
Semua mengatakan merak adalah makhluk paling indah,
Tetapi bagi dirinya,
Dia adalah makhluk yang paling nista
Karena kakinya yang kotor
Ketika keduanya berbincang, kereta memasuki terowongan di sebuah pegunungan, perlahan cahaya kian pudar, kian redup, lalu hilang. Tersisa gelap dari dalam terowongan yang konon telah berdiri sejak lama. Panorama indah itu kini tertutup bayangan hitam sebagaimana kisah hidupku dan hidupnya. Sedangkan bagi Arafis, dia hanya mengamati caraku memberi pendampingan bagi Elvy.
Pemuda itu hanya jadi pengamat saja kala itu. Mengamati arah pembicaraan dari dua insan yang memiliki pemahaman dan riwayat hidup yang sama, sebungkus keripik kentang menjadi kawan baiknya, dibuka lalu dimakanlah keripik rasa barbeque. Dia tak peduli dengan gelapnya terowongan tua. Asal ada kudapan, semua beres.
Pembicaraan kami berdua kian intens, semakin gelap justru semakin terang arah pembicaraannya. Entah itu sebuah gagasan, keluhan, pengakuan, pengalaman maupun pengelihatan dari tiap gadis, termasuk soal Bintang terang yang dibawa oleh mereka. Aku memiliki bintang berwarna merah marum, sedang Elvy memiliki bola cahaya berwarna magenta.
***
Kujelaskan fungsi utama dari benda tersebut dan cara gunanya agar tidak salah penggunaan. Gadis kecil itu menyimak apa yang kukatakan dengan seksama dan khidmat. Sedangkan Arafis masih menikmati kopi yang dipesannya. Aku jelaskan benda terang tersebut sesuai pengalamanku. Kedua bintang itu makin terang saat saling berdekatan menggantikan lampu kereta yang tengah masuk dalam terowongan gelap. Bintang-bintang tersebut menyinari kami berdua sesuai warna masing-masing.
"Kau tahu mengapa kita mendapat bintang seperti ini?"
"Karena mereka memilih kita?"
"Itu salah satunya, namun ada yang lebih daripada itu."
"Apa itu kak?"
"Bintang ini menjadi penuntun bagi kita, dia menuntun kita apabila ada kesalahan yang pernah kita lakukan."
"Jadi, ini semacam alarm begitu?"
"Tepat sekali. Selain itu, ini menjadi kunci segala hal jika kita ragu atau tengah gundah gulana. Bila buku yang kau terima menjadi penuntun wawasan, maka bintang yang kita miliki menjadi penuntun ruhani Elvy."
"Ternyata benda ini punya banyak guna kak."
"Oh iya, apa kau sudah tahu apa saja tugas dari para penjaga?"
"Aku baru tahu sebagiannya saja kak, kira-kira menjaga orang-orang dari kesesatan."
"Bagus, kau paham tugas utamanya. Namun akan kujelasan lebih terperinci soal tugas dari masing-masing penjaga."
"Baik kak."
Aku jelaskan tugas para penjaga secara terperinci. Ada tiga tugas utama dari tiap penjaga. Penjaga pertama memiliki tugas menyampaikan pesan penting bagi mereka yang terpilih, serta menuntunnya. Lalu tugas penjaga kedua adalah memberi pemberian berupa rezeki, wawasan dan kebahagiaan kepada semua makhluk. Dan terakhir adalah penjaga ketiga yang memiliki tugas mencabut nyawa bagi yang sudah waktunya serta menunjukkan jalan bagi mereka, jalur mana yang harus dilalui bagi jiwa yang bertemu dengan cahaya.
__ADS_1
Seketika Elvy terdiam membisu. Wajahnya yang awalnya ceria mendadak pucat. Gelas kosongnya terjatuh ke lantai kereka saat kujelasan tugas penjaga yang ketiga. Dia syok mengetahui tugas utama baginya adalah mencabut nyawa. Aku tidak kaget dengan ekspresinya karena dulu aku juga sama. Namun ini tugasku untuk menjelaskan apa yang harus disampaikan apa adanya.
"Kak, apa ini benar tugas bagiku?" Tanyanya dengan nada ragu-ragu.
"Itu benar, dulu aku juga merasakan kecemasanmu itu, sebelumnya aku pernah berada di posisimu juga."
"Kakak pernah menjadi penjaga ketiga?"
"Itu benar, aku pernah berada di posisimu pada awal debutku. Aku merasa takut kala itu karena harus mencabut nyawa orang yang tidak ingin kucabut. Tetapi ada pengalaman tersendiri bagiku, sebuah pengalaman yang sangat berharga bagi kita."
"Pengalaman apa itu kak?"
"Bahwa kematian bukanlah akhir namun awal dari kehidupan baru. Mungkin kita menganggap maut adalah musibah tetapi kita tidak tahu ada apa dibaliknya. Kematian selalu ditakuti layaknya musibah, padahal bila ingin berjumpa sang pencipta perlu melalui tahapan ini."
"Contohnya seperti apa kak?"
"Contohnya seperti kisahku dulu. Saat awal-awal menekuni tugas ini, aku pernah bertemu dengan seorang gadis yang tengah sekarat. Dia menderita sakit yang cukup parah dan kondisi keluarganya juga tengah dirudung masalah yang cukup pelik. Dia berharap untuk hidup lebih lama namun garis takdir berkata lain. Dia harus meninggalkan alam fana menuju alam keabadian."
"Seorang gadis yang sakit-sakitan? Nampaknya aku tidak asing dengannya?"
"Sebelumnya aku takut mencabut nyawa sang gadis mengingat dia punya tekad yang kuat untuk bertemu kakaknya yang telah lama pergi bersama ayahnya entah kemana. Dia ingin berpamitan untuk terakhir kalinya. Sebab tidak ada orang lain selain kakaknya yang mengerti dirinya. Kakaknya yang menjadi teman bicara dan mencurahkan keluh kesahnya."
"Lalu kucoba menjelaskan apa yang akan terjadi di alam sana. Apa yang akan terjadi jika dirinya pergi dan bagaimana orang-orang sekitar memperlakunnya. Kebenaran akan terungkap kala saat kita meninggal. Kita akan tahu siapa saja yang benar-benar peduli dan mana yang sekadar memanfaatkannya. Dan akhirnya dia mau kuantar ke alam sana dengan tenang. Dia rela melepas tekadnya demi berjumpa kakaknya kelak di sana. Dalam catatanku, dia akan bertemu dengan orang yang dikasihinya saat kembali ke pangkuan sang cahaya."
"Sebentar kak!"
"Ada apa Elvy?"
"Bolehkah aku bertanya sedikit tentang orang tersebut?"
"Tentu saja boleh."
"Kira-kira, siapa namamu orang yang kakak ceritakan itu?"
"Namanya? Namanya adalah Serena."
"S-serena?"
__ADS_1
"Iya, apa kau kenal dengannya?"
"D-dia adalah adikku kak, dia adikku yang selama ini aku rindukan. Aku benar-benar merindukannya dan dia adalah orang yang paling aku cintai."
"Jadi, dia adikmu?"
"Iya kak, dia adikku yang kakak ceritakan."
"Ya Tuhan, rupanya ini maksud dari ini semua. Rupanya Tuhan ingin mempertemukan kita dalam rangkaian takdir yang tak terduga."
"Maksudnya?"
"Aku ditempatkan sebagai penjaga ketiga pada awal tugasku agar bisa bertemu dengan seorang gadis yang menggantikan diriku kelak. Ini sudah disiapkan untuk memantapkan keyakinan kita berdua. Kau dan aku sama-sama punya kemiripan."
"Kemiripan apa?"
"Kalian sama-sama pendek bukan?" Cetus Arafis dengan nada guyon.
Sontak kami menyorotinya dengan tatapan tajam dan muka cemberut. Seketika Arafis mengambil keripiknya dan memakannya. Kami tahu bila postur kami memang pendek, namun rasanya tidak enak didengar. Seketika Arafis tersenyum melihat kami cemberut seperti bebek, dengan nada guyon dia melanjutkan makannya.
"Baik, mungkin aku perlu memeriksa keripiknya apa sudah asin apa belum... Oh silahkan melanjutkan obrolan kalian kawan."
"Menurut seorang bijak, Semua mengatakan merak adalah makhluk paling indah, tetapi bagi dirinya, dia adalah makhluk yang paling nista karena kakinya yang kotor."
"Lalu?"
“Jadi, kita berdua adalah merak, yang sejatinya berharap menjadi merpati saja, hanya seekor merpati saja. Jadi tiada beban dan gunjingan dari kicau burung-burung lain Elvy."
"Tetapi kita sudah terlanjur menjadi merak kak, kita tidak bisa mundur lagi."
"Kini kau mulai tahu jalan pikiranku sayang!"
"Kalau burung unta? Merak terlalu pendek." Sanggah Arafis.
"ARAFIS, OHBA!!!!" Teriak kami berdua, meski berbeda panggilan namun temponya sama.
"Kalian benar-benar kompak ya, hehehe."
Lalu kami menikmati minuman yang telah kami pesan. Dalam kegelapan pasti ada secercah terang, entah dari luar maupun dari dalam. Tak ada yang menduga bila takdir telah merencanakan segalanya. Misteri akan terjawab pada akhir perjalanan kita dan syukuri apa yang ada saat ini. Karena kita tidak tahu apa yang akan terjadi di masa depan.
__ADS_1