Elvarette Shiro

Elvarette Shiro
Episode 11: Kelam


__ADS_3

Pada akhirnya, semua akan berubah!


Mereka telah menduga bila aku mendapatkan pesan dari sang cahaya. Sekarang tinggal keputusanku memilih, menjadi penjaga seperti Ohba dan temannya. Keesokan harinya, aku menceritakan keresahan hatiku yang gundah gulana, termasuk kisah kelam hidupku yang membuat diri ini enggan mempercayai manusia.


“Nak, apa yang membuatmu merasa resah?”


“Aku teringat dengan adikku dan masa laluku, aku malu untuk mengakuinya.”


“Ceritakan seperlunya bila engkau merasa malu anakku, di sini rahasia selalu terjaga layaknya batu di dasar samudra.”


“Tapi, apa kalian mau mendengarkan kisah hidupku yang begitu nista?” “Nista adalah salah satu jalan menuju suci anakku.”


“Tenang Elvy, kali ini aku tidak akan membaca pikiranmu sebelum engkau sendiri yang menceritakannya.” Ujar Ohba.


“Baiklah, akan kuceritakan kisah kelamku sebelum bertemu paman Khidr. Semua bermulai dari kehilangan adikku, Serena.”

__ADS_1


***


Hujan derita masih terus membasahi jalan beraspal itu, hilir mudik manusia mencoba lari dari kenyataan semakin kencang berlari saat hujan mulai reda. Hanya segelintir saja yang masih menemani kesunyian malam, saat itu, aku berteduh dengan payung mungil bertepi rumbai melambai menunggu kereta api. Maka bergegaslah aku masuk ke dalam stasiun dan menutup payung yang aku pakai.


Saat itu, jam taman tua dekat stasiun itu menunjukkan pukul 21:15 dengan lonceng kuningan yang menggema mengingatkan manusia bila malam telah bosan melihat kesibukan anak adam yang lupa waktu. Namun entah mengapa jam tua itu merasa enggan untuk mengusirku, seorang gadis kecil berpakaian serba putih, jam tua itu tahu kisah pilu yang kualami yang saat itu masih berambut sebahu.


Malam selalu pandai menyembunyikan kisah sedih nan pilu, sebagaimana kisah kelamku, gadis cilik yang selalu mengenakan pita merah di rambut merah. Pita merah berbentuk bunga lili itu yang setidaknya memberi harapan akan mimpi indah, walau diatas rambut merahku ini penuh dengan kenangan buruk yang berkobar layaknya api. Aku harus mau menerima kenyataan pahit yang menimpa diri ini, seorang gadis yang kehilangan cinta dan kesuciannya.


Bila anak seusiaku dulu dapat tertawa lepas bersama orang tuanya, yang selalu ada disamping mereka kapan saja dan dimana pun berada. Aku harus puas dengan apa yang dia miliki, janji hampa dan dusta. Hanya kedua itu saja yang selalu menemaniku menjalani hidup yang palsu ini. Janji-janji yang dulu diucapkan oleh orang tuaku itu sebenarnya hanya gulali pahit agar aku dan Serena mau jadi gadis penurut.


Aku sudah terbiasa dengan dusta yang orang tuaku maupun lingkungan sekitar. Ibu berdusta bila ayah bekerja, meski nyatanya sang ayah berpisah dengan si ibu karena tak tahan perbedaan pendapat dalam berumah tangga. Ayahku terlalu kaku dengan pendiriannya akan komunitasnya yang mencari massa atas nama surga, sedangkan ibuku terlalu berambisi mengejar nama di tempat kerjanya.


Kedunya tak mau mengalah, keduanya mementingkan ambisi masing-masing. Semua mencari ketenaran hingga lupa ada kami yang butuh perhatian, terutama adikku yang kian lama semakin ringkih badannya. Hingga bencana menimpa salah satunya, ayahku ditipu oleh orang yang paling dipercayainya. Semua uang beserta pengikutnya diambil olehnya. Hancur sudah reputasi yang selama ini dibangunnya. Sedangkan kisah ibuku tak jauh beda dengan ayahku yang kena tipu. Hanya saja tak sampai kehilangan nama baiknya.


Hari demi hari berlalu, ayahku terus mengurung diri di kamarnya, kini ibuku yang jadi tulang punggung kami. Siang malam selalu bekerja mengumpulkan uang untuk berobat Serena. Serena memang tak seperti anak lain yang bisa bermain di luar, penyakit yang diidapnya membuat dirinya rapuh. Hanya aku seorang yang menemaninya bermain dan belajar, setiap pulang sekolah adalah waktuku menjaganya hingga ibu kembali.

__ADS_1


Mungkin ini adalah kegiatan yang membosankan bagi sebagian orang, terutama bagi anak-anak sepertiku. Namun bagaimana? Kami selalu hidup jauh dari orang lain dan hanya percaya kepada golongan kami saja. Nyaris tak kenal apa itu teman bermain di flat kami, jadi tak ayal bila dulu aku berkhayal dunia layaknya layar kaca. Terbatas akan apa yang kita lihat dan apa yang kita tahu.


Hingga suatu hari, ayahku mengajakku pada kenalannya. Seorang guru kepercayaannya yang selalu mengenakan jubah serba putih dengan janggut panjang kelabu. Kami bertemu di tempat yang tidak kukenal dengan orang asing yang berwajah kelam tanpa sinar keramahan. Aku tak berpikir aneh-aneh saat itu, hanya menuruti permintaan ayahku semata. Sayangnya hati ini merasa takut akan pandangan liar orang-orang sekitar.


Dari sini dusta itu dimulai, tak terbayangkan olehku bila aku menjadi jaminan ayahku membayar hutang yang lalu. Mimpi buruk yang tak akan kukenang sepanjang hidupku, tempat itu menjadi ketakutanku yang abadi. Kamar putih berlantai hitam merenggut segalanya, aku hanya bisa menangis atas apa yang terjadi. Ragaku dikoyak tangan-tangan jahat bertopeng baik, kini setiap malam aku menjadi budak nafsu kaum pemburu.


Ingin rasanya kucurahkan duka ini pada adikku, namun aku tahu ini akan buruk bagi kondisinya. Lalu ibuku? Dia bahkan tak ada di rumah selama berminggu-minggu. Entah kemana dia pergi. Jadi aku hanya bisa diam hingga waktu pengakuan tiba, namun kapan? Aku tidak tahu sampai kapan. Aku muak dengan ini semua.


Dusta demi dusta sudah sering aku dengar dan lihat sebagaimana sinema sampah yang muncul di layar kaca. Aku hanya bisa tersenyum sinis pada dunia sambil menangis dalam batin. Apa yang dia alami hanyalah dagelan dalam hidupnya yang fana. Pada akhirnya semua akan berubah, entah menuju kebaikan atau keburukan. Dalam kisahku, kelam menjadi perjalanan hidup yang harus aku lalui.


***


Arafis tak habis pikir dengan apa yang dilakukan ayahku, antara marah dan iba bercampur baur. Ingin rasanya dia ingin menghajarnya, tetapi pria bijak itu melarangnya. Dia tahu ini ujian bagiku dan menjadi pelajaran penting bagi semua. Kemudian dia memintaku melanjutkan ceritaku lebih lanjut akan apa yang terjadi pada ayah, ibu, dan juga Serena yang menyampaikan keinginannya bertemu denganku. Lalu kulanjutkan kisahku yang telah nista oleh orang yang seharusnya melindungiku.


 

__ADS_1


 


__ADS_2