Elvarette Shiro

Elvarette Shiro
Episode 12: Nista


__ADS_3

Tidak ada yang tahu jalan hidup kita, hanya takdir yang bisa menjawabnya.


Arafis tak habis pikir dengan apa yang dilakukan ayahku, antara marah dan iba bercampur baur. Ingin rasanya dia ingin menghajarnya, tetapi pria bijak itu melarangnya. Dia tahu ini ujian bagiku dan menjadi pelajaran penting bagi semua. Kemudian dia memintaku melanjutkan ceritaku lebih lanjut akan apa yang terjadi pada ayah, ibu, dan juga Serena yang menyampaikan keinginannya bertemu denganku. Lalu kulanjutkan kisahku yang telah nista oleh orang yang seharusnya melindungiku.


***


Hari itu, ayah mengajakku pada kenalannya. Guru kepercayaannya menjamahku dengan pandangan liarnya beserta pengikutnya. Aku berteriak meminta tolong, namun ayah hanya diam menghitung lembar demi lembar uang yang diterima dengan wajah tanpa penyesalan. Jeritku hanya jadi hiburan bagi mereka yang mengoyak kain putih penutup jasad fana ini. Mimpi buruk itu menjadi awal deritaku, derita yang tak pernah kusangka akan dilakukan oleh ayahku sendiri.


“Elvy, maafkan ayah…”


“Maaf untuk apa? Untuk menjualku lagi?”


“Ayah tak punya pilihan lagi! Hanya dengan cara ini kita selamat dari hutang…”


“CUKUP, AKU TAK MAU DENGAR LAGI!”


“Kau tahu? Kalau kau tak mau melakukannya, bagaimana dengan nasib adikmu?”


“APA MAKSUDMU?”


“Apa kau pikir siapa yang membiayai semua biaya pengobatannya? Dia adalah orang yang menolong kita semua dengan dermanya! Lalu kemana ibumu?”


“Dia…”


“IBUMU PERGI MENINGGALKAN KALIAN, PAHAM!”


“TIDAK MUNGKIN!”


“Ibumu meninggalkanmu demi mengejar kekayaan dan kenyaman, dia bosan menjadi wanita yang terkungkung oleh beban macam kalian. Setiap malam dia datang bersama kekasihnya, yang tak lain adalah atasannya, kau sudah paham? Itulah alasannya dia tak pernah pulang dan takkan pernah kambali.”


“Tidak, ayah pasti berbohong! Itu tidak mungkin!” “Terserah engkau, namun apa kau tega bila Rena tahu cerita ini? Apa kau mau dia mati mendengar cerita ini? Jika mau, akan ayah ceritakan pada Rena agar ayah tidak punya beban lagi!”


“Jangan ayah, aku mohon jangan!”


“Berarti kau tahu apa yang harus kamu lakukan?”


“Apa maumu?”

__ADS_1


“Jika kau mau menolong Rena, kau harus menolong ayah. Ayah berjanji, untuk ini saja. Layani guru besar agar dia selamat.”


Aku hanya bisa diam tak menjawab, berat rasanya menjadi boneka tanpa jiwa. Dari sini dusta itu dimulai, tak terbayangkan olehku bila aku menjadi jaminan ayahku membayar hutangnya. Mimpi buruk yang tak akan kukenang sepanjang hidupku, tempat itu menjadi ketakutanku yang abadi. Ragaku dikoyak tangan-tangan jahat bertopeng suci, setiap malam, aku jadi budak nafsu kaum pemburu kenikmatan semu.


Seusai melayani para bedebah itu dengan badan sempoyongan, kusempatkan menengok Serena yang tengah tidur di kamarnya. Memandangi gadis mungil pemilik mata biru safir, dia selalu mengenakan piyama hitam membungkus kulitnya yang putih. Dia berbaring dengan nyenyaknya, andai aku bisa sepertimu. Begitu tenang dan percaya seperti kakek kita yang bijak, sayang hanya engkau yang berkesempatan berjumpa padanya.


“Kakak?” sapanya kala bangun.


“Hai dik, bagaimana keadaanmu?”


Aku menjawabnya dengan senyuman, menutup duka agar dia tenang. Rena memyisirkan rambut hitam panjangnya dengan sela-sela tangan kanan. Mata biru melihatku dengan sayu, bertanya dengan senyum teduh.


“Kak, mengapa kamu lesu? Apa kakak bekerja?”


“Iya Rena, kakak baru saja pulang.”


“Memang kakak kerja apa sampai wajahmu pucat begitu?”


“Kakak hanya kelelahan saja, ini baru pertama kali bekerja di luar.”


“Kakak bekerja keras untukku?”


“Kak, maafkan aku.”


“Maaf untuk apa Rena?”


“Maafkan karena membuatmu repot kak.”


“Merepotkan apa? Kakak tidak pernah meresa repot. Yang kakak lakukan hanya ingin membantumu saja.”


“Aku tahu, kau pasti bekerja keras menggantikan ibu.”


“Serena…”


“Kak, kapan ibu pulang?”


“Entahlah, kakak juga tidak tahu.”

__ADS_1


“Lalu ayah?”


“Dia… dia ada urusan.”


“Mencari ibu?”


“Sepertinya…”


Ingin rasanya kucurahkan duka ini pada adikku, namun aku tahu ini akan buruk bagi kondisinya. Lalu ibuku? Aku tak tahu, kemana dia pergi selama berminggu-minggu. Jadi aku hanya bisa diam hingga waktu pengakuan tiba, namun kapan? Aku tidak tahu sampai kapan. Aku muak dengan ini semua, terutama pada ayah yang menjualku dengan dusta.


Dusta demi dusta semakin sering aku dengar dan lihat. Aku hanya bisa tersenyum sinis pada dunia sambil menangis dalam batin. Apa yang dia alami hanyalah dagelan dalam hidupnya yang fana. Dalam kisahku, kelam menjadi perjalanan hidup yang harus aku lalui. Demi menjaganya aku rela. Sayang takdir berkata lain. Maaf yang dia katakan padaku adalah ucapan perpisahan. Dia tak pernah lagi berobat sebagaimana seharusnya, hasil menjual diriku tidak pernah sampai pada Serena. Dia hembuskan napas terakhir dalam tidurnya.


***


Lima tahun telah berlalu, nasib buruk masih setia temani diriku yang telah menjadi seorang budak bagi mereka. Hujan masih membasahi pertiwi, batinku kian kering akan kasih sayang nyata seorang ayah dan ibu. Maka malam menawarkanku sebuah kasih sayang yang semu dari para makhluk malam di tempat ini, ruang nista pemuas syahwat. Kulit putih serupa sutera ini menjadi jaminan untuk mendapatkan kebahagiaan dari para penjajah kemanusiaan. Paras wajahku juga cantik seperti boneka porselin dari Eropa.


Semua predator pasti akan memangsa ragaku sang gadis cilik. Apa yang kuminta, pasti akan dituruti. Namun sayang pintaku tak pernah terwujud, sebuah keinginan berjumpa dengan adikku lagi. Kabar yang kudengar, ayahku pergi tinggalkan komunitasnya. Sebagai bayarannya dia jual aku sebagai mata uangnya.


Harta, cinta, dan ketenaran adalah jaminan agar aku selamat. Wajah yang polos nan jelita serta postur tubuhku yang mungil inilah yang membuatku aman sekaligus waswas. Sebab raga ini selalu menjadi incaran para penguasa media bagi kaum mereka yang haus akan kenikmatan luar dalam.


Pada awalnya, aku mengenal dunia kelam ini dengan gemerlap istana hedonisme dan menara-menara kapitalisme. Aku pernah mencicipi manisnya arak ketenaran yang melambungkanku dikancah para elit. Dimana pejabat dan penjahat sangat suka dengan kemolekan tubuhku yang dipaksa menari di atas podium dunia tanpa kain yang menutup tubuh. Sejuta pasang mata memelototi diriku yang polos.


Tidak ada yang tahu jalan hidup kita, hanya takdir yang bisa menjawabnya. Waktu terus berjalan, debu-debu dunia mulai menempel pada diriku, putihnya kulit yang dimilikinya perlahan mulai pudar tertutup oleh debu dunia. Sinar kejayaannya mulai luntur bersama dengan terangnya pendatang baru yang lebih elok dibandingku. Saat itulah masa terburukku, terjatuh dari menara yang dosa. aku terjatuh ke dalam sesal yang amat mendalam. Saat itu aku tak yakin apakah diri ini akan selamat dari jurang kenistaan.


Namun untungnya aku tidak terjatuh ke lantai dasar. Aku tersangkut di dahan pohon yang besar. Nyawaku nyaris melayang, dari situ awal perenungan muncul, melihat mayat-mayat wanita yang tergeletak seperti bangkai binatang. Dalam batin, aku membayangkan bagaimana jadinya bila diri ini berada seperti para perempuan malang tersebut?


Tingginya menara-menara itu sejatinya adalah kuburan terbuka, gemerlap cahaya remang-remang itu pun sejatinya adalah semu dari derita dan nestapa manusia yang memuja kemewahan dan keserakahan yang terus dikejar. Saat itu aku aku kabur dari mereka dan bersembunyi di taman. Tidak ada rumah bagiku yang hina, tidak ada tempat berlindung selain berjuang sendiri.


Aku takut dengan langkah sesatku yang tak berpikir panjang, gemerlap yang kuperoleh hanya ilusi sebelum maut menanti, mereka yang telah lewat masa jayanya akan mati seperti bangkai hewan di tepi jalan. Aku takut, aku kalut, aku malu. Segala emosi bersatu padu dalam kalbu hingga dia datang mengulurkan tangan. Paman Khidr datang memberikan pertolongan bagiku.


Pria tua berpakaian krem itu mengulurkan tangan padaku yang berpenampilan berantakan. Tanganku gemetar memegang telapak tangannya yang lebar, dari sana awalku mengenal Khidr si bijak dari seberang.


Diawali dengan membersihkan diri dari noda-noda yang telah lama menempel pada tubuhku dengan mandi di kolam yang suci. kuambil air dari kolam dan  mengusapnya pada wajah dan sekujur tubuh hingga bersih. Lalu aku mengenakan kembali pakaian yang suci, pakaian yang layak untuk dikenakan dan menjaga diri dari sengatan kenistaan.


Saat itulah aku mulai belajar akan ketenangan batin, dan dari dia pula yang memintaku membersihkan hati dengan melapangkan dada melalui perjalanan. Mungkin dengan ini pula aku bisa menenankan diri dari salah dan sesal.


***

__ADS_1


 


 


__ADS_2