Elvarette Shiro

Elvarette Shiro
Episode 27: Berpisah


__ADS_3

Pov: Saki Fidela


 


 


Jangan terlalu mempedulikan seseorang


Yang tidak peduli dengan perkembanganmu,


Bila hanya menghujat lebih baik tinggalkan saja.


 


 


Kita akan berjumpa di lain kesempatan. Aku berjanji kita semua akan bertemu. Kereta hitam yang awalnya melesat secepat kilat mulai melambat pada stasiun selanjutnya. Aku harus pergi, sebab Namus telah mengutusku untuk memberi rezeki pada calon manusia di pohon kehidupan. Nasib mereka akan diarahkan sesuai kehendak sang Cahaya.


Arafis, aku berangkat dahulu. Dan Elvy, kita akan melanjutkan pembicaran kita. Namun sebelumnya, aku ingin melihat Arafis mengepakkan sayapnya untuk terakhir kalinya. Karena itu yang mengingatkan diriku padamu pertama kali bertemu. Sayap warisan semesta. Sayap yang menjadi tanda seorang utusan cahaya. Sayap yang memberi perlindungan bagi semua makhluk yang berlindung di bawah naungan cahaya sejati dari kejahatan gelap dan kebodohan.


"Um... Arafis, Elvy."


"Iya kak Saki?"


"Ada apa Saki?"


"Nampaknya pertemuan ini akan segera berakhir, tujuanku sudah sampai."


"APA???"


"Biasa saja Elvy, nanti kita akan bertemu lagi."


"Itu benar Elvy, kita akan bertemu lagi di lain kesempatan. Karena kita punya tugas besar yang harus dikerjakan bersama."


"Tugas besar? Tugas apa itu kak?"


"Nanti kau akan tahu, tetapi kita harus menyelesaikan misi kita masing-masing."

__ADS_1


Berpisah adalah kepastian, sebab perpisahan merupakan sisi lain dari pertemuan layaknya dua sisi koin. Jangan bersedih atas kepergian karena kelak kita akan berjumpa lagi di lain kesempatan maupun dimensi selanjutnya. Laksanakan tujuan utamamu sebelum datang tujuan yang lain mengikuti.


Akhirnya kami berpamitan, tujuanku telah sampai di sini. Stasiun tempat asal umat manusia terlihat jelas dari balik jendela kereta api hitam, suasananya masih sama seperti dulu, selalu gelap dan berkabut sebagaimana takdir itu sendiri. Aku harus berpisah dengan Arafis kawan lamaku dan sang gadis mungil yang duduk di tepi jendela. Elvy nampak berat mengucapkan kata perpisahan, namun dia berusaha membalas salam perpisahanku bersama Penjaga Pertama. Pintu gerbong kini terbuka.


“Elvy, aku pamit duluan ya!”


“Cepat sekali kita harus berpisah kak Saki, masih banyak hal yang ingin kutanyakan padamu terutama tentang kabar Serena?”


“Kau tidak perlu khawatir Elvy, kini dia aman di tempatnya sembari menunggumu menuntaskan tugasmu selesai.” Balasku padanya


“Aku akan berusaha untuk itu kak Saki, aku berjanji.”


“Bagus kalau begitu! Arafis, tolong jaga Elvy juga!”


“Tidak perlu khawatir, dia akan aku jaga kawan!”


Aku melihat Elvy seperti melihat diriku di masa lalu. Masih polos dan begitu bergairah dalam mencari sesuatu yang baru. Rasa ingin tahu itu yang menuntunku pada jalan cahaya walau pun harus melalui jalan yang terjal lagi gelap. Aku pernah mempercayai seseorang yang kini jadi setan bagiku. Namun aku bersyukur karena setan itu pula yang memberi wawasan baru tentang pentingnya percaya pada Tuhan diatas segalanya.


Jangan terlalu mempedulikan seseorang yang tidak peduli dengan perkembanganmu, bila hanya menghujat lebih baik tinggalkan saja. Carilah orang yang mampu menuntunmu atau berkelanalah. Konon, orang yang keluar dari pintu rumah, akan pergi kemana saja. Orang yang sudah singgah ke sebuah rumah, tidak akan menuju pintu yang lain. Kiranya itu yang harus kau pikirkan kembali, setidaknya pengalaman burukmu, baik di keluargamu maupun di rumah nista tersebut menjadi bekal utamamu kelak menyikapi hidup.


Jendela kereta masih terbuka dan menjadi mata bagi kawan baruku bernama Elvarette. dalam perjalanannya, panorama yang dia lihat adalah rasa empati dan ingin berbagi luka. Itu sama sepertiku yang masih mencari hiburan berupa saling mencurahkan beban derita agar hati ringan dan tidak ada lagi kenangan buruk yang menghantuiku


Perjalan hidupku menjadi oase baginya dalam mencurahkan amarah dan kesedihannya selain membaca dan menulis di sebuah buku kosong yang diulang-ulang kisahnya. Entah apakah dia akan mampu mengingat seluruh isi buku tersebut, karena sang gadis mungil itu hanya ingin meninggalkan kisahnya, kisah sang pengelana yang malang.


Andai dia bisa menjadi sang penulis buku tersebut, ingin sekali baginya mengubah kisah tersebut menjadi kisah yang bahagia, namun pikirnya apa mungkin? Sebab aku dan kau adalah bagian dari kisah dalam buku tersebut. Yang ditulis dan dikarang oleh sang pencipta semesta, pemilik cahaya sejati. Ketika kakiku mulai menginjak lantai stasiun, Elvy berteriak secara spontan mencoba bertanya untuk terakhir kalinya.


“Kak Saki, tunngu!” teriaknya.


“Ada apa Elvy?” Balasku


“Bolehkah aku bertanya sebelum kau pergi Kak?”


“Tentu saja boleh sayangku.”


“Bolehkah aku tahu tujuanmu turun di sini?”


”Untuk memberi tujuan pada calon manusia, Elvy?”

__ADS_1


“Lalu sudahkah kau temukan tujuanmu?” Tanyanya dengan penuh keseriusan.


“Sudah Elvy.” Jawabku dengan penuh kepastian.


“Apa tujuanmu turun saat ini?”


“Aku akan membantu kawanku, menjadi guru dan pembawa pesan!”


Seketika dia tersenyum dengan rasa puas. Kini dia semakin yakin akan apa yang akan dia lakukan untuk selanjutnya. Elvy melambaikan tangan bak seorang anak kecil yang memberi perpisahan bagi saudara perempuannya di perantauan. Tak lama kemudian dia mengucapkan janji akan bertemu diriku di lain kesempatan. Semoga kita bisa berjumpa lagi dalam waktu dekat.


 


 


***


 


 


Di lain waktu dan tempat, Azazil yang sudah berjanji pada sang Cahaya untuk melaksanakan tugasnya menggoda manusia menuju kehancuran. Akan tetapi, dua dari tiga penjaga adalah manusia yang masih hidup jiwa dan raganya. Mereka belum mati sepenuhnya sebagaimana penjaga pertama maupun Lalita.


Kami yang belum sepenuhnya meninggal itu termasuk langka. Sebab kami meninggalkan alam tetapi cara kami pergi berbeda dengan manusia pada umumnya, mereka telah mendapat keistimewahana tersendiri oleh sang pencipta melalui moksa atau meninggal bersama jasad yang bertemu langsung dengan penciptanya.


Aku dan Elvy, kami memang sudah mati secara teori. Namun secara prakteknya tidak. Oleh sebab itu, Azazil ingin menguji kami yang masih lengkap jiwa raganya, namun target pertamanya adalah anak baru yang kemarin baru dirasakan keberadaannya. Apa itu tidak melanggar janjinya? Janji untuk menggoda manusia bukan para penjaga?


Sepertinya tidak, secara aturan tertulis azazil harus menggoda manusia hingga terjatuh dan kami secara teori adalah manusia. Jadi dia tidak melanggar aturan yang ada. Lagi pula, dulu itu adalah pekerjaannya sebagai pemimpin para penjaga sebelum digantikan oleh wakilnya, Namus. Dia ingin sekali bertanya tentang keteguhan hati kami apa tetap setia pada cahaya atau malah berpaling seperti dirinya.


Oleh karena itu aku mendapat mandate penting dari Namus untuk menyelesaiakn tugasku. Yugas untuk memberi imunitas berupa keyakinan yang teguh dan tulus pada cahaya sejati yang diderikan pada calon manusia di pohon kehidupan. Di era hitam semuanya semu dan di saat itu pula keteguhan adalah satu-satunya lentera yang bisa menerangi mereka dari tipu muslihat sang penyesat Azazil.


Dan di waktu yang bersamaan, kami yang terlebih dahulu menjadi para penjaga harus memberi tuntunan dan bantuan bagi Elvy yang baru saja tiba di sini. Dia harus waspada agar tidak menjadi penjaga yang jatuh dalam kegelapan sebagaimana Azazil. Kami harus membantunya dari ilusi liar sang penyesat. Duhai pemilik cahaya, lindungilah kami semua.


 


 


***

__ADS_1


__ADS_2