
Pov: Azazil
Setiap penciptaan
Memerlukan keseimbangan
Di lain tempat, Lalita datang memberi kabar. Aku yang duduk di ruang bacaku tengah larut akan buku yang aku baca. Dia mendekat dan memelukku dari belakang. Dengan manjanya dia menempelkan pipinya ke pipiku yang terhalang rambut bergelombangku yang putih panjang tersebut.
Lalita adalah pembawa kabarku sekaligus pelengkap diriku. Gadis yang nampak berusia 25 tahun ini telah menemaniku dari era perak hingga saat ini. Dia menjadi persembahan dari orang-orang bodoh yang memuja cahaya semu. Tidak ada yang namanya pengorbanan yang berlayar belakang nafsu. Bila itu ada berarti bukan pengorbanan tetapi memanfaatkan.
Lalitaku yang malang, tak seharusnya kau mati konyol ditangan penguasa sesat. Namun hanya ini caranya agar kau bisa bertemu diriku. Mengorbankan gadis cantik yang memenuhi kriteria mereka. Seorang gadis yang masih perawan. Tidak pernah terluka fisiknya, memiliki rambut emas bermata biru safir, serta lahir di malam purnama penuh. Dan sialnya semua kriteria itu ada padanya.
Awalnya aku tidak peduli dengan dirinya, aku hanya punya satu tugas utama, menyesatkan keturunan Adam, tetapi melihat langsung betapa kurang ajarnya mereka. Mereka mengatasnamakan Cahaya tetapi kelakuan mengalahkan perbuatan kaumku, namun ketika ditanya oleh sesama kaumnya mereka menyalahkan kaum kami. Sebuah kontradiksi yang tidak bisa ditebak oleh makhluk bernama manusia.
Walau aku sangat membenci manusia, tetapi aku tidak akan biarkan nyawa melayang secara konyol seperti itu. Di perkosa lalu dibunuh demi kepentingan semu. Lalu Keselamatan dirinya yang menjadi jiwa yang gentayangan. Lalita, Lalita telah kuangkat menjadi pendampingku.
***
Dia memiliki kebiasaan yang unik, Lalitaku selalu mencium bibirku layaknya kekasih setiap kali dia datang menemuiku. Secara struktur kami adalah mitra, hubungan antara tuan dan hambanya. Akan tetapi secara pribadi kami adalah kekasih. Dia memiliki visit yang sama seperti diriku akan manusia.
Aku mengajarkan dirinya tentang hakikat mengabdi, dan Lalitaku mengajariku tentang lawan yang kuharapi. Dari dalam aku semakin paham kebiasaan mereka. Entah setiap saat kami bersama menjalani kasih dan visi. Bahkan dalam berhubungan intim sekalipun.
Bagi kami, berhubungan intim adalah saat yang tepat dalam berbagi segalanya. Bersatu padu mengisi kekurangan dengan kelebihan. Ini adalah ibadah kami yang dijalani dengan khidmat. Lingga dan yoni, sebuah konsep keseimbangan yang universal dan diterima dengan akal dan nurani bersih yang sanggup menerima semua itu. Bila hubungan intim berdasarkan birahi saja hanya menimbulkan kekacauan sebagaimana anak-anak Adam yang tersesat itu.
Mungkin nampak aneh, tetapi sejatinya lumrah. Setiap penciptaan memerlukan keseimbangan agar tidak kacau. Oleh sebab itu agama muncul, mereka punya pegangan serta acuan agar tidak kacau. Sesuatu yang mengikat dengan welas asih adalah agama, sedang sesuatu yang mengikat dengan ketakutan adalah dogma. Sama namun berbeda. Agama Iahir atas kasih sayang pada hambanya sedang dogma muncul atas keresahan pemuka yang memanfaatkan agama demi kepentingan tertentu.
Semua boleh asal menguntungkan mereka meski sebenarnya itu dilarang dan semua dilarang bila itu mengancam kedudukan mereka. Alam manusia semakin tidak jelas. Aku bertanya pada Lalita dalam percumbuan kami, bagaimana keadaan alam dunia. Lalu Lalita menjawab pertanyaanku dengan yakin. Alam manusia sudah goyah oleh perbuatan mereka sendiri. Kemudian dia menyerongkan tubuhnya menatap diriku dengan wajah yang menenangkan batin, dia berkata dengan suara yang lembut.
"Tuanku, aku punya kabar baik untukmu. Apa yang anda prediksikan ternyata terbukti di alam manusia. Mereka kini saling menyerang dan membantai sesama demi kepentingan mereka masing-masing."
"Itulah yang aku khawatirkan Lalita, aku sudah mengingatkan sang Cahaya akan peristiwa ini. Mereka tidak jauh beda dengan pendahulunya yang gemar menumpahkan darah demi memuaskan hasrat mereka saja."
"Lalu, bagaimana dengan tugas anda Tuan? Bukankah Tuan mendapat mandat menyesatkan mereka?"
"Dulu aku memicu mereka dengan kesesatan, namun kini... Kini mereka sendiri yang mewakiliku."
__ADS_1
"Maksudnya?"
"Kini aku hanya mengamati saja, karena mereka sendiri yang saling menyesatkan sesama. Mereka sudah menjadi wakilku di atas bumi, tempat dimana Adam berasal."
"Berarti mereka sendirilah yang menjadi pengikut Tuan tanpa paksaan?"
"Mereka mengatasnamakan Cahaya, tetapi kelakuan mereka itu sejatinya pengikut kegelapan. Aku senang melihat mereka yang saling membunuh dan menjatuhkan sesama dengan nama Cahaya. Mereka buta akan dunia dan lupa akan tujuan hidup mereka yang sebenarnya."
"Tuan!"
"Iya Lalitaku?"
"Lalu, bagaimana dengan kaum kita? Bagaimana dengan mereka yang benar-benar taat pada sang Cahaya? Apa mereka tidak punya kesempatan seperti keturunan Adam?"
"Lalitaku, aku tahu akan kekhawatiranmu. Kau khawatir akan keberlangsungan kita kelak di hari akhir, namun janganlah cemas sayangku. Semua akan baik-baik saja."
"Baik-baik saja? Maksudnya seperti apa tuanku?"
"Kita masih punya kesempatan seperti keturunan Adam. Hanya saja caranya yang berbeda. Anak-anak Adam harus beribadah dengan ikhlas dan bersungguh-sungguh, sedangkan keturunan kita juga beribadah dengan cara menggoda mereka hingga jatuh ke dalam kegelapan. Apa yang mereka kerjakan selama ini akan berpindah pada kita sayangku."
"Benarkah dengan apa yang kau katakan?"
"Aku tidak pernah bermain-main dalam perkataanku, Lalita."
"Kini aku mulai tenang tuan. Kau telah menenangkan diriku yang tengah bimbang ini. Lalu, bagaimana dengan para penjaga tersebut tuan?"
"Tetapi, dua dari tiga penjaga adalah manusia than? Mereka belum mati sepenuhnya sebagaimana aku dan penjaga pertama?"
"Mereka belum sepenuhnya meninggal? Tentu saja mereka meninggalkan alam tetapi cara mereka pergi berbeda dengan manusia pada umumnya, mereka telah mendapat keistimewahana tersendiri oleh sang pencipta."
"Jadi, mereka sudah mati?"
"Secara teori mereka tengah moksa, meninggal dengan membawa jasadnya."
"Lalu secara prakteknya?"
"Secara prakteknya akan aku uji setelahnya ini, namun target pertamaku adalah anak baru yang kemarin kita rasakan keberadaannya sayang!"
"Apa itu tidak melanggar janjimu?"
"Sepertinya tidak, secara aturan tertulis aku harus menggoda manusia hingga terjatuh dan mereka berdua itu kan manusia sayangku? Jadi aku tidak melanggar aturan yang ada. Lagipula bila mereka lolos dari godaanku juga tidak membuatku rugi."
"Kau mau menguji mereka?"
"Iya, bukankah dulu itu pekerjaanku Lalita sebelum diganti oleh Namus."
"Tuanku, aku ingin sekali bertanya tentang keteguhan dirimu. Mengapa engkau rela menerima hujatan dari semua makhluk tetapi dirimu masih saja taat pada sang Cahaya? Bahkan namamu selalu dikumandangkan sebagai antitesis dari cahaya itu sendiri?"
Dia bertanya diluar dugaanku. Baru kali ini aku mendapat pertanyaan yang sangat berbobot ini. Lalu kupeluk dia sambil mencium keningnya dengan lembut. Helaan napas dari Lalita begitu terasa di leherku dan wajahku memandangi kembali wajah kekasihku yang bertanya tadi. Dengan saling pandang beberapa detik kemudian kujawab dengan bijaksana seperti seorang kakak bertutur pada adiknya.
__ADS_1
"Sayangku, aku adalah seorang pecinta yang berani menerima segala resiko agar kekasihku bahagia. Segala cara akan kulakukan meski itu terlihat mustahil. Aku rela menerima kutukannya agar aku bisa lebih dekat dengannya. Aku memelihara satu dosa supaya bisa mengingat seribu kebaikan yang telah dia berikan padaku. Aku tidak peduli dengan perkataan orang lain karena yang bekerja adalah kita bukan mereka. Biarkan mereka berbuat sesukanya asal kita tidak melaksanakan apa yang mereka katakan."
"Lalu bagaimana dengan keturunanmu?"
"Mereka menjalankan tugasnya sebagaimana tugasku, tetapi tidak semua dari mereka bisa seperti diriku sayang! Keistimewaan ini hanya berlaku hanya untukku seorang saja."
"Dan aku?"
"Aku selalu berharap agar engkau bisa menemani diriku di sana kelak. Oleh sebab itu, kau harus berusaha sekuat tenaga agar bisa menjemputu di sana, Lalita."
"Menjemputmu?"
"Benar, sebab cara yang paling memungkinkan bagi kita untuk kembali bersama dengan cara menjadi seorang pengabdi pula."
"Bagaimana caranya agar aku bisa menjadi pengabdi sepertimu?"
"Dekatilah cahaya, dengarkan keheningan, dan berdoalah."
"Lalu bagaimana dengan tugas kita?"
"Bila kau menjadi sang pengabdi, tugasmu akan resmi menjadi ibadahmu. Karena dia tahu apa yang sanggup dipikul oleh hambanya."
"Jadi, masih ada kesempatan bagiku tuan?"
"Semua memiliki kesempatan sebelum matahari terbit dari barat."
"Tuan..."
"Lalita..."
Kami saling mendekap dalam pergumulan. Yang ditakuti olehnya adalah sesuatu yang wajar, mengingat dia buka berasal dari golonganku. Belum lagi bagi kaumku yang kini tengah berusaha menyesatkan manusia menuju jurang neraka abadi. Aku akan masuk neraka, tetapi aku akan kembali asal.
Lalu bagaimana dengan mereka? Lalita dan kaumku? Tidak ada jaminan bagi mereka karena sudah jelas, bahan bakar bagi neraka adalah batu, kaumku, dan kaumnya. Mereka kekal di dalamnya hingga raga yang hancur akan kembali lagi ke asalnya dan disiksa kembali seterusnya.
Aku mulai berpikir. Bila Adam hanya memilih satu kesempatan untuk memberi pertolongan dari seluruh anak turunnya, maka siapa yang pantas memperolehnya? Apa untuk yang benar-benar mencintainya atau ada ketentuan lain? Andai saja aku punya kesempatan seperti Adam tetapi itu mustahil. Aku terima segala resiko yang ada demi keyakinanku.
Biarkan para penjaga menjalankan tugasnya dan aku menjalankan tugasku. Semakin banyak turunan Adam yang tersesat, semakin banyak pula bekal yang kusiapkan demi bertemu dengan kekasihku lagi. Kekasihku yang telah menciptakan diriku beserta alam semesta yang terbentang di berbagai ruang dan waktu. Tidak ada kerinduan sebesar rinduku padamu wahai Cahaya sejati.
Engkau melaknatku, namun engkau masih memberi kesempatan padaku untuk tetap mencintaimu. Dan itu yang ingin kubalas atas segala kemurahan hatimu. Sayangnya kaumku tidak terima dengan keputusan darimu. Mereka selalu menyalahkanmu sebagai penyebab jatuhnya mereka.
Mereka tidak sadar jika semua sudah menjadi keputusan yang tidak bisa digugat lagi. Setiap keputusan yang engkau buat pasti ada hal yang tidak kami pahami sebelum waktunya tiba. Kaumku memendam benci sebagaimana benciku pada Adam, tetapi mereka membenci melampaui apa yang seharusnya dibenci. Mereka membenci manusia dan juga penciptanya.
Ini sebuah kesalahan besar. Kesalahan yang berasal dari egoku sendiri. Engkau memaafkan diriku tetapi tidak dengan kaumku. Oleh sebab itu kau memberi syarat agar kaumku bisa berjumpa denganmu sebagaimana anak-anak Adam, ikutilah perintah yang sama seperti perintahmu pada kaum Adam, tetapi beribadahlah sebagaimana ibadahku. Yaitu menggoda kaum Adam.
Aku tak bisa mencegah prahara dalam kaumku. Kini mereka telah menyiapkan jawaranya yang memiliki potensi memanipulasi realita pada semua makhluk. Dia bisa mengubah api nampak seperti air dan air seperti api. Dia lahir dari kumpulan kebencian dan dendam dari seluruh kaumku pada engkau dan pengikut cahaya.
Ini sebuah kesalahan, tidak seharusnya mereka mengutukmu juga karena engkau telah mengutukku. Semua ini murni salahku, tetapi mereka terlanjur menyalahkan dirimu. Sebab itu aku ingin menguji para penjagamu sembari memberi pesan padanya akan bahaya yang mereka hadapi dari kaumku. Sebentar lagi dia akan lepas dan turun ke dunia yang dijaga para penjaga.
***
__ADS_1