Elvarette Shiro

Elvarette Shiro
Episode 6: Cerita


__ADS_3

Daun yang jauh akan membusuk di tanah, namun daun yang bermanfaat akan diolah menjadi rempah dan obat.


Pria tua itu berdiri tepat di belakang Elvarette. Penampilannya sungguh sederhana, mantel luar berwarna merah persik dengan tepian jingga memberi warna cerah nan tenang.


“Oh tuan Hallaj, maaf kami mengganggu anda.”


“Hallaj? Ada dia orangnya?” tanyanya sambil menggaruk kepala.


“Tentu, dialah yang kita cari Elvy!”


“Silahkan masuk, kebetulan aku tengah membuat teh.”


Kami masuk ke kediamannya. Kediaman yang jauh dari kata megah namun menenangkan jiwa, dinding batu putih merekat satu sama lain menompang atap jerami serupa tudung jamur. Hanya ada tumpukan buku dan rempah-rempah yang mengisi rumah yang berukuran 9x6 meter tersebut.


Elvarette menarik kursi di dekatku, pandangan sang gadis mungil menjelajahi sudut yang ada. Kemudian pria tua membawakan dua gelas kuningan beserta cangkirnya, menuangkan teh hangat ke gelas kecil.


“Eh maaf, benarkah paman ini teman dari Khidr?”


“Elvy, kenapa kau bilang begitu?”


“Tidak apa, dia masih muda dan penuh pertanyaan. Oh iya kita belum berkenalan, namaku Mansur, namun kau boleh memanggilku Hallaj sebagaimana khidr memanggilku. Kalau kamu, siapa nak?”

__ADS_1


“Namaku Elvarette, lengkapnya Elvarette Shiro.”


“Nama yang cantik, lalu apa yang bisa aku bantu nak?”


“Aku ingin belajar padamu tentang ketenangan hati paman, sesuatu yang telah lama hilang dariku.”


“Ketenangan?”


“Benar! Adakah yang salah paman?”


“Jarang sekali ada anak belia sepertimu yang mau mencari ketenangan. Biasanya kejayaan dan kesuksesan yang ingin dikejar?”


“Aku sudah melihat orang-orang yang paman sebutkan tadi, dan aku tahu akhir dari ambisi liar tersebut.”


“Pendapatku? Apa yang lebih buruk dari ini? Keserakahan, keserakahan membuat orang-orang yang seharusnya saling menyayangi malah saling memusuhi dan melupakan tanggung jawab mereka.”


“Biar kutebak, mereka yang kau maksud adalah orang tuamu?”


“Paman benar, bagaimana paman tahu?”


“Kisahmu terukir dalam bola matamu, yang menyimpan duka dan amarah yang teramat dalam anakku.”

__ADS_1


“Mataku?”


“Mata tercipta untuk menyaksikan perjalanan hidup makhluknya, mata menceritakan kejujuran dari apa yang dialami.”


Aku menyaksikan keduanya berdiskusi, mereka begitu intens dalam menggali pengetahuan yang Elvarette belum ketahui. Gadis mungil itu menceritakan segala duka yang dialaminya di masa lalu. Duka khianat dan kesesatan menjadi topik yang khitmad, tidak seharusnya orang tua menelantarkan buah hatinya demi mengejar ambisi dan seharusnya pula orang-orang terdekatnya menjadi pelindung.


Tak habis pikir aku terhadap manusia, mengapa Tuhan menciptakan makhluk yang gemar membuat onar dibanding berbuat benar? Baik di awal maupun menjelang akhir, manusia cenderung berbuat kesalahan yang berulang kali. Tetapi dia lebih tahu akan masa depan, apa yang kita pikir tak lebih dari praduga. Apa yang kita duga akan terpental melihat realita yang ada, sebagaimana Elvi yang terjatuh ke kegelapan namun mau berjalan menuju cahaya. Benar kata Namus yang perkasa, manusia itu unik dan dinamis. Ada sisi air dan api yang saling berdampingan dalam wadah tanah mereka, selagi hati mengdengar sunyi maka Ilahi akan datang menghampiri.


Pria tua itu mengantar gadis kecil keluar ke pekarangannya, dedauan kering jatuh membawa pesan.


“Anakku, kau lihat dedaunan ini?”


“Iya”


“Apa yang lebih buruk dari daun berguguran?”


“Aku tidak tahu paman?”


“Daun yang jauh akan membusuk di tanah, namun daun yang bermanfaat akan diolah menjadi rempah dan obat.”


“Hem…”

__ADS_1


Keduanya tengah asyik sendiri mengamati alam yang penuh misteri. Aku berdiri sambil bersandar di tembok menyaksikan mereka menggali hikmah dari malam. Itu benar-benar mengingatkanku akan diriku di masa lalu yang sama-sama polos seperti Elvarette. Penuh ambisi mencari sejatinya diri.


__ADS_2