
Keyakinan tak pernah salah,
Hanya praduga yang jadikannya serba salah.
Aku belum paham sepenuhnya tentang penjaga yang mereka maksud itu, hanya saja, aku paham tentang tujuan pertemuan ini. Andai musibah itu tidak menimpaku, mungkin aku tidak akan kenal dengan orang-orang baik seperti paman khidr, paman Hallaj, dan juga Ohba. Dan mungkin selamanya aku akan jadi lacur di tempat terkutuk itu.
“Paman, apakah bintang yang paman berikan itu juga salah satu dari ujian kelayakan?”
“Kalau yang itu, iya, itu salah satu dari tanda kelayakanmu sebagai penjaga.”
“Bintang yang meresap di tanganku berarti…”
“Cahaya hanya bisa tembus pada sesuatu yang jernih, dan bersyukurlah bila kau dilalui olehnya anakku.”
“Jernih?”
“Dulu aku juga mengalami proses seperti itu Elvy, bersyukur kau tidak jatuh pingsan setelah memegang bintang sepertiku dan Fidela.”
“Fidela? Siapa dia?”
“Dia seniormu, dia penjaga yang kedua, hanya saja dia berguru langsung dengan pak tua Khidr.”
“Anakku, kau bisa kesini sebentar?”
__ADS_1
“Tentu paman, ada apa paman?”
“Ada yang ingin kuberikan padamu.”
Paman Hallaj mengambil sedikit air dari cawan kuningan. Dia celupkan jari-jarinya di dalam air yang dingin itu dan mengusapkannya ke ubun-ubun dan keningku. Rasanya sedikit aneh namun sedikit membuatku rileks. Seakan ada yang membasahi pikiranku dengan kesejukan.pandanganku mulai jelas dari sebelumnya bersama dengan derasnya aliran cahaya yang mengalir di dalam darahku. Suara angin semakin peka di kupingku, bukan hanya itu, napasku pun juga kian lega seakan taka da beban yang membelengguku.
“Jadi, apa yang kaurasakan anakku?”
“Semua terasa ringan dan tak ada beban paman.”
“Lalu?”
“Kalau kemarin saat memegang bintang, rasanya tubuhku terasa luntur dan berganti dengan tubuh baru. Kalau yang ini rasanya seperti diisi kembali.” “Kau benar nak, saat ini aku telah mengisi kalbumu dengan wawasan.dan perasaan. Dulu kau pernah kehilangan sesuatu yang penting darimu, yaitu kepercayaan pada orang lain. Maka aku memberimu wawasan bijak tentang memahami makhluk hidup. Jika Arafis mahir membaca pikiran, maka kau akan mahir merasakan perasaan semua makhluk.”
“Bukan berbicara Elvy, tapi merasakan. Memahami bahasa itu harus memahami perasaah lawan bicaramu dulu. Dan salah satu tahapan pertamamu adalah belajar merasakan.” Balas Ohba dengan bijak.
“Oh, begitu ya!”
“Satu lagi Elvy, setelah ini kita akan melanjutkan perjalanan. Kau akan magang sebagai penjaga di alam Jabarut, Malakut, dan Mulk.”
“Itu apa lagi? Paman, itu alam apa sih?”
Kemudian paman Hallaj menjelaskan definisi dari alam yang dimaksud oleh Ohba, dengan telaten dia menjelaskannya satu persatu. “Jadi, aku akan menjelaskan tentang ketiga alam tersebut. Dimulai dari alam Mulk yang dekat dengan manusia dan jin, meraka dekat dengan dirimu yang masih berasal dari dunia.”
__ADS_1
“Lalu alam Malakut paman?”
“Kalau alam Malakut adalah alam yang dihuni oleh para malaikat sebagaimana Namus, Arafis dan Fidela. Namus adalah pemimpin dari para penjaga lainnya. Kelak kau akan bertemu dengannya.”
“Kalau alam Jabarut?”
“Itu adalah alam yang hanya bisa dihuni oleh sang cahaya. Tak ada yang bisa kesana tanpa ijinnya, dan tak ada yang bisa menggambarkan keagungannya anakku. Jadi bersyukurlah bila kau bertemu dengannya secara langsung tanpa penghalang.”
“Wow, aku baru tahu itu paman.”
“Jadi, kau harus bersiap-siap sebentar lagi, kita akan berkelana lagi.” Tambah Ohba
“Setelah ini?”
“Tentu, kau masih ingat dengan pesan dari pak tua?”
“Dia memintaku mencari ketenangan diri dari perjalan.”
“Lalu, kau tahu maksudnya dari semua itu?” “Mencari ketenangan, secara tak langsung itu adalah mencari keyakinan kah?”
“Keyakinan tak pernah salah, hanya praduga yang jadikannya serba salah.” Jawab pria bijak itu.
”Baiklah, aku akan segera bersiap paman, Ohba. Mohon bimbingannya.”
__ADS_1