
Kau takkan kembali, karena kembali menambah luka.
Tetaplah melangkah, walau kenangan merayu jiwa.
Karena kereta selalu berjalan searah harapan.
Entah menyimpang ataupun gempita.
Di gerbong kereta, aku masih asyik membuka lembaran buku dari paman Khidr, aku membaca buku yang dia bawakan dari kampung halamannya, di sebuah desa yang dialiri sungai Jordan. Buku tentang memahami hati itu menjadi kenangan yang berharga bagiku. Kedua mataku masih fokus melahap setiap kata dari buku bersampul hijau muda, tak peduli berapa jam yang terbuang, duduk sendiri di tepi jendela kereta.
Ketika asyik membaca, telepon genggamku berdering. Telepon lawas dengan model candybar biru toska pemberian kawanku Arafis bergetar cukup kencang untuk memecah konsentrasiku dalam menikmati buku. Kubuka ponselku dan aku benar-benar kaget, paman Khidr meneleponku. Dia meneleponku dengan suara khasnya yang berat-berat serak.
“Halo Saki, bagaimana kabarmu di sana?”
“Aku baik-baik saja paman. Oh iya bagaimana kabar paman di kebun? Apa bunga yang kutanam telah mekar?”
“Dia sudah mekar nak, sangat cantik sepertimu.”
“Ah paman ini, selalu saja menggodaku seperti anak kecil.”
“Bagi paman, kau sudah seperti anak kandung paman sendiri Saki, oh iya paman punya kabar baik untukmu.”
“Kabar baik apa paman?”
“Apa kau sudah bertemu dengan Namus, nak?”
“Sudah paman, dia pria yang sangat sopan sekali. Kami mengobrol banyak tentang alam manusia dan malaikat. Perbedaan dan persamaan yang dapat kita ambil pembelajaran bagi kedua pihak. Oh iya aku dapat salam darinya untuk paman.”
“Benarkah? Kalau begitu kuterima salamnya dan kirim salam balik baginya.”
“Baik paman.”
“Saki?”
“Iya paman?”
“Kau masih ingat dengan posisi penjaga ketiga?”
“Penjaga ketiga? Aku masih ingat paman, apakah sudah ada penggantinya?”
“Sudah, dan mungkin ini akan jadi kabar baik tambahan bagimu.”
“Maksudnya?”
“Setidaknya posisi ‘si pendek’ sudah berganti pada adik seperguruanmu.”
“PAMAANNN…”
“Paman bercanda, kini kau punya adik perempuan untukmu.”
“Jadi penjaga ketiga yang sekarang itu perempuan? Syukurlah kalau begitu. Akhirnya aku punya teman, oh iya kira-kira siapa namanya paman?”
“Namanya Elvy, nama lengkapnya Elvarette Shiro.”
“Elvy, nama yang cantik sekali paman.”
“Dan dia juga sama sepertimu, Saki Fidela.”
“Benarkah paman?”
“Itu benar, dia juga mengalami mimpi buruk sepertimu di usia dini, kira-kira di usia 14 tahun dia harus menelan kenyataan pahit.”
__ADS_1
“Kasihan sekali dia paman. Siapa yang tega melakukan hal sekeji itu?”
“Kau takkan menduga bila yang melakukannya adalah ayahnya sendiri.”
“APA? KURANG AJAR SEKALI DIA…”
“Kita tidak pernah tahu tentang takdir nak.”
“Paman benar, aku juga tak pernah menduga bila dulu aku juga pernah dijual oleh orang yang pernah kucintai.”
“Oleh sebab itu aku memintamu untuk membantunya. Arafis membantu dalam kebijaksanaan dan engkau membantunya dalam kepekaan hati.”
“Baiklah paman, aku akan membantunya.”
Aku masih mengobrol dengan paman Khidr tentang penjaga ketiga. Dia memiliki latar belakang yang serupa denganku yang kelam, hanya saja usianya lebih muda dibanding diriku dan satu lagi, dia lebih “pendek” dariku. Kata terakhir soal “pendek” rupanya menggodaku, karena saat itu yang paling pendek adalah aku. Jadi aku bersyukur ada yang lebih pendek daripada aku.
Dia, si gadis yang telah lama dibicarakan oleh paman Khidr yang akan membantu kami. Setidaknya kami ada tambahan tenaga dalam mengajak manusia kembali ke cahaya. Selain itu, tambahan personel ini bisa menjadi amunisi baru untuk menghadang serangan dari azazil sang penyesat. Aku ingin bertemu dengannya, bertemu dengan gadis yang memiliki nama Elvarette itu secara pribadi. Mungkin saja dia bisa jadi adikku.
“Paman, kira-kira kapan aku akan menemuinya?”
“Kau akan menemuinya sebentar lagi.”
“Sebentar lagi?”
“Sekarang dia bersama Arafis, mereka berpamitan dengan si bijak Hallaj dan akan menaiki kereta yang kau naiki.”
“Mereka bersama Tuan Hallaj? Aku juga ingin berjumpa dengannya paman.”
“Kau akan berjumpa dengannya bila tugasmu selesai, lagi pula kau juga sudah mendekati masa liburanmu?”
“Benar juga sih, paman.”
“Tenang, sebentar lagi dia akan membantumu juga.”
“Aku jadi penasaran sekali dengannya paman.”
“Terima kasih paman, dah…”
“Dah… sampai jumpa nanti, saki.”
Setelah selesai menelepon dengan paman Khidr, aku menyandarkan kepala yang lonjor dan kecil ini di dinding kereta, dagu meruncing kecil, serta memiliki wajah putih pucat. Sangat kontras sekali dengan rambut coklat keemasannya yang menyala terang bagai obor di malam hari. Kemeja violet berlengan panjang dan rok panjang menutup tubuh kurus tinggiku ini seperti bunga anggrek malam.
Di luar jendela kereta, aku membanyangkan si kecil Elvy, saat aku menatap rimbunnya pepohonan bergerak layaknya bayangan yang tersapu angin lalu menghilang ditelan waktu. Sejenak aku menoleh menatap jendela kereta yang lama melaju. Dari pantulan kaca jendela, aku rapikan rambut yang kukepang ini. Model rambut ini mengingatkan diriku yang masih polos menatap dunia sebelum terjatuh di jebakan kegelapan. Teringat aku akan salah satu paragraph yang baru saja aku baca, kira-kira seperti ini maksudnya:
“Bayangan, oh bayangan, bayangan dirinya yang seakan berbicara padanya akan masa lalu yang dia alami, sebuah kekhilafan yang seharusnya tidak dia lakukan kala itu. Andai dia tahu bila kawan yang dekat kadang menjadi serigala yang siap menerkam domba di gelapnya malam. Dan kini domba itu tak bisa kembali lagi, baik ke gembala maupun pada kawanannya.”
***
Mendengar riwayat hidup Elvi membuatku ingat dengan masa laluku. Bila Elvy jatuh karena kasih sanyang dan hormatnya pada orang yang terkasih, aku jatuh karena orang yang aku cintai. Cinta memang buta, tapi buta karena cinta menandakan cinta tersebut hanya hawa nafsu yang tengah menyamar. Dan sesal itu tiba aku berada di ujung tanduk, dulu sekali. Kesedihan yang teramat sangat, hingga keinginan untuk mengakhiri kisah, berharap semua akan berakhir.
Di ujung baik dan buruk, antara khayal dan nyata, aku mencoba melakukan upaya bunuh diri dengan cara terjun dari gedung, namun sesuatu yang janggal terjadi. Aku melayang di angkasa malam, seketika tubuhku dilapisi selubung cahaya membentuk bola. Perlahan tubuhku menjadi polos, tak mengenakan sandang di tengah gelap. Kupikir diriku telah ada di alam pembalsan. Dan kupikir aku akan masuk ke dalam neraka sebagai mana dongeng yang aku dengar waktu kecil.
Dalam ruang hampa tersebut yang penuh misteri, aku mendengar bisikan yang asing menggema dalam ruangan. Bisikan itu memberi petunjuk soal apa yang terjadi. Selubung yang menjadi ruang hampa tersebut yang tercipta dari kesadaran. Lalu, sesosok pria tua berpakaian krem datang dengan penampilan khasnya, rambut berantakan dan janggut lebat berwarna kecoklatan. Dia datang membawa mantel lusuhnya yang sama dengan warna janggutnya dan bertanya padaku.
“Hai anakku, mengapa kau ada di sini?”
“Aku sendiri juga tidak tahu paman? Apakah paman ini malaikat pencabut nyawa?”
“Pencabut nyawa? Kau pasti bergurau, aku hanya orang yang numpang lewat saja. Oh iya, ini ada mantel buatmu agar tidak kedinginan. Kau pasti baru pertama kali ke sini.”
“Kalau paman bukan malaikat? Lalu paman ini siapa? Dan mengapa….”
“Kau ada diantara hidup dan mati, dan mengapa kau tak berpakaian? Itu karena jiwa tak pernah mengenakan apa-apa selain keyakinan dan rasa pasrah. Bila berpakaian berarti masih ada kesombongan dan ambisi dalam dirimu.”
“Jiwa? Dan paman sendiri?”
“Hanya pria tua yang numpang lewat saja, ayo pakai mantel ini sebelum kau kedinginan!”
__ADS_1
“Baik paman, kalau boleh tahu siapa paman, eh maksudku nama paman?”
“Panggil saja aku Khidr, dan kau nak?”
“Namaku? Saki, Saki Fidela paman.”
“Saki, nama yang bagus untuk gadis sepertimu. Kau mau ikut denganku Saki?”
“Ikut kemana?”
“Memasak sup jagung, di rumahku ada sup, dan mungkin kau lapar.”
“Maaf paman, tapi…”
“Oh aku paham, kau masih trauma dengan para pria ya?”
“Hah, bagaimana paman bisa tahu?”
“Anggap saja paman hanya asal menebak saja, karena biasanya orang yang ke sini punya masalah dengan hidupnya, baik kekalutan, krisis jati diri, pengkhianatan, maupun upaya bunuh diri. Mungkin kau ada dalam salah satunya.”
“Sebenarnya paman ini apa? Apa paman yang memberi suara bisikan tadi?”
“Bukan, suara paman sedikit berat dan tak cocok buat berbisik-bisik, itu adalah suara dari hati nuranimu yang lama tak berjumpa.”
“Suara nuraniku?”
“Iya, dan paman di sini hanya sebagai perantara saja. Paman hadir untuk membimbing jiwa yang berkelana.”
“Paman Khidr, tolonglah aku.”
“Tolong apa?”
“Tolong aku untuk mencari ketenangan.”
“Ketenangan? Tentu saja. Tapi ketenangan apa yang ingin kau cari?”
“Ketenangan dalam mencari arti hidup, aku ingin mencari apa tujuan hidupku yang kacau ini. Aku sudah hancur sejak mengenal orang yang aku cintai memperlakukan diriku seperti barang yang bisa dijual. Aku menyesal mengenal dirinya dan sangat terpukul atas perbuatan orang-orang di tempat asalku.”
“Kau… maaf memotong, apa maksudmu kau dijadikan sebagai, maaf, seorang wanita penghibur?”
“Lebih daripada itu, selain sebagai pelacur, aku dijadikan pecandu barang haram seperti ekstasi dan morpin. Dan aku kacau karena itu paman.”
“Wah, berat juga ini.”
“Oleh sebab itu aku ingin melepas ketergantungan ini, namun sia-sia. Maka aku memutuskan untuk mengakhiri ini semua.”
“Dengan terjun dari lantai paling atas?”
“Benar, sebenarnya bagaimana paman bisa membaca isi pikiranku?”
“Semua tertulis jelas dalam kelopak matamu nak, mungkin aku bisa menuntunmu menuju apa yang kau harapkan itu nak?”
“Benarkah?”
“Benar, tapi sebelumnya kau harus membersihkan dirimu dulu. Serta akan kucarikan pakaian yang layak bagimu.”
“Terima kasih banyak paman.”
Singkat cerita, dalam ruang hening tersebut aku berkenalan dengannya dan menuntunku keluar. Dalam kebingungan diri aku ikut dengan Paman Khidr. Belajar dan bertanya akan sejatinya kehidupan. Selama dua tahun aku mengikuti kesehariannya sebagai penjual bibit bunga, kadang sebagai petugas kebersihan. Dia selalu memberi cerita dan nasihat padaku saat senggang atau saat makan.
Hingga suatu hari, aku disuruh menemuinya di taman memandang bintang di langit. Dia mengambilkan dua bintang di atas langit malam dan menawarkannya padaku. Saat itu aku harus memilih satu dari dua bola cahaya yang berpijar sebagaimana permintaan paman Khidr, memilih bola cahaya yang merah atau biru. Lalu aku memilih bola yang berwarna merah, bola itu bersinar semakin terang hingga tak sanggup mata melihat.
Kemudian sinarnya meresap dalam tubuhku, tubuhku terasa hangat dan nyaman. Pikiranku terasa lapang dan dada tak memiliki beban. Kemudian aku mendapat tugas untuk melakukan sebuah perjalanan rohani yang kini tengah dijalankan oleh Elvy. Merangkai kisah dari setiap perjalanan yang kulalui dan mengabadikannya dalam goresan pena yang diberikannya padaku. Khidr juga telah menghubungi kawannya yang bernama Namus di tempat tujuan. Dia telah menyiapkan segala akomodasi dan keperluan yang kuperlukan.
Dan di sinilah, awal mula perjalananku, aku yang tengah duduk di tepi jendela kereta. Pantulan bayangan itu mendadak kabur, lalu pemandangan sesungguhnya dari luar jendela kereta itu menjadi apa yang harus dia lihat.
***
__ADS_1