
Pov: Elvarette Shiro
Mobil van berwarna putih tulang nampak parkir di depan kafe. Dari kabin depan keluar gadis kecil berkulit kayu manis beserta perempuan berpostur tinggi. Aku melihat keduanya membuka pintu mobil belakang dan membawa bawaan yang ada. Si gadis kecil masuk terlebih dahulu ke kafe, lalu disusul oleh perempuan tinggi tersebut.
Rekan yang ditunggu Ohba telah tiba di kafe. Bawaan kantong kertas besar dan totebag di tangan kirinya berusaha membuka pintu namun nampaknya kesusahan. Aku ingin membukakan pintu namun keduluan oleh Emily yang langsung membukakan pintu dan membawakan kantong kertas tersebut ke dapur.
Tak lama, perempuan berpostur tinggi itu menatapku beberapa detik sebelum menanyai kak Kana soal kedatangannya kami. Mungkin dia mengira aku adalah pembeli yang hendak membayar di depan kasir, tepat dihadapan kweki dan kak Kana yang meracik teh pesanan Ohba. Dia berjalan menuju kami sembari menanyakan tamu yang ditunggu.
"Pagi semua! Apa kawan lamaku telah tiba?"
"Kawan lama kita ada di kursi nomer tiga kak Alice! Dan dia juga membawa kawan barunya juga." Jawab kak Kana.
"Lalu dimana dia sekarang?"
"Aku di sini Nona koki!" Jawab Ohba dari balik tanaman hias.
"Rupanya kau di sini tuan koboi, kau mengajak kawan baru rupanya!"
Keduanya saling merangkul seperti saudara yang kembali bertemu. Aku yang duduk di depan meja kasir melihat momen yang langka dimana Ohba tertawa lepas bersama perempuan yang memiliki lesung pipi itu. Aku menduga dialah rekan yang dimaksud Ohba selama perjalanan itu. Lalu mereka duduk di meja bar tepat disampingku. Tak lama teh pesanan Ohba diletakkan di depannya sambil memulai percakapan.
"Dulu pertama kali ke sini kau selalu menyediakan anggur di etalasemu. Tapi sekarang sudah berganti jadi toples berisi rempah-rempah, apa kau baru merenovasi tempatmu?"
"Orang-orang saat ini mulai meninggalkan minuman beralkohol dan kembali ke sesuatu yang sehat. Lagipula kau sendiri juga sudah tidak mungkin lagi memesan minuman itu."
"Kau benar, kalaupun aku minum sudah tidak etis lagi."
"Oh sampai lupa, katanya kau mau mengajak kawan ke kafeku, apa orang disebelahku ini adalah kawan yang kau maksud?"
"Sudah kuduga kau akan menanyakan hal itu, sebenarnya dia juga akan jadi kawanmu juga. Kebetulan dia berasal dari tempat yang sama sepertimu!"
"Benarkah?"
"Benar, dan saat ini dia tengah magang sebagai penjaga ketiga."
"Wah ini pelanggaran, mengapa baru sekarang kau beritahu? Kalau begini aku harus siapkan kamar tidur untuknya!" Gurau Alice.
"Ha...ha...ha... ya maaf kalau begitu, ngomong-ngomong aku membawakan sesuatu untukmu."
"Heh?"
Lalu Ohba mengeluarkan kotak hitam berukuran telapak tangan orang dewasa berwarna hitam metalik. Lalu kulempar ke arahnya dan dia pun menanggapnya dengan reflek yang cepat seperti biasanya. Kemudian dia membuka kotak tersebut.
"Ini kan!"
"Itu, aku bawakan harmonika untukmu, jadi aku sudah tidak punya hutang lagi padamu."
"Kau selalu membawa kejutan bila datang kemari. Oh iya pesananmu juga sudah kubawakan. Kira-kira kapan akan dipakai?"
__ADS_1
"Secepatnya, karena dalam beberapa hari lagi ada orang yang harus dijemput penjaga ketiga yang baru."
"Oh baiklah kalau begitu. Aku perlu bola bintang agar kudaftarkan nomer ponselnya sekalian."
"Bagus kalau begitu, oh iya jangan lupa masukkan nomermu bila seandainya Elvy mendapati orang yang tersesat."
"Itu sudah pasti, kira-kira mana bolanya?"
"Elvy, kau bisa tunjukkan bola bintangmu?
"Bola bintang? Oh iya, aku membawanya kak."
"Bagus, karena aku butuh itu untuk membuatkanmu SIM card. Tapi sebentar!"
"Eh... Iya."
"Jadi, apa kau yang bernama Elvarette Shiro?"
"B.. benar, ada apa kak?"
"Oh berarti aku sudah benar mengambil barang pesanan di toko tadi!"
"Memang ambil apa kak" Tanya kak Kana.
"Karena dia orang baru di sini, jadi dia perlu SIM card untuk ponselnya. Oh aku sampai lupa. Namaku Alice Yuki, aku temannya orang yang duduk di sana. Ngomong-ngomong, apa kau bawa bola bintang? Aku penasaran bagaimana bentuk bola bintang yang terbaru, apa masih sama atau ada yang berubah?"
"Kak ini bolanya, maaf membuatmu menunggu."
"Kau bicara apa sih? Lagipula aku sudah mengganti harmonika lamamu?"
"Tapi kau belum mengganti ongkos kirim ponsel yang kau pesan. Jadi kau harus membayarnya dengan memberi cerita petualanganmu sebagai gantinya."
"Ya ampun, kau ini bisa saja."
Aku mengambil bola bintang yang ada dalam diriku, kemudian kak Alice memasukkan bola tersebut ke dalam kotak hitam persegi yang menyerupai printer portabel. Cahaya silau dari lubang masuknya nampak jelas dan selang beberapa saat keluar kartu dari bagian bawah kotak. Proses pendaftaran telah selesai dan rekanku memotong ujung kartu dan memasukkan SIM card tersebut ke dalam ponsel.
Ponsel putih itu dinyalakan olehya untuk mengecek status kartu tesebut. Layar menyala menampilkan logo ponsel dan tampil kolom berisi data yang harus diisi. Alice memintaku mengisi data yang dibutuhkan agar bisa aktif. Tak lama kuserahkan lagi pada Alice untuk pengaturan terakhir, lalu ponsel itu pun telah selesai diatur dan menjelaskan apa saja yang ada di dalam ponsel putih itu.
“Jadi Elvy, ponsel ini menjadi penerjemah dari bola bintangmu. Bolamu menangkap sinyal dari orang-orang yang hendak dijemput dan ponselmu menerjemahkannya. Selain itu, ponsel ini punya fungsi penting lainnya.”
“Apa Itu kak?” tanyaku dengan penuh keheranan.
“Kau mau tahu?” goda kak Alice.
“Tentu kak!” jawabku.
“Benar?”
“Benar!”
“Baiklah, jadi ponsel ini bisa dugunakan untuk telepon.”
__ADS_1
Seketika ekspresiku akan hal yang menakjubkan sirna. Rupanya kak Alice melawak dengan guyonan yang cukup garing. Ohba hanya bisa menepuk keningnya sambil menahan hasrat ketawa melihat aku dikerjai olehnya. Kukira kak Alice itu orangnya dingin saat pertama jumpa, rupanya kak Alice orangnya humoris. Langsung saja kuprotes karena humor recehnya.
“Kalau itu aku juga tahu kak!”
“Tapi kau tak perlu khawatir kehabisan pulsa!”
“Benar kak?”
“Benar!”
“Kalau itu menarik sekali kak!”
“Tapi paket datanya dijual terpisah. Kau bisa membelinya di kafe ini atau pada Kweki.”
“Sudah kuduga bakal kena jebakan lagi aku.”
“Namun kau beruntung, kau mendapat model ponsel terbaru namun harganya terjangkau sayangku. Karena kau gadis yang baik, maka kuberi harga satu keping emas saja.” Tutur kak Alice sambil mengusap ubun-ubunku.
Tak lama Ohba menyela obrolan kak Alice padaku. Dengan nada setengah heran Ohba bertanya mengapa aku dapat harga murah. Baru kali ini kulihat Ohba kebingungan karena ulah pemilik kafe tersebut.
“Eh tunggu dulu, kenapa aku dapat tiga keping? Wah ini pelanggaran.”
“Itu jelas, kan dia gadis yang manis dan baik hati. Lagi pula kau kan sudah jadi mentor dan gajimu juga sudah naik. Kalau dia kuberi harga murah biar orang yang mau kau kerjai tidak tekor banyak. He… he… he… Kau kira aku tak bisa baca pikiranmu apa?”
“Ha…ha…ha…ha… aku kalah start rupanya. Pokoknya dalam hal usil-usilan, kaulah juaranya.”
“Tapi untuk pelanggan paling setia, kau yang jadi juaranya. He… he…he…”
“Maaf menyela, tapi ini nasib ponselku bagaimana?”
"Elvy, kini kau sudah memiliki ponsel sendiri. Ponsel khusus para penjaga. Jadi kau bisa menghubungi para penjaga lain maupun orang yang hendak kau jemput."
"Ini..." jawabku dengan nada gemetar
"Kau kenapa? Apa kau tak tahu diberi ponsel?"
"Aku tahu kak, tapi ini benar milikku? Ini baru pertama kalinya aku punya ponsel sendiri karena selama ini aku memakai milik ayahku." Jawabku.
"Itu milikmu sekarang, dan kebetulan keluaran baru."
"Dan itu kau harus kau ganti bila sudah menyelesaikan tugasmu." Seru Ohba padaku.
"Jadi kapan aku harus memulainya Ohba?"
"Segera."
***
__ADS_1