk ke kafe, seorang gadis kecil berpakaian serupa dengan Kana. Dia masuk membawa kantong kertas cokelat yang cukup besar.
Rambutnya hitam mengkilap cenderung keunguan bergelombang. Kulitnya cokelat muda mulus khas orang amerika latin. Matanya biru cerah layaknya batu safir. Wajahnya penuh keceriaan dan senyumnya menenangkan hati. Ya dia adalah Emily Sanchez, gadis yang paling disayangi Alice. Dia memberi salam dan bertanya pada Kana tentang diriku juga Elvy. Posisiku memang terhalang oleh tanaman hias dan Elvy berada di sekitar meja kasir.
__ADS_1
"Selamat pagi semua! Kak Kana, apa tamu yang ditunggu kak Alice sudah tiba?"
"Sudah, mereka ada di meja nomer tiga. Oh iya dimana kak Alice?"
"Dia masih di dalam mobil kak."
Selang beberapa lama, muncul perempuan yang aku tunggu kedatangannya. Dia membawa kantong yang sama seperti yang dibawa Emily dan totebag kelabu di tangan satunya. Warna mata jingganya yang cenderung sipit namun sorot matanya tajam. Kulit putih dan tinggi bak seorang peragawati namun berpakaian seorang koki tanpa topi. Rambut putih sebahu semakin menegaskan jika dia sosok mandiri.
"Pagi semua! Apa kawan lamaku telah tiba?"
"Kawan lama kita ada di kursi nomer tiga kak Alice! Dan dia juga membawa kawan barunya juga." Jawab kak Kana.
"Lalu dimana dia sekarang?"
"Rupanya kau di sini tuan koboi, kau mengajak kawan baru rupanya!"
"Sebenarnya dia juga akan jadi kawanmu juga. Kebetulan dia berasal dari tempat yang sama sepertimu!"
"Benarkah?"
"Benar, dan saat ini dia tengah magang sebagai penjaga ketiga."
"Wah ini pelanggaran, mengapa baru sekarang kau beritahu? Kalau begini aku harus siapkan kamar tidur untuknya!" Gurau Alice.
__ADS_1
"Ha...ha...ha... ya maaf kalau begitu, ngomong-ngomong aku membawakan sesuatu untukmu."
"Heh?"
Lalu kukeluarkan kotak hitam berukuran telapak tangan orang dewasa berwarna hitam metalik. Lalu kulempar ke arahnya dan dia pun menanggapnya dengan reflek yang cepat seperti biasanya. Kemudian dia membuka kotak tersebut.
"Ini kan!"
"Itu, aku bawakan harmonika untukmu, jadi aku sudah tidak punya hutang lagi padamu."
"Kau selalu membawa kejutan bila datang kemari. Oh iya pesananmu juga sudah kubawakan. Kira-kira kapan akan dipakai?"
"Secepatnya, karena dalam beberapa hari lagi ada orang yang harus dijemput penjaga ketiga yang baru."
"Oh baiklah kalau begitu. Aku perlu bola bintang agar kudaftarkan nomer ponselnya sekalian."
"Bagus kalau begitu, oh iya jangan lupa masukkan nomermu bila seandainya Elvy mendapati orang yang tersesat."
"Itu sudah pasti, kira-kira mana bolanya?"
Lalu kusuruh Elvy mengambil bola bintang yang ada dalam dirinya, kemudian rekanku memasukkan bola tersebut ke dalam kotak hitam persegi yang menyerupai printer portabel. Cahaya silau dari lubang masuknya nampak jelas dan selang beberapa saat keluar kartu dari bagian bawah kotak. Proses pendaftaran telah selesai dan rekanku memotong ujung kartu Dan memasukkan SIM card tersebut ke dalam ponsel.
***
Sebagai seorang mentor dan mantan penjaga ketiga, tugas yang akan dilakukan oleh Elvy cukup pelik karena berhubungan dengan masalah cinta. Orang yang akan dijemput adalah orang yang dikenal pandai mengatur perasaan dan mengatur emosinya.
__ADS_1
Dia orang yang paling cerdas dari manusia lain namun selalu menyembunyikan kemampuan hingga orang sekitar menganggap dirinya bodoh. Terkadang, orang cerdas itu berpura-pura bodoh agar orang bodoh sadar dari kebodohan yang mereka perbuat.