
Perjalananmu akan menjadi guru terbaikmu.
Seperti kereta yang tetap melaju
Diantara lorong gelap
Dan melesat menuju titik terang.
Kami berpamitan pada sang paman atas tumpangan dan wejangan selama ini. Aku senang bisa belajar banyak pada orang yang sederhana namun sejatinya seorang legenda. Ohba membuka ponselnya dan menatap angka digital yang terus berubah. Rupanya waktu menunjukkan jam tujuh malam. Kereta api akan segera tiba di stasiun.
“Paman, kami harus pergi sekarang. Aku masih ingin di sini, belajar banyak hal yang belum pernah aku ketahui.”
“Kau akan tetap bisa belajar nak, perjalananmu akan menjadi guru terbaikmu.”
“Tapi aku masih butuh penuntun untuk menjelaskannya.”
“Penjelasan akan muncul seiring dengan berjalannya waktu, kau akan paham bila kau mau membuka hati dan pikiran dalam setiap perjalanan. Lagipula, kau masih punya Arafis yang akan menjelaskannya Elvy.”
“Tapi Ohba orangnya pendiam paman, jarang bicara seperti patung di tamannya paman Khidr.”
“Hah…. Patung?” tanggap Ohba.
“Meski dia pendiam, dia bisa menjadi guru dan kawan yang baik bagimu.”
“Dan juga pandai membaca pikiran, aku malah jadi takut paman.”
“Tenang Elvy, aku jarang membaca pikiran bila tidak ada yang benar-benar penting, selain itu kau kan jarang berpikir?” goda Ohba.
“Tuh kan paman, Ohba jahili aku…”
“Ha…ha…ha…ha… kalian berdua nampaknya cocok jadi kakak adik, oh iya ada sesuatu yang ingin paman berikan padamu.”
“Apa itu paman?”
“Sebentar, paman ambilkan kertas dan buku sebentar. Tunggu di sini.”
“Baik paman.”
Paman Hallaj mengambil secarik kertas putih gading, ukurannya kira-kira seukuran kertas A5 dan menuliskan rangkaian kata serta diagram melingkar dengan huruf persia. Kemudian sang paman menyelipkan lembaran itu ke dalam buku merah yang tidak terlalu tebal namun nampak mewah dan kokoh. Buku yang diselipkan tersebut rupanya catatan diskusi yang kami obrolkan saat pertama kali bertemu hingga menjelang perpisahan.
__ADS_1
“Elvy, paman berikan catatan yang paman buat untukmu, di dalam buku ini ada banyak bahasan yang mungkin kau belum pelajari. Selain itu, ada sebuah diagram yang menjelaskan tentang kehidupan dan misteri yang belum kau ketahui. Cukup sebutkan ‘alef’ maka pertanyaanmu akan segera tergambar dalam kertas ini.”
“Wow, apa ini sama seperti mesin pencari di internet?”
“Lebih dari itu Elvy.” Jawab Ohba.
“HAH…”
“Itu benar. Terimalah dan carilah jalanmu nak.”
“Terima kasih paman, aku akan mencari jalanku. Selain itu, mohon doanya paman.”
“Tentu paman akan mendoakanmu selalu nak, kau sudah paman anggap seperti anak sendiri, Elvy.”
“Dan paman juga kuanggap seperti kakeku sendiri. Dia selalu menceritakan cerita menarik sepertimu sebelum dia meninggal.”
“Semoga kau berhasil nak. Arafis, tolong jaga dia juga dan titip salam untuk kawanku Khidr bila kau berjumpa dengannya.”
“Baik tuan, akan kujaga dia dan kusampaiakan salammu padanya.”
Ohba memohon ijin pada sang paman, aku juga ikut berpamitan. Paman senang karena telah didatangi tamu jauh dari dunia seberang. Tak lupa dia menitipkan salam pada sahabatnya, paman Khidr yang ada di tempat biasa. Paman Hallaj berharap bisa menemui kawannya itu suatu saat nanti. Lalu kupeluk dia seperti memeluk kakekku yang telah lama berpulang. Paman Hallaj sudah aku anggap seperti kakekku sendiri yang selalu bertindak dan berkata apa adanya.
Tak lama kemudian Ohba menerima telepon. Rupanya Paman Khidr menghubunginya sebelum berangkat. Sebuah kebetulan yang tak terduga, baru saja dibacakan sudah langsung menghubungi. Langsung saja pemuda jangkung itu mengangkat teleponnya dan berbicara seperti biasanya.
“Kami mau berangkat ini, oh iya kau dapat salam dari tuan Hallaj.”
“Benarkah? Salam juga untuknya.”
“Hei, baru saja kami membicarakanmu dan tiba-tiba kau menghubungi langsung. Kau sengaja ya?”
“He… he… he…”
“Siapa itu Ohba?” tanyaku.
“Si tua Khidr, baru saja kita bicarakan dia sudah menelepon sendiri!”
“Benarkah? Bolehkah aku meneleponnya sebentar?”
“Tentu saja, sebentar. Hei, kau dicari seseorang, seorang gadis pendek ingin meneleponmu!”
“PENDEK?” Gerutuku.
“Bercanda, sebentar ini buatnmu, tapi kalau sudah kembalikan.”
“Iya, aku juga tahu Ohba… Halo paman, apa kabar?”
__ADS_1
“Elvy, paman selalu baik-baik saja. Bagaimana denganmu?”
“Aku juga baik paman, aku baru saja bertemu dengan orang yang sangat bijak sepertimu paman, aku senang bisa berjumpa dengannya. Dia sangat baik dan penyayang, juga masakannya enak sekali paman.”
“Syukurlah kalau begitu. Oh iya paman punya kabar baik untukkmu dan juga untuk temanmu Arafis.”
“Kabar apa itu paman?”
“Sebentar lagi kau akan bertemu dengan pendahulumu, muridku juga yang sekarang menjadi penjaga kedua.”
“Penjaga kedua? Apa maksud paman Fidela?”
“Lebih tepatnya Saki Fidela, dia muridku dan dia punya kisah yang sama sepertimu nak.”
“Benarkah?”
“Tentu, tanya saja pada Arafis.”
“Kau kenal dengannya, Ohba?”
“Sangat, dia gadis pandai yang selalu memakai kacamata merah dan suka membaca buku dan menikmati kopi.” Jawab Ohba.
“Paman, kira-kira kapan aku akan bertemu dengannya?”
“Sebentar lagi kau akan bertemu di kereta api yang kalian naiki. Sekarang dia akan sampai di Stasiun tempat kalian menunggu.”
“Sungguh, kalau begitu kami akan bergegas ke sana paman. Ohba ini teleponmu kita harus bergegas. Paman Hallaj, kami kami pergi dulu. Aku akan menemuimu lagi untuk mendengar ceritamu.”
“Tentu. Paman akan menunggumu.”
“Terima kasih atas kabarnya, kami akan ke stasiun sebentar lagi.”
“Baiklah.”
Sebentar lagi kami akan bertemu dengan penjaga kedua dan teman seperguruan Ohba. Seseorang yang mahir dalam membaca tafsir waktu dan takdir. Kata paman Khidr, kami akan bertemu dengannya sebentar lagi di kereta api yang kami tunggu. Oleh sebab itu kami harus bergegas ke stasiun sebelum terlambat. Kami memberi salam pada paman Hallaj dan pergi melanjutkan perjalanan. Ohba memintaku mempraktekkan latihan yang tadi kulakukan. Terbang dan melesat menuju tempat tujuan. Kereta api hitam itu konon akan tiba sebentar lagi.
Kami telah tiba di stasiun menunggu kereta yang sebentar lagi datang. Aku teringat cerita dari paman Khidr tentang kereta api. Kereta api hitam adalah kendaraan lintas alam. Kereta adalah perwujudan dari perjalanan ruang dan waktu. Kendaraan yang mengangkut para pencari cahaya ini selalu tiba di stasiun menjemput siapa saja yang membutuhkan pencerahan seperti aku dan para pendahuluku. Kereta api melaju diantara lorong gelap dan melesat menuju titik terang.
Kereta api seperti kita, dia selalu membawa beban dibelakang namun tak pernah meninggalkannya. Justru beban yang dibawanya menjadikan dirinya terus maju dan memberi manfaat bagi orang lain. Sama seperti kita. Mungkin kita malu akan masa lalu kita, tetapi percayalah, semua itu akan menjadikan kita punya tujuan untuk memperbaiki diri dan memberi manfaat baik bagi kita maupun untuk orang lain. Pengalaman adalah pemicu kita menuju tujuan sejatinya kita. Mencari ketenangan dan kebahagiaan.
***
__ADS_1